
Sunyi mencekam, mencengkram hati Maria yang diliputi gundah. 18 jam berlalu tanpa kepastian. Waktu terus beranjak menguar kecemasan.
Maria diam membatu mengamati Gibran yang tertidur pulas. Tubuhnya semakin pias cenderung membiru. Tak terhitung berapa kali Maria menangis, mengkhawatirkan keadaan sang suami yang entah bagaimana nasibnya.
Aku memang payah.
Berkali-kali Maria membisikkan itu dalam hati. Kepasifannya dalam menolong Gibran membuat Maria merasa tak berguna lantaran hanya bisa diam tanpa melakukan apa pun.
Ia ingin melakukan sesuatu, tapi tak tahu harus memulai dari mana. Sementara Maria sendiri tak tahu menahu mengenai penawar racun itu ada di mana.
Saat ditanyai tak ada satu pun yang menjawabnya. Grandpa, Gabriel, bahkan Nick turut bungkam tak memberi tahu Maria.
Apa mereka belum menemukan siapa pelakunya? Itu tidak mungkin. Nick adalah tangan kanan Gibran yang cekatan dan mampu menggaet informasi dalam hitungan menit. Mustahil ia belum menemukan dalang dari insiden racun mematikan itu.
Sedang di tempat lain, Nick, Jill serta Dean tengah berupaya melacak keberadaan Jim. Jill yang merupakan seorang ahli IT bergerak lihai menarikan jemarinya di atas keyboard.
Ada beberapa titik yang Jill temukan pernah disinggahi Jim. Meski berkali-kali terjebak sinyal palsu, bukan Jill namanya jika tak bisa memecah solusi itu.
"Bagaimana?" tanya Nick tak sabar.
"Tunggu sebentar lagi," jawab Jill.
Nick mendecak keras. Pelacakan kali ini sungguh merepotkan. Rupanya Jim begitu ahli dan gesit dalam menghindari mereka. Tak heran pria itu dijuluki bayangan hitam David Willis, pergerakannya sungguh lihai hingga mampu berkali-kali mengecoh seorang ahli IT terbaik sekelas Jill.
Sementara Gabriel, pria itu menghentikan mobilnya di sebuah gedung apartemen mewah. Ia mendongak sebentar pada bangunan di atasnya sebelum kemudian turun membuka pintu.
Gabriel membenarkan kacamata hitamnya saat memasuki lobi. Ia berjalan santai menghampiri resepsionis dan bertanya sambil menyandarkan tubuhnya di meja. "Penghuni penthouse teratas, bisa aku bertemu dengannya?"
Resepsionis itu tersenyum ramah. "Maaf, apa Anda sudah memiliki janji?"
"Tidak."
"Mohon maaf sekali kalau begitu, Anda tak bisa bertemu karena tak memenuhi prosedur."
Gabriel berkerut kesal. Ia diam sejenak tampak berpikir, hingga sebuah suara di belakangnya menarik seluruh atensi Gabriel untuk berbalik.
"Ada apa?"
Alunan suara yang terdengar begitu anggun dan berkelas. Gabriel mematung sesaat melihat perempuan cantik di hadapannya.
Putih, tinggi semampai, masih segar di umurnya yang sekarang. Benarkah ini Sandra Willis, perempuan yang pernah melahirkannya 27 tahun yang lalu?
Keduanya saling beradu pandang cukup lama. Sandra menatap Gabriel, meneliti sosoknya dari atas hingga bawah sampai akhirnya ia berdehem, "Kamu mencariku?"
Sesaat Gabriel bergeming tak mampu menjawab. Ia mengalihkan pandangan dan membuang nafasnya samar. "Benar," jawabnya pendek.
Mereka begitu asing. Mereka seperti orang lain. Tak ada kata temu sapa selayaknya anak dan orang tua. Mungkin karena keduanya berpisah begitu lama hingga 25 tahun.
Sandra terdiam sejenak lalu mengangguk kecil. "Oke, mari."
Wanita itu berbalik kembali menuju lift khusus. Gabriel mengikutinya memasuki kotak besi yang dilapisi kaca transparan di bagian sisi terluar hingga ia bisa melihat daratan yang semakin mengecil seiring tubuhnya yang semakin naik.
Lift terbuka menampilkan mewahnya kediaman Sandra Willis. Gabriel bukan orang baru kaya yang heran dengan gemerlap semacam itu. Ia mengikuti Sandra hingga ke tengah ruangan.
