His Purpose

His Purpose
26. Awkward



"Honjitsu wa go seichō arigatōgozaimashita. Oyasuminasai. Shiawase ga itsumo anata to tomoni arimasu yō ni ..."


"Terima kasih atas semua perhatian yang Anda berikan hari ini. Selamat malam. Semoga kebahagiaan selalu menyertai Anda." Lantaran Maria yang mengeluh tak mengerti bahasa Jepang, Son—pria yang menyertai Tuan Shimamura pun dengan senang hati menjadi translator.


Maria tidak tahu ternyata pria itu fasih bahasa Indonesia, tahu begitu kenapa tidak sedari tadi mengartikannya?


"Sama-sama. Seharusnya saya yang berterima kasih karena Anda bersedia meluangkan waktu untuk mampir di kediaman saya. Selamat malam. Semoga hari Anda juga menyenangkan." Gibran turut membalas menggunakan bahasa Jepang.


Mereka semua saling membungkuk sebagai tanda perpisahan.


Hari sudah petang ketika Tuan Shimamura dan rombongannya meninggalkan Mansion. Pria itu mengaku senang bisa berkesempatan berkunjung kemari. Maria dan Gibran mengantarnya hingga ke lobi sampai pria itu memasuki mobil dan beranjak dari pekarangan.


Perlahan mobil-mobil itu mengecil ditelan jarak. Maria bahkan belum bisa melihat pintu gerbangnya. Ia tidak tahu berapa kilometer jarak gerbang dan pekarangan rumah. Sepertinya jika ia nekat berjalan kaki akan memakan waktu setengah hari.


Astaga, lupakan luas lahan Gibran yang tanpa batas. Maria lebih memikirkan rasa malunya yang kini meluap-luap tak tertolong lagi. Apa lagi penyebabnya jika bukan ciuman tadi?


Mengingatnya saja sudah membuat wajah Maria memanas. Terutama saat berdekatan dengan Gibran seperti sekarang. Keadaan terus memaksanya untuk bertemu pria itu. Mau bagaimana lagi, mereka tinggal serumah.


Mendadak Maria menyesal. Untuk apa juga ia peduli dengan tujuan Gibran terhadap Tuan Shimamura. Kalau saja ia tidak sok bertingkah menjadi istri yang baik, mungkin tidak akan ada kecanggungan di antara mereka.


Salah. Sepertinya hanya Maria yang mengalami situasi awkward. Gibran terlihat biasa saja. Pria itu masih terlihat tenang seolah tak terjadi apa-apa.


"Ah, sial ..." keluh Maria tanpa sadar.


"Apa yang sial?"


Maria tersentak. Ia lupa Gibran masih di sampingnya. Mereka baru saja mengantar kepergian Tuan Shimamura yang hendak pulang ke penginapan. Sebetulnya Gibran sudah menawarkan agar Tuan Shimamura menginap di sini saja. Namun pria baya yang memiliki senyum serta aura ramah itu serta-merta menolak tawaran tersebut.


"A-Aaahh ... bukan apa-apa. A-Aku masuk," ucap Maria terbata. Ia lantas berbalik dan buru-buru memasuki rumah.


Seketika Laura langsung membungkuk di hadapan Gibran, "Saya permisi, Tuan. Selamat malam," katanya sebelum bergegas menyusul Maria.


Sementara Gibran, pria itu hanya berdiri menatap sulit punggung Maria. Wanita itu berjalan cepat memasuki lift. Di belakangnya, Laura mengejar berusaha menyeimbangkan langkahnya yang terburu-buru.


Nick menatap Gibran, "Tuan, saya sudah memberitahu Derick untuk menyiapkan penerbangan. Malam ini juga Anda bisa berangkat ke Bangkok."


"Hm. Beritahu Laura juga untuk menyiapkan keperluan Maria," ucap Gibran seraya berjalan masuk.


Nick mematung sesaat. Ia berkedip sebelum kemudian menyusul tuannya memasuki lift.


"Anda ingin mengajak Nyonya?" Nick memastikan.


"Hm." Dan Gibran hanya menjawab dengan gumaman.


***


Beberapa jam kemudian, Maria sudah berada di dalam jet pribadi milik Gibran. Wanita itu duduk setengah linglung. Betapa tidak, ia yang hendak tidur dan nyaris memejamkan mata tiba-tiba dipaksa bangun oleh Laura.


Gadis itu menariknya dari alam mimpi. Dengan keadaan yang belum sepenuhnya sadar Laura menyeretnya memasuki mobil yang ternyata di dalamnya sudah ada Gibran.


Saat itu juga Maria memaki Laura habis-habisan dalam hati. Tidakkah gadis itu tahu Maria sangat ingin menghindari Gibran? Dan sekarang, ia justru harus satu mobil bahkan pesawat dengan lelaki itu.


"Nyonya, Anda ingin makan sesuatu?" tanya seorang pramugari dengan sopan dan perhatian.


Maria menggeleng lemah. Jangankan makan, nyawanya saja belum terkumpul semua.


"Maaf, ini ... penerbangan ke mana, ya?" tanya Maria penasaran.


Pramugari itu tersenyum, "Kita akan melakukan penerbangan ke Bangkok, Nyonya."


