
"Mr. Wiranata, lama tak bertemu," sapa seorang pria begitu mereka mendekat ke tengah ruangan.
Maria duga pria itu merupakan si pemilik acara.
"Mr. Chaow, apa kabar?" Gibran membalas pelukan singkat pria tersebut. Kelihatannya mereka cukup dekat.
"Baik. Kabarku sangat baik. Bagaimana denganmu?" tanyanya dalam bahasa Thailand yang tidak Maria mengerti.
Secara mengejutkan Gibran menjawabnya dengan bahasa yang sama. Astaga, sebanyak apa bahasa yang Gibran kuasai? Kemarin Jepang, sekarang Thailand. Maria benar-benar merasa seperti orang bodoh sekarang.
"Waah ... kau memang tidak berubah. Pesonamu masih sama seperti yang terakhir kulihat. Haha ..."
"Ini ..." Perhatian Mr. Chaow teralih pada Maria.
Membuat wanita itu sedikit tersentak, terlebih saat tangan Gibran merangkul pinggangnya. "Dia istriku, Maria Tjandra."
"Istri?" Mr. Chaow sedikit berseru kaget. "Ah, ternyata rumor itu benar. Awalnya aku sangat terkejut mendengar berita pernikahanmu," lanjutnya diselingi tawa.
Gibran hanya tersenyum tipis menanggapi. Sementara Maria, ia bertanya-tanya sampai mana berita pernikahannya menyebar. Sepertinya itu hanya bentuk rumor yang beredar di kalangan kelas atas, bukan media.
"Putriku pasti akan sangat kecewa mengetahui kebenaran ini," gumam Mr. Chaow.
Maria mengangkat alis, menoleh pada Gibran. Namun lelaki itu nampak santai dan tak acuh seperti biasa.
Hingga saat dimana mereka berjalan menyapa kolega Gibran yang lain, Maria pun mendekat dan berbisik di telinga Gibran. "Aku tidak menyangka ternyata Koko merupakan calon menantu potensial bagi sebagian orang," ucapnya dengan sedikit nada jenaka.
Gibran meliriknya sekilas, "Tentu saja."
Maria mencibir, sebelum kemudian ekspresinya berubah dan digantikan oleh senyum ramah yang merekah. Sekumpulan orang menyapa Gibran, Gibran pun mengenalkan Maria persis seperti apa yang dilakukannya pada Mr. Chaow tadi.
Pembicaraan tentang bisnis dan saham pun mengalir. Ada sebagian yang Maria mengerti, namun sebagian besar lainnya Maria sama sekali tak faham. Maria hanya ikut nimbrung ketika salah seorang dari mereka bertanya mengenai ayahnya. Rupanya keluarga Tjandra juga cukup dikenal, setidaknya di kancah Asia Tenggara.
Karena bosan, Maria pun meminta izin pada Gibran untuk mencari kudapan. Ia berbisik pelan di telinga Gibran. Lelaki itu membalasnya dengan anggukan kecil. Maria pun pergi setelah sebelumnya mengangguk sebagai ungkapan permisi pada orang-orang di sana.
Ia menjauh dengan segenap nafas yang terhela panjang. Jujur saja, sebagai salah satu anak konglomerat Maria sama sekali jarang menghadiri acara-acara resmi seperti pesta perusahaan. Terhitung beberapa kali ia ikut Rayan saat kecil hingga remaja. Selebihnya Maria hampir tidak pernah lagi mengikuti sang ayah meski diminta.
Sejenak Maria menoleh ke belakang. Gibran masih asik berbincang dengan para koleganya. Kembali ia menghela nafas mengalihkan pandangan pada deretan meja panjang yang menyimpan sejumlah makanan.
Tidak di rumah, tidak di luar, Maria tetap diabaikan oleh Gibran.
Ia mulai melihat-lihat berbagai jenis makanan di sana. Ini bukan pertama kali Maria ke Thailand. Ia pun sering berlibur bersama Rayan maupun teman-temannya. Dan beberapa dari makanan tersebut sudah ia ketahui dan kenali rasanya.
Akan tetapi, masih banyak dari mereka yang belum Maria coba. Bisa dibilang ia pun baru melihatnya sekarang.
"Itu salah satu makanan tradisional khas Thailand. Hanya saja sudah di-upgrade menjadi lebih modern dan kekinian. Bukankah itu menakjubkan? Cobalah. Mereka tampak mewah namun tak meninggalkan rasa etniknya."
