His Purpose

His Purpose
157. Chasing on the Road



Beberapa hari setelah insiden ledakan itu, Gibran tak jarang melihat Maria melamun seperti tengah mencemaskan sesuatu. Hal yang wajar mengingat wanita itu begitu ketakutan, alasan mengapa Gibran mendatangkan psikolog untuk memeriksa Maria secara berkala, di samping dokter lain yang juga bertugas memeriksa tangan dan kandungan sang istri secara rutin.


Maria tidak berani keluar rumah. Bahkan keluar kamar saja ia kerap waspada. Tapi syukurlah, hal itu sedikit demi sedikit bisa diatasi. Maria mengalami trauma ringan pasca kejadian. Dokter bilang tak berpengaruh pada kehamilannya asalkan Gibran bisa menjaganya untuk tidak stress dan tetap makan teratur.


Hal yang mudah bagi Gibran karena Maria mampu bekerjasama. Wanita itu tak sulit jika diingatkan tentang anak mereka. Gibran senang karena Maria begitu sayang pada anaknya.


Ia memiliki pengalaman buruk perihal orang tua. Dan akan Gibran pastikan anaknya dan Maria tak mengalami hal yang sama. Gibran akan memberikan figur keluarga bahagia bagi mereka kelak. Itu janjinya.


"Waktunya minum susu." Gibran membuka pintu kamar Maria seraya membawa baki di tangan.


Ia tersenyum melihat sang istri yang tengah asik menonton Dorama di televisi berbayar. "Drama Jepang? Tumben bukan Korea?"


Maria menyahut malas sambil menerima uluran gelas dari Gibran. "Entahlah, aku hanya penasaran kenapa drama ini tiba-tiba melejit tahun ini."


"Kenapa?"


Maria mengangkat bahu. "Aku tidak menemukan satu pun keistimewaan di sini. Alurnya monoton, pemainnya juga kurang menarik. Apa mungkin seleraku yang berbeda? Karena jujur aku lebih suka tokoh utama pria yang tinggi, kekar, dan tentu saja berwajah tampan dan sempurna."


Gibran terkekeh, ia melesakkan diri di samping Maria dan memeluk perut wanita itu dengan ringan. "Semua yang kamu sebutkan ada padaku," ucapnya percaya diri.


Sayangnya hal tersebut memang kenyataan. Gibran pantas untuk sombong karena dia seakan tak punya cela. Maria pun tak membantah, membuat Gibran semakin tinggi hati dan besar kepala.


"Tahun depan perusahaanku launching game terbaru. Mungkin saat itu kamu sudah melahirkan. Aku akan mengajak kalian," tutur Gibran lagi.


"Aku ingin seluruh dunia tahu secantik apa ratu dan putriku nanti."


"Memangnya Koko yakin akan kita perempuan?" Maria melihat suaminya aneh.


"Yakin."


"Kenapa begitu? Kita saja belum USG. Usianya juga belum masuk 5 bulan."


Gibran mengendik. "Feeling? Aku tetap yakin anak kita perempuan. Itu sudah pasti. Tuhan selalu membenarkan perkataanku."


Lagi-lagi sombong. Sudahlah, Maria malas mendebat apalagi meladeni. Berdoa saja anaknya lahir perempuan agar Gibran tak malu nanti.


Tok tok tok.


"Tuan? Maaf mengganggu." Nick muncul di ambang pintu yang terbuka.


Gibran memang tak menutup kembali pintunya saat masuk tadi. Ia melepas rangkulannya di perut Maria. "Ada apa?"


Nick enggan berucap, ia memberi isyarat agar Gibran ikut dengannya.


Gibran menghela nafas panjang. Ia beralih menatap Maria yang juga menatapnya penasaran. "Aku keluar dulu. Kamu tidak apa-apa ditinggal? Laura sedang membuat bubur kacang hijau pesananmu, mungkin selesainya masih lama. Aku akan minta pelayan lain untuk melanjutkannya supaya dia bisa menemanimu di sini."


