His Purpose

His Purpose
190. Heaven : Beautiful Destiny of Sandra and Abhi



Abhimanyu membuka matanya perlahan. Ia terbangun dengan wajah heran melihat sekitar. Angin berhembus pelan membelai rambut serta kulit wajahnya yang terasa dingin.


Sebuah ladang bunga teramat luas membentang di hadapannya. Abhi perlahan bangkit menjauhkan punggungnya dari rerumputan. Ia berdiri disertai raut bingung. Tempat apa ini? Udaranya sejuk sekali. Suara air mengalir terdengar samar, burung berkicau riang di atas sana. Tenteram dan damai.


Abhi menunduk meneliti pakaiannya yang serba putih. Ia juga bisa berdiri, tidak lumpuh seperti sebelumnya. Ia ... sudah mati. Apa ini surga?


Senandung merdu seorang wanita menarik atensi Abhi untuk mencari asal suara tersebut.


Perlahan Abhi bergerak membawa kakinya menyusuri ladang bunga beraneka ragam itu. Di sebelah utara tak jauh dari tempatnya berdiri, sebuah pondok kecil sederhana berdiri kokoh mencolok mata.


Rumbai kelambu melambai-lambai tertiup angin. Bunga merambat di setiap tiang penyangga, menghiasi sepanjang sisi yang didampingi aliran air kecil. Penampakannya begitu syahdu di mata Abhi.


Perlahan Abhi mendekati pondok tersebut, menaiki satu persatu anak tangga hingga tiba di pelataran teras yang terasa dingin terbuat dari kayu.


Senandung itu kembali terdengar. Seorang wanita duduk bersimpuh membelakangi Abhi yang mematung di tempat, mengamati sosok tersebut dengan lekat.


"Sandra?" bisik Abhi memastikan.


Wanita bergaun putih itu menoleh, berbalik perlahan menghadap Abhi. Rambut cokelat keemasannya berkibar tertiup angin. Cantik, persis seperti saat mereka bertemu untuk pertama kali.


Wanita itu berdiri balas menatap Abhi dengan sama terpakunya. Sosok Sandra layaknya Dewi Aphrodite yang turun dari langit. Kesempurnaan wanita itu bertambah tatkala sudut bibirnya terangkat membentuk segaris senyum.


Sorotnya teduh memandang Abhi. "Abhi ..." lirihnya merdu.


Mata Abhi bergetar haru, setengah tak percaya mereka bisa kembali bertemu, dalam situasi, keadaan, serta alam yang berbeda.


Sandra tak lagi menatapnya dingin, ia tak lagi menatap Abhi dengan pandangan penuh dendam.


"Sandra ..." Sekali lagi Abhi memanggil haru, penuh perasaan terpendam. Kakinya perlahan mendekat, tangannya terangkat meraih wajah Sandra dan mengamatinya lamat-lamat.


"Ini ... benar kamu? Kita bertemu lagi." Abhi tertawa disertai air mata.


Sandra tersenyum dan mengangguk. Ia balas menyentuh tangan Abhi di wajahnya. "Iya, ini aku."


Abhi tak kuasa menahan diri untuk memeluk Sandra. Tangannya dengan cepat membawa wanita itu ke dalam dekapan. Abhi menangis tersedu di balik bahu Sandra. Ia mencurahkan segala rasa dan kesedihan yang sempat membuatnya putus asa menjalani hidup di dunia.


Kesalahpahaman, kerenggangan yang membawa mereka berpisah sampai akhir hayat, semua tak lepas menjadi kubangan penyesalan serta kesalahan terbesar yang pernah Abhi lakukan.


Seandainya dulu ia mau mencari tahu lebih dalam, seandainya ia dan Sandra bisa lebih saling mengerti dan memahami, mungkin ada kesempatan untuk mereka membangun keluarga bahagia.


"Aku minta maaf, Sandra. Aku benar-benar minta maaf," isak Abhi parau.


