His Purpose

His Purpose
65. Maria's Concerns



"Koko, tadi aku beli banyak barang untuk pelayan. Apa Koko keberatan?"


"Terserah," jawab Gibran setengah menggumam. Matanya terpejam dengan nafas yang mulai teratur.


Maria mengulum senyum, telunjuknya menari membentuk gerakan abstrak di dada Gibran.


Usai percintaan mereka di kamar mandi, Gibran menggendongnya untuk berpindah ke ranjang, melanjutkan sesi panasnya di tempat yang lebih nyaman.


"Koko," panggil Maria lagi.


Ia tahu Gibran pasti lelah sepulang kerja, tapi Maria tak ingin melewatkan pillow talk yang sangat jarang mereka temui ini.


"Waktu itu Koko menjual mobil yang kubeli. Tapi beberapa hari berikutnya Koko membelinya lagi. Kenapa?"


Pertanyaan yang sempat berputar di otak Maria sejak lama.


Gibran menghela nafas, matanya berkedip sayu pertanda ia sudah mengantuk. "Aku hanya ingin kamu membelinya dengan uangku."


Setelah itu Gibran kembali memejamkan mata. "Tidur," titahnya pada Maria.


Maria semakin tak bisa menahan senyum. Ia merapat menyembunyikan wajahnya di dada Gibran, tanpa menyadari hal tersebut memancing gejolak yang sebelumnya sempat mereda.


"Tapi untuk apa juga mobil itu? Koko tak mengizinkanku keluar."


Gibran tak menyahut. Apa dia sudah tidur?


Maria tak ingin menyerah, ia masih ingin bicara dengan Gibran dan mendengar suara serak pria itu.


"Tentang Jesi ... Apa Koko benar berhubungan dengannya?" Raut Maria tampak merengut saat menanyakan itu. Pun suaranya terdengar kesal.


Gibran menggeram. Ia menarik kepala Maria untuk mendongak lantas menciumnya ganas. Maria menyambut itu dengan senang hati. Sebenarnya ia juga lelah, tapi entah kenapa feromon Gibran seolah membuatnya candu.


Gibran menjauhkan wajah, matanya kembali berkabut dengan tubuh menegang sempurna. Maria bisa merasakan itu di bawahnya.


"Berhentilah merasa cemburu. Aku tidak pernah mencium wanita manapun seperti aku menciummu."


Gibran tak memberi kesempatan bagi Maria untuk menjawab. Pria itu menyerang dan membuat Maria tak henti meneriakkan namanya. Pada akhirnya, dua sejoli tersebut kembali memulai sesi percintaan mereka.


***


Pagi harinya, Maria dibuat terkejut oleh berita mengenai Jordian. Kabarnya pembalap nasional tersebut mengalami insiden penyerangan di unit hotelnya. Saat ini Jordian tengah mendapat perawatan intensif di rumah sakit.


Tak diketahui motif dari penyerangan yang diduga terjadi pada malam hari itu. Polisi masih menyelidiki kasus dan mencari pelaku kekerasan tersebut.


Maria menelan ludah. Terakhir mereka bertemu adalah siang kemarin. Astaga, apa ia akan dimintai keterangan oleh polisi? Tak pelak pemikiran itu membuat Maria gugup.


Suara deheman di depannya berhasil menarik atensi Maria. Gibran menatapnya sambil mengunyah makanan. Saat ini mereka tengah berada di resto hotel untuk sarapan.


Satu alisnya terangkat bertanya, membuat Maria seketika tergagap dan cepat-cepat menyimpan ponselnya di atas meja.


"Ada apa? Kenapa kau terlihat khawatir?" tanya Gibran seraya memotong omelet di piring, lalu menyuapnya dengan garpu.


"I-Itu ... tidak ada."


Maria bukan khawatir pada Jordian, ia lebih khawatir pada dirinya sendiri bilamana polisi mencium jejak pertemuan mereka. Astaga, bagaimana ini ...


"Ko-Koko." Maria menyimpan pisau dan garpunya sebelum kembali menatap Gibran.


Pria itu mendongak, menghentikan sejenak aktivitas makannya. "Apa?"


"Berapa lama kita di sini?"


Gibran terdiam, "Seminggu. Ada apa?"


Maria tahu, ia pun pada mulanya senang berlama-lama di tempat ini. Tapi, sekarang rasanya Maria ingin cepat-cepat pulang.


Maria meringis menggelengkan kepala, "Tidak apa-apa. Hehe," ucapnya garing sembari lanjut makan.


Tanpa Maria sadari Gibran menatapnya dengan raut yang sulit diartikan. Sudut bibirnya berkedut kecil sebelum kemudian melanjutkan sarapan