
Rupanya pertemuan Gibran memakan waktu cukup lama. Hingga makan siang berakhir pun Gibran masih belum selesai dengan pekerjaannya. Dan sekarang, para kolega Gibran itu mengajak mereka berjalan-jalan di sekitar Pasar Chatuchak, pasar akhir pekan yang buka dari Jum'at hingga Minggu malam.
Tentu ini menjadi perjalanan bisnis paling menyenangkan bagi Maria. Ia pikir bisnis hanya mencakup meeting dan rapat membosankan. Ternyata setelah ikut Gibran kemari Maria memiliki pandangan berbeda.
Ada beberapa kolega yang memang gemar membuat senang rekannya, seperti kolega Gibran kali ini. Para konglomerat Thailand itu begitu rendah hati dan murah senyum, mereka bahkan tak ragu menginjak pasar semua kalangan yang sebenarnya mampu mereka beli.
Maria sendiri sudah sering mengunjungi tempat ini setiap berlibur ke Thailand. Tapi, suvenir antik dan unik itu masih saja membuatnya terkagum. Maria menatap tertarik setiap stand yang berjejer kiri kanan. Terutama kain, pakaian, tas serta beberapa barang lainnya dengan beragam motif dan model.
Sesekali ia mendengarkan percakapan Gibran dan para koleganya meski tak mengerti. Nick berjalan di belakang mereka bersama para asisten yang lain.
"Kau mau belanja?"
Pertanyaan itu membuat Maria tersentak. Ia menoleh pada Gibran yang ternyata tengah menatapnya penuh. Maria meringis pelan, merasa malu saat mendapati kenyataan ia tak bawa uang. Hanya ada beberapa kartu di dompetnya. Sementara saat ini mereka berada di pasar, tentu uang cash lah yang paling dibutuhkan.
"Ti-Tidak," jawab Maria. Ia melempar senyum kaku, memberi isyarat lewat matanya agar Gibran fokus saja pada koleganya.
Tentu Maria sadar diri. Dalam kondisinya saat ini ia harus mengesampingkan hobi belanjanya. Jika dulu Maria bebas berburu suvenir apa pun saat berlibur, maka sekarang berbeda, ia harus menahan keras-keras keinginannya karena tak memiliki uang.
Itu yang semula ia pikirkan. Hingga saat mereka kembali ke hotel sore hari, Maria dikejutkan dengan kedatangan Nick yang membawa sejumlah tas berisi belanjaan.
Maria terpaku di ambang pintu. Beberapa saat lalu ia dan Gibran baru sampai di hotel. Pria itu bahkan tengah membersihkan diri di kamar mandi. Memang, tadi Nick sempat meminta izin pergi sebentar. Ia sama sekali tak berpikir asisten Gibran itu akan membeli sejumlah barang, tepatnya untuk Maria.
"I-Ini ..."
"Souvernir untuk Nyonya." Nick menyerahkan beberapa tas itu pada Maria.
Maria diam sejenak sebelum kemudian menerimanya dengan raut keheranan. Ia berterima kasih saat Nick menunduk dan kembali pergi.
Maria menutup pintu, tepat saat pintu kamar mandi terbuka, menghadirkan Gibran yang sudah segar dengan pakaian lengkap, celana panjang berwarna khaki dan kaos putih polos pas badan.
Maria menatap pria itu lama. Gibran tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tak lama kepalanya mendongak, membuat mata mereka bertemu pandang beberapa saat.
Cukup lama keduanya beradu tatap. Hingga kening Gibran berkerut saat Maria melempar senyum. Senyum lembut dan tulus yang membuat Gibran terpaku.
"Makasih," ucap Maria.
Gibran bergeming ketika Maria mendekat. Wanita itu mengangkat kedua tangannya yang penuh tas belanja dari Nick.
"Aku tahu Koko yang menyuruhnya. Terima kasih."
Hening. Gibran masih bungkam kendati Maria berdiri di hadapannya. Hingga beberapa detik kemudian pria itu melengos, kembali mengeringkan rambutnya dengan handuk, lalu berjalan ke arah single sofa dekat jendela dan melesakkan tubuhnya di sana.
"Itu untuk semua pegawai di rumah."
