
Entah berapa lama Maria menahan dongkol di kursinya. Morena seakan minta diberi pelajaran. Wanita itu terus melirik Gibran dalam beberapa kesempatan.
Tak jarang Maria meremas sendok atau serbet di meja guna melampiaskan rasa kesalnya. Sementara Gibran, lelaki itu nampak santai-santai saja menyantap makanannya.
Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepala Maria. Ia melirik penuh arti pada Morena yang masih betah mencuri pandang. Minta dicolok memang.
Maria menyeringai kecil. Matanya mengamati Gibran yang tengah lahap mengisi perut. Maria tahu ini resiko memiliki suami tampan dan berduit, di mana pun ia berada, pasti ada saja lalat yang berusaha hinggap dan menggoda.
Karena Maria tak ingin menjadi korban seperti wanita di luar sana, tak ada salahnya jika ia bersikap preventif, bukan?
"Koko~"
Gibran yang tengah mengunyah, seketika berhenti saat mendengar panggilan manja sekaligus mendayu milik Maria. Matanya kontan melirik ke atas dengan kedua alis terangkat.
Sementara yang ditatap justru melempar kerlingan menggoda, ditambah mulutnya mengemut sendok dengan cara sensual.
Sesaat Gibran terdiam, namun ia segera sadar dan menelan makanan yang sebelumnya sempat tertahan untuk kemudian bertanya. "Ada apa?"
Maria menurunkan pandangan pada piring Gibran yang berisi hidangan kepiting. "Suapin, dong ..."
Gibran ikut melihat piringnya sendiri, lalu kembali pada Maria yang entah kenapa mendadak bersikap aneh.
Meski merasa heran, Gibran tetap mengupaskan cangkang kepiting, mencuil dagingnya lalu mengulurkannya pada Maria.
Maria menerima suapan itu sambil menahan senyum. Matanya tak lepas mengunci Gibran dalam pandangan. Maria juga menghisap jemari Gibran yang berada di mulutnya, sontak hal tersebut membuat raut Gibran sedikit menegang.
"Enak," ucap Maria disertai decapan.
Pria itu berdehem pelan menjauhkan tangan. Ia nampak sedikit salah tingkah saat melanjutkan makan. Terlebih jemarinya baru saja dihisap Maria.
Sementara Maria, wanita itu menatap Morena penuh kemenangan. Mereka sempat beradu pandang sebentar sebelum Morena memalingkan muka dengan gugup. Kentara sekali dia memperhatikan. Dan itu memang tujuan Maria, membuat Morena panas dan sadar diri akan tempatnya.
"Koko, makanlah dengan pelan. Kenapa harus terburu-buru begitu?" kekeh Maria sambil menjulurkan tangan mengusap saus di tepi mulut Gibran.
Perlakuan Maria yang terbilang berani hampir membuat Gibran tersedak. Apalagi setelah itu Maria mencecap saus tersebut dari jemarinya.
Apa-apaan wanita itu?
Lagi-lagi Maria melirik Morena. Ada sedikit percikan yang coba wanita itu sembunyikan dalam sorotnya. Iri, cemburu, mungkin?
Wah, sepertinya lalat itu memang benar-benar mengincar Gibran. Ini tak bisa dibiarkan. Maria harus membuat siaran live yang lebih menantang.
Perlahan Maria melepas sandalnya di bawah meja, ia melihat kanan kiri dulu guna memastikan keadaan.
Aman. Maria pun segera melancarakan aksi keduanya terhadap Gibran.
Pelan-pelan Maria menjulurkan kakinya ke depan, tepat mengenai tungkai Gibran yang polos karena lelaki itu mengenakan celana pendek.
Dengan sengaja Maria mengusapkan telapak kakinya di sana, menarikan jarinya di antara helaian bulu betis pria itu yang menggelitik.
"Uhuk!"
Kali ini Maria berhasil membuat Gibran tersedak hebat. Melihat sang suami yang kewalahan mengatasi batuknya, ia pun ikut panik.
Astaga, kenapa jadi begini, sih?
Buru-buru Maria mengambil gelas air putih dan menyodorkannya pada Gibran. Ia juga beranjak ke samping pria itu untuk menepuk-nepuk punggung serta lehernya dengan pelan.
"Kan? Aku bilang hati-hati! Pelan-pelan kalau makan!"
