
Tok, tok, tok.
Maria sedikit menjauhkan tangannya dari pintu, lalu ia kembali mengetuk dengan ragu.
"Koko ..." panggil Maria, pelan.
Ia menggigit bibir ketika tak ada jawaban. Lorong kamar Gibran tampak sepi seperti biasa. Wilayah lantai tiga ini memang jarang dilewati pelayan. Lagi pula, ini sudah terlalu malam untuk mereka berkeliaran.
"I-Ini aku ..." Maria menunduk menatap kakinya sendiri.
"Masuk." Tak lama ada sahutan dari dalam.
Maria segera mendongak menatap pintu. Jantungnya berdetak semakin cepat mendengar suara berat Gibran yang entah kenapa begitu berpengaruh pada dirinya.
Dengan pelan Maria mendorong pintu ganda berarsitektur mewah itu. Harum maskulin seketika menyeruak merasuki hidungnya, membuat ia sejenak terpaku dan hampir terbuai jika saja matanya tak menangkap keberadaan Gibran.
Pria itu menatapnya, ia tengah bersandar di kepala ranjang dengan tangan memegang sebuah buku. Sepertinya Gibran sedang membaca. Apa Maria mengganggu?
"Ah ... Koko sedang sibuk, ya? Ya sudah, aku kembali saja."
Maria hampir berbalik saat Gibran bersuara mencegah. "Ada apa?" tanya pria itu seraya mengatupkan buku dan menyimpannya ke atas nakas. Netranya menatap Maria penuh.
Maria mengerjap di tempat, memeluk erat botol berisi anggur serta dua gelas yang sebelumnya ia bawa dari dapur. Hal tersebut menarik perhatian Gibran. Lelaki itu terpaku sejenak sebelum kemudian beralih meneliti wajah Maria.
Wanita itu tampak dipenuhi keraguan.
"Kemarilah," ucapnya.
Pandangan mereka bertemu. Sesaat Maria hanya mematung sampai akhirnya ia mendekat secara perlahan, lalu melesakkan dirinya di pinggir ranjang, tepat di samping Gibran.
Maria menunduk menatap botol dan gelas di tangannya, kemudian mendongak pada Gibran yang rupanya tengah memperhatikan. Maria menelan ludah gugup, ia menghela nafas sebelum mulai bicara. "A-Aku tidak tahu harus bicara dengan siapa. Maksudku, aku bosan dan butuh teman."
"Apa ... Koko keberatan menemaniku?"
Tatapan Gibran bergeser pada botol anggur di pangkuan Maria. Maria mengikuti arah pandang lelaki itu. Sontak ia kembali tergagap, "Ah, ini ... aku mengambilnya dari ruang bar," cicitnya. Takut-takut ia menatap Gibran. "Maaf ..."
"Aku tidak minta izin Koko."
Pria itu tak menjawab, namun tangannya mengambil alih botol tersebut, membuka tutupnya dengan mudah, lalu meraih satu gelas di tangan Maria dan mulai mengisinya hingga hampir setengah.
Tak sampai lima detik Gibran memberikannya lagi. Sejenak Maria terdiam melihat itu, kemudian menerima gelas tersebut sambil tersenyum. "Terima kasih."
Ia mulai menggoyangkan gelasnya dan meminum sedikit, sementara Gibran mengisi untuk dirinya sendiri. Mereka sama-sama minum tanpa suara.
Pria itu tak mengatakan apa pun, matanya bahkan hanya menatap ke depan tanpa sekali pun melirik Maria. Berbanding terbalik dengan Maria yang memerhatikan lekat pria itu dari balik gelas.
Pencahayaan remang menghadirkan suasana hangat yang berbeda. Namun entah kenapa Maria justru merasa nyaman, seolah-olah hal seperti ini memang sepatutnya ia lakukan.
Maria berdehem gugup menyentil panas di tenggorokan. Hatinya berkecamuk saling mendebat satu sama lain. Diam-diam ia mempertanyakan keberanian yang ia sendiri pun tidak tahu datang dari mana, juga apa tujuan sebenarnya ia kemari.
Maria hanya mengikuti keinginan yang entah kenapa sulit dicegah. Pikirannya kacau. Pertemuannya dengan Celine cukup mengguncang suasana hatinya. Pertanyaan demi pertanyaan muncul menghadirkan rasa penasaran lain yang tak kunjung terjawab.
