His Purpose

His Purpose
58. Little Things



Maria berjalan perlahan menyusuri lorong. Tangannya mengusap leher yang ia rasa sedikit pegal. Kakinya tiba-tiba berhenti saat hendak memasuki lift, ia melihat Laura dan beberapa pelayan lain seperti tengah menggunjing sesuatu.


Sontak Maria mendekat dengan penasaran. "Ada apa?"


Rupanya kedatangan Maria berhasil menghentikan mulut mereka. Mendadak para pelayan itu pergi terbirit-birit setelah sebelumnya menunduk hormat pada Maria.


Kening Maria berkerut, ia menoleh manatap Laura menuntut. Gadis itu malah cengengesan tak jelas. Sudah gitu rautnya malu-malu penuh makna.


"Kenapa, sih?"


Laura melulum senyum sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya, matanya berkedip manja pada Maria. Terang saja Maria merasa kesal. Badannya sedang tidak enak, sekarang ditambah tingkah gadis itu yang aneh dan tak jelas.


"Ah, bodo amat. Cepat buatkan aku salad buah," perintah Maria sembari mengibas tangan, berjalan melewati Laura memasuki lift dengan wajah merengut.


Berbeda dengan Laura yang semakin menampakkan raut senang dan berbunga. Gadis itu sedikit meloncat-loncat mengikuti Maria ke dalam lift. Masih dengan senyum, mata Laura sesekali melirik Maria, yang langsung dibalas delikan oleh wanita tersebut.


Tiba-tiba tubuh Laura condong ke arahnya lalu berbisik, "Nyonya, apa Anda perlu obat pereda nyeri? Katanya, hubungan pertama itu memang menyakitkan. Saya rasa itu wajar. Nyonya saja sampai berdarah banyak begitu. Pasti sakit sekali, ya?"


Maria menoleh perlahan dengan dahi mengernyit. Tangannya setia bersidekap di depan dada. "Maksud kamu? Obat, darah, apa sih?"


Laura mendecak berusaha sabar. Terkadang sang nyonya lebih lola dari dirinya.


"Masa Nyonya tidak mengerti? Saya sedang menawarkan obat seandainya Anda merasakan sakit karena semalam."


"Dilihat dari keadaan ranjangnya tadi pagi, sudah pasti Tuan sangat ganas semalam. Makanya saya kepikiran tentang Nyonya. Tadi saya sempat mau ke kamar Nyonya, takut Nyonya kenapa-kenapa atau tidak bisa jalan. Eh, taunya Anda baik-baik saja. Hanya cara berjalan Anda yang sedikit aneh."


Maria sontak menoleh, "A-Aneh? Aneh bagaimana?" tanya ia was-was.


Laura menyentuh dagunya berpikir, "Anda berjalan seperti monyet yang belum mendapat pisang."


Maria menganga. Ia menatap Laura kesal sekaligus tak percaya. Kemudian mendengus, "Benar-benar kau ini."


"Eh, tapi semalam kan Anda sudah dapat pisang dari Tuan. Bagaimana, apa pisang Tuan besar? Pastinya lebih menggiurkan dari pisang minimarket. Iya, kan?" Laura menaik-turunkan alisnya menggoda Maria, membuat wanita itu seketika menggeram.


"Laura ..."


Tapi, sebentar. Kenapa Laura bisa bertanya hal-hal mengenai itu padanya? Apa gadis itu tahu apa yang semalam Maria dan Gibran lakukan?


Astaga. Maria mengerjap, ia menoleh kaku pada Laura. "Da-Dari mana kamu tahu?"


Detik itu juga senyum Laura semakin lebar. "Tadi pagi saya dan Bu Marta mendapat mukzizat, Nyonya!"


Maria berkerut, "Mukzizat?"


"Benar! Setelah sekian lama akhirnya kami bisa melihat langsung isi kamar Tuan!"


"Tuan tidak suka kamarnya dimasuki orang lain. Bahkan, saking terlarangnya daerah itu, Tuan tidak pernah menyuruh siapa pun untuk merawat ruang pribadinya."


Kerutan Maria semakin dalam, kini ia sudah sepenuhnya menghadap Laura karena penasaran. "Masa, sih? Terus, siapa yang membersihkan kamarnya?"


Laura menjentikkan jari, "Beliau selalu membersihkannya sendiri."


Seketika Maria berkedip, "Apa?"


"Tuan sendiri yang membersihkan kamar setiap hari."


"Tapi, Nyonya ... hari ini beda. Sudah saya bilang ini mukzizat."


Maria melipat tangan menunggu Laura melanjutkan ceritanya.


"Tadi pagi, tiba-tiba saya dan Bu Martha dipanggil oleh Beliau. Tahu apa yang terjadi selanjutnya?"


Refleks Maria menggeleng.


