His Purpose

His Purpose
81. Voyage (Go to New York)



Satu bulan berlalu, hubungan keduanya semakin dekat kendati masih tinggal di kamar terpisah. Maria enggan meninggalkan kamar baru karena sudah terlanjur nyaman di sana. Lagipula, butuh berbulan-bulan untuk merenovasi kamar itu. Akan terasa sia-sia bila pada akhirnya ia pindah ke kamar Gibran yang menurutnya sangat suram.


Maria tidak suka nuansa gelap ruangan pribadi suaminya itu. Cahaya redup dengan kilap hitam yang mewah membuat Maria merinding seakan tengah berada di ruang kematian. Mirip kamar-kamar mafia yang kerap Maria lihat di film-film Hollywood.


Namun, Maria sendiri tidak percaya di sanalah awal mula hubungan panas mereka.


Meski ia dan Gibran bercinta hampir setiap hari, nyatanya itu masih belum cukup untuk mengenal Gibran secara keseluruhan. Akan tetapi, anehnya Maria merasa tepat dan benar ketika berada di samping pria itu, seakan-akan memang di sanalah tempat Maria seharusnya.


Maria merasakan nyaman yang bisa dibilang familiar. Entah kapan ia mengalami perasaan seperti ini, rasa menggebu yang meluap-luap hingga terkadang membuatnya lemas tak berdaya. Saking kencangnya jantung Maria berdetak, ia hampir mengira itu adalah penyakit yang mengharuskannya konsultasi ke dokter spesialis.


Maria merasa, ia sudah sepenuhnya ketergantungan terhadap Gibran. Eksistensinya mempengaruhi Maria setiap waktu. Ia tidak bisa tenang jika belum melihatnya barang sehari saja.


Mungkin, pesan asing yang tanpa sengaja ia baca adalah satu dari sekian pemicu kecemasan yang Maria alami.


Seperti sekarang, Gibran tiba-tiba saja mengutarakan rencana untuk pergi ke New York. Bersama Nick sang asisten, pria itu nampak terburu-buru mengemas pakaian. Entah hal apa yang membuatnya begitu resah, tapi Maria bisa melihat satu kecemasan yang coba Gibran sembunyikan.


Apa ini mengenai pekerjaan? Atau ada hal lain yang begitu gawat?


"Kenapa aku tidak boleh ikut?" rengut Maria yang kini tengah duduk di sofa meja ruang wardrobe.


Gibran sibuk memilah setelan jas dan baju-baju lain ke dalam koper. Pria itu beralih pada laci jam tangan dan mengambil beberapa. Padahal, tanpa repot begini pun Maria tahu Gibran sangat lebih dari mampu untuk membeli persiapannya tanpa harus repot-repot berkemas.


"Aku tidak akan fokus jika kau ikut," ucap Gibran seraya menutup rapat kopernya.


Wajah Maria semakin keruh. Ia tak bicara lagi dan memilih mengamati Gibran dalam diam. Percuma, sedari tadi ia sudah merengek ingin ikut, tapi pria itu tak menggubris.


Sebetulnya Maria juga heran, kenapa ia jadi berlebihan terhadap apa pun yang menyangkut Gibran. Sejak pulang dari Papua Maria seakan paranoid dengan apa pun yang dilakukan lelaki itu.


Maria sadar betul perasaannya pada sang suami tidak bisa dianggap biasa. Hal yang membuat hatinya kelu dengan rasa takut tak menentu. Bukan tanpa alasan, pasalnya setiap ia menjatuhkan hati pada seseorang, Tuhan justru berkehendak lain dengan merenggut segala rasa yang telah ia rajut.


Maria takut, seandainya ia berterus terang Gibran juga akan pergi seperti yang lainnya.


"Aku janji tidak akan mengganggu. Tak apa jika Koko ingin mengurungku di kamar hotel."


Maria serius mengatakan itu, namun berbeda dengan Gibran yang seketika menyeringai mendengar usulan Maria. "Maksudnya kau sudah mulai candu dengan sentuhanku?"


Maria berdecak sambil menghentak kaki. Bibirnya mengerucut sebal mendengar gagasan Gibran yang terkesan percaya diri.


Melihat hal tersebut Gibran tak kuasa menahan diri untuk menggigit bibir ranum Maria, membuat wanita itu seketika menjauh dan menampar pelan rahangnya yang lebih terkesan seperti elusan.


Gibran terkekeh, ia mengecup kilat bibir Maria sambil menatap lekat rautnya yang keruh. "Secepatnya aku akan kembali."