Wanita itu menyimpan tasnya di sofa. "Mau minum apa?"
Sandra berbalik, lantas mengangkat alis menatap Gabriel.
"Anda pasti tahu tujuan saya kemari untuk apa," lanjut Gabriel setelah lama hening.
Lagi-lagi Sandra hanya menatap Gabriel. Lama wanita itu terdiam sebelum sudut bibirnya terangkat sumir. Sandra berjalan ke arah sofa dan melesakkan diri di sana. Kakinya menyilang dengan mata tak lepas dari Gabriel.
"Kamu salah jika mencari penawar itu padaku."
"Bukan aku yang membuat racun. Bukan pula aku yang meracuni."
Gabriel berucap dingin. "Setidaknya Anda memiliki keinginan untuk membantu. Bukankah dia anak kesayangan Anda? Anda juga tahu siapa pelakunya."
"Itu jika benar Anda memiliki nurani seorang ibu," desis Gabriel melanjutkan. Bibirnya menipis tajam membalas tatapan Sandra yang sedari tadi tak lepas tersenyum.
Senyum santai yang meremehkan lawan bicara.
"Seorang adik yang cemburu pada kakaknya ..." ucap Sandra menggantung. "Bersedia repot-repot mencari penawar racun. Lucu sekali."
"Ini bukan hal yang pantas untuk candaan. Gibran kritis karena racun itu. Tidakkah sedikit saja kau memiliki rasa khawatir?" Gabriel sudah kehilangan respek saking kesalnya.
Baru kali ini ia bertemu orang sesantai itu di saat anaknya hendak mati.
"Aku bisa mengerti jika kau bersikap abai padaku. Tapi Gibran, bukankah dia anak yang selama ini kau bangga-banggakan? Gibran hidup puluhan tahun denganmu."
"Setidaknya kupikir kamu bisa membantu. Tapi rupanya aku salah. Kau hanya wanita kejam yang tak memiliki perasaan sekalipun terhadap anaknya."
Gabriel berbalik meninggalkan Sandra. Terakhir ia menatap wanita itu dingin hingga pintu lift menutup menelan kehadirannya.
Sandra menatap lama pintu lift tersebut. Rautnya terlihat rumit sabelum kemudian beralih pandang ke arah jendela.
Gabriel yang sudah sampai di lobi melangkah lebar menuju mobilnya. Ia mengeluarkan ponsel guna menelpon seseorang.
"Cari tahu keberadaan David Willis. Aku yakin dugaanku benar, pria itu sudah tiba di sini sejak beberapa hari yang lalu."
Telpon ditutup dan Gabriel pun lekas memasuki kemudi melajukan mobilnya meninggalkan kawasan apartemen.
Di samping itu, Nick berlari layaknya atlet meloncati berbagai medan di rooftop. Di depannya, Jim tak kalah gesit menghindar. Beberapa saat lalu Jill berhasil menemukan radar asli pria itu di sebuah bangunan dekat Wiranata Group. Kini mereka berkejaran meloncat dari satu atap ke atap lain tanpa kenal rasa takut.
Jim berhenti saat Jill dan Dean menghadangnya dari depan. Dua pengawal wanita itu mengambil jalan pintas yang tepat saat Nick mengejarnya sendiri beberapa saat lalu.
Sesaat mereka terengah saling waspada sebelum Dean yang pertama kali maju menyerang pria itu. Baku hantam pun tak terelakan. Dean memiting tangan Jim, namun rupanya pria itu masih bisa lolos dan kini berkelahi melawan Nick dan Jill sekaligus.
Jim berhasil dilumpuhkan sejenak. Sebelum suara gemuruh dan angin kencang menyapa mereka hingga Nick yang semula memegangi Jim kehilangan fokus dan berimbas pada lepasnya Jim yang entah sejak kapan bergelantungan di tali sambil menaiki helikopter yang berangsur cepat menjauhi mereka.
"Sial!" Nick berteriak kesal.
Tidak hanya itu, tiba-tiba saja gedung yang mereka pijak terasa bergetar, dan itu berasal dari suara ledakan di lantai dasar yang berangsur naik ke atas.
Nick, Jill dan juga Dean memasang wajah terkejut.
"Run!" teriak Nick sebelum dengan cepat melompat ke gedung sebelah, tepat saat rooftop yang mereka pijak meledak dengan begitu dahsyat.
Duuaarrr!!!