His Purpose

His Purpose
AFTER HIS PURPOSE



Harley membukakan pintu untuk Gibran. Pria itu melenggang turun dari mobil dengan elegan. Gibran menarik sejenak jasnya yang dirasa kusut, lalu melangkah memasuki lobi diikuti Harley di belakangnya.


Ia disambut hormat oleh si pemilik butik yang merupakan pria tua. Adalah Franky, seorang perancang busana profesional yang sudah senior.


"Selamat datang, Tuan. Mari, jas Anda sudah menunggu di atas."


Gibran mengangguk, ia berjalan mengikuti Franky yang membawanya ke lantai dua butik mewah tersebut. Tujuan Gibran kemari memang untuk mencoba jas yang beberapa waktu lalu dipesannya.


Mereka pun tiba di sebuah ruangan luas dengan banyak pakaian yang tertata rapi. Franky mempersilakan Gibran untuk duduk sementara dirinya pergi ke ruangan lain untuk mengambil jas. Pria itu juga menjamu Gibran dengan berbagai jenis minuman beralkohol kualitas tinggi.


Harley berdiri di sampingnya tanpa bosan. Salah satu poin yang Gibran sukai dari mantan ajudan sang ibu adalah sikap diamnya yang tak banyak bicara, berbeda dengan Nick yang sedikit cerewet dan kerap membuat pusing. Meski begitu keduanya sama-sama memiliki daya intelijen yang kuat. Gibran tak segan membayar tinggi gaji mereka.


Franky datang membawa sebuah manekin dengan dibantu satu pegawainya. Sebuah jas yang terlihat licin dan elegan membalut pas manekin setengah badan tersebut.


"Silakan, Tuan."


Gibran berdiri, melangkah memutari mahakarya seorang Franky yang sering diagungkan dunia. Matanya mengamati lekat seolah sedang menilai.


Tentu hal tersebut membuat Franky harap-harap cemas sendiri. Dari sekian banyak pelanggan papan atas, Gibran lah yang paling mengintimidasinya, membuatnya berkali lipat lebih teliti dan hati-hati dalam membuat pakaian.


Tanpa diduga Gibran justru mengangguk kecil. "Tidak buruk," katanya.


Tidak buruk. Itu berarti tidak jelek tapi juga tidak bagus. Seriously? Franky yang biasa dipuji bahkan oleh pangeran dari berbagai negara sontak merasa kecil.


Luar biasa. Benar seperti kata rumor yang beredar, Gibran Wiranata adalah orang yang sangat berani dalam berpendapat. Franky kagum dibuatnya.


Gibran menoleh pada Harley, matanya mengendik ke arah jas tersebut yang langsung dimengerti oleh lelaki itu. Harley dengan cepat mengurus pengemasan dan bembayaran jas tersebut dan menyusul Gibran yang sudah lebih dulu turun ke bawah.


"Jam berapa Maria pulang?" tanya Gibran seraya melirik jam tangan. Kaki panjangnya berayun keluar lobi.


Harley segera membuka pintu mobil untuk lelaki itu dan kemudian menjawab. "Sore ini, Tuan."


Gibran mengangguk mengerti. Ia pun lekas meliukkan badannya memasuki mobil. Franky dan beberapa pegawainya berdiri di depan butik mengantar kepergian Gibran.


Mereka membungkuk hormat seiring mobil mewah lelaki itu menggeleser meninggalkan pelataran.


Gibran menatap tenang keluar jendela. Ia sangat merindukan Maria dan putra-putrinya yang seminggu ini tak ada di rumah. Mereka tengah liburan, dan Gibran yakin ketiganya masih merajuk lantaran dirinya yang gagal ikut sesuai rencana.


Terbukti dari tak ada satupun panggilan Gibran yang diterima. Mau itu Maria atau Alisandra, keduanya kompak menolak telpon jika dirinya menghubungi.


Jika bukan karena proyek barunya yang mendadak bermasalah, Gibran tak akan serta-merta ingkar janji. Tapi mau bagaimana lagi, ia tak mau merugi seandainya tetap nekat berlibur bersama mereka.


Mobil menepi di pekarangan mansion. Gibran langsung turun sebelum Harley membukakannya pintu. Kontan Harley terhenyak malu karena merasa kurang gesit.


Harley segera mengambil jas baru Gibran dan mengikuti pria itu memasuki mansion, menyerahkan jas yang masih terbungkus itu pada Marta yang menyambut mereka di ruang depan.


