His Purpose

His Purpose
152. The Lost Thing



Abhimanyu menghela nafas. Lagi-lagi ia harus bertemu Sandra dalam pertemuan meeting yang sama. Satu jam ia berusaha mengabaikan keberadaan wanita itu. Abhi risih karena sedari tadi Sandra tak berhenti menatapnya dengan seringai menggoda.


Wanita iblis.


Lagi dan lagi Abhi memaki dalam hati.


Akhirnya Abhi bisa menghela nafas lega saat pertemuan itu diakhiri. Ia buru-buru keluar diikuti Jo, asistennya.


Namun saat hendak memasuki mobil, seseorang menarik lengannya hingga berbalik. Sandra dengan wajah angkuhnya membuat Abhi muak.


"Ada apa?" tanya Abhi dingin.


Sudut bibir Sandra terangkat sumir. "Easy, Honey. Apa kau harus sekasar itu pada mantan istri?"


Abhi membuang muka sebentar, berdecak dan membuang nafasnya samar. "Kita tidak ada urusan, jadi tidak ada waktu untuk mengobrol lama-lama."


"Kamu salah, aku punya sesuatu yang ingin kutunjukkan."


Abhi menoleh, ia terdiam sebentar sambil berpikir. Netra mereka bertemu, dan Sandra menatapnya penuh makna.


Sesaat Abhi berpaling pada asistennya. Jo yang mengerti akhirnya mengangguk dan pulang terlebih dulu bersama sopir.


"Jika Anda memerlukan sesuatu, tolong hubungi kami," ucapnya sebelum pergi.


Abhi hanya mengangguk dan membiarkan Lexus mewahnya melenggang meninggalkan pelataran hotel. Ia lalu kembali menatap Sandra. Entah Abhi hanya berhalusinasi atau memang wanita itu nampak terperanjat tadi.


Sandra mengajak Abhi memasuki mobilnya yang juga terparkir di sana. Selama perjalanan mereka hanya saling diam. Abhi yang menatap ke luar jendela, pun Sandra yang tampak sibuk sendiri dengan tabletnya.


Jalanan cukup macet. Sebagian besar yang memadati adalah pemotor dengan pakaian hijau khas dari instansi sebuah perusahaan.


Butuh beberapa waktu untuk mereka sampai. Sebuah gedung apartemen menjulang begitu Abhi turun dibukakan pintu. Ia bergumam terima kasih pada pria muda yang sebelumnya mengemudikan mobil tersebut.


Abhi mengikuti Sandra yang berjalan memasuki lobi. Mereka memasuki lift hanya berdua. Membuat Abhi risih karena Sandra menggunakan kesempatan itu untuk menggodanya.


"Cukup," ucapnya seraya menepis jemari lentik Sandra dari pundak. "Kamu bukan ingin membodohiku, kan?" tanya Abhi curiga.


Sandra tersenyum. "Ternyata kamu selalu sebodoh ini, ya? Tidak berubah sama sekali."


Kening Abhi berkerut dalam.


"Jika benar aku orang lain, mungkin kamu sudah mati sedari tadi."


"Sifat cerobohmu itu, buang jauh-jauh," lanjut Sandra. "Jangan terlalu percaya pada orang."


"Terutama kau," timpal Abhi sinis.


Sebenarnya bukan tanpa alasan Abhi mau-mau saja mengikuti Sandra. Selain harus mengawasi wanita itu, Abhi juga ingin memastikan sesuatu, meski kecil kemungkinannya bisa ditemukan di sana.


Mereka sampai di lantai teratas gedung yang merupakan sebuah penthouse. Lift yang mereka naiki tadi adalah lift khusus untuk pemilik karena mempunyai akses langsung. Begitu terbuka penampakan rumah Sandra yang mewah memenuhi atensi Abhi.


Ia berjalan ke tengah ruangan di mana lampu kristal bergantung di atasnya. Sementara Sandra menaiki tangga melingkar entah hendak ke mana.


Abhi mendekat ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan indah kota Jakarta. Tak heran semua apartemen di gedung ini dibanderol dengan harga fantastis, view yang ditawarkan memang menjanjikan.


Sandra turun membawa sesuatu. Ia mendekati Abhi dan berdiri di samping lelaki itu. Sebuah kotak berukuran kecil terulur padanya. Abhi menoleh meninggalkan pemandangan di depan untuk kemudian beralih lalu menunduk dengan kening berkerut.


