
Maria membuka matanya perlahan. Seperti dejavu ia kembali bangun di tempat asing. Punggungnya terangkat hingga duduk di atas ranjang. Matanya mengedar mengamati sekitar.
Sebuah kamar yang cukup luas namun tak lebih besar dari kamarnya di rumah Gibran. Interior mewah tak perlu dipertanyakan. Sudah pasti pria itu membawanya ke tempat kelas atas.
"Sawaddi kha ..." Sebuah suara menyapanya.
Refleks Maria menoleh cepat. Seseorang baru saja keluar dari sebuah pintu yang Maria duga adalah kamar mandi. Wanita itu menunduk dan tersenyum menyapanya.
"Sa-Sawa ... apa?" Maria berkedip. Sejenak ia terdiam memikirkan sesuatu. Barulah setelah beberapa saat ia ingat terakhir kali ia tengah dalam perjalanan menuju Bangkok.
"Sudah sampai rupanya," gumam Maria sambil mengusap rambutnya ke belakang.
Ia melirik jam digital di atas nakas, pukul 09:00. Setahu Maria Indonesia dan Thailand tak memiliki perbedaan waktu. Itu berarti waktu sekarang sama dengan waktu di Jakrta. Tapi, Maria tidak tahu dengan daerah tempatnya tinggal bersama Gibran. Entah masuk ke dalam Waktu Indonesia Barat, Tengah, atau Timur.
"Apa tidur Anda nyenyak, Nyonya?" tanya wanita yang mengenakan seragam rapi khas hotel tersebut.
"Ah ... ya," jawab Maria sedikit linglung. Kepalanya menoleh ke sana kemari. "Suami saya ..." Maria ingin bertanya namun ragu.
Akan tetapi, pramuniaga hotel itu seakan mengerti hingga menjawab pertanyaan Maria yang menggantung. "Suami Anda baru saja keluar beberapa saat yang lalu, Nyonya."
"Ah ... begitu rupanya." Maria menggaruk pipinya dan tersenyum garing.
Dalam hati ia menyimpan kesal pada Gibran. Bisa-bisanya lelaki itu pergi dan meninggalkannya di tempat asing. Apa pula alasan Gibran membawanya kemari?
"Benar, Nyonya. Suami Anda berpesan pada saya untuk menemani Anda melakukan serangkaian perawatan di hotel kami."
Mendengar itu, seketika Maria mendongak. Lehernya seakan mau patah saking cepatnya. "Perawatan? Perawatan apa?"
Pramuniaga itu tersenyum. Dengan sabar ia menjelaskan dan menjawab pertanyaan Maria meski rautnya nampak sedikit bingung. "Malam nanti Anda dan Tuan Wiranata akan menghadiri sebuah acara resmi. Karena itu Beliau menyarankan Anda untuk relaksasi sejenak sebelum bersiap. Anda tak perlu khawatir, Nyonya. Hotel kami menyediakan layanan terbaik termasuk spa dan salon."
Relaksasi, katanya. Matamu relaksasi. Maria bahkan ingin kabur sekarang juga. Ini sama sekali tak ada bedanya dengan hidup di rumah Gibran. Ia pikir lelaki itu menyeretnya ke Bangkok karena ingin berbaik hati mengajaknya berjalan-jalan, menyusuri destinasi wisata terkenal yang ada di Thailand.
Nyatanya, Gibran mengajaknya kemari untuk menghadiri pesta perusahaan.
Selesai perawatan Maria diam sejenak di kamar, duduk di sofa menikmati potongan buah sembari menonton TV. Ia baru saja memilih gaun yang akan dipakainya nanti malam.
Hanya memilih model, bukan warna. Karena semua baju yang mereka bawa memiliki warna yang sama, yaitu navy. Sudah pasti hal itu bertujuan menyelaraskan dengan apa yang akan dipakai Gibran nanti.
Maria mendesah lelah. Ia menoleh pada Ming— pramuniaga hotel yang sejak tadi setia menemaninya. Pasti dia dibayar khusus oleh Gibran.
"Permisi. Itu ... bolehkah saya berjalan-jalan sebentar keluar?"
"Lagi pula acaranya nanti malam, dan ini masih sore. Masih ada waktu beberapa jam lagi sebelum berangkat," lanjut Maria.
Ming menoleh, ia tersenyum menjawab Maria. "Sesaat lagi Nyonya harus bersiap karena Tuan akan menjemput pukul 17:00."
"A-Apa? Bukankah acaranya pukul sembilan belas? Kenapa dia begitu terburu-buru?" gerutu Maria di akhir kalimatnya.
Ming hanya tersenyum sebagai tanggapan. Ia tak banyak bicara sampai Make Up Artist yang akan mendandani Maria datang.
Sementara Maria, wanita itu terus merengut menahan kekesalannya terhadap Gibran. Lama-lama sikap pria itu membuatnya stres.