Maria mengangguk saja. Ia bukan istri egois yang akan menghalang-halangi pekerjaan suami. "Koko pergi saja. Aku tak apa meski tak ada Laura."


"Jangan begitu, akan lebih baik jika Jill dan Dean juga berjaga di sini."


"Itu berlebihan." Maria tersenyum halus.


"Tidak ada yang berlebihan jika menyangkut keamanan."


"Sudahlah, Laura saja cukup."


Gibran membuang nafas. Maria sangat susah dibilangi. "Ya sudah. Kamu tenang saja, Papa juga di rumah, kok."


Maria mengangguk. Dua hari lalu Papa Abhi dan Kakek Roman juga kemari, dan ... Gabriel. Maria tak ingin membicarakan lebih tentang pria itu.


Hubungan mereka jelas masih dingin oleh kecanggungan. Bukan karena masih ada hati, tapi karena mereka memiliki cerita sebelum ini.


Gabriel juga sepertinya kerap menghindar. Kebiasaan lelaki itu. Bisa Maria bilang El itu pengecut, sangat berbeda dengan kakaknya yang serba berani menghadapi sesuatu.


Tuh, kan. Sifat membanding-bandingkannya kambuh lagi.


***


"Ada apa?" tanya Gibran selagi mereka berjalan keluar.


Nick langsung membuka pintu mobil hingga kini Gibran duduk di kursi penumpang dengan sikap arogan yang sudah kembali. Berbeda terbalik dengan Gibran versi di kamar Maria tadi. Nick hampir mempercayai asumsinya bahwa dia salah orang.


"Komplotan David Willis diduga sudah menyebar di Indonesia, Tuan. Dan seperti yang kita tahu, ledakan kemarin salah satu yang disebabkan oleh mereka."


Gibran tak menyahut, ia menyalakan tablet dengan santai hingga Nick harus meliriknya dari kaca spion.


Sandra Willis sudah di sini, tidak menutup kemungkinan ayahnya akan menyusul dan melakukan aksi yang lebih brutal.


"Tuan?"


"Hm?"


"Khawatir apa?"


Nick bingung. Sebenarnya mental apa yang dimiliki Gibran hingga ia seperti tak ada gentar-gentarnya.


"Apa Anda sudah menyiapkan rencana?"


Sudut bibir Gibran terangkat sekilas. "Aku sudah memulainya dari kemarin, Nick."


"Apa?"


Gibran tak menjawab. Ia hanya sibuk mengotak-atik tablet di tangannya dengan seringai mengerikan yang lagi-lagi mampu membuat bulu-bulu halus Nick berdiri.


Nick tidak tahu bahwa sejak lama Gibran sudah sedikit demi sedikit meretas dinding perlindungan aset-aset Willis di Amerika bahkan Kanada. Tinggal menunggu beberapa tahap lagi maka Gibran akan membalas mereka setimpal.


Tiba-tiba saja mata Gibran bergeser cepat pada spion depan. Bukan hanya Gibran, rupanya Nick juga memiliki insting yang sama. Lelaki itu melirik spion luar sambil terus fokus menyetir.


"Tuan, mobil-mobil itu mengikuti kita."


Gibran diam membenarkan. "Tambah kecepatan."


Tentu tanpa diminta pun Nick sudah melakukannya. Namun orang-orang di belakang mereka seolah enggan beranjak satu inci pun. Setiap kali Nick berhasil membuat jarak 5 meter, mobil-mobil hitam itu selalu berhasil menyusulnya.


Gibran menoleh ke belakang, ia menekan tombol pembuka kaca jendela seraya mengambil pistol di saku.


Nick memekik cemas. "Tuan, apa yang hendak Anda lakukan?!"


Gibran seolah tuli. Ia mengeluarkan separuh tubuhnya keluar menghadap belakang dan mengarahkan pistol ke arah lawan.


