
Gibran duduk termenung di pinggir ranjang. Maria baru saja terlelap. Lampu sengaja ia matikan dan hanya menyisakan pendar kuning di atas nakas. Sekali lagi Gibran menunduk menatap kalung di tangannya.
Hampir delapan tahun berlalu, Gibran masih setia membawa kalung itu kemana pun, kendati dompetnya sudah ganti berkali-kali, benda itu selalu menemaninya.
"Happy birthday."
"Untukku?"
"Hm."
"Bagus sekaliii."
"Kamu suka?"
"Suka. Apa pun yang Senior berikan aku suka."
Gibran meremat rambutnya kasar. Ia menatap lagi kalung itu lamat-lamat sembari bergumam. "Kalung ini punya kamu, Plum."
Sorot mata lelaki itu terlihat sedih. Nafasnya berangsur berat saat mengingat berlian itu sempat berlumur darah. Benar, Gibran memungutnya ketika Maria kecelakaan, dan sampai sekarang ia masih menyimpannya dengan baik.
Hari berlalu begitu cepat. Kandungan Maria kini memasuki usia 7 bulan. Tangannya pun sudah pulih meski dokter belum sepenuhnya mengizinkan Maria mengangkat sesuatu yang berat. Gibran pun selalu ngilu setiap kali Maria melakukan pergerakan.
Satu hal yang membuat Gibran kian bahagia, anaknya sudah mulai menendang di perut Maria. Gibran selalu menyempatkan diri menyentuhnya, terutama sebelum tidur, ia akan berlama-lama memperhatikan perut sang istri hanya untuk menanti denyutan kecil sang anak yang membuatnya gemas bukan main.
Mereka sudah melakukan USG. Benar tebakan Gibran, anaknya perempuan. Ia tidak sabar melihatnya. Kira-kira akan secantik apa jika Maria saja sudah membuatnya gila?
"Sshhh."
"Sakit?" Gibran bertanya khawatir. Ia baru saja melihat pergerakan di perut Maria.
Maria menggeleng. "Geli, dan ... mual. Entahlah, aku tidak bisa menjelaskannya. Aduh!" Ia kembali memekik saat anaknya menendang.
Gibran sontak menunduk mencium permukaan yang kini sudah jauh lebih besar dari beberapa bulan lalu. "Sayang, tenang sedikit, ya. Jangan keras-keras, jangan terlalu sering juga bergeraknya. Kasian Mommy. Dia sering bangun karena kamu."
"Malah bagus kalau aktif," timpal Maria.
"Tapi kamu tidak nyaman, kan?"
"Ya kan ini memang resiko. Ssshh ... awh. Aduh, awas dulu pengen pipis." Maria berusaha beranjak dibantu Gibran.
Seiring kandungannya yang membesar, Maria jadi lebih sering ingin buang air.
"Perlu ku antar?"
"Apa, sih. Orang cuma kamar mandi, bukan kamar mayat," dengus Maria.
Semakin ke sini Gibran semakin paranoid. Tingkat over protective-nya meningkat lebih tinggi. Sampai-sampai Maria sering lelah sendiri hanya dengan mendengar wejangan Gibran yang tiada habisnya setiap kali lelaki itu hendak pergi.
Katanya, bisa saja Maria terpeleset, terkilir, tersandung, dan ter-ter lainnya.
Gibran hanya bisa pasrah mendapat delikan Maria. Ia melesakkan diri di sofa menunggu wanita itu gelisah. Wajahnya tegang, pun kakinya tak bisa diam. Gibran segera mendongak saat mendengar pintu kamar mandi dibuka. Ia langsung berdiri menghampiri Maria lalu menuntunnya kembali ke ranjang.
Gibran tak menghiraukan tatapan geli Maria.
"Koko lucu kalau wajahnya tegang begitu. Hihi ..."
"Diam, jangan tertawa. Ini bukan sesuatu yang patut jadi bahan bercandaan."
"Maaf." Maria segera membungkam mulutnya. Padahal dalam hati ia mati-matian menahan tawa.
Astaga, adakah calon ayah yang lebih berlebihan dari Gibran?
Gibran menyelimuti Maria yang kini sudah berbaring di atas ranjang. Keduanya bersiap untuk tidur. Seperti kebiasaan baru Gibran, pria itu akan menyanyikan sebuah lagu sebelum tidur di atas perut Maria.
"Suara Koko bagus. Kenapa tidak jadi penyanyi saja?"
"Uangnya sedikit," jawab Gibran asal.
Maria mengernyit. "Siapa bilang? Penyanyi terkenal memiliki banyak aset dan uang, tahu."
"Tetap saja lebih banyak uangku."
Maria mencibir. "Nak, semoga kelak kamu jadi anak yang baik, ramah, rajin menabung, dan tidak sombong," ucapnya sambil mengusap perut.
"Siapa yang bilang?"
"Kamu."
"Aku bicara pada anak kita."
"Sudahlah." Gibran melengos dan kembali fokus pada pergerakan anaknya di perut Maria.
"Kalau kamu punya banyak uang, tidak masalah kalau mau sombong," titurnya kemudian.
Pluk.
Maria menepuk kepala Gibran. "Belum lahir saja Koko sudah mengajarkan hal yang tidak baik."