***


Sore harinya, persis seperti yang Harley bilang Maria pulang dengan helikopter pribadi milik Gibran yang mendarat mulus di landasan.


Entah siapa yang meminta Derick menjemputnya di bandara. Sudah Gibran bilang ia tak tahu menahu karena Maria maupun Alisandra tengah marah padanya. Gibran hanya sesekali mendapat kabar dari Harley atau anak buahnya yang lain. Selebihnya Maria seperti sengaja membungkam mereka agar tak memberi informasi padanya.


Gibran menunggu di koridor, berdiri menenggelamkan kedua tangannya di saku. Dari kejauhan terlihat Alisandra berlari sambil memegangi rambutnya yang berkibar karena angin. Disusul Maria dan Alison di gendongannya.


Wanita itu memeluk erat putra mereka, berusaha melindunginya dari deburan angin kencang dari baling-baling helikopter.


"Haly!! Princess come homeee ...!!"


Bukan Gibran yang pertama Alisandra sambut, melainkan Harley. Sial. Tiba-tiba Gibran iri pada asistennya sendiri.


Ia mendelik yang langsung membuat Harley seketika meringis dalam hati. Harley menyambut Alisandra yang langsung melompat begitu sampai di depannya.


Harley memeluk gadis 6 tahun itu dengan erat, takut tubuh berisinya jatuh yang akan membuat Gibran semakin mengamuk padanya.


Sementara Gibran sendiri tersenyum melihat Maria dan Alison berjalan ke arahnya. Ia bersiap membawa mereka dalam pelukan.


Akan tetapi, alih-alih menanggapi senyum Gibran, Maria justru membawa Alison melewatinya memasuki mansion.


Sesaat Gibran terdiam, ia mendengus tak percaya sambil mengamati punggung sang istri yang baru saja melenggang cuek.


Sialan, ini menyebalkan. Kali ini Gibran harus mengeluarkan uang berapa milyar untuk membujuk mereka. Terakhir kali anak dan istrinya merajuk, Gibran menggelontorkan hampir 1 triliun dari rekeningnya.


Alisandra bukan main, dia lebih-lebih menuruni sifat Maria. Bedanya gadis kecil itu tak pernah tanggung-tanggung jika mengerjainya.


Kalau kata Nick, ini pasti gara-gara Maria yang ngidamnya suka menghambur-hambur uang ketika hamil. Betapa tidak, entah berapa banyak kerugian yang dialami Gibran saat Maria hamil Alisandra.


Berbeda sekali dengan saat hamil kedua, Maria hampir tak pernah berbuat ulah kecuali minta makanan yang untungnya masih mudah dicari.


"Haly, aku punya baju renang baru. Nanti kamu temani aku, ya?"


Jengkel karena diacuhkan, Gibran pun berbalik memasuki rumahnya. Kenapa tidak ada satu pun dari mereka yang menghiraukan keberadaannya.


Tidakkah Alisandra merindukannya? Tidakkah Maria rindu hangat tubuhnya?


Memasuki kamar, Gibran mendapati Maria yang tengah menyusui Alison. Bocah yang 4 bulan lagi memasuki usia 2 tahun itu berkedip menyadari kehadiran Gibran.


Anak itu melepas sejenak sesapannya dan menoleh, ia bersuara lucu menatap Gibran dengan wajah imutnya. Mata bulatnya berkedip polos. Benar-benar menggemaskan dan berhasil membuat raut keruh Gibran seketika menghangat.


Gibran tersenyum menatap anaknya teduh. Ia mendekat, melesakkan diri di pinggir ranjang, tepat di samping Alison yang berbaring di pelukan Maria.


Gibran membungkuk menciumi wajah sang putra dengan gemas. Berbeda dengan Alisandra yang kental dengan darah Amerika Sandra Willis, Alison justru mengambil perpaduan antara dirinya dan Maria.


"I miss you so much, Boy."


"Didy?" celoteh Alison sedikit kegelian.


"Hm?" Gibran menjauhkan wajah dan mengulas senyum menatap sang putra.


"Didy."


Gibran tahu Alison hanya memanggilnya secara random, anak itu tengah giat-giatnya melatih kemampuan bicara.


Terbukti dari sesaat kemudian dia kembali menghadap ibunya mencari susu. Tanpa sadar Gibran terkekeh melihat itu. Ia sudah sering menyaksikan anak-anaknya minum ASI, dan entah kenapa pemandangan itu selalu berhasil membuat hati Gibran terasa hangat dan tenteram.