Sandra menepuk pelan punggung lelaki itu. "Aku juga salah. Seandainya aku lebih terbuka dan berani bertanya, mungkin aku tidak akan larut dalam dendam menyesakkan ini," bisiknya sendu.


"Tidak." Abhi menggeleng. "Ini salahku karena tidak mau jujur padamu. Kamu ... karena kelalaianku kamu harus hidup di tengah neraka bersama Gibran. Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf, Sandra."


Sandra melepas pelukan Abhi, tangannya terangkat mengusap habis air mata lelaki itu. Ia terkekeh kecil saat berucap. "Kamu selalu cengeng sejak dulu."


Abhi tersenyum berusaha menahan tangis yang seolah enggan untuk berhenti. Ia memberanikan diri mengecup kilat bibir Sandra, lalu menjauhkan wajah dengan gugup. "Ma-maaf."


Tawa Sandra mengalun indah. "Abhimanyu si anak baik dan sopan. Kamu terlalu tua untuk bersikap cupu."


"Dan kamu wanita pertama yang menggoda ci cupu ini," balas Abhi tak mau kalah. Ia kembali mengulas senyum menatap wajah cantik Sandra.


Istrinya benar-benar jelmaan bidadari. Tidak, Sandra lebih cantik dari bidadari mana pun. Abhi lagi-lagi dibuat terpaku oleh pesonanya.


Suara tangis bayi menyentak kesadaran mereka. Abhi berkedip, sementara Sandra lekas beranjak dari hadapannya.


Mata Abhi mengikuti pergerakan wanita itu yang menghampiri sebuah ayunan rotan yang terlihat cantik dan lucu dengan kelambu dan bunga-bunga. Sandra bersimpuh menimang ayunan tersebut hingga bergerak pelan dan lembut.


Tangis bayi itu kemudian berhenti. Abhi mendekat penasaran dan bergeming dengan tubuh terpaku. Dua bayi tengah terlelap nyaman di sana. Tubuh kecil mereka menggeliat pelan menggemaskan.


"Ini ..." Abhi bergumam lirih.


Sandra mendongak melempar senyum. "Anak kita."


Abhi balas menatap Sandra, cukup lama hingga pandangannya kembali jatuh pada ayunan di bawah kakinya.


Abhi menatap kedua bayi tersebut lamat-lamat. Yang satu begitu mirip dengan Sandra, satunya lagi percampuran wanita itu dan dirinya.


"Ini ... anak kita?" Abhi masih tak percaya.


Namun, melihat Sandra yang mengangguk yakin, juga rupa keduanya yang mirip ia dan Sandra, Abhi tak bisa untuk tidak percaya.


Kedua anak mereka yang tiada, kini Abhi bisa melihatnya secara langsung, di depan matanya sendiri. Kepedihan dan kehilangan yang menimpa Abhi bertubi-tubi Tuhan ganti dengan kebahagiaan berlipat ganda.


"Arion dan Artemis, itu nama mereka," ucap Sandra.


Abhi turut bersimpuh di samping Sandra. Tangannya terulur mengusap kening kedua bayi mungil itu dengan penuh perasaan. Nalurinya seolah terhubung langsung, disertai rasa sayang yang muncul begitu menyentuh keduanya.


"Arion dan Artemis, terima kasih kalian bersedia hadir kembali di kehidupan kami."


Sandra dan Abhi menoleh saling pandang. Mereka melempar senyum satu sama lain, tawa renyah mengalun begitu Sandra menjatuhkan kepalanya bersandar di bahu Abhi. Abhi mengecup dalam rambut wanita itu dengan sayang. Matanya mendongak menatap langit biru yang membentang menyelimuti padang indah di sekelilingnya.


Ini adalah berkat teristimewa dari Tuhan. Abhi bisa kembali memeluk Sandra, juga anak-anak mereka yang sudah lama menunggu di semenanjung birai peristirahatan.


Tuhan, Abhi benar-benar bahagia sekarang.


...—SELESAI—...