
"Koko mana, sih? Kok lama banget keluarnya?"
Maria menggigiti kuku sambil sesekali melirik jam. Ia merapatkan selendang di bahunya dengan resah. Sudah satu setengah jam Gibran belum juga kembali.
Tidak tahan menunggu, Maria pun bangkit dari sofa yang didudukinya. Lebih baik ia mencari Gibran keluar.
Maria membuka pintu sambil celingukan, ia menutup pelan pintu kamarnya dan mulai berjalan perlahan dari sana, sedikit bingung harus mencari Gibran ke mana.
"Awas saja kalau dia selingkuh, akan kupotong anunya!"
"Huaaa ... jahat banget, sih! Koko gak mungkin di kamar wanita lain, kan?"
Langkah Maria terhenti, "Jangan-jangan Koko lagi sama si Lalat Bau itu?"
Tak pelak pemikiran tersebut membuat nafasnya terengah. Tangannya mengepal dengan wajah siap meledak. Jika dalam komik, mungkin telinganya sudah dipenuhi asap mengepul.
"Eeeuuhh ... menyebalkaaan ...!" jeritnya seraya menghentak kaki.
Ia meneruskan langkah sambil terus menggerutu. Tak henti mulutnya memaki Gibran yang ia pikir sedang bermain api di belakangnya.
Laki-laki, keluar malam secara diam-diam, mau apa lagi selain bermain wanita?
"Padahal aku sudah memuaskannya beberapa hari ini. Kenapa Koko masih saja mencari yang lain? Apa dia kurang senang dengan layananku?"
"Menyebalkan. Tubuhku bahkan lebih seksi dari si Morena Morena itu. Aaakhh!" Maria meninju dan menendang udara di depannya.
Saat ia berbelok hampir mencapai lift, kakinya tiba-tiba berhenti. Maria mematung sebentar seraya mengerjap memastikan.
"Lho, Koko?" bisiknya setengah heran.
Maria sampai mengucek mata guna melihat lebih jelas. Dan sosok itu memang Gibran, pria yang sejak tadi menjadi sasaran kemarahannya, kini tengah terduduk di lantai dengan kondisi mengkhawatirkan.
Kontan ia berlari mendekati sang suami. "Koko!"
"Astaga ... ya ampun ... apa yang terjadi!"
"Koko, sadar!"
Maria menatap khawatir pada Gibran yang terengap-engap mengambil nafas, pria itu nampak begitu kesulitan menarik oksigen. Tangannya meremas dada dengan erat, membuat Maria semakin dilanda ketakutan karena Gibran terlihat seperti sedang sekarat.
"Koko? Koko bisa dengar aku?" Maria menepuk-nepuk kedua sisi wajah Gibran. Namun pria itu nampak tidak fokus dan seolah tersedot ke dunia lain.
"Koko! Ini aku. Hey!"
"Astaga, apa yang terjadi denganmu? Apa yang harus kulakukan? Kenapa kau bisa seperti ini?" Maria panik. Ia kalang kabut mengedarkan pandangan berusaha mencari bantuan.
"Ya Tuhan, bagaimana ini ..."
"Nick. Benar. Aku harus menelpon Nick."
Namun kemudian Maria teringat, "Tapi aku tidak bawa ponsel ..."
Apalagi Gibran. Tadi Maria sempat melihat ponsel pria itu tergeletak di atas nakas. Tidak ada pilihan lain, Maria harus membawa Gibran ke kamar sekarang.
Susah payah Maria melingkarkan lengan Gibran ke lehernya, ia berusaha mengajak pria itu untuk berdiri. Keduanya berjalan terseok bahkan hampir jatuh beberapa kali. Tak jarang Maria meringis saat harus berbenturan dengan tembok lantaran tubuh Gibran yang seringkali limbung.
Maria menghempaskan tubuh Gibran ke ranjang begitu sampai di kamar, nafasnya terengah mengusap kepala Gibran yang dipenuhi keringat. Cepat-cepat ia meraih ponselnya lalu melakukan panggilan pada Nick.
Tepat di dering ke dua pria itu mengangkatnya, "Halo, Nyonya?"
"Nick, cepat kemari. Maksudku kamar kami. Sepertinya Koko mengalami serangan jantung, Nick ... aku bingung harus bagaimana ... cepat kemari ... aku takut Koko kenapa-napa ..." Maria berujar panik disertai isakan.
"Koko!"
Maria memekik ketika sepasang tangan menarik pinggangnya dari belakang. Maria menoleh dan mendapati dirinya sudah duduk di pangkuan Gibran.
Pria itu memeluknya erat, terlalu erat hingga rasanya perut Maria hampir remuk. Dengan nafas masih terengah, Gibran menenggelamkan wajahnya di balik punggung Maria.
"Koko? Ada apa? Hey? Kau mendengarku?"
Maria berbalik meraih kepala Gibran guna melihat jelas wajahnya. Pria itu sudah sedikit mulai fokus. Ia membalas tatapan Maria, namun pendarnya masih begitu mengkhawatirkan. Gibran seperti mati-matian menahan sakit yang tak bisa dijelaskan. Dan anehnya, jantung Maria ikut merenyut menyaksikan hal tersebut.