Sesaat Gibran mendelik, nampak tak terima dengan penuturan Maria. Jelas-jelas wanita itu yang mengganggu konsentrasinya.
"Jangan memancing," desis Gibran pelan.
Maria mengernyit, "Apanya?"
Merasa Gibran sudah membaik, Maria pun kembali ke tempat dan lanjut makan dengan tenang.
Diam-diam Gibran mendengus melihat wajah Maria yang seakan tanpa dosa. Ia jadi memikirkan apa yang harus dilakukan untuk menghukum wanita itu.
***
"Aah ..." Maria mendesah disertai desisan saat mulut Gibran menyerang dadanya dengan ganas.
Selepas makan malam pria itu menyeretnya ke basemen dan mendorongnya masuk ke mobil.
Alhasil sekarang Maria duduk di pangkuan Gibran dengan tubuh setengah polos karena pria itu melepas kaos juga celana yang Maria kenakan setelah puas mencumbu bibirnya dengan brutal.
Maria tidak tahu kenapa Gibran memilih basemen alih-alih kamar. Tapi, hal ini membuat Maria tertantang untuk mencoba tempat baru.
"Emh ..."
Dengan sengaja Maria sedikit menggeliat menggoda tubuh Gibran yang kian menegang. Pria itu menggeram merespon gerakannya.
Kedua tangan Gibran meraih pangkal paha Maria dan menariknya semakin rapat. Maria bisa merasakan sesuatu yang menonjol di bawahnya. Gibran sedang bergairah.
Astaga. Entah Maria harus menyesal atau justru menikmatinya. Pasalnya, Gibran kalau bercinta selalu membutuhkan waktu yang lama.
Baru juga mengisi tenaga sudah harus dikuras lagi.
"Koko, sebentar."
"Apa tidak masalah kita melakukannya di sini? Kalau ketahuan orang bagaimana?"
Gibran tak menghiraukan pertanyaan Maria, ia justru semakin memakan habis dada sang istri dengan membuka mulutnya lebar-lebar, lalu menghisapnya kuat, menimbulkan rintihan serta erangan tak terelakkan dari wanita tersebut.
Maria mendongak dengan nafas terengah. "Oh ... astaga. Aku salah karena sempat percaya kau adalah gay."
Gibran menjauhkan wajah guna menatap Maria. "Apa?" ucapnya dengan suara parau. Pun matanya menggelap penuh hasrat.
Maria mengerjap, ia tergagap membalas tatapan Gibran. "Itu ... pelayanmu yang bilang seperti itu."
Gibran menciumi jejak basahnya di dada Maria, "Sekarang kamu membuktikannya sendiri," ucapnya di sela cumbuan.
"Emh ..." Maria mengangguk.
Tiba-tiba saja matanya menangkap keberadaan seseorang yang baru memasuki basemen. Dia adalah Morena. Sepertinya wanita itu hendak pulang ke penginapan.
Mendadak Maria memikirkan sebuah ide yang bisa dibilang gila. Maria bisa mendengar mobil di sampingnya berbunyi ketika Morena menekan remot di tangan.
Ia juga bisa melihat wanita itu mulai mendekat. Kebetulan yang sempurna. Maria menarik kepala Gibran, memeluknya sambil memberi sedikit remasan pada rambut kelam pria itu yang berantakan.
Maria menyeringai samar ketika tangannya dengan sengaja membuka jendela. Tepat saat ia mendesah, Morena lewat di sampingnya dan terpaku dengan tubuh menegang.
"Emh ... Koko ... pelan-pelan ..."
"Oh ... astaga ... awhh ..."
Maria pura-pura tak sadar dengan keberadaan Morena. Ia justru semakin menggila dengan menggerakkan tubuh di atas Gibran, memberi gesekkan yang seketika membuat pria itu mengerang karena inti mereka bersinggungan.
Bolehkah Maria membanggakan tubuh indahnya sekarang? Ukuran dadanya juga tak mengecewakan. Gibran selalu betah berlama-lama main di sana.
Pria itu melepaskan cumbuannya di dada Maria, lalu dengan cepat beralih menarik tengkuk wanita itu untuk kemudian menciumnya keras.
Keduanya larut dalam gairah tanpa peduli sepasang mata menatap mereka dengan syok.
Benar. Morena sampai lupa bagaimana caranya bernafas.