Gibran mendongak menatap Maria, dan saat itu ia juga mendapati Maria tangah memandangnya. Kontan Gibran menarik kedua garis bibirnya untuk tersenyum.


Ia mengulurkan tangan menyentuh pipi sang istri, mengusapnya halus. "Maaf," bisiknya lembut. "Aku bukan tidak ingin ikut liburan dengan kalian, tapi proyek ini benar-benar tak bisa kutinggalkan."


Maria terdiam lama. Gibran sudah pasrah seandainya wanita itu menendang dirinya dan melarangnya tidur bersama.


Namun tanpa diduga Maria justru tersenyum. "Aku tahu. Aku sadar aku egois. Habisnya Koko makin jarang menghabiskan waktu buat kita," keluhnya setengah berbisik.


Ia lihat Alison mulai berkedip sayu menahan kantuk, pasti sebentar lagi anak itu tertidur.


Gibran tersenyum nanar. Ia sadar betul semakin jarang meluangkan waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Dan Gibran sangat merasa bersalah untuk itu.


"I'm so sorry, Honey. Kamu pasti lelah mengurus anak kita sendiri. Setelah ini aku janji kita liburan bersama."


"Kamu mau ke mana? Inggris, Korea, Jepang, Santorini? Katakan, ke mana list liburan Alisandra selanjutnya? Setelah proyek kali ini selesai aku cukup luang sebulan. Kita pasti bisa family time bersama."


Maria menggeleng pelan. Ia menatap Gibran penuh perasaan, namun ada sedikit kecewa yang Gibran temukan di sana.


"Kita tak butuh traveling luar negeri," bisiknya. "Yang kita mau itu Koko. Koko yang menghabiskan waktu dengan kita, bukan yang lain," lanjut Maria sedih.


"Aku pikir Koko sudah berubah. Ternyata, Koko masih menganggap bahwa uang bisa menyelesaikan segalanya."


"Koko pikir dengan membelikan barang-barang mewah, jalan-jalan mahal untuk membujuk kita adalah langkah terbaik? Apa gunanya tempat jauh dan bagus jika Koko saja masih suka mementingkan pekerjaan saat kita bersama?"


"Liburan itu tak harus jauh-jauh. Taman belakang kita, rumah kaca, kebun pinus, jika Koko memang serius ingin menghabiskan waktu dengan kita, itu jauh lebih berkualitas ketimbang kita jalan-jalan ke luar negeri tapi seringnya malah aku yang jaga anak-anak kita sendiri. Koko mungkin merasa aman karena sudah membayar bodyguard, tapi kita tidak nyaman. Aku ingin Koko yang jadi pelindung kita, bukan mereka."


Saat itulah Gibran merasa terhenyak. Hatinya seolah dihantam ribuan belati tak kasat mata. Mendengar penjelasan Maria, Gibran semakin membuka matanya lebar-lebar.


Ternyata sikapnya sudah separah itu menyikapi keluarga kecilnya. Ia masih tak bisa mengontrol diri saat bekerja.


"Aku tahu Koko senang bekerja sejak muda. Tapi tolong, sekarang kurangi sedikit saja ambisi itu. Apa gunanya uang banyak jika keluarga kita tidak harmonis? Koko mau nanti Sandra dan Alison hilang respect pada ayahnya sendiri?"


Benar, apa gunanya harta menggunung. Tanpa mereka Gibran juga tak bisa menghabiskannya sendiri.


Gibran tersenyum menatap Maria, ia lalu menunduk mengecup putra mereka yang kini tertidur pulas.


"Kamu benar."


Mendadak ranjang di bawah mereka melonjak ketika Alisandra tiba-tiba saja muncul dan meloncat ke tengah-tengah mereka.


"Hus, Kakak! Nanti adiknya bangun," tegur Maria pelan.


Namun Sandra tak menghiraukan, ia menyusup dan bergelung manja memeluk Gibran. Gibran sendiri terkekeh mengusap rambut putrinya dengan sayang.


"Daddy tidak boleh ingkar janji lagi, atau nanti Sandra akan menjual adik ke pasar buah," kicau Sandra asal.


Namun Gibran justru tertawa merasa lucu, hal yang membuat Maria langsung memelototinya karena berisik.


Akhirnya Gibran menghentikan tawanya dan beralih memeluk ketiganya dengan perasaan lega.


Ia bahagia, dua wanita paling berarti dalam hidupnya tak lagi marah. Ia janji setelah ini akan lebih menjaga mereka, baik itu fisik maupun perasaan.