
"Iblis keparat," desis Abhi.
Sandra mendengus tersenyum sumir. Tangannya menyilang dengan raut meremehkan. "Dari sini kita tahu siapa yang lebih kuat." Ia berjalan mendekat. "Baru sebentar, tapi ... boom! Aku sudah berhasil membuat kejutan untuk kalian."
"Apa ini seperti lelucon bagimu?" Abhi menatap tak percaya. "Demi Tuhan, Sandra, kau mempertaruhkan banyak nyawa!"
Sandra mengendik tak acuh. "Apa kamu pikir aku peduli?" Ia tertawa. "Abhi ... Abhi. Ternyata kau masih saja sepolos dulu. Apa kamu tidak tahu putramu lebih kejam dariku?"
"Tidak?" Sandra berdiri di hadapan Abhi. Ia sedikit mencondongkan wajah untuk berbisik. "Asal kamu tahu, dia pernah membunuh puluhan orang tak berdosa ..." Sandra menyeringai. "Termasuk anaknya."
Rahang Abhi mengetat. Tanpa bisa dicegah tangannya mendorong Sandra dan membantingnya ke dinding. Sandra terkikik saat Abhi mencekik lehernya.
Pria itu berdesis. "Bukan dia, tapi kau!" ucapnya tajam. "Kau yang mencoba membunuh Maria dan anaknya!" Abhi berteriak keras.
Sementara Sandra tertawa. Wanita itu sudah seperti orang gila di mata Abhimanyu. Matanya menyorot rendah pada sang mantan suami.
"Berhentilah, Abhi. Kamu tak perlu memaksakan diri. Willis bukanlah ranahmu untuk ikut campur. Pria lemah sepertimu tidak akan mampu untuk sekedar memahami kami."
Sandra mendengus, matanya melirik ke bawah dagu. "Kamu bahkan tidak tahu caranya mencekik."
Kemudian ia mencengkram tangan Abhimanyu dan menekannya lebih dalam hingga cekikan itu kian mengencang. Sandra menatap Abhimanyu dengan sorot menantang. Pria itu mengetatkan rahang balas menatap Sandra dengan tajam.
Abhi berusaha keras menahan nalurinya, ia mengumpulkan seluruh kebencian yang terpupuk sejak lama hingga menjadi gumpalan emosi tak terhingga.
Sandra tersenyum miring. Keduanya beradu pandang cukup lama hingga kemudian Abhi menghempaskan tangannya melepas wanita itu.
Sandra terbatuk-batuk memegangi lehernya. Namun bibirnya tak lepas menguar tawa meski terdengar lirih.
"Sudah kubilang kamu tidak bisa melakukannya. Hahaha ..." Ia mendongak menatap Abhi yang kini terengah menghindari tatapannya. "Akuilah kamu memang selemah itu."
"Tidak bisa membunuh bukan berarti lemah." Abhi melirik Sandra dengan tatapan menusuk. "Aku bukan iblis seperti kalian yang haus kekuasaan," desisnya tajam.
Sandra mengangkat alis tak acuh. Ia kembali mendekati Abhi mengusap bahu pria itu pelan. "Dan iblis ini yang sudah memberimu keturunan," tambahnya merasa menang.
Ia menyeringai, sementara Abhi segera menepis jari lentik itu dari pundaknya. Ia segera berbalik menuju pintu dan berhenti saat bicara. "Jangan pernah sentuh Maria ataupun Gibran. Atau aku akan membuatmu menyesal seumur hidup."
Abhi menghilang di balik pintu, meninggalkan Sandra yang kini mendengus tersenyum miring. Ia meregangkan lehernya mengusap bekas cengkraman Abhi.
"Apa yang bisa dia lakukan dengan hati selembut itu?"
***
"Gibran."
Gibran tak menghiraukan panggilan Abhimanyu yang mendekat. Ia bergeming datar menatap lantai. Penampilannya sangat berantakan dengan kemeja putih yang kusut dan menghitam.
Maria berhasil diselamatkan, tapi ia tidak baik-baik saja. Tangan kanannya patah dengan beberapa luka lain di sekujur tubuh. Hanya satu yang Gibran syukuri, bayi mereka masih aman kendati keadannya tak kalah buruk.
Untuk kali ini Gibran tak akan mencela Abhi, karena berkat pasukan bayangan pria itu Maria bisa keluar sebelum kobaran api menyebar.
Berkali-kali ia bertanya dalam hati, kenapa ia bisa selengah ini. Lagi?
