His Purpose

His Purpose
38. Escapement



"Terima kasih."


"Sama-sama, Nyonya." Pria itu membungkuk, lantas memasuki kemudi hingga Car towing itu menjauh dari hadapan Maria dan Laura.


Maria menjerit kesenangan sambil meloncat-loncat di tempatnya. Sementara Laura, ia terlihat linglung seakan baru diterpa badai dahsyat.


Bagaimana tidak, kemarin sang nyonya memintanya memesan 1 unit mobil mewah yang harganya hampir 100 milyar. Dan ajaibnya pagi ini benda itu sudah datang.


Body-nya yang merah mengkilap begitu menyilaukan Laura. Ia sampai tidak bisa berkedip saking terkejutnya. Laura pikir Maria hanya bercanda. Makanya dia turuti saja saat sang nyonya memintanya mengisi alamat di web resmi showroom tersebut.


Maria tampak antusias menghampiri mobil barunya. Ia mengusap dengan hati-hati bagian depan hingga samping dan berakhir di pintu kemudi.


"Laura, masuk!" seru Maria pelan membuat Laura terperanjat.


"Sa-Saya? Masuk ... ke situ?"


Maria mengangguk semangat. Tak lupa bibirnya menyungging senyum lebar yang tak kalah menyilaukan dari mobil miliknya. "He'em. Cepat!"


Laura menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia segera mendekat pada mobil Maria lantas terpaku sesaat. Matanya berkedip dua kali, lalu mendongak pada Maria. "Nyonya, cara buka pintunya bagaimana?"


Karena Maria sedang dalam keadaan hati yang baik, ia dengan sukarela tidak menghujat gadis itu.


Laura tidak tahu bagaimana jelasnya, yang pasti decakan kagum tak tertahankan ketika pintu mobil itu membuka dengan cara terangkat ke atas.


Air mata seketika membayang di matanya. Laura hampir menangis kalau saja Maria tidak segera mendorongnya dan berakhir menduduki kursi penumpang mobil tersebut. Seumur-umur ia belum pernah naik mobil sebagus ini. Paling banter ia menumpang mobil pick up milik tetangga di kampung saat ada acara rombongan.


Mobil sekelas Avanza saja ia belum pernah merasakan. Dan apa ini? Sekalinya dapat majikan ia langsung naik mobil seharga 100 milyar! Luar biasa sekali nasibnya bertemu Maria.


"LETS GOOOO ... AYO KITA TEMBUS GERBANG KEBEBASAN ... YUHUUU ...!!!"


"AAAA ..." Laura ikut berteriak ketika Maria mulai menjalankan mobilnya.


Tingkah mereka tak pelak mengundang atensi para pelayan juga penjaga yang sejak awal menyaksikan kedatangan mobil mewah tersebut. Namun Maria tak peduli, ia tak akan segan-segan memukul siapa pun yang menghalangi kesenangannya.


Ia sudah lelah menahan diri. Maria ingin segera mendapatkan kembali kehidupannya sebelum menikah.


"Nyonya, pelan-pelan saja. Saya takut," cicit Laura.


"Oh? Oke." Maria memelankan laju mobilnya.


Kendaraan mewah tersebut meluncur mulus hampir tanpa suara. Beberapa kali Laura berdecak kagum mengamati seisi interior mahal di dalamnya. Kursi yang ia duduki pun sangat empuk dan nyaman.


Namun dibanding itu, ia lebih khawatir dengan cara menyetir Maria. Apalagi wanita itu beberapa kali kedapatan memasang raut bingung melihat berbagai tombol canggih di dashboard. Tentu saja kening Laura berkerut. Ia pun tak bisa menahan diri untuk bertanya.


"Nyonya, Anda yakin bisa menyetir?"


Pertanyaan Laura tampaknya membuat Maria tersinggung. "Tentu saja. Kau tidak lihat mobil ini berjalan?" ketusnya.


Laura meringis merasa bersalah, namun mulutnya tak bisa dihentikan. "Tapi sepertinya mobil ini terlalu ke pinggir, bahkan menginjak rumput di samping jalan." Ia melongok ke luar jendela.


"Diamlah, Laura. Kau membuatku tidak fokus."


"Asal kau tahu saja, temanku seorang pembalap hebat," pamer Maria.


"Itu kan teman Nyonya, bukan Nyonya."


"Astaga, aku hanya sudah lama tidak berkendara. Wajar saja jika sedikit kaku."


"Begitu? Nyonya, bisakah Anda menyetir sedikit ke tengah?"


Maria mendelik, namun tetap menuruti permintaan Laura.


"Nyonya, ke kanan sedikit. Stop! Ke kiri, ke kiri ..."


Suasana dalam mobil begitu gaduh karena Laura yang banyak mengatur, padahal yang menyetir Maria.


"Nyonya, pelan-pelan! Kalau kita kebablasan gimana?" Laura berteriak cemas.


"Apa kau baru saja berteriak padaku?"


"Ma-Maaf," ringis Laura. "Habisnya saya takut mobilnya rusak."


