His Purpose

His Purpose
180. Finally : The Real Family



Gibran menatap hamparan rumput yang membentang luas menyapa mata. Di kejauhan sana, Maria tengah mengajak putri mereka bersantai di taman pinus yang beberapa bulan lalu Maria tanam sebagai bentuk ngidam aneh pertamanya di awal kehamilan.


Pinus-pinus itu masih kecil, mungkin perlu waktu beberapa tahun lagi untuk bertambah tinggi. Meski begitu fasilitas untuk bermalas-malasan di sana sudah lengkap, termasuk gazebo dan sofa yang saat ini Maria duduki bersama si kecil yang tengah menyusu.


Gibran tersenyum, ia menoleh ke atas bukit tak jauh dari mansion. Istana berlian Sandra Willis terlihat jelas berkilau. Gibran tak jadi mengajak Maria pindah ke Swiss seperti yang pernah mereka janjikan di masa lalu.


Maria pun setuju, ia menyambut baik keputusan Gibran yang ingin menemani sang ibunda di tempat peristirahatan terakhirnya, pun Maria menganggap hal ini sebagai pengabdian mereka karena Sandra telah berperan besar dalam kehidupan damai keluarga kecil keduanya.


Gibran menunduk menatap sebuah buku di tangannya. Buku bersampul gradasi oren dan biru dengan judul Elegi Senja karya Gibran Wiranata. Memuat tentang perjalanan cinta Aaron dan Maria hingga kecelakaan maut memisahkan mereka dari Senja sang anak pertama.


Buku ini sengaja Gibran ambil kembali dari perpustakaan sejak tahu Maria senang menghabiskan waktu di sana. Maria juga sempat hampir membaca buku ini, namun Gibran bergerak cepat menyembunyikannya.


Sempat terpikir untuk menyingkirkan buku bersejarah tersebut, namun urung Gibran lakukan karena saat dipikir kembali buku ini cukup berharga dan mengesankan. Lagi pula Maria sudah mengingat semua masa lalu mereka, tak ada lagi yang harus Gibran khawatirkan seandainya Maria membaca buku tersebut.


Suara helikopter yang perlahan turun mendekat menarik perhatian Gibran maupun Maria di taman. Helikopter itu mendarat di landasan pribadi milik Gibran.


Angin kencang menerbangkan pepohonan sekitar mansion. Gibran segera berbalik meninggalkan balkon begitu melihat Roman dan mertuanya turun, disusul Gabriel yang turut membantu Abhimanyu menduduki kursi roda.


Gibran menghampiri mereka usai tiba di lantai bawah lalu melangkah lebar menuju landasan pacu. Sementara Maria dengan cepat menyudahi susuannya pada si kecil.


"Harley!" seru Maria pada Harley yang berdiri tak jauh dari taman.


Harley kontan berlari mendekat. "Saya, Nyonya?"


"Tolong bawa Sandra ke dalam, ya? Nanti kamu kasih ke Laura atau Martha saja, sudah waktunya dia mandi." Maria menyerahkan Sandra yang langsung Harley terima dengan hati-hati.


Sementara dirinya gegas beranjak untuk menyambut kedatangan keluarga. Benar, mereka semua adalah keluarga. Maria bersyukur dengan berbagai kejadian tempo lalu membawa hikmah yang mengeratkan pertalian kelima pria itu.


Segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Maria mengulas senyum teduh menatap langit sore di atas. Tuhan paling tahu cara menghadirkan cahaya setelah gelap. Usai semua ujian yang menimpa hidupnya, kini Maria menemukan jalan terang menuju bahagia.


Harley menunduk menatap bayi 2 bulan di pelukannya. Ia terpaku sesaat mengamati seraut wajah mungil yang mengerjap polos dengan binar mata yang cemerlang.


Bulu matanya lentik dan panjang, pipinya bulat dan terkesan begitu halus. Permukaannya sangat putih dengan rona merah muda alami.


Cantik.


Tanpa sadar Harley tersenyum menyentuh pelan hidungnya yang kecil dan mancung. Senyum Harley semakin lebar ketika bayi itu menggeliat dengan mulut terbuka seakan tertawa. Gusinya yang polos belum ditumbuhi gigi membuat Harley gemas ingin menciumnya.


"Nama Sandra memang selalu melambangkan kecantikan. Kamu masih begitu kecil, tapi sudah berhasil membuatku jatuh cinta."


Cup.