Rayan keluar dari ruang perawatan, matanya melirik Gibran tanpa ekspresi, sorotnya terkesan dingin saat melenggang melewati dua pria yang saling bergeming di kursi tunggu.
Abhimanyu berdiri canggung. "Pak Tjandra—"
"Mereka menginginkanmu. Tidak bisakah kau lepaskan Maria?" Rayan tak menghiraukan Abhi dan menatap lurus pada Gibran.
"Dia berkali-kali hampir mati. Mungkin saat ini aku bisa bersikap lunak karena bayi dalam kandungannya juga cucuku. Tapi sampai kapan pun aku tidak akan lupa, bahwa kau pernah membuatnya koma dan meregang nyawa."
"Kejadian itu membekas sampai sekarang. Kondisi kepalanya adalah bukti kebiadaban kalian padanya di masa lalu."
"Dan jangan lupakan calon bayi yang pernah membuatmu lari dari tanggung jawab."
"Pecundang sepertimu seharusnya tidak pantas untuk hidup." Rayan tertawa sinis. "Dan lucunya setelah semua yang terjadi kau masih bisa bersikap arogan. Ingat, Gibran Wiranata, kau memiliki hutang yang sangat besar padaku. Jika setelah ini putriku terluka lagi, aku tidak akan segan membawanya pergi darimu."
"Tidak peduli sebesar apa kekuasaanmu, aku lebih memilih dia mati daripada harus bernafas seumur hidup bersama orang sepertimu."
Setelah itu Rayan pergi meninggalkan Gibran maupun Abhi. Abhi menunduk menatap putranya yang tak bereaksi di tempat. Tak lama kemudian Nick muncul dengan dengan sebuah map di tangan dan menyerahkannya pada Gibran.
"Apa itu?" tanya Abhi penasaran.
Nick menunduk segan, ia tak berani menatap Tuan Besar dengan wajah bersahaja itu. "Berkas kepemilikan rumah sakit," ujarnya gugup dan sedikit terbata.
Sontak Abhi mengernyit. Ia kembali menatap Gibran dengan pandangan menuntut. "Gibran, apa yang ingin kau lakukan dengan rumah sakit itu?"
Gibran berdiri dan menjawab tak acuh. "Rumah sakit? Rumah sakit apa yang menelan banyak korban seperti itu?"
"Mereka tak pantas berdiri," lanjutnya dingin.
Ia melenggang melewati Abhi diikuti Nick yang seketika mengangguk segan. Abhi menatap kepergian putranya dan sontak mengejar. "Jangan bilang kau ingin menghancurkannya? Gibran, apa kau sudah gila? Sadar lah, Nak!"
"Mereka tidak salah apa pun! Ibumu yang salah! Kenapa kau harus melampiaskannya pada sesuatu yang tidak pada tempatnya?"
Gibran menoleh sengit. "Jika mereka tidak salah Maria tidak akan terluka seperti sekarang!"
"Tempat sialan itu harus dihancurkan! Aku tidak sudi melihatnya berdiri sekokoh itu sementara istriku terbaring lemah dengan lengan yang patah!"
"Tapi bukan hanya Maria yang menjadi korban. Masih banyak korban lain selain istrimu. Pasien, dokter, perawat, semuanya juga mengalami hal yang sama." Abhi menasehati.
Akan tetapi Gibran menggeleng. "Tidak ada yang separah Maria kecuali mereka yang tewas. Orang-orang itu ..."
"Mereka menginjak-injak istriku layaknya serpihan lantai yang rapuh!"
"Aku tidak peduli dengan orang lain." Gibran menyeringai. "Aku bukan kau yang memiliki segudang hati nurani. Aku tidak mengampuni siapa pun yang mengganggu hidupku."
"Dan untuk Willis, aku akan membalas mereka dengan cara yang setimpal," lanjutnya mengakhiri.
Abhi mematung menatap punggung putranya yang menjauh. Matanya redup dan sendu. Kenapa ia bisa besar dengan didikan seperti itu? Apa yang harus ia lakukan untuk mengubah cara pandang Gibran? Terlebih, apa anak itu masih memiliki kepedulian selain pada Maria?
Abhi mengeluarkan ponsel menelpon seseorang. "Evakuasi seluruh pasien dan korban yang terdampak di sana. Pindahkan mereka, bagi rata ke seluruh cabang rumah sakit kita di beberapa wilayah."
"Baik, terima kasih."