
"Kita mau ke Jakarta?" tanya Maria antusias.
Gibran hanya mengangguk sembari fokus pada buku di tangannya. Pria itu tengah membaca di perpustakaan bersama Maria. Lebih tepatnya hanya ia yang membaca karena sejak tadi yang Maria lakukan hanya berkeliaran di sekitarnya.
Gibran sudah menyuruhnya diam atau setidaknya duduk. Tapi Maria seolah tidak khawatir dengan perutnya sendiri.
"Kapan? Koko serius, kan?"
"Hmm. Mungkin 5 hari lagi," sahut Gibran tak acuh.
Maria merengut. "Itu lama."
"Atau tidak sama sekali?"
"Ish! Ya sudah iya." Mau tak mau Maria setuju.
"Kamu harus lebih bersabar untuk mendapatkan sesuatu."
Siapa pun tahu Maria orang yang tidak sabaran.
"Apa hubungannya?" dumel Maria pelan. Memang apa salahnya ia ingin cepat pulang?
Gibran menghela nafas. Ia mendongak seraya melepas kacamata guna melihat Maria di hadapannya. Mulutnya berdecak heran. "Kamu tidak lelah terus berdiri seperti itu? Tidak pegal?"
Maria menjawab tak kalah heran. "Tidak. Memangnya kenapa?"
Ingin rasanya Gibran memijat kening. "Rata-rata orang hamil cenderung lebih suka duduk daripada berjalan ke sana kemari. Kupikir hanya kamu yang kuat lama-lama berdiri?"
"Apa? Iyakah? Tapi badanku pegal kalau dibawa duduk terus."
Gibran mengerjap mengetahui fakta itu. Sejenak ia berpikir sambil mengetukkan jarinya di lengan sofa. Tak lama Gibran pun mengusulkan. "Sepertinya kamu sudah harus memulai yoga. Aku akan cari instruktur profesional untuk menemanimu."
Maria tampak menimang-nimang. "Terserah, deh."
"Koko panggil petugas salon, gih. Ini sudah waktunya aku perawatan."
Biasanya Maria melakukannya seminggu sekali. Tapi semenjak hamil Gibran menyarankan agar ia melakukannya sebulan sekali. Karena malas berdebat Maria manggut-manggut saja. Lagipula yang bayar Gibran, Maria rasa pria itu memiliki hak penuh atas uangnya.
"Oke." Gibran segera mengambil ponselnya dan menghubungi tim kecantikan langganan Maria yang rutin melayani wanita itu.
Lebih baik begini, pikir Gibran. Ketimbang melihat Maria yang seakan tak mau diam di tempat, Gibran tak akan fokus dan terus dilanda khawatir.
Setidaknya dengan perawatan tubuh sang istri akan jauh lebih rileks.
***
"Tuan, Anda yakin membawa Nyonya ke Jakarta?" Nick bertanya saat mereka tengah meninjau lapang golf baru.
Arsiteknya bilang sudah bisa digunakan. Keduanya beralih melihat fasilitas lain yang secara kebetulan dibangun bersamaan. Mereka sempat berpapasan dengan Martha yang juga tengah mengawasi para pekerja. Di rumah sebesar ini, tak heran Gibran memiliki lebih dari 50 orang tukang kebun.
"Usia kehamilan Nyonya baru akan menginjak trimester dua, kan? Apa ini tidak terlalu beresiko? Kalau mau mempertemukan Beliau dengan ayahnya, kenapa tidak minta Tuan Rayan saja yang datang kemari?"
Gibran tak menjawab pertanyaan Nick. Dibanding itu, wajah datarnya justru tampak berpikir keras seperti cemas akan sesuatu.
"Ada yang perlu kupastikan." Gibran berbalik menatap Nick.
"Apa ini berhubungan dengan trauma Anda?" tebak Nick yang sepertinya tepat sasaran.
Gibran menghela nafas sebelum kembali mengalihkan atensi ke depan. "Salah satunya itu. Lagipula aku tidak mungkin terus memisahkan anak dan ayah itu lebih lama."
Entah kenapa kalimat Gibran barusan terdengar senewen di telinga Nick. "Jangan-jangan Anda mendadak baik seperti ini karena Anda juga seorang calon ayah? Pikiran Anda sudah terbuka hingga memahami perasaan Nyonya yang berlama-lama jauh dari ayahnya. Saya benar, kan?"
Nick merasa bangga dengan analisanya sendiri. Sementara itu Gibran mendesis melirik asistennya dengan raut gatal ingin menebas. Nick dan sifat sok tahunya memang menyebalkan.
Hingga sore menjelang Maria muncul mengetuk ruang kerja Gibran. Wanita itu menyembulkan kepalanya di antara celah pintu. Namun yang membuat Gibran hampir serangan jantung adalah gaya rambut Maria yang terlihat asing di matanya.