Harley mengecup pelan pipi bulat Sandra sebelum kemudian melanjutkan langkah memasuki mansion.


Hatinya menghangat dengan jantung berdebar kuat. Tidak, ini pasti hanya perasaan antusias karena Sandra begitu lucu dan menggemaskan.


Harley jatuh cinta pada kepolosan dan kemurnian bayi itu.


***


Gabriel dan Roman baru saja pulang berziarah dari makam Sandra di bukit. Keduanya langsung berebut perhatian Alisandra yang kala itu tengah dipangku Gibran di ruang tengah.


Akhirnya karena geram dengan tingkah keduanya Gibran bangkit menjauhkan sang putri dari Uncle dan buyutnya yang kekanakan.


Maria menggeleng merasa lucu. Perhatiannya tiba-tiba jatuh pada Abhimanyu yang duduk termenung di tepi jendela. Lelaki itu sejak tadi bergeming menghindari keramaian.


Rautnya masih sama seperti yang terakhir Maria ingat 2 bulan lalu. Kosong dan hampa. Mungkinkah kepergian Mom Sandra berpengaruh besar pada perubahan Papa Abhi yang mendadak jadi pendiam dan pemurung? Atau ia memikirkan kakinya yang divonis lumpuh permanen oleh dokter? Atau gedung perusahaannya yang meledak dan hancur rata dengan tanah menjadi beban paling berat hingga menghilangkan seluruh semangatnya?


Tapi, entah kenapa Maria merasa alasan pertamalah yang paling tepat. Mungkin. Maria juga tidak begitu yakin.


"Ko," panggil Maria pada Gibran yang sibuk menimang Alisandra sambil sesekali mendelikkan mata pada Roman maupun Gabriel setiap kali dua lelaki itu hendak mendekat.


Gibran mengangkat alis seolah bertanya 'apa'.


"Sandra biar sama aku dulu. Oh iya, bawa mereka semua ke ruang makan, makan malam sudah siap katanya."


Gibran melonggarkan pelukannya begitu Maria mengambil alih sang putri. Ia mengangguk, lantas memisahkan Roman dan Gabriel yang masih saja bertengkar dan berdebat. Gibran mendorong punggung keduanya untuk digiring ke ruang makan sesuai anjuran Maria.


Maria menggeleng seraya terkekeh kecil. Ia mengecup gemas rambut halus Sandra yang wangi shampo bayi, kemudian berbalik melangkahkan kaki menuju koridor samping yang sepi karena letaknya sedikit menjorok ke dalam.


Ia berdiri tepat di samping Abhimanyu yang masih saja belum menyadari keberadaannya. Benar, pria itu tengah melamun.


Pelan-pelan Maria membungkuk menyimpan Sandra di pangkuan sang mertua hingga Abhi terlonjak dan langsung menunduk. Refleks membawa tangannya merangkul tubuh mungil Sandra lantaran bayi itu terus bergerak tak menentu.


Maria terkekeh. "Ini Grandpa, Sayang ..."


Abhi menatap lama sang cucu yang kini mulai diam dengan mata mengedip polos ke arahnya.


"Sandra ..." gumam Abhi.


Entah Sandra mana yang Abhi maksud. Tatapannya meredup seiring kepalanya menunduk mengecup dalam kening Alisandra.


Maria tersenyum. "Papa kenapa sendiri di sini? Ayo makan malam? Koko tadi minta Koki membuat puding beras kesukaan Papa, lho."


Abhi menjauhkan wajah dari Alisandra. Ia memandang lekat sang cucu yang kini tampak mengemut ibu jarinya sambil berkedip balas menatap Abhi.


Jika saja Sandra masih hidup, apa anaknya akan lahir laki-laki atau perempuan?


Abhi menelan ludah. Kenapa Sandra begitu egois membawa anak mereka pergi. Lagi?


Jika dulu mereka hanya berpisah negara, kini Abhi bahkan tak tahu harus melihat Sandra secara nyata di mana.


Kenapa kita tak pernah bisa bahagia, Sandra?


"Papa?"


Abhi tersentak, ia menarik kembali air matanya yang tanpa sadar hendak keluar. Abhi mendongak menatap Maria sambil mengangkat alis.


"Ayo?" ajak Maria entah untuk yang keberapa kali.


Abhi betul-betul larut dalam pikirannya sendiri. Sang mertua akhirnya mengangguk dan membiarkan Maria mendorong kursi rodanya pergi dari sana. Sementara Alisandra begitu tenang ia timang.