Ia mendongak perlahan sambil menelan ludah. "I-Ini ... bisa kamu jelaskan?"


Jika dugaannya benar, Abhi tidak tahu harus berbuat apa.


Sudut bibir Sandra terangkat, kepalanya meneleng merebut lembar foto gelap itu dari tangan Abhi. Ia mengamatinya sambil mendengus. Lalu mengendik. "Bayi yang malang."


Tanpa sadar nafas Abhi mulai bergetar. "Di mana anak itu?"


Sandra mengangkat alis membalas tatapan Abhi. "Mati," ujarnya ringan. Sandra mengangkat bahu. "Aku malas mengurusnya, jadi kugugurkan saja. Lagi pula aku sudah punya Gibran."


Wanita itu terlihat begitu santai, berbeda dengan Abhi yang hampir tremor mendengar pernyataan tersebut.


Bukan tanpa alasan, terakhir sebelum mereka bercerai Abhi masih sempat menggauli Sandra. Ini yang sedari dulu membuatnya penasaran. Tanpa diduga justru Sandra sendiri yang menjawab rasa penasaran itu tanpa diminta.


Tapi, Abhi tentu tak mau percaya begitu saja. Bisa saja ini jebakan yang sengaja Sandra buat untuk membodohinya.


Dengan suara tercekat Abhi bertanya. "Anak siapa? Katakan ini bukan anakku! Kau berhubungan lagi dengan pria lain. Benar, kau pasti melakukan *** bebas di sana. Iya, kan?" Abhi tertawa lirih. "Iya, ini bukan anakku. Pasti bukan anakku." Abhi terus menggeleng.


Ia berusaha keras membuang dugaannya, namun kalimat Sandra justru meruntuhkan semua usaha Abhi. "Anak kamu."


Rahang Abhi seketika mengetat, terlebih melihat wajah Sandra yang tak sedikit pun diliputi rasa bersalah. "Bajingan," desisnya marah.


Bisa diibaratkan mata Abhi sudah merah menyala saat ini. Ia berteriak menyapu semua barang di meja samping jendela.


Prang!!!


"Aaarrgghh!!!"


"Wanita sialan! Iblis keparat! Bajingan kau Sandra Willis!!!" Abhi meraih tubuh Sandra dan melemparnya hingga membentur kaca besar.


Sandra meringis kecil merasakan punggungnya. Bantingan Abhi cukup keras. Sial.


Abhi mencengkram dagu Sandra dengan kasar. Giginya bergemeretak menahan emosi. Sandra mengernyit oleh tekanan Abhi yang mulai membuatnya susah menelan. Ia tidak menduga Abhimanyu akan semarah ini.


"A-Abhi ..." Sandra berusaha melepas cengkraman Abhi.


Uhuk!


"Sialan. Kau benar-benar sialan. Belum cukup kau menghancurkan anak-anakku, kau juga harus membunuhnya tanpa belas kasih?" bisik Abhi dengan suara bergetar. "Seharusnya aku tidak jatuh cinta padamu dulu!!!"


Air mata Abhi mengalir deras. "Kenapa? Kenapa, Sandra? Kenapa kau berubah sekejam ini? Kenapa kau harus mengikuti ayahmu?"


Wajah Sandra sudah merah, darahnya seakan berkumpul di kepala. Ia balas menatap Abhi datar. Sorotnya berangsur kosong, penuh misteri.


Abhi melepas cekikan itu dan menjauhkan tubuhnya dengan nafas terengah. Sementara Sandra langsung terbatuk memegangi dagu serta lehernya yang perih bekas cengkraman Abhi.


Abhi menumpu tangannya di atas meja. Bahunya luruh dengan punggung yang membungkuk menatap lantai. Nafasnya masih bergetar. Keringat dingin mengembun di pelipis. Mata Abhi terpejam dengan dahi berkerut dalam.


Ia menoleh sebentar pada Sandra di belakangnya sebelum memutuskan berlalu memasuki lift, meninggalkan wanita tersebut yang tanpa sepengetahuan Abhi langsung meluruh di lantai.


Matanya kosong tak berarah. Tubuhnya bergetar setiap kali menarik nafas. Tak berapa lama air mata Sandra keluar, ia menelan ludah dengan tatapan tajam sekaligus hampa.


Sekilas ia melirik foto USG yang tergeletak mengenaskan di lantai. Cukup lama, entah berapa lama dirinya duduk di sana hingga siang berangsur senja.