"Sebentar. Bisakah rambutnya digerai saja? Saya tidak terlalu suka mengikat rambut," ucap Maria menyela kegiatan sejumlah MUA itu.
"Tentu, Nyonya. Anda terlihat cantik dengan model rambut apa pun."
"Hem. Terima kasih."
"Sama-sama, Nyonya. Suatu kehormatan kami bisa merias Anda."
Maria tersenyum kaku. Ia sudah terbiasa dengan kalimat sejenis itu. Namun ujungnya tetap membuat canggung. Maria merasa dirinya tidak begitu terhormat sampai-sampai pantas mendapat sanjungan yang menurutnya terkesan berlebihan. Tapi, ya sudahlah. Mungkin mereka melihat dari sisi Gibran yang memang tak bisa dibilang biasa.
Ia duduk canggung di samping Gibran. Seriously? Pria itu sama sekali tak memberi tanggapan setelah menyuruhnya bersiap dari pagi? Setidaknya ucapkan satu kata berupa pujian. Dasar pria kaku dan membosankan. Apa mulutnya diciptakan hanya untuk diam?
Percuma saja tampil cantik. Batin Maria.
Tunggu. Kenapa ia merasa kesal? Terserah Gibran mau memujinya atau tidak. Memang Maria siapa sampai-sampai Gibran harus melakukannya?
Konyol sekali.
Roda mobil itu perlahan menggeleser meninggalkan kawasan hotel. Hampir setengah jam berlalu namun suasana masih saja sepi. Gibran maupun dirinya sama sekali tak membuka suara.
Hingga sesaat kemudian ia dibuat tersentak ketika sebuah kotak hitam yang terlihat eksklusif itu terulur di hadapannya.
Maria menoleh pada Gibran. Pria itu hanya menatapnya sejenak sambil berkata, "Pakai."
"I-Ini apa?"
Gibran tak menjawab, membuat Maria secara reflek mengerucutkan bibir. Tangannya mulai membuka kotak persegi panjang tersebut dengan hati diliputi rasa penasaran.
Dan lagi-lagi ia dibuat terhenyak. Sepasang anting berlian dengan desain simple tapi menawan serta corak-corak biru yang Maria duga sebagai batu safir terpampang di depan mata.
Maria berkedip, ia menoleh lagi pada Gibran yang masih dalam posisinya menatap ke depan. Duduk bersilang kaki dengan tangan bersidekap seperti biasa. Pose-pose Bos Sombong yang kerap Maria lihat dalam drama.
"I-Ini ... untuk apa?"
Gibran melirik malas, "Bukankah sudah kubilang untuk dipakai?"
"Iya. Tapi ... aku sudah pakai anting," jawab Maria hati-hati.
"Pakai yang itu. Lebih cocok dengan gaunmu."
Maria menatap anting di pangkuannya. Memang dari segi warna dan desain lebih cantik dan serasi dengan pakaian yang ia kenakan saat ini.
"Tapi ..."
"Baiklah. Akan kupakai," ralat Maria kala mendapati tatapan malas Gibran.
Ia pun mulai membuka satu persatu anting di telinganya. Namun, selanjutnya ia dibuat kebingungan karena tak bisa memakai anting dari Gibran. Kendati begitu ia tetap berusaha meskipun susah.
Di tengah kerja kerasnya mencari lubang kecil pada daun telinga, mendadak ia dibuat mematung oleh tindakan Gibran. Lelaki itu menyingkirkan tangan Maria dari sana, mengambil alih anting yang tadi hendak dipasangnya.
Maria merasakan jemari Gibran berkutat dengan hati-hati. Jantungnya kembali berdebar saat nafas segar itu berhembus di dekatnya.
Diam-diam Maria melirik Gibran. Dari jarak sedekat ini ia bisa melihat parasnya yang menawan. Sayang sekali rautnya yang beku kerap kali membuat orang ketakutan. Coba saja pria itu tersenyum sedikit, pasti bumi akan dibuat bergetar karenanya.
"Haish, lebay," lirihnya tanpa sadar.
Kontan Maria tersentak saat tanpa sengaja matanya bertemu pandang dengan Gibran. Rasa gugup seketika melandanya, apalagi jarak mereka begitu dekat.
"Su-Sudah selesai?"
Gibran tak menjawab, namun jemarinya terangkat meraih dagu Maria, menggamitnya hingga wajah itu sedikit mendongak menatapnya.
Irama jantung Maria seketika meningkat. Ia bahkan sampai menahan nafas saking gugupnya. Ia bertanya-tanya apa yang tengah atau hendak Gibran lakukan.
Namun setelah beberapa saat tak ada yang terjadi. Hingga tiba-tiba saja Gibran mengusapkan ibu jarinya di sana, sebelum kemudian melepasnya lalu menjauh.
"Tersenyumlah. Apa pun yang terjadi nanti," ucap pria itu yang mengundang tanya Maria.