"Janji?"


"Hem."


"Berapa lama?"


Gibran terdiam cukup lama. Hal itu membuat keraguan Maria semakin menguat. Gibran mengambil tangan Maria, mengecup jemarinya menempelkan genggamannya di pipi.


"Tidak akan lama."


Maria bergeming seakan tak percaya.


"Plum?"


Hening. Entah hanya perasaan atau memang Maria semakin hari semakin sensitif. Gibran mendapati beberapa perbedaan dari sikap Maria. Wanita itu jadi jauh lebih welcome terhadapnya, bahkan cenderung menunjukkan sifat manja dan meninggalkan sifat pasif yang sebelumnya bersarang di awal mula pernikahan.


"Koko tidak selingkuh, kan?" cetus Maria tiba-tiba.


Gibran mengerjap keluar dari lamunan. "Apa?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Jawab. Aku tahu hubungan kita tidak seperti pernikahan pada umumnya. Hubungan kita diawali oleh keterpaksaan. Tapi bukankah Koko bilang serius dengan pernikahan ini? Aku pun serius. Sejak Koko memintaku melupakan Gabriel, aku sudah melakukannya bahkan jauh sebelum itu."


"Jadi, bolehkah aku minta Koko untuk setia?"


Sunyi menggema di sela tatap keduanya. Maria berkaca dengan sorot disertai kegelisahan. Raut Gibran berangsur melunak, pandangannya tak lepas dari sang istri yang kini berwajah merah menahan gejolak yang tiba-tiba menyelimuti suasana.


Gibran melepas genggamannya di tangan Maria, beralih merangkum kedua sisi wajah wanita itu seraya menatap dalam netranya yang berbayang.


"Apa yang kamu pikirkan? Kamu pikir aku pria seperti apa yang bisa melakukan hal tak bermoral seperti itu?"


Maria menjawab dengan bibir bergetar, "Karena aku tidak tahu Koko memandangku sebagai apa."


"Aku tidak tahu apa aku cukup berarti sebagai istri."


"Atau ... Koko justru hanya menganggapku sebagai wanita bodoh yang bisa dijadikan pemuas dikala penat?"


"Aku ..."


"Enough," tukas Gibran datar.


"Aku tidak yakin apa yang membuatmu begitu emosional hingga berkata omong kosong seperti itu."


"Satu hal yang harus kamu tahu, aku ke New York untuk bekerja, bukan satu atau sekian alasan yang barusan kamu paparkan."


"Aku tidak ada waktu untuk bermain-main apalagi mendua seperti yang kamu tuduhkan. Karena aku lebih suka uang ketimbang wanita-wanita parasit yang mencari kesenangan juga keuntungan."


"Jadi, Koko lebih suka uang daripada aku?" cicit Maria sedikit sedih.


Gibran hampir berdecak dan memutar mata menghadapi Maria yang menurutnya kurang peka.


"Kamu istriku."


"Tapi ... aku juga menyukai kesenangan dan keuntungan."


Helaan nafas keluar dari mulut Gibran. "Itu jelas dua hal yang berbeda."


"Intinya, kamu berhak melakukan semua hal itu padaku. Mencari kesenangan dan keuntungan, aku berkewajiban menyediakannya untukmu. Mengerti?"


Maria berkedip, "Entahlah ..."


Gibran membuang nafasnya keras. Ia menumpukan kedua tangan di sofa, samping kiri dan kanan Maria. Tanpa sadar Gibran berbisik samar, "Kau memang selalu lama memaknai ucapan."


"Koko bilang apa?"


Gibran meluruskan tubuh berdiri. Tangannya berlagak membenarkan kancing lengan serta jam tangan yang melingkar. "Bukan apa-apa. Ayo, helikopternya sudah datang."


Maria mencibir, ia mengikuti sang suami yang keluar dari kamar. Keduanya beranjak menuju taman belakang, tempat di mana helikopter Gibran terparkir menunggu sang tuan.


Suara bising seketika menyapa telinga. Angin kencang menerbangkan rambut Maria yang berjalan mengantar Gibran ke tengah lapangan.


Nick berdiri di sana, bersama sejumlah pengawal yang sontak membungkuk ketika ia dan Gibran sampai di hadapan mereka.


Gibran berbalik. Pria itu meraih kepala Maria dan melabuhkan kecupan di kening. Cukup lama sebelum beralih memipis bibir yang mungkin akan ia rindukan selama beberapa hari ke depan.


"Tidak ada yang lebih menarik dari bibir ini," bisiknya mesra.