
Jordian meringis di tempat tidurnya. Tubuh pria itu dipenuhi lebam dan memar yang membuat wajahnya hampir tak bisa dikenali. Matanya yang bengkak melirik seorang perawat yang sedang bertugas.
"Suster," panggil Jordian dengan suara serupa bisikan.
Suster itu menoleh, "Ya, Pak? Anda perlu sesuatu?"
"Tolong ambilkan ponsel saya."
Si perawat nampak terdiam sebentar. "Tapi, Dokter menyarankan Anda untuk tidak dulu memegang ponsel. Mata Anda masih dalam perawatan."
Jordian berdecak, "Ini penting, Sus. Sebentar saja, kok. Boleh, ya? Atau Suster bantu saya carikan nomor di ponsel itu. Saya mau telpon soalnya."
Setelah sekian lama berpikir, akhirnya perawat itu bersedia membantu Jordian mencarikan sebuah nomor dengan arahan pria tersebut, lalu menyerahkan benda pipih itu pada Jordian saat panggilannya berhasil tersambung.
Perawat itu keluar, memberi ruang pada Jordian yang sepertinya hendak melakukan pembicaraan penting.
"Halo." Jordian berusaha menahan ringisan yang menjadi-jadi ketika mulutnya bergerak.
"Ada apa?" sahut seseorang di seberang sana.
"Aku berhasil menemukan mereka."
"Benarkah? Kau tahu akibatnya jika berani berbohong, kan?"
Jordian menyentuh dadanya yang terasa sakit, susah payah ia menjawab dan tetap fokus pada pembicaraan.
"Benar. Aku yakin seratus persen bahwa dia adalah Gibran Wiranata yang kalian cari."
"Di mana?"
"Papua. Nanti kukirim tempatnya."
"Oke. Bayaranmu segera menyusul."
Panggilan pun berakhir. Akhirnya Jordian bisa bernafas lega dan istirahat dengan tenang. Ia mempertaruhkan nyawa untuk mengikuti misi ini. Tak apa sekarang ia terbaring mengenaskan sebagai pesakitan, uang yang didapat jauh dari kata setimpal, melebihi honornya sebagai pembalap yang kerap mengikuti kejuaraan.
"Maaf, Maria. Aku tidak bermaksud mengganggumu. Ini semua salahmu, kenapa harus menikah dengan pria yang menjadi buron keluarganya sendiri."
***
Maria meremas gugup jemarinya di pangkuan. Matanya berkali-kali melirik Gibran yang masih enggan bersuara. Maria tahu pria itu pendiam, tapi kali ini berbeda, Gibran seolah sengaja menghindari percakapan dengannya.
Ini semua gara-gara Laura. Kenapa bocah tengil itu masih saja tak mampu menjaga mulut. Alhasil lagi-lagi Maria terkena imbasnya.
"Koko ..."
Mereka tengah istirahat dan makan siang di proyek. Gibran nampak tak acuh dan tak menghiraukan panggilannya.
"Itu ... yang dikatakan Laura boho—" Maria menghentikan ucapannya ketika mendapati lirikan tajam dari Gibran.
"Oke, itu benar. Aku memang sempat bertemu temanku kemarin. Tapi kami hanya makan dan mengobrol. Aku juga menolak untuk bertemu dengannya lagi," rengut Maria di tengah kepalanya yang menunduk.
Entah kenapa dia merasa perlu menjelaskan semuanya. Padahal belum tentu juga Gibran mendiamkannya karena itu. Astaga, percaya diri sekali Maria.
Dengan kesal Maria meraih cangkir teh di hadapannya lalu menyeruputnya dengan cepat, tanpa menyadari teh tersebut masih dalam keadaan panas hingga membakar lidah.
"Aw!"
Refleks Maria menjerit menyimpan kembali cangkir tehnya. Lidah Maria seketika terasa kebas dan perih. Ia mengipas-ngipas bibirnya dengan kedua tangan, sementara Gibran yang saat itu tengah makan kontan langsung menyimpan piringnya setengah dibanting.
"Ceroboh," desisnya sembari menggeser kursi mendekati Maria.
Lelaki itu merogoh saputangan dalam saku, menyingkirkan tangan Maria dan mulai mengusap halus bibir wanita itu. Matanya melirik pada Nick, "Apa yang kau lihat? Cepat ambil es!" teriaknya mengejutkan semua orang, termasuk Maria yang terperanjat di tempat.
"Koko—"
"Diam," potong Gibran tajam. Sontak Maria langsung bungkam.
Nick kembali dengan tergesa membawa bongkahan es batu yang sudah dihancurkan. Gibran langsung mengambil potongan paling kecil dan meminta Maria membuka mulut.