"Koko ... hiks. Apa yang terjadi ... Kenapa kau bisa seperti ini? Sebenarnya Koko habis dari mana tadi ..."
Maria menempelkan lagi ponselnya ke telinga, "Nick, secepatnya kamu kemari, ya. Aku tunggu!" Tut. Maria mengakhiri panggilan.
Ia kembai fokus pada Gibran yang seolah linglung dengan sekelilingnya. Maria semakin tak bisa menahan dirinya untuk menangis. Gibran kenapa? Apa yang terjadi? Habis dari mana dia sampai jadi seperti ini?
Pertanyaan-pertanyaan di atas terus memenuhi kepala Maria. Hingga beberapa menit kemudian Nick datang bersama seorang pria yang diduga adalah dokter.
Maria segera menyingkir membiarkan dokter tersebut memeriksa Gibran, mengangkat kaki pria itu hingga sekitar 30 senti lebih tinggi dari kepala, lalu memiringkan tubuh Gibran saat pria itu hendak muntah.
Maria menatap harap-harap cemas saat lambat laun Gibran mulai tenang dan bernafas dengan normal.
"Bagaimana, Dokter? Suami saya baik-baik saja, kan? Kenapa dia bisa seperti itu?"
Dokter yang tidak Maria ketahui namanya itu menghela nafas, wajahnya cukup berkeringat setelah sesaat yang lalu berusaha menenangkan Gibran.
"Beruntung saya ke sini tepat waktu. Suami Anda mengalami syok berat yang memicu seluruh sarafnya tidak berfungsi dengan baik. Detak jantungnya juga meningkat tak terkendali, sementara denyut nadinya kian melemah. Umumnya denyut jantung dan nadi terjadi secara bersamaan. Untuk mengatasi kelainan ini saya sarankan suami Anda melakukan pemeriksaan langsung ke dokter spesialis jantung. Biasanya akan dilakukan beberapa tahapan terapi. Hal ini sangat berbahaya jika dibiarkan."
Maria menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia melirik Gibran yang terbaring lemah di atas ranjang. Pria itu tak sadarkan diri, namun nafasnya sudah jauh lebih normal.
"Ambulance sebentar lagi datang. Kita akan membawanya ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut," lanjut sang dokter.
Maria tak mampu mengeluarkan suara, ia segera mendekat ke pinggir ranjang dan meraih tangan Gibran yang masih sedikit dingin dan lembab karena keringat. Maria terisak mengusap wajah lelaki itu, mulutnya bergetar berusaha meminimalisir tangis.
"Koko ... kenapa kamu bisa seperti ini ... hiks. Aku takut ... semoga kamu baik-baik saja, hiks ... jangan tinggalkan aku ... kumohon bertahanlah ..."
Nick yang melihat itu menunduk. Sepertinya dia tahu apa yang membuat Gibran syok. Ada satu kesempatan Gibran juga pernah mengalami hal seperti ini. Dan sekarang pria itu mengalaminya lagi. Entah apa pemicunya, ia akan segera mencari tahu.
Tak berapa lama Nick mendapat kabar ambulance sudah sampai di lobi hotel. Terbukti beberapa saat kemudian para petugas medis masuk dan segera memindahkan Gibran ke atas brankar.
Menyaksikan itu tangis Maria pun semakin tak terbendung. Ia berjalan cepat mengikuti paramedis berniat mengikuti Gibran, namun Nick tiba-tiba menahan bahunya.
"Nyonya, saya mohon Anda untuk tenang. Tuan pasti baik-baik saja. Lebih baik Anda ganti pakaian dulu sebelum menyusul Beliau. Nanti saya minta sopir mengantar Anda ke rumah sakit."
Dan saat itu Maria baru sadar ia hanya mengenakan kimono tanpa baju dalam apa pun. Beruntung selendang menutupi dadanya yang bisa saja terlihat jelas.
Namun ada satu alasan di mana Nick bisa menebak kegiatan apa yang Maria dan Gibran lakukan sebelum ini. Kamar mereka berantakan, ditambah lagi Maria belum membereskan lingerie-nya di bawah ranjang.
Ia terlalu panik hingga tak memikirkan apa pun selain keselamatan Gibran.
"Tapi, Koko ..."
"Saya akan segera ikut ke rumah sakit sekarang. Nanti Anda menyusul. Ya?"
Maria nampak terdiam berfikir. Sebelum kemudian ia menjawab dengan berat hati. "Baiklah. Tapi tolong kabari apa pun yang terjadi."
Nick mengangguk, setelah itu ia berlari meninggalkan Maria yang masih berusaha menenangkan jantungnya yang berdenyut cemas. Semoga tidak terjadi apa pun pada Gibran.
Tanpa semuanya sadari, Bagas menyender santai menyaksikan Gibran yang tengah dimasukkan ke dalam ambulance. Sudut bibirnya berkedut singkat, "Dasar lemah," ucapnya kemudian berlalu dari lobi.