"Ba-Bangkok?" Maria setengah berseru kaget.


"Benar, Nyonya."


"Bangkok? Tiba-tiba sekali?" gumamnya pelan.


Di tengah kebingungan itu Gibran muncul dari sebuah pintu bersama Nick di belakangnya. Pria itu memberi isyarat pada sang asisten juga pramugari di sana untuk meninggalkan mereka.


Menyadari kehadiran Gibran di sekitarnya membuat Maria kontan kalang kabut, menoleh ke sana kemari menghindari titik pandang pria itu. Sialnya ia tak bisa mencegah ketika tubuh jangkung Gibran melesak di sampingnya.


Astaga ... jantung tolong diamlah ...


Pria itu duduk bersilang kaki dengan tangan bersidekap. Harum maskulin seketika memasuki indera penciumannya. Begitu fresh sekaligus memabukkan. Membuat Maria mati-matian menahan dirinya untuk tidak terbuai.


Mata Maria terpejam rapat. Mulutnya komat-kamit berusaha mengingatkan bahwa Gibran adalah sosok setan penggoda berparas malaikat, tepatnya malaikat maut. Lihat saja tatapan mematikannya itu, seolah-olah dia ingin membunuh orang.


Diam-diam Maria melirik Gibran. Lelaki itu tampak serius membaca majalah bisnis di tangannya. Rasanya Maria ingin menangis menyadari bahwa Gibran terlihat keren dari sisi mana pun.


Jangankan Maria, wanita bersuami saja akan berpikir hal yang sama. Entah Maria harus menyesal atau tidak karena memutuskan menikahi pria itu.


"Ada apa?" tanya Gibran tiba-tiba. Matanya masih fokus pada majalah.


Maria tergagap, "Ti-Tidak. Tidak ada," ringisnya sembari memalingkan muka.


Salah satu hal yang menyeramkan adalah tingkat kepekaan lelaki itu.


"Pergilah ke kamar dan lanjutkan tidurmu." Gibran masih berbicara tanpa menoleh.


Tanpa sadar Maria merengut. Alih-alih menuruti Gibran, ia justru mengedarkan pandangan mengamati setiap interior dalam pesawat.


Sebagai informasi saat ini ia tengah duduk di sebuah sofa lengkap dengan meja di depannya. Sofanya cukup panjang, namun mendadak terasa sempit ketika Gibran mendudukinya.


Gibran bersuara memanggil pramugari, ia meminta dibuatkan kopi serta susu hangat dan juga cemilan. Maria tak begitu memperhatikan karena ia enggan menatap Gibran. Tahu-tahu pria itu menyodorkan segelas susu hangat yang tadi dipesannya pada Maria.


Maria berkedip, menatap bergantian wajah Gibran dan gelas berisi susu. "I-Ini ..."


"Minum." Dingin dan tanpa ekspresi. Mau tak mau Maria menerima gelas itu dari tangan Gibran.


Ia tak langsung meminumnya. Tangannya saling meremas badan gelas. Situasi tersebut betul-betul membuatnya bingung hendak berbuat apa.


Gibran menyeruput kopinya perlahan. Pria itu kembali membuka majalahnya dan larut dalam bacaan. Entah disadari atau tidak, Maria menatapnya lama sebelum kemudian berpaling meneguk habis susu hangatnya.


Tidak tahu berapa lama ia bergeming, Maria merasa matanya semakin berat dengan kantuk menyerang. Perlahan tubuhnya bersandar hingga lambat-laun miring ke samping dan mendarat di pundak Gibran.


Gibran terdiam sejenak. Matanya bergeser melirik Maria yang tertidur di bahunya. Ia pun segera menutup majalah dan menyimpan gelasnya di meja kecil tepat di samping sofa.


Dengan pelan dan hati-hati pria itu menggeser kepala Maria. Wanita itu melenguh merasa terganggu. Sesaat mata Gibran terpaku menatap wajah Maria. Meneliti konturnya yang nyaris terpahat sempurna.


Dari mulai mata dan hidungnya yang kecil namun simetris, hingga bibir yang siang tadi sempat ia nikmati.


Gibran menghela nafas, ia mulai mengangkat tubuh Maria dari sofa untuk dipindahkan ke kamar. Mungkin karena gerakannya terkesan tiba-tiba, tangan Maria refleks melingkari lehernya.


"Wangi ..." bisik Maria sembari menyuruk, menyusupkan wajahnya di dada Gibran. Bibirnya melengkung membentuk senyum.


Gibran membiarkan saja seraya berjalan keluar. Nick yang memang sejak tadi berdiri di depan pintu seketika menunduk melihat kemunculannya bersama Maria.


"Tuan."


"Dosisnya pas, 'kan?"


"Aman, Tuan. Nyonya akan bangun sesuai jam yang diinginkan."


Gibran mengangguk, lantas ia melanjutkan langkah ke arah sebuah pintu yang didalamnya terdapat ranjang. Nick dengan gesit membuka pintu tersebut, kemudian menutupnya lagi ketika Gibran masuk dan mulai membaringkan Maria di sana.


Tanpa Maria ketahui, Gibran sempat memberi pesan pada Nick lewat pramugari untuk memberinya obat tidur.