His Purpose

His Purpose
85. Maria's Behavior



"Kenapa aku bisa memiliki cucu menantu seaneh dia?" gumam Roman sambil mengelus bulu Jeki, si gembul british shorthair yang kini tengah menjilati telapak kakinya di pangkuan Roman.


Sementara Roman, kakek tua itu tak lepas mengamati Maria di tengah lapang. Bukan, Maria bukan sedang olahraga, melainkan menanam pohon pinus yang entah didapatnya dari mana. Katanya akan nampak indah jika diletak di lahan kosong.


"Astaga, apa cucuku tidak akan marah saat tahu lapang golf-nya dirusak?"


"Jeki, kamu jangan dekat-dekat wanita itu. Bisa-bisa bulu lembutmu ini digunduli."


Miauw ...


Jeki mendongak mengedip polos menatap sang majikan, lantas kembali asik mebersihkan diri yang sebetulnya tidak perlu ia lakukan, karena setiap hari Roman menyisihkan uang puluhan juta untuk perawatannya.


"Laura, ambilkan cangkul!" Terdengar suara Maria berteriak di kejauhan sana.


Tak lama pelayan bernama Laura itu mendekat. Mereka terlibat sedikit percekcokan yang lagi-lagi membuat Roman menggeleng.


"Bukan cangkul ini! Cangkul yang kecil apa namanya itu? Pokoknya itu, kamu cari sana!"


"Lihatlah, dia sangat galak. Pokoknya kamu jangan mendekat," bisik Roman entah untuk yang ke berapa kali.


"Ngomong-ngomong, kenapa Gibran tiba-tiba pergi ke New York? Apa anak itu ingin menemui ibu dan kakeknya? Dasar. Padahal Abhi sudah susah payah memblokir orang asing supaya tidak masuk daerah ini. Ujung-ujungnya dia pulang ke sana."


"Tapi, tidak mungkin Gibran menetap di New York lagi. Dia sudah mengubah kewarganegaraannya sebelum menikah. Sudah pasti dia akan kembali ke sini, apalagi dia sudah berkeluarga. Meski istrinya sangat menyebalkan, bukan berarti aku mengharapkan hubungan mereka berantakan."


"Kakek!!!" Seruan Maria sedikit membuat Roman tersentak.


Wanita itu melambai-lambai padanya. Roman dengan sikap jual mahalnya segera menoleh memalingkan muka, menolak untuk bersitatap dengan Maria. Ia berlagak mengajak Jeki bicara sekalipun kucing gendut itu tak pernah merespon.


"Kenapa dia berubah seperti anak kecil yang polos dan lugu? Padahal saat di pasar buah dia begitu sombong dan angkuh," dengus Roman sembari menimang Jeki.


Memang, kesan pertemuan pertama mereka berakhir kurang baik. Image manja dan menyebalkan terlanjur melekat dalam diri Maria di mata Roman.


***


Tepat pukul 7 malam Romanjaya Wiranata meninggalkan Mansion. Masih dengan nada ketusnya seperti biasa pria itu mengucapkan selamat malam pada Maria. Itu pun karena Maria menghalangi langkahnya yang hendak memasuki mobil. Kalau tidak begitu, mungkin Roman akan melengos bahkan enggan untuk sekedar menegur.


Maria masih tidak mengerti kenapa kakek Gibran itu seakan memusuhinya. Setiap kali mereka bersinggungan pasti wajahnya berubah kecut. Apa Maria pernah berbuat salah? Namun, Roman memang sudah begitu saat pertama mereka bertemu.


Maria tidak kesal, malah menurutnya Roman begitu lucu dengan sikap sok jual mahalnya yang setengah-setengah. Dari sinar matanya saja Maria tahu Roman orang yang rendah hati dan penyayang.


Terbukti saat mereka makan malam tadi. Maria yang entah kenapa akhir-akhir ini menjadi sensitif terhadap bau apa pun terutama makanan, tak kuasa menahan mual di hadapan Roman. Meski sekilas Maria bisa melihat sedikit kecemasan dalam tatapannya yang bercampur heran.


Mungkin itu juga yang membuat Maria tak begitu memusingkan sikap tak bersahabat kakek mertuanya. Karena ia tahu di balik sikap ketusnya terdapat ketulusan yang bisa Maria rasakan.


"Selamat malam, Kakek Mertua ..."


"Pak sopir, tolong hati-hati bawa mobilnya, ya. Jangan sampai kakek mertuaku kenapa-napa. Jika ada lecet sedikit saja aku akan mencarimu untuk meminta pertanggungjawaban."


Roman mendengus keras. Ia menekan-nekan ujung tongkatnya pada keramik lobi. Sikap Maria yang sok akrab membuatnya geli sendiri. Tanpa sadar ia membandingkan cucunya yang memiliki watak keras juga cenderung kejam. Roman jadi penasaran bagaimana saat mereka berduaan.


