His Purpose

His Purpose
43. Conversation



"Bodoh, bodoh, bodoh ... Aarrghh ...!!!"


Maria menggigiti bantalnya di atas ranjang. Nafasnya ngos-ngosan karena sejak tadi tak berhenti memaki. Ia memukul-mukul udara dan lututnya secara bergantian. Sesekali kepalanya terbenam lalu menjerit tertahan di sana.


Ia benar-benar malu. Kenapa mulutnya bisa selepas itu seolah tanpa rem?


Sudah dua hari sejak ia meluapkan kemarahannya pada Gibran, selama itu pula Maria ingin mengubur dirinya dalam lumpur. Mungkin ini alasan kenapa manusia harus bisa menahan nafsu dan emosi. Buktinya, Maria malah ingin kabur saat ini juga.


Mending kalau ada uang. Meski ada pun ia tidak tahu harus ke mana. Ibaratnya Maria adalah orang asing yang terdampar tanpa identitas.


"Huaa ... Papa, aku ingin pulang ..."


Tok, tok, tok.


"Nyonya, mari sarapan."


Suara Laura mengiterupsi dari luar. Maria mengangkat kepalanya dari lutut. Rambut yang sejak tadi ia jambaki kini kusut semrawut bagai diterpa badai.


Maria menghela nafas. Meski malas namun perutnya tak bisa berbohong bahwa ia butuh asupan makan. Maria pun turun dan bergegas merapikan diri. Dalam sekejap ia sudah kembali dengan penampilannya yang anggun dan elegan seperti biasa.


Maria membuka pintu. Wajah Laura yang tengah tersenyum lebar menjadi pemandangan pertamanya pagi ini.


Kening Maria berkerut, "Kenapa tidak masuk?"


Biasanya Laura akan langsung masuk bahkan sebelum Maria bangun. Tapi kali ini tidak, gadis itu justru menunggunya di depan pintu.


"Hehe, saya takut mengganggu karena akhir-akhir ini Nyonya sering bicara sendiri."


"Sembarangan kamu," decak Maria.


Mereka memasuki lift untuk turun ke lantai dasar. Lanjut berjalan menuju ruang makan di mana sudah ada Martha dan beberapa pelayan lain di sana.


"Selamat pagi, Nyonya ..."


Namun, keberadaan seseorang yang duduk di ujung meja membuat Maria seketika merasa enggan.


"Laura, aku ingin sarapan di taman," ujar Maria sembari berbalik keluar ruangan.


Laura tergagap di tempat. Padahal ia sengaja ingin mempertemukan Maria dan Gibran dalam satu meja makan, karena akhir-akhir ini kedua orang itu seperti musuh bebuyutan yang enggan bertemu. Lebih tepatnya Maria selalu menghindar di mana pun Gibran berada.


"Ba-Baik, Nyonya!" seru Laura. Ia pun segera menyiapkan apa yang Maria butuhkan.


Sesaat matanya melirik Gibran yang tengah makan. Pria itu nampak santai memotong pancake di piringnya lalu menyuapkannya ke mulut dan mengunyahnya dengan pelan.


Saat Laura selesai dan hendak pergi, pria itu mencegahnya hingga berhenti di tempat. Laura berbalik menghadap Gibran yang sudah berdiri dari kursinya. Pria tersebut mendekat, kemudian meletakkan sesuatu di atas nampan yang Laura pegang.


"Oleskan di kakinya dua kali sehari."


Hanya itu yang Gibran ucapkan. Setelahnya lelaki itu keluar bersama Nick yang selalu mendampinginya kemana pun. Keduanya berlalu dan siap berangkat ke kantor. Sementara Laura, ia seperti orang bodoh yang linglung jika saja Martha tak segera mengingatkan agar ia lekas ke taman.


"Dasar pasangan aneh," dumel Laura saat di perjalanan.


***


Malam harinya, Maria menghabiskan waktu dengan membaca buku. Ia membalik lembar demi lembar novel di tangannya sambil sesekali meraih cemilan di meja. Tapi sialnya saat ia kehausan dan hendak minum, gelas di sana telah kosong.


Maria menghela nafas dan berdecak. Dengan kesal ia tutup novel tersebut setelah memberi tanda lipatan di kertasnya.