"Itu faktanya. Kita bisa sombong kalau punya banyak uang. Kalau miskin apa yang disombongkan?"
"Koko, ih! Jangan bicara begitu. Percuma sombong, harta tidak dibawa mati."
Gibran hanya mengangkat alis, tentu saja Maria kesal. Bicara apa pun seakan mental di kepala Gibran.
"Siapa yang dulu suka pamer kalau punya barang bagus?" gumam Gibran dalam hati.
***
Seorang pria berperawakan tinggi berjalan santai menyusuri basement dengan pakaian serba hitamnya. Separuh wajahnya terhalang topi, sementara tangannya menggenggam sebuah koper berukuran sedang.
Langkahnya mendekat pada sebuah mobil sedan mewah yang terparkir dekat pilar.
Ia mulai membuka koper tersebut dan mengambil sebuah alat sebelum menyusupkan tubuhnya di kolong mobil berharga fantastis itu. Beberapa menit ia berkutat hingga tak lama kemudian ia keluar membereskan barang dan menutup kembali kopernya.
Pria itu lantas pergi, berjalan menunduk sambil memegangi topi meninggalkan basement.
Sementara di sebuah ruang meeting, Sandra mengerang keras berpegangan pada meja. Di belakangnya, Abhi bergerak brutal menghentak tubuhnya dengan menggebu.
Pria itu menjambak dan memilin rambut panjang Sandra hingga kepala wanita itu tersentak ke belakang. Satu tangannya yang lain meremas bongkahan besar wanita itu yang menyembul dari balik kemeja.
Abhi menggeram dengan nafas terengah, tak memedulikan makian juga pukulan Sandra yang berkali-kali mengenai kepalanya.
Ia terus memompa, menjambak dan menampar Sandra dengan cara yang cukup kasar.
"Brengsek sialan! Aarrghh!" Berkali-kali wanita itu berusaha lepas dari cengkraman Abhi, namun lelaki itu menjepit keras pinggangnya di antara meja.
Sandra menyikut rusuk Abhi hingga membuat fokus pria itu sedikit terpecah. Kesempatan itu ia manfaatkan untuk lari dan melepas paksa penyatuan mereka.
Terdengar suara Abhi yang memaki pelan. Pria itu dengan cepat mengejar Sandra yang berlari hendak mencapai pintu dan menarik rambutnya hingga tersentak ke belakang.
Abhi membanting Sandra dan menekannya ke sebuah dinding, kemudian ia memasuki lagi wanita itu dengan kasar. "Kau tidak akan bisa lari, Ja-lang. Sadarlah siapa yang paling mendominasi di sini," desisnya tajam sambil menggerakkan pinggulnya cepat.
Sandra tak bersuara, Abhi menekan keras sebelah pipinya ke tembok. "Kau bilang aku pria lemah?" dengusnya sinis. "Akan kutunjukkan seberapa lemah pria yang kau katai itu."
Raut Sandra terlihat datar, wajahnya tak beriak ketika Abhi menggeram mencapai puncak kenikmatannya. Pria itu mencabut miliknya kasar dan memasukkannya kembali ke dalam celana. Abhi mengibas sedikit jasnya yang terlihat kusut berantakan.
Tak jauh berbeda dengan Abhi, Sandra kini tampak menurunkan roknya dan mengancing kembali kemejanya. Ia tersenyum sinis mendapati beberapa kancing hilang dari tempatnya.
Keduanya bertemu mata sekilas, sebelum kemudian Abhi berlalu melewatinya seraya berkata tajam. "Kau akan mendapatkan balasan yang setimpal, Sandra Willis. Aku pastikan itu."
Sudut bibir Sandra terangkat sumir. Ia melirik tak acuh kepergian Abhi yang kini sudah sepenuhnya keluar ruangan. "Sebelum kau melakukannya, kau yang akan mendapat balasan itu lebih dulu, Abhi. Hahaha ..."
Abhi memasuki mobil dan menutup pintunya dengan kasar. Basement sudah sangat sepi, hanya tersisa beberapa mobil yang terparkir di sana. Ia memijak pedal gas dan memacunya dengan kecepatan tinggi hingga menimbulkan suara decitan.
Sedan mewah itu melaju membelah jalanan lengang di malam hari. Sebelumnya Abhi begitu santai mengemudikan mobilnya. Akan tetapi, sebuah motor tiba-tiba melintas hingga membuatnya refleks membanting setir.
Nafas Abhi terhembus lega karena ia mampu menguasai kemudi dengan baik. Namun semua itu tak bertahan lama lantaran mobilnya tak bisa dikendalikan. Berkali-kali Abhi menginjak rem saat laju mobilnya mendadak bertambah cepat dengan sendirinya.
Sebisa mungkin Abhi menstabilkan kemudi dan menetralisir panik. Namun semua itu tak ada gunanya karena sesaat kemudian ...
Braaakk!!!
"Inilah akibatnya kau terlalu meremehkanku, Abhi ..." bisikan Sandra berhembus di bawah angin malam. Hati yang diselimuti dendam itu membara oleh satu kemarahan.
Masa lalu yang menghantui semua orang itu ... mengerikan.