Bagaimana pun, sesuai namanya Roman cukup menggemari kisah romantis. Tak terkecuali kisah percintaan sang cucu yang sejak awal kerap membuatnya penasaran.


Roman memasuki mobilnya setelah dibukakan pintu oleh sopir. Matanya melirik Maria dari jendela. Wanita itu tersenyum lebar melambaikan tangan seiring roda berputar meninggalkan pekarangan.


Ia berbalik. "Laura— Aw!"


"Nyonya! Anda tidak apa-apa?"


Laura dan pelayan lain segera menghampirinya dengan cemas, termasuk Martha yang juga berada di sana.


"Itu karena Nyonya terlalu banyak berjalan. Hari ini Nyonya tak berhenti bergerak," tukas Laura kesal.


"Mau saya panggilkan dokter, Nyonya?" tanya Martha menimpali.


Maria segera menggeleng. "Tidak perlu. Sepertinya cukup berbaring saja."


"Ya sudah, Laura antar Nyonya ke kamar."


Laura mengangguk menuruti perintah Martha. Ia segera membimbing Maria memasuki Mansion.


Maria menepis pegangan Laura. "Aku bukan lansia, Laura. Kau tidak perlu menuntunku seperti ini."


"Ya Tuhan, mau Nyonya apa sih?" decak Laura sebal. "Saya itu khawatir. Nyonya tidak bisa dibilangin. Berkali-kali saya minta Nyonya istirahat, begini kan jadinya? Badan Nyonya sakit karena terlalu aktif."


"Namanya orang hidup pasti bergerak. Gimana sih kamu."


"Tapi akhir-akhir ini Nyonya aneh. Aktivitas Nyonya jadi sedikit tidak wajar. Biasanya kan Nyonya lebih senang bersantai membaca buku. Kenapa sekarang jadi gemar berkeliling Mansion? Sudah gitu semprot-semprot parfum sana-sini. Lalu tadi, Nyonya menanam pinus di lapang? Astaga apa Nyonya benar masih waras?"


Maria menoleh sengit. "Jadi menurutmu aku gila?"


Laura merengut, "Ya bukan begitu. Maksud saya kalau nanti Tuan marah, bagaimana?"


Maria mendengus, "Jika dia berani marah aku akan menceraikannya."


Laura melotot, kepalanya berputar melirik sekitar. "Astaga, Nyonya jangan bicara sembarangan. Nanti ada yang dengar," bisiknya.


"Memangnya kenapa?" Maria mengernyit.


"Ck, jika ada yang melapor, Tuan akan semakin posesif dan mengurung Nyonya di sini. Atau lebih parahnya mengunci Nyonya di menara," decak Laura.


"Menara apa?"


"Nyonya belum tahu, ya? Jauh di tengah hutan ini ada menara. Dengar-dengar Tuan menempatkan tim keamanan khusus untuk memantau Mansion selama 24 jam."


"Bukan hanya itu. Kabarnya di sana juga ada ruang bawah tanah. Tuan tidak akan segan menjebloskan siapa pun yang berkhianat dan menghukumnya dengan cara kejam."


Sunyi. Suasana mendadak jauh lebih dingin hingga rasanya menusuk seluruh sel pori-pori Maria.


Sejenak ia bergeming sebelum kemudian teralihkan oleh suara pintu lift yang terbuka di lantai tiga.


Maria melangkah keluar diikuti Laura. "Ah, jangan mengada-ada, kamu. Masa iya Koko sejahat itu. Meski sikapnya dingin, tapi dia cukup manis, kok."


Laura hampir tersedak. Apa katanya? Manis? Dari mananya Gibran bisa dibilang manis? Astaga, sepertinya Maria memang sudah dibutakan oleh pesona Gibran.


Kemarin mengeluh suaminya terlalu kaku hingga berencana mengajaknya nonton bersama. Sekarang tiba-tiba berubah memujinya. Kenapa Maria labil sekali?


"Nyonya, sepertinya serbuk cinta Tuan berhasil membuat Nyonya terlena," kata Laura. Matanya berkedip dengan mulut setengah terbuka.


Maria mendelik dengan kening berkerut aneh. "Serbuk cinta apa sih? Kamu pikir ini novel fantasi kejayaan penyihir?"


Laura memutar matanya malas, "Nyonya ngerti kiasan tidak, sih? Serbuk cinta itu yang keluar dari milik Tuan saat kalian bercinta."


Maria mengernyit, lagi-lagi ia harus berpikir cukup lama mencerna kata demi kata dari kalimat Laura.


"Maksud kamu sper-ma?" Ia bertanya polos. "Bentuknya kan cair dan kental, bukan serbuk."


Laura mengerang keras. Tangannya mengepal disertai raut gereget seakan hendak menggigit Maria. "Tau, ah!"