"Ini mobilku. Kenapa jadi kamu yang takut?"


"Diamlah, atau kau ingin kuturunkan di sini? Kebetulan kita sudah cukup jauh dari mansi—"


Spontan Maria menginjak rem ketika Laura berteriak histeris. Rupanya hal itu disebabkan oleh sebuah sedan mewah yang melaju kencang dari arah berlawanan dan berhenti tepat di depan mereka.


Suara decitan beradu dengan aspal hingga menimbulkan kebisingan.


Jantung Maria masih kelonjatan karena terkejut. Ia mendenguskan nafas dengan mulut terbuka, hendak memaki si pengendara di depan sana yang menurutnya tidak tahu aturan.


"Dasar gila. Aku akan meminta garansi jika mobilku rusak. Siap—" Umpatan Maria berhenti di ujung lidah, persisnya ketika seorang pria keluar dari kursi kemudi mobil tersebut.


Spontan Maria terperangah melihat siapa yang datang. "Omo, kenapa dia ada di sini?"


Ia menoleh pada Laura yang masih bersandar menetralkan nafasnya. Nampaknya gadis itu masih dilanda keterkejutan. Terang saja, nyawanya hampir melayang jika saja Maria tidak reflek menginjak rem.


Tok, tok, tok.


Maria terperanjat, begitu pun Laura yang ikut menoleh dan serta-merta ternganga saat menyadari siapa yang berdiri di luar sana. Kepanikan melanda mereka berdua. Apalagi saat pria tersebut semakin gencar mengetuk jendela.


Laura tahu siapa pria itu, terlebih ia melihat Nick keluar dari kursi penumpang mobil di depannya.


"Nyonya ..." rengek Laura.


Maria mendengus, ia menekan tombol di samping pintu hingga kaca jendela itu terbuka. "Ada apa?" ketus Maria begitu wajah Gibran memenuhi atensinya.


"Aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan?" Mata itu menghunus tajam.


"Apa? Aku hanya sedang mencoba mobil baruku."


Gibran menghela nafas mengalihkan wajahnya sesaat sebelum kembali menatap Maria. Sekilas matanya melirik Laura yang seketika menunduk ketakutan. Ia sadar betul akan kesalahannya. Dialah yang mengisi alamat saat Maria melakukan pemesanan.


"Turun," titah Gibran, dingin.


Maria mencibir dengan muka merengut. "Ini mobilku. Kenapa aku harus menurutimu?"


"Lagipula aku membelinya dengan uangku. Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak menguras uangmu."


Tanpa disadari Maria perkataannya membuat Gibran terpaku sesaat. Hanya dalam beberapa detik rautnya kembali berubah dan memaksa Maria untuk keluar.


Namun bukan Maria namanya jika tidak keras kepala. Wanita itu kekeh menolak turun dan malah mengancam akan menabrak Gibran jika pria itu tak mau menyingkir.


"Lepasin!" Maria berteriak saat Gibran mencekal lengannya yang memegang kemudi.


"Turun."


"Kubilang tidak mau! Lepas!"


Karena cekalan Gibran terlalu kuat, Maria terpaksa menggigit tangan pria itu keras-keras. Namun anehnya Gibran tak bereaksi sama sekali, bahkan saat rasa asin menyebar di lidah Maria.


Tangan Gibran berdarah. Hebatnya dia sama sekali tidak menunjukkan raut kesakitan.


Maria berdesis setengah heran, "Dasar gila."


"Baiklah, aku akan turun, tapi lepas dulu ini." Maria menggerakkan tangannya yang dicekal Gibran.


Gibran menyipit tak percaya. Namun saat Maria menekan kunci dan membuka sedikit celah pintu, barulah Gibran melepasnya perlahan dan mundur beberapa langkah.


Hal itu justru dimanfaatkan Maria untuk kabur. Dengan cepat tangannya menarik kembali pintu, menguncinya rapat, lalu menekan gas keras-keras.


"Laura, pegangan!"


"AAAA ..." Laura berteriak saat mobil tiba-tiba melaju seperti hendak terbang.


Benar. Maria berhasil mengelabui Gibran dan menyalip mobil pria itu dengan cara mengambil jalan yang tersisa. Ia bahkan tak peduli roda mobilnya melindas rumput serta bunga-bunga di pinggiran aspal.


Sementara Gibran, pria itu terperangah menatap kepergian Maria bersama mobil barunya. Ia lantas menoleh pada Nick yang juga terpaku dengan mulut terbuka.


"Apa yang kau lihat? Cepat hubungi penjaga di depan!"


Seruan Gibran membuat Nick kalang-kabut. Cepat-cepat ia mengeluarkan ponsel dan menelpon penjaga gerbang sesuai perintah Gibran.


Baru sedetik panggilan diangkat, benda pipih itu sudah direbut. Dan yang Nick lihat selanjutnya adalah Gibran yang berteriak dengan wajah kalut luar biasa.


"TUTUP GERBANG UTAMA SEKARANG JUGA!"