Dor!


Gibran menembak tepat mengenai kaca depan. Namun sepertinya kaca tersebut menggunakan anti peluru.


Dor!


Satu tembakan melesat ke arahnya. Jika ia tidak sigap menghindar mungkin sudah mengenai mata.


Beberapa kali Gibran menembakkan amunisi dan kali ini ia menyasar roda mobil.


Tus! Sreeeet ... duaaarr!!!


Satu mobil berhasil ia tumbangkan. Mobil tersebut hilang keseimbangan dan berputar hingga menyebabkan tabrakan bersama rekannya.


Sisa dua mobil yang kini masih mengejar Gibran. Keduanya berupaya menyalip dan memepet dari sisi kanan kiri. Hal tersebut membuat Gibran mau tak mau menarik diri dan menutup kaca bersamaan dengan satu tembakan mengenai body mobil.


Nick dengan lihai menambah kecepatan. Ia mampu menahan salipan dan tetap memimpin posisi yang terdepan. Namun itu tak lama, salah satu dari mereka dengan cepat melesat ke depan hingga kini mobil yang dikendarai Nick terapit dari depan belakang.


Namun bukan Nick namanya jika ia menyerah begitu saja. Sesaat ia melirik tuannya yang saat ini sibuk mengisi peluru.


Seakan mengerti apa yang harus dilakukan, Nick pun menambah kecepatan mobilnya hingga hampir berdampingan dengan lawan di depan.


Usai sepenuhnya bersisian, dengan sekali bantingan setir ia menghimpit mobil tersebut hingga ke pembatas jalan. Suara gesekan keras tak terelakan. Tepat ketika itu Gibran membuka lagi kaca jendela di sampingnya dan melepaskan tembakan pada mobil yang kini sudah berada di sebelah mereka.


Dor! Dor! Dor!


Tiga tembakan masih tak mampu memecah kaca mobil tersebut. Nick masih dengan fokusnya memepet satu mobil di kiri mereka.


Gibran menyeringai, tiba-tiba ia menarik sebuah alat berukuran satu genggam tangan dan melemparnya tepat mengenai jendela mobil samping kemudi.


Trak trak trak.


Retakan yang semula kecil dengan cepat menyebar. Dalam hitungan detik kaca tersebut pecah dengan kepingan kecil berupa serbuk.


Si pengemudi sempat terkejut. Terakhir Gibran tersenyum miring dan menembak tepat di kepala pria itu hingga laju mobil tak terkendali dan berguling di jalanan.


Gibran menarik dirinya dan terkekeh puas.


Sisa satu mobil yang kini diapit Nick ke pembatas jalan. Bagian kiri mobil tersebut sudah ringsek tak tertolong. Tak berapa lama ada truk kontainer besar dari arah berlawanan. Truk tersebut melaju di jalanan sebelah mereka yang berdampingan langsung dengan pembatas jalan di mana mobil lawan terjepit di sana.


Setelah mengatur perhitungan, Nick sedikit menggeser kemudinya ke kanan lalu membantingnya kembali dalam satu hentakan ke arah kiri hingga mobil musuh terguling melewati pembatas jalan dan bertabrakan dengan kontainer yang langsung menyeret dan melindasnya hingga remuk tak berbentuk.


Gibran terkekeh geli mengusap keningnya yang berkeringat. "Kemampuanmu meningkat."


"Anda yang mengajari saya, Tuan."


Di antara suara sirine yang bersahutan di belakang, Nick dan Gibran justru menyeringai tajam menyaksikan kekisruhan yang mereka buat barusan. Polisi setempat pasti sudah berdatangan.


Tepat sedetik kemudian ponsel Gibran bergetar menampilkan satu nama yang membuatnya kembali mengukir senyum sumir.


"Maaf, Jenderal. Mereka yang memulai duluan," ucapnya begitu mengangkat telpon. "Aku akan mengganti rugi, tenang saja."