His Purpose

His Purpose
155. Revenge



Abhi bangkit dengan nafas terengah, memunguti pakaian yang berhamburan di bawah ranjang lalu memakainya dengan santai.


Di belakangnya, Sandra mendengus menyentuh celah intimnya yang basah. "Sangat kental dan banyak." Sudut bibirnya terangkat sinis. "Apa kau tidak pernah bercinta setelah bercerai?"


Pertanyaan itu lebih mengarah pada ejekan. Meski begitu Abhi seperti tak peduli dan hanya meliriknya sekilas sambil terus mengancing kemeja.


Pria itu pergi begitu saja meninggalkan Sandra yang diam-diam menyusupkan tangan ke bawah bantal, menggenggam erat sesuatu di sana sebelum menariknya keluar.


Dengan sorot datar sekaligus tajam, Sandra mengarahkan pistol itu ke punggung Abhi. Jarinya sudah siap menarik pelatuk saat pintu menutup menelan siluet Abhi.


Sandra menghentak tangannya membuang pistol tersebut ke atas ranjang. Nafasnya berhembus tajam dengan mata lurus menatap langit-langit kamar.


"Abhimanyu ..." gumamnya penuh kebencian.


***


Gabriel menghentikan langkah di pertengahan tangga saat dirinya mendapati Abhi memasuki rumah. Ia melirik jam yang menunjuk pada angka sepuluh.


"Papa habis dari mana? Baru pulang kerja? Tumben?"


Setahu Gabriel Abhi tak pernah bekerja selarut ini. Pria itu pasti membawanya ke rumah jika deadline terlalu banyak.


Abhi sedikit terperanjat dan menoleh ke atas. Sejak tadi pria itu tampak melamun hingga tak menyadari kehadiran Gabriel.


"Ah, Papa ... ketiduran di kantor."


Sesaat Gabriel mengamati ayahnya. "Pasti karena Papa kelelahan. Lain kali jangan terlalu diforsir. Istirahatlah yang cukup. Usia Papa tidak muda lagi, sudah saatnya menghentikan kebiasaan gila kerja. Lihat aku, mungkin hanya aku pengusaha yang santai di sini." Gabriel mengendik sambil tertawa.


Abhi menatap putranya dengan senyum. Rautnya tampak menerawang pada kejadian beberapa saat lalu. Bagaimana jika anak-anaknya tahu, bahwa ia baru saja melampiaskan hasrat pada ibu mereka yang jahat.


Abhi benar-benar sudah gila. Ia terlalu marah hingga tak bisa menahan diri menggauli Sandra. Lagi. Mungkin bisa saja ia membunuh wanita itu tadi.


Abhi menghela nafas dalam sebelum melanjutkan langkah menuju dapur guna mengambil air minum. Gabriel yang juga memiliki tujuan sama lantas mengekor di belakang.


Tanpa Abhi sadari Gabriel terus memperhatikan punggungnya dengan tatapan rumit.


"Sekarang kamu sudah kembali. Apa kamu mau memimpin perusahaan secara publik lagi? WiEl Group sudah cukup lama kehilangan foundernya."


WiEl Group adalah perusahaan yang Gabriel dirikan sendiri, tidak termasuk sama sekali dalam naungan Wiranata sang ayah.


"Tentu. Aku sudah lelah dianggap miskin di luar sana. Haha."


Abhi mendengus setengah senyum. Ia menuang air lalu memberikannya pada Gabriel. Abhi menuang kembali untuk dirinya dan meminumnya hingga tandas.


Gabriel menyesap sedikit demi sedikit air putih di gelas. Matanya tak lepas menatap Abhi hingga sang papa berbalik mengangkat alis. "Ada apa? Kenapa kau terus melihatku?"


Gabriel menelan air dan menyimpan gelas tersebut di meja. "Tidak ada. Aku hanya merasa Papa lebih bugar malam ini."