Celine, teman semasa kuliahnya ada di sini. Dulu mereka kerap bersaing dalam berbagai hal. Tapi, beberapa tahun terakhir wanita itu tak lagi mengganggunya.
Pertanyaan itu membayangi Maria sedari tadi. Sampai sekarang pun ia masih kerap memikirkannya.
Maria menghela nafas panjang, kemudian beralih menatap Gibran yang masih anteng dalam posisinya menyesap anggur. Beberapa menit hanya diisi keheningan. Maria pun tak lepas memperhatikan Gibran yang terlihat tampan diterpa cahaya lampu tidur di samping mereka.
Matanya turun pada kimono tidur yang dikenakan Gibran malam ini. Sekilas Maria bisa melihat otot dada lelaki itu yang sedikit menyembul dari balik kain satin tersebut.
Seksi. Ia mengerti kenapa para wanita selalu memperhatikan Gibran sedemikian rupa, karena pesona Gibran memang sekuat itu.
Tidak seperti Chinese-Indo lainnya, wajah Gibran cenderung tegas dengan garis rahang yang kaku. Matanya menukik tajam seperti elang. Maria termasuk orang yang kerap terintimidasi olehnya.
Memang, kehadiran lelaki itu selalu berhasil menekan siapa pun. Tapi tidak dengan malam ini. Entah mungkin karena anggur yang diminumnya, Maria jadi tidak bisa menahan perilakunya sendiri, termasuk ucapannya.
"Waktu itu kau menyuruhku untuk menjeratmu, kan?" bisik Maria tiba-tiba.
Gibran menoleh.
"Selama aku menginginkanmu, kau akan tetap di sampingku."
"Kau bilang aku milikmu, dan kau menyuruhku untuk memilikimu."
Hening sesaat sebelum Maria kembali melanjutkan. "Apa Koko serius mengatakan itu?"
Maria menatap Gibran. Sorotnya terlihat sendu disertai bulir air yang tanpa diduga jatuh dari sudut mata. Maria segera mengusap itu dengan cepat. Ia tertawa hambar sembari menunduk mengamati anggur dalam gelas.
"Lucu sekali, ya?"
"Belum genap lima bulan aku dicampakkan, sekarang hatiku sudah terombang-ambing dalam kenyamanan lain."
Maria tersenyum miris, "Aku memang semudah itu jatuh cinta," lirihnya.
"Nahasnya, tak ada satupun pria yang mampu bertahan denganku. Dan meski aku tahu pada akhirnya akan ditinggalkan, aku tetap nekat menjalin hubungan."
Maria mendongak, hidungnya memerah dengan mata berembun. "Seperti yang lainnya, mungkin Koko juga akan menganggapku bodoh. Aku terlalu mudah dibuai oleh perhatian. Mereka bilang aku membosankan. Aku ..."
"Berkali-kali aku coba memperbaiki diri, aku selalu mencari di mana letak kesalahanku. Padahal, selama ini aku juga berusaha menjadi pasangan yang baik dan sempurna. Tapi kenapa ..." Maria menangis. "Kenapa mereka tetap pergi meninggalkanku? Kenyataannya Gabriel pun tak jauh berbeda. Dia bahkan menghancurkan pernikahan kami ..."
Gibran masih setia mendengarkan Maria. Pun matanya tak lepas menatap lekat wajah cantik yang diliputi kesedihan itu.
"Apa ... Apa Koko juga akan seperti itu, seandainya aku mencintai Koko?"
Mata mereka bertemu. Maria tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Gibran. Lelaki itu sejak tadi hanya diam memperhatikan. Hal tersebut justru membuat Maria semakin tertantang.
Entah kegilaan apa yang ia lakukan, tubuhnya condong dengan wajah perlahan mendekat. Sejenak Maria terlihat ragu, sampai akhirnya dia melabuhkan bibir di atas bibir Gibran.
Pria itu tak bereaksi. Hampir dua menit keduanya berada dalam posisi seperti itu. Hingga perlahan Maria menjauh dengan rasa kecewa membayangi raut serta matanya.
Maria mengerjap gugup. "Ma-Maaf ..."
Cepat-cepat ia bangkit dan berniat pergi, tapi Gibran tiba-tiba mencekal tangannya dan menariknya hingga jatuh di pangkuan. Belum sempat Maria menyadari apa yang terjadi, ciuman panas berhasil membungkam mulutnya dengan keras.