Maria tidak mengerti di mana letak istimewanya hal tersebut hingga Laura menganalogikannya seperti mukzizat. Gibran melarang siapa pun memasuki kamarnya? Masa iya? Tapi semalam pria itu mempersilahkan saat Maria minta ditemani minum anggur, bahkan berakhir dengan ... Ah sudahlah. Mengingatnya membuat wajah Maria diserang rasa panas.


"Rasa penasaran kami terungkap. Kamar Tuan sangat besar dan mewah, walau pencahayaan di sana sedikit lebih redup dari ruangan lain di mansion ini. Mungkin Tuan memang menyukai suasana yang gelap."


"Tapi ada sesuatu yang lebih implisit, Nyonya ..." Lagi-lagi Laura menggoyangkan tubuhnya dengan tangan saling bertaut. Gadis itu menatap Maria penuh arti.


Kemudian Laura menegapkan badan menghadap ke depan. Tangannya mengibas muka seolah kepanasan. "Oh ... Astaga. Oh ... Aku sungguh tidak bisa melupakannya."


Maria mengernyit. Mereka sudah keluar dari lift dan hendak menuju ruang makan.


"Aih ... Jinja, Nyonya, jinja!"


"Apa sih?" rengut Maria kesal. Dasar tidak jelas.


"Astaga ... Ya Tuhan ... Maaf jika aku berdosa berpikiran kotor tentang majikanku sendiri ..."


Maria menghentikan langkah, "Apa kamu bilang?"


"Tenang, Nyonya. Saya bukan sedang berfantasi mengenai Tuan. Tapi justru Nyonya yang saya bayangkan. Tidak, tidak, saya sungguh tidak bisa membayangkannya. Ranjang itu terlalu berantakan hingga saya sendiri kesulitan mengira sepanas apa hubungan kalian semalam. Oh ... Astaga, kenapa pagi ini gerah sekali?"


"Laura, apa yang kamu temukan di kamar Koko?"


Laura menoleh dan tersenyum. "Tentu saja bekas percintaan Nyonya dan Tuan," jawabnya penuh semangat. "Saya dan Bu Martha awalnya merasa malu karena menemukan darah di seprai, seketika kami mengerti mengapa Tuan memerintahkan kami secara rahasia."


"Ternyata semalam telah terjadi sesuatu paling bersejarah di sana. Astagaaa ... Nyonya, akhirnya Anda dan Tuan sudah menjadi suami istri sepenuhnyaaa ..."


Mungkin darah yang dimaksud Laura adalah anggur yang semalam tumpah. Maria tidak mungkin berdarah, percintaan itu bukan yang pertama kali untuknya.


Melihat beberapa mata menoleh ke arah mereka, cepat-cepat Maria membekap mulut Laura yang mendadak hilang saringan.


"Hentikan mulut rombengmu itu. Atau aku tidak akan memberimu pakaian baru yang kujanjikan," ancam Maria.


Mata Laura membulat dalam bekapan Maria. Gadis itu sontak mengangguk cepat, mengiyakan bahwa ia akan diam dan berhenti mengungkit hubungan panas sang nyonya.


Akan tetapi, saat Maria melepas tangannya, Laura kembali membuka mulutnya yang menyebalkan itu. "Pantas pagi buta tadi saya lihat Anda mengendap-endap keluar dari lift. Ternyata saat itu Anda habis dari kamar Tuan yang ada di lantai tiga. Penampilan Anda berantakan, rambut Anda juga kusut, sudah gitu tubuh Anda penuh ruam merah."


"Awalnya saya mengira Anda sakit, tapi setelah melihat kondisi kamar Tuan, saya jadi mengerti. Bukankah analisa saya menakjubkan, Nyonya? Itu artinya tidak sia-sia saya menonton drama ..."


"Astaga, Lauraaa ..." Maria tidak tahan lagi.


Ia menghentak kesal meninggalkan gadis itu yang seketika mengekor dengan raut heran. "E-Eh, Nyonya kenapa? Kenapa Anda terlihat kesal?"


Pertanyaan bodoh.


"Menurutmu!" sentak Maria.


Keduanya terus berkejaran hingga Maria tidak sengaja berpapasan dengan Gibran dan Nick.


Sontak kakinya berhenti di tempat. Jantungnya kembali berdentam keras. Maria diam terpaku dengan mata sedikit membulat.


"Astaga ..." lirihnya setengah menggumam.


Ia berdehem berusaha menghilangkan kecanggungan. Terlebih bayang-bayang kegiatan mereka semalam terus menghantui kepalanya.


Maria mencoba tidak menghiraukan Gibran dan berniat melewati pria itu. Tepat saat keduanya bersinggungan Gibran berkata dengan nada datar, "Makanlah yang banyak. Aku sudah menitipkan vitamin pada pelayanmu agar staminamu kembali."


Setelah mengatakan itu Gibran langsung pergi bersama Nick, menjalani hari ke kantor seperti biasa.


Sementara Maria, ia meringis dengan mata terpejam. Bisakah pria itu tidak memperparah keadaan? Perhatian Gibran semakin memperjelas segalanya.