Dengan raut berbunga-bunga Maria menyimpan semua tas itu hingga memenuhi ranjang. Kemudian ia berjalan ke kamar mandi sambil bersenandung pelan. Tiba-tiba ia berbalik, "Oya. Jika Koko memang berniat memberi semua pegawai, tolong suruh Nick untuk membeli beberapa lagi, karena ini masih kurang."
Setelah itu Maria menghilang di balik pintu, menyisakan Gibran yang sejenak terdiam seraya berkedip di tempatnya. Pria itu mendengus, namun tangannya tetap meraih ponsel di atas meja, memerintahkan Nick untuk kembali ke pasar guna memenuhi kekurangan yang Maria sebutkan.
Berbeda dengan malam sebelumnya, malam ini Gibran mengajak Maria makan di resto hotel yang terletak di lantai teratas gedung. Panorama langit yang semarak oleh gemerlap kota menjadi pemandangan yang Maria temukan begitu duduk di sana.
Tampaknya tempat ini sangat eksklusif karena hanya menyediakan beberapa meja saja yang semuanya ditempatkan bersisian dengan jendela raksasa yang melingkar. Sementara di tengah ruang terdapat semacam meja bar besar tempat para pramusaji meracik minuman.
Musik klasik mengalun lirih di antara mereka, mengalirkan ketenangan di tengah suasana yang remang dan private juga elegan. Atmosfer ini membuat hati Maria berdebar. Perasaan aneh yang terasa familiar tiba-tiba hinggap tanpa bisa dicegah.
Jantungnya berdetak cepat. Mendadak Maria merasa gugup tanpa alasan, terlebih saat harum parfum Gibran sesekali memasuki indera penciumannya.
"Mau pesan apa?" Suara Gibran memecah suasana.
Membuat Maria terlonjak samar dan keluar dari lamunan. Ia pun membuka buku menu dan menyebutkan dua pilihan. Pramusaji itu mencatatnya lalu pergi dari sana.
Hening kembali menyelimuti keduanya. Gibran maupun Maria tak ada yang inisiatif buka suara. Di samping Gibran yang memang jarang bicara, ada Maria yang kebingungan harus membahas topik apa.
Maria berdehem. Dalam hati ia berdoa semoga tak melakukan kecerobohan saking gugupnya. Kebiasaan memalukan yang sangat ia benci.
"Bagus, ya," celetuk Maria, membuat Gibran mengernyit samar.
Maria melipat bibir sambil menggaruk belakang telinga. "Tempatnya bagus," ucap Maria lagi setengah berbisik.
Bibirnya sedikit mengerucut karena Gibran tak menghiraukannya. Lelaki itu lebih memilih menatap jendela alih-alih Maria yang sudah berdandan cantik di hadapannya.
Astaga, sepertinya Laura benar, Gibran memang tak menyukai wanita. Tapi Maria juga ragu dengan kesimpulan itu karena mereka beberapa kali sempat berciuman. Ralat, hanya dua kali, dan yang pertama tidak Maria sadari.
Tak lama pelayan datang membawa pesanan mereka. Maria dan Gibran pun makan dengan tenang tanpa suara. Sesekali Maria melirik suaminya, mencoba menyelami isi kepala pria itu yang begitu sulit untuk dimengerti. Namun ujung-ujungnya ia menyerah karena tempurung Gibran terlalu tebal hingga sulit ditembus.
"Terima kasih untuk jalan-jalannya hari ini," ucap Maria di sela makan.
"Itu bukan jalan-jalan."
"Aku tahu. Bagi Koko itu hanya pekerjaan. Tapi bagiku itu jalan-jalan. Karena yang kerja kan Koko, bukan aku." Maria tersenyum di balik gelas wine yang tengah ia minum.
Sementara Gibran hanya meliriknya sekilas sambil menyuap makanan ke mulut. Sejenak Maria menatap langit di luar jendela, lalu pada sosok Gibran di hadapannya. Lalaki itu tampak menawan dengan pembawaan yang tenang.
Senyumnya seketika terbit mengingat perhatian Gibran sore tadi. Mungkin Maria terlalu percaya diri, tapi ia tak dapat mencegah asumsinya yang mengatakan bahwa belanjaan yang Nick bawa sebenarnya untuk Maria.
Semua benda di dalamnya adalah barang-barang yang sempat Maria pegang di pasar. Apa hanya kebetulan?