His Purpose

His Purpose
35. Complicated



"Maaf membuatmu menunggu. Tadi aku ke toilet sebentar."


Valencia mendongak dan seketika tersenyum mendapati sang kekasih menduduki kursi di hadapannya. "Tidak masalah. Tapi aku hampir mengajak pria lain untuk menggantikanmu duduk di sana," ucapnya bercanda.


Pria itu mendenguskan senyum, "Kau tidak akan bisa melakukannya karena terlalu mencintaiku."


Valencia memutar bola mata, "Tentu saja bisa. Cinta tak cukup kuat menjadi alasan untuk berpaling."


"Baiklah. Aku minta maaf. Lain kali akan kukabari meski buang air sekali pun."


"Ish, tidak seperti itu juga. Bisa-bisanya kau membicarakan hal jorok di saat kita mau makan."


Pria tersebut tertawa lirih, "Kau yang memulai, Sayang. Ingat itu."


Valencia mencibir. Ia tak membalas gurauan pria itu karena seorang pramusaji datang menghampiri mereka. Keduanya pun memesan berbagai hidangan dan makan dengan tenang sambil sesekali berbincang layaknya pasangan pada umumnya.


***


Gibran menjauhkan wajah. Nafasnya terengah menatap Maria yang juga menatapnya. Keduanya larut dalam suasana hening yang menyelimuti. Namun begitu, atmosfer panas serta-merta menyerang tanpa bisa dicegah.


"Ko-Koko ..."


Gibran kembali mencium Maria. Memagut bibirnya dengan sedikit tergesa hingga tak ada waktu bagi Maria untuk menolak.


"Emh ..." Maria tak bisa menahan lenguhan. Terlebih saat Gibran semakin menekan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka.


Gibran melepas pagutannya dan kembali menjauh. Ia seperti tengah memikirkan sesuatu. Matanya terpejam rapat seakan menahan beban berat.


"Koko?" lirih Maria karena Gibran yang tiba-tiba menyingkir. Sikap Gibran membuatnya bingung.


Pria itu mundur beberapa langkah, menyandarkan tubuh dengan kepala menengadah. Gibran nampak berusaha menetralkan nafas. Kemudian pria itu mendengus dan berbicara sendiri. "Kenapa aku harus repot-repot begini?"


Hening. Maria memperhatikan dalam diam. Entah karena apa, tapi hatinya sedikit kecewa. Kenapa Gibran sering sekali mempermainkan hatinya.


Gibran menoleh. Hal tersebut membuat Maria terhenyak karena tatapan Gibran terlihat asing. Sorot matanya persis ketika mereka pertama kali bertemu.


"Kita pulang malam ini juga," ucap Gibran, dingin.


"Ke-Kenapa tiba-tiba?" Maria tergagap.


Namun Gibran tak menjawab. Pria itu keluar begitu pintu lift terbuka di lantai kamar mereka. Maria pun gegas menyusul Gibran, ia ingin sekali bertanya mengenai sikap pria itu yang kerap berubah-ubah padanya.


"Koko—" Maria menahan ucapannya saat dilihatnya Gibran tengah berhadapan dengan seorang pria asing.


Ia berjalan pelan menghampiri kedua orang itu, berdiri di samping Gibran dengan raut keheranan.


"Your wife?" tanya pria berperawakan bule tersebut.


Maria tersenyum hendak mengenalkan diri. Namun Gibran menurunkan tangannya yang terulur dan menatapnya penuh peringatan. "Masuklah dulu," titahnya dalam bahasa Inggris.


Maria tak punya pilihan lain. Bibirnya tersungging kaku seraya perlahan menjauh mendekati kamarnya. Sesuatu seakan mencubit hatinya. Ia merasa Gibran tengah membuat batasan dan menyuruhnya untuk sadar diri bahwa ia masih berdiri di luar lingkaran.


Apa yang sebenarnya Gibran pikirkan. Tiba-tiba saja pria itu menciumnya, lalu kemudian berubah seperti gunung es yang membeku dan mengalirkan udara yang membuatnya menggigil.


Maria membuka dan menutup kembali pintu di belakangnya. Ia bersandar sebentar sambil merenungi hatinya. Tanpa ia sadari, perasaannya mulai terombang-ambing tanpa arah.