Sesaat Abhi terdiam sebelum kemudian ia menguar kekehan pelan sambil menggeleng. "Papa memang konsisten olahraga sebelum tidur, kan?"


"Iya, sih. Jadi itu rahasia Papa bisa punya tubuh sebagus ini sampai sekarang? Wah ... kenapa Papa tidak mencari gadis muda untuk menjadi ibu tiriku? Aku tidak masalah memiliki ibu lebih muda dariku."


Abhi berdecak menanggapi selorohan Gabriel. "Ada-ada saja kamu."


Gabriel tertawa dan merangkul ayahnya dengan satu tangan. "Bercanda. Kenapa wajah Papa serius begitu? Atau memang benar Papa sudah punya calon Mama baru?"


"Siap, Kapten!" Gabriel memperagakan sikap hormat yang membuat Abhi semakin menggeleng geli.


Kedua putranya memiliki watak yang bertolak belakang. Sepeninggal Gabriel, Abhi kembali melamun sendiri. Berkali-kali ia menarik dan membuang nafas sambil menunduk. Kedua tangannya bertumpu di meja, sementara matanya terpejam erat.


"Bodoh," desis Abhi pelan. "Sebenarnya di sini siapa yang bodoh?"


***


"Harley," bisik Sandra. "Kamu sudah mempersiapkan semua rencana kita, kan?"


Asap rokok mengepul dari mulutnya ketika bicara. Tubuh molek Sandra terbaring miring di sofa mahal dengan satu tangan menyangga kepala. Rautnya tak beriak namun penuh makna.


Harley mengangguk. "Sudah, Nyonya."


Sandra melirik, bibirnya tersungging miring seiring tubuhnya bangkit perlahan. Ia berjalan mendekati Harley yang mematung oleh intimidasi tak terhingga.


Sandra mengikis jarak dan berhenti tepat di samping Harley. Jari lentiknya sedikit menari di bahu pemuda itu.


"Aku hanya ingin memastikan, apa kau sepenuhnya memihakku ... atau ayahku." Suara Sandra yang serupa bisikan terdengar kelam.


Harley menunduk. "Tentu Anda, Nyonya," jawabnya yakin.


"Kalau begitu buktikan."


Harley sedikit menjauh, ia membuka satu persatu kancing kemeja hitamnya lalu melepasnya hingga menampilkan dada bidang yang bugar dan kencang.


Sedetik kemudian ia berbalik, perlahan kakinya meluruh bersimpuh di lantai.


Sandra tersenyum miring. Wanita itu berjalan ke tepi ruangan, mengambil sebuah tongkat di sudut lalu kembali mendekati Harley. Dan ...


Buk!


Satu pukulan.


Buk!


Dua pukulan.


Buk!


Tiga pukulan hingga pukulan-pukulan lain Sandra layangkan di punggung Harley. Pria muda itu tak berekspresi meski bagian belakang tubuhnya kini penuh oleh luka cambuk.


Ia sudah biasa. Di balik ketampanan dan kegagahannya banyak sekali bekas memilukan di punggung Harley. Alasan mengapa area itu terlarang bagi wanita mana pun yang menjadi partner bercintanya setiap malam.


Sandra tertawa keras hingga suaranya yang melengking menggema di sepenjuru ruangan. Wanita itu menengadah seolah menantang langit dan penguasa alam. Tangannya merentang melempar tongkat, ia terus tertawa sementara Harley setia bersimpuh membelakanginya.


Namun di antara semua itu, matanya menguarkan kehampaan yang tak bisa dijelaskan. Sandra tersenyum miring. "Sebentar lagi. Sebentar lagi kalian semua akan hancur," bisiknya penuh ambisi.


"Abhimanyu ... kau akan merasakan apa yang kurasakan dulu. Hahaha ... hahaha ... hahaha ..."


"Manusia-manusia bodoh, kalian tidak pantas hidup."