"Koko!" serunya seperti anak kecil. "Boleh aku masuk?"
"Ma-masuk saja." Gibran masih menelusuri penampilan Maria.
Kini wanita itu menghadap penuh ke arahnya hingga Gibran bisa leluasa memindai dari atas ke bawah. Tak ada yang aneh kecuali bagian kepala.
"Kamu potong rambut?"
"Huum ..." Maria mengangguk. "Bagus, kan? Apa aku sudah mirip aktris Korea?"
Gibran mengangguk kaku. "Bagus. Kamu cantik dengan model apa pun."
Namun wanita itu justru merengut. "Kok jawabnya begitu?"
"Begitu!"
"Aku bilang kamu cantik?" heran Gibran.
"Koko mengatakannya bukan dari hati. Aku pasti jelek di mata Koko."
Gibran membuang nafas berusaha sabar. Jika keras kepala Maria sudah kumat ia kerap kali dituntut harus mengalah.
"Kamu cantik. Lebih cantik dari bintang Korea. Aku tidak bohong." Apa yang dikatakannya memang jujur.
"Tapi ... aku memang lebih suka rambut panjangmu yang lurus."
Gibran segera menyela ketika Maria membuka mulutnya hendak bicara. "Poni itu sangat cantik, manis dan lucu. Kamu terlihat lebih fresh."
"Serius?" tanya Maria meyakinkan.
"Hm," angguk Gibran.
"Kemarilah." Gibran mengulurkan tangannya ke depan, meminta Maria menghampirinya.
Wanita itu menurut mendekati Gibran dan menjatuhkan bokongnya di pangkuan. Gibran memeluk pinggang Maria dengan posesif. Bibirnya menyungging senyum ketika melabuhkan kecupan di antara helaian rambut yang menguarkan harum familiar.
Jari-jari panjang Gibran menyibak lapisan poni tipis di kening Maria. Mata mereka bertemu dan saling terpaku satu sama lain. Untuk yang kesekian kalinya Maria juga mengakui ketampanan sang suami yang alami dan eksotis.
Maria mengusapkan tangannya di rahang Gibran dan merasakan tekstur kasar di sana. "Koko belum cukuran, ya?"
Gibran tersenyum mengambil tangan Maria lalu mengecupi jemari lentiknya hingga wanita itu terpekik kegelian.
"Belum."
"Mau membantuku?"
"Memangnya boleh?" tanya Maria balik.
"Tentu. Ayo." Gibran beranjak menggendong Maria ke kamarnya.
Ia mendudukkan Maria di atas wastafel, sementara dirinya berdiri di antara kaki wanita itu.
Gibran menunjuk peralatan di sampingnya yang langsung dimengerti oleh Maria. Tanpa buang waktu Maria mengolesi rahang Gibran dengan busa cukur. Warna putih yang hampir menutupi mulut Gibran itu membuat Maria tak kuasa menahan tawa. Gibran tampak seperti Santa berjenggot putih berperut buncit.
"Berhenti tertawa atau kita akan berakhir tanpa pakaian."
Kontan Maria membekap mulut memelototi Gibran. "Mesum!"
Gibran mengangkat bahunya malas. "Kurasa semua pria memiliki pikiran yang sama."
Maria mencibir. Akhirnya ia pun mulai mengangkat pisau cukur di tangannya.
"Sebentar. Koko yakin memintaku melakukannya? Bagaimana kalau rahang Koko tergores? Aku bahkan tidak ahli memegang gunting." Tiba-tiba Maria merasa cemas.
"Tanganku juga sering tremor tanpa alasan. Bukankah ini berbahaya? Koko bisa saja terluka."
Gibran berdecak sambil menghela nafas panjang. "Jadi kamu bisa atau tidak?" tanyanya sabar.
"Ti-tidak. Tapi aku ingin mencoba."
"Ya sudah ayo coba."
"Takut ..." rengek Maria.
Gibran benar-benar memutar matanya. Dengan malas ia mengambil tangan Maria yang memegang pisau cukur untuk kemudian diarahkan ke rahangnya sendiri.
Maria jelas melotot menyaksikan itu. "Koko mau apa?"
"Cukur. Apa lagi?"
Tanpa melepaskan tangan Maria, Gibran mulai menggerakkan pisau cukur itu di rahangnya. Sebelumnya Maria sudah menepi memberi ruang untuk Gibran berkaca.
Wanita itu diam memperhatikan sang suami dengan seksama. Tangan Gibran begitu lembut menggenggam Maria. Maria tahu secara tidak langsung Gibran sedang mengajarinya cara menggunakan pisau cukur. Arah gerakannya yang teratur memangkas habis bakal janggut lelaki itu tanpa meninggalkan luka.
Ternyata cukup mudah. Maria saja yang terlalu takut.
Maria tersenyum saat mata Gibran sesekali meliriknya. Ia menikmati aktivitas ini, hatinya juga meletup-letup.
***