Ia bangkit dari kursi, lalu berjalan malas keluar kamar, memasuki lift untuk kemudian turun ke dapur. Karena malas bolak-balik, Maria sekalian saja mengisi tumbler guna dibawa ke kamar.


Persis ketika ia berbalik, tubuhnya tersentak hingga mundur beberapa langkah. Gibran berdiri tepat di belakangnya dan menatap lurus ke arahnya. Entah sejak kapan pria itu ada di sana.


Maria segera menetralkan ekspresinya dan melengos melewati Gibran. Akan tetapi, suara pria itu membuatnya berhenti tepat satu langkah sebelum mencapai pintu.


"Apa yang harus kulakukan?" tanya Gibran dengan suara rendah.


Maria berkedip, keningnya berkerut samar ketika ia berbalik.


Hening. Keduanya saling tatap dalam diam. Maria yang masih belum mengerti apa maksud Gibran, juga pria itu yang sepertinya tidak ahli dalam menjelaskan.


"Katakan."


Maria sedikit tergagap setengah bingung. "A-Apa?"


"Kegiatan favoritmu."


Lagi-lagi Maria berkedip, kali ini lebih cepat seraya menjawab. "Ma-Maksudnya?"


Apa Gibran tidak bisa mengeluarkan kalimat yang lebih panjang?


"Apa yang sekiranya kau lakukan saat bosan?"


Refleks Maria menjawab, "Belanja."


Gibran mengangguk, "Akan kudatangkan butiknya kemari. Apalagi?"


Maria mencibir, "Tentu saja itu berbeda dengan belanja di mall!" sentaknya tanpa sadar. Ia segera menutup mulut dengan kedua tangan.


"Apalagi?" Gibran masih belum menyerah.


Dengan wajah merengut Maria kembali menjawab, "Menonton."


Kembali Gibran mengangguk, "Menonton? Di sini ada ruang bioskop. Kau bisa menggunakannya kapan pun."


Lagi-lagi Maria mencibir, "Siapa yang betah menonton sendiri?"


"Akan kutemani," sahut Gibran tanpa diduga.


"A-Apa?"


"Atau kau bisa mengajak Laura. Dia temanmu, 'kan?"


"Y-Ya ..." Maria masih gagal fokus dengan pernyataan Gibran sebelumnya.


"Katakan saja apa pun yang kau mau. Kau bisa mengatakannya pada siapa pun di rumah ini, termasuk aku."


Gibran berjalan hendak keluar. Persis ketika bahu mereka bersinggungan, Maria membuka mulutnya untuk bertanya.


"Apa yang sedang Koko lakukan? Kenapa Koko menanyakan hal-hal seperti tadi?"


Maria menoleh. Karena posisi mereka berdampingan, ia bisa langsung melihat wajah Gibran dari samping.


"Aku dengar, sebelum ini Koko hendak bertunangan," bisik Maria.


Kini Gibran yang menoleh menatap Maria. Netra mereka bertemu dan saling menatap dalam.


"Kenapa kita tidak berpisah saja? Lagipula ... sudah lebih dari 2 bulan, agaknya itu hal yang wajar bagi pasangan mengajukan perceraian. Tidak perlu khawatir dengan rumor. Temanku bahkan bercerai sehari setelah ia menikah."


Maria terdiam sesaat, "Aku juga ingin minta maaf karena melimpahkan semua kesalahan padamu. Aku sadar, sejak awal di sini aku yang salah karena menarikmu dalam pernikahan aneh ini."


"Koko juga pasti merasa kesal padaku. Karena aku Koko jadi tidak bisa menikahi wanita yang Koko mau."


"Aku minta maaf. Jadi, ayo kita bercerai."


Mata Maria berkaca saat mengatakan itu. Ia tidak menyangka hari ini akan tiba lebih cepat. Ia sudah memperkirakan mungkin kalimat di atas akan ia sampaikan selama beberapa bulan ke depan. Tapi, ia sudah tidak tahan. Perasaannya semakin kacau antara harapan dan bersalah pada Gibran.


"Terima kasih. Karena Koko, perusahaan papaku tak jadi pailit."


Maria mengulas senyum canggung. Ia menunduk dan berniat kembali ke kamar secepatnya. Entah kenapa, tapi hatinya seakan disesaki oleh sesuatu. Sesuatu yang mendesak air matanya untuk keluar.


"Begitukah kau melihatku selama ini?"


Pertanyaan Gibran membuat Maria berhenti.