Di satu sisi ia mulai gila karena terlena dan menuai harapan pada Gibran. Tapi di sisi lain ia juga merasa takut dan bersalah. Terlebih saat tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan Gibran dengan pria bule di luar sana. Sesuatu menyangkut pertunangan Gibran dengan wanita entah siapa.


Maria mendengus kecil. Ia menunduk dan tersenyum menatap lantai di bawahnya. "Kenapa aku jadi sentimental begini?" bisiknya pada diri sendiri.


"Padahal aku tahu suatu saat hal seperti ini akan terjadi."


"Seharusnya aku sadar dan tetap membatasi hatiku."


Maria mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Tapi kenapa aku sedikit tidak rela? Kenapa dadaku seolah sesak?" gumamnya lagi.


Benarkah hanya sedikit? Lantas, kenapa ia ingin menangis sekarang?


***


Gibran masuk tepat beberapa menit sebelum tengah malam. Pria itu membuka jas dan kancing kemejanya saat Maria tiba-tiba menegur. Wanita tersebut tengah selimutan di atas sofa sambil menonton TV.


"Aku sudah selesai beres-beres," ucapnya.


"Hm." Gibran menggumam sebelum kemudian berjalan menuju kamar mandi.


"Apa aku juga boleh mengemas barang-barang Koko?"


Gibran berhenti di ambang pintu. "Terserah."


"Oke," balas Maria pendek seraya mengamati punggung Gibran yang menghilang di balik kamar mandi.


Ia pun menghela nafas menurunkan kakinya dari sofa dan mulai mengemasi pakaian serta benda lainnya milik Gibran.


Keduanya saling diam, bahkan saat pesawat pribadi Gibran yang akan membawa mereka kembali ke Indonesia lepas landas di bandara internasional Bangkok, Thailand.


Sampai keesokan harinya mereka tiba di mansion, Gibran maupun Maria masih tetap bungkam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Nick yang berpikir mungkin keduanya tengah bertengkar pun memilih diam tanpa berani ikut campur.


Rupanya atmosfer tersebut mengalir ke seluruh penghuni mansion. Terutama Laura yang mendadak canggung saat berseru menyambut kedatangan Maria. Ia menangkap raut sang nyonya yang menurutnya sangat tak biasa.


"Bu Martha, ini semua oleh-oleh dan souvenir untuk pegawai. Tolong dibagikan, ya? Maaf jika permintaan saya tidak sopan." Maria menunjuk sejumlah tas besar yang sebelumnya dibawakan beberapa pengawal.


Martha selaku kepala pelayan pun menunduk hormat, dalam hati merasa tak nyaman dengan perkataan terakhir Maria.


"Baik, Nyonya. Terima kasih atas kemurahan hati Anda. Anda bisa meminta apa pun pada saya maupun yang lain. Mohon jangan sungkan."


Maria tersenyum kecil. Ia berlalu memasuki lift bersama Laura yang serta-merta mengikutinya. Bertepatan dengan Gibran serta Nick yang berjalan masuk belakangan.


Pria itu tak menghiraukan sambutan yang dilayangkan para pelayan. Rautnya datar setengah arogan seperti biasa. Keduanya melenggang menaiki tangga menuju ruang kerja Gibran yang berada di sayap kiri mansion. Tanpa tahu para pelayan saling bergumam mempertanyakan keanehan yang mereka rasakan.


"Perketat penjagaan. Berhati-hatilah saat menerima tamu yang dikenal atau pun tak dikenal. Evan sudah mengetahui keberadaanku. Bukan hal mustahil setelah ini dia mengadu pada wanita itu." Gibran berucap sebelum memasuki ruangan.


Ia membuka beberapa kancing kemejanya lantas menghempaskan diri di sofa, bersandar dengan berbantalkan kedua lengan yang terlipat di bawah kepala. Matanya terpejam damai, sebelum suara Nick memecah keheningan.


"Tuan, bukankah lengan Anda masih sakit?" Nick teringat luka tembak yang disebabkan olehnya.


"Satu peluru bukan apa-apa bagiku," dengus Gibran.


Nick berkedip bingung, sesekali menatap Gibran dengan raut nampak berpikir. "Tapi ... kemarin Anda begitu manja pada Nyonya," gumamnya heran yang entah didengar Gibran atau tidak.