Gibran menyuapkan es tersebut, "Jangan dikunyah. Diamkan saja seperti itu."
Maria mengatupkan bibir melulum es tersebut di mulutnya hingga menggembung.
"Tentwang Odwi ..." Maria berucap tak jelas. Namun lagi-lagi ia berhenti saat mendapat lirikan tajam dari Gibran.
Pria itu menandaskan minuman di gelasnya, lalu bangkit dan berlalu meninggalkan Maria. Ia meminta seorang wanita yang entah berperan sebagai apa di sana untuk menunggui Maria. Sementara Gibran dan Nick kembali menyusuri tempat mengamati pembangunan proyek.
Mata Maria menyipit tajam menghunus punggung Gibran yang menjauh. Dengan kesal ia mengunyah kasar es di mulut dan menelannya bulat-bulat. Lalu mengambil lagi potongan es untuk kemudian ia makan seperti barusan.
***
"Bagaimana?" Sandra bertanya pada anak buahnya.
"Benar, Nyonya. Tuan Muda ada di Indonesia, lebih tepatnya saat ini Beliau berada di Papua untuk sebuah proyek."
Sandra tersenyum miring, "Apa kubilang. Anak itu pasti bersekongkol dengan ayahnya untuk bersembunyi dariku."
"Abhimanyu ... kau pikir kau bisa membodohiku?"
"Tunggu saja, dan lihat apa yang akan kulakukan ..."
Sandra menyeringai sebelum menyeruput tehnya dengan anggun. Matanya memancar penuh siasat. Gibran miliknya, dan ia akan mengambil kembali putranya apa pun yang terjadi.
"Pastikan anak itu untuk terus mengirim informasi sebelum kita terbang ke sana."
"Tentu, Nyonya."
Pria berperawakan besar itu menunduk sebelum kemudian pamit undur diri.
Sandra kembali menyeruput tehnya sambil menerawang menatap jendela.
Sebentar lagi. Tunggu Mama sebentar lagi, Gibran.
***
Maria terduduk di atas ranjang sambil bergulung dalam selimut yang membelit seluruh tubuhnya. Ia berusaha tak menyisakan satu senti pun untuk Gibran. Raut wanita itu masih ditekuk kesal. Matanya terus mengikuti pergerakan Gibran yang sepertinya tak terpengaruh dengan sikap defensifnya.
Pria itu sibuk mondar-mandir tanpa menghiraukan Maria yang sedari tadi menatapnya. Berjalan ke sana kemari dengan berkas dan ponsel di tangan, tanpa sekali pun melirik Maria barang sedetik saja.
Menyebalkan.
Bibir Maria mengerucut. Ia memeluk tubuhnya yang menggembung dibalut selimut tebal. Diam-diam Maria berupaya menarik perhatian Gibran. Tapi memang dasar Gibran tidak peka, lelaki itu terus fokus dengan berkas dan laptop di hadapannya.
Mendadak Maria membenci kedua benda tersebut dan memusuhinya.
"Koko tidak lelah?" tanya Maria dengan suara yang dibuat seketus mungkin. Matanya juga mengerling ke sana kemari, meski akhirnya tetap berakhir pada Gibran.
"Nope," jawab pria itu singkat. Sesekali tangannya membenarkan kacamata.
"Ish," desis Maria.
"Ini sudah malam."
"Hem."
"Katanya itu."
"Hm?"
"Anu."
Hening. Hampir sepuluh menit berlalu dan Gibran tak menyahut lagi.
Maria kesal. Ia menggulingkan tubuhnya di atas ranjang dan berbaring membelakangi Gibran.
"Ya sudah aku tidur duluan!" serunya ketus.
"Katanya setiap malam. Mana? Dia sendiri sibuk kerja," gumam Maria.
Di tengah kedongkolan yang melanda, samar-samar Maria merasakan pergerakan di belakangnya. Lalu tak lama kemudian serbuan nafas hangat menyapa telinga, membuat Maria refleks mengkerut karena kegelian.
"Aku tidak mungkin mengabaikan istriku yang tengah bergairah, bukan?" bisik Gibran.
Maria mendelik, "Apa? Kenapa jadi aku yang bergairah?"
Gibran terkekeh singkat, "Sejak tadi kau berusaha keras menarik perhatianku."
"Baiklah, Mrs. Wiranata. Harus kumulai dari mana? Bibir? Leher? Dada?"
"Katakan, mana yang harus kucium terlebih dulu? Atau ... kita langsung ke inti saja?"
Maria tak bisa menahan wajahnya yang memerah mendengar pertanyaan frontal dari Gibran.
Apa-apaan pria itu!