Maria menoleh pada seorang wanita di sampingnya. Wanita itu juga tengah menatapnya dan melempar senyum.
Ia berkedip, "Anda dari Indonesia?" tanyanya ketika menyadari wanita itu mengajaknya bicara dengan bahasa negara tersebut.
Sebelumnya Maria sama sekali tak pernah berpikir akan bertemu saudara setanah airnya di sini. Kecuali Gibran tentu saja.
Masih dengan tersenyum wanita itu mengangguk. "Tentu. Kamu juga, 'kan?"
"A-Aah ... benar." Maria melempar senyum canggung sembari mengangguk. Rautnya terlihat sedikit heran. Ia bertanya-tanya dalam hati dari mana wanita itu tahu.
Maria diam sejenak menatap tangan halus nan putih itu. Ia pun tak bisa menolak perkenalan tersebut saat melihat bagaimana ramahnya raut Valencia.
"Maria," ucapnya membalas uluran tangan Valencia.
"Kamu ke sini sama ..." Valencia menggantung ucapannya.
"... Suami," timpal Maria sedikit ragu.
Mulut Valencia membulat membentuk kata "Oh" yang panjang, tanpa suara. Kepalanya mengedar menyusuri ballroom. "Suami kamu yang mana?"
Maria berkedip. Tidak apa-apa kan ia mengenalkan Gibran sebagai suaminya? Lagipula pria itu sudah menggandeng Maria sebagai istri di hadapan para koleganya tadi.
Lantas ia pun menunjuk ke tengah, di mana Gibran dan para koleganya tengah berbincang membicarakan bisnis.
Sejenak Valencia terdiam. Maria tidak tahu apa yang wanita itu pikirkan sampai kemudian Valencia menoleh dengan ekspresi sedikit ternganga. "Gibran Wiranata?"
Maria mengangguk lamat. Sementara Valencia menggeleng sambil berkata, "Luar biasa."
"Ke-Kenapa? Kamu mengenalnya?"
Entah karena apa, hati Maria ditimpa perasaan was-was.
"Tentu saja!" Valencia berseru. Syukurnya hal itu tak menarik perhatian orang-orang.
"Aku melihatnya di majalah beberapa waktu lalu. Dia masuk dalam jajaran pengusaha muda yang berkembang pesat versi Forbes 2022. Tak hanya itu, akhir-akhir ini wajahnya kerap menghiasi hampir seluruh cover majalah. Tidak kusangka saat ini aku tengah berbicara dengan istrinya."
Maria meringis tak tahu harus memberi tanggapan apa.
"Sekarang aku mengerti mengapa kamu bisa memiliki anting itu. Suamimu Gibran Wiranata. Bukan hal mustahil kamu mendapatkannya."
"Ya?" tanya Maria tak mengerti.
Valencia tersenyum heran, "Kamu tidak tahu, ya? Anting itu sangat sulit didapatkan karena hanya diproduksi 2 pasang saja di dunia."
Maria mematung. Penjelasan yang Valencia katakan barusan membuatnya tersadar bahwa ia sudah tak lagi mengikuti perkembangan fashion dunia. Maria terlalu sibuk dengan pernikahannya bersama Gibran yang tak tahu akan mengarah ke mana.
"Ah ... begitu." Hanya itu yang bisa Maria katakan.
Perbincangannya dengan Valencia berakhir ketika wanita itu beranjak lantaran sang kekasih mengiriminya pesan. Ia pun segera kembali ke samping Gibran dengan membawa dua gelas minuman. Maria memberikan satunya pada Gibran. Lelaki itu menerimanya dan lekas menyicipnya tanpa suara.
Maria sudah biasa dengan Gibran yang seperti itu. Ia tahu, Gibran paling malas membuka mulut untuk hal-hal yang tak bermutu seperti mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih," bisik Maria membuat Gibran menoleh. Kening pria itu berkerut samar.
"Aku tidak tahu Koko sehebat apa sampai bisa mendapat anting langka yang kupakai sekarang."
Maria tersenyum, mata mereka saling terpaku satu sama lain.
"Satu hal yang kutahu ... uang Koko sangat banyak, hihi ..." Ia segera mengalihkan pandangan, mengabaikan Gibran yang mendengus di sampingnya.
Namun, sedetik kemudian ia dikejutkan oleh sebuah kecupan kilat yang menyapa telinganya.
Maria membeku. Jantungnya berpacu lima kali lipat dari biasanya. Apa yang Gibran lakukan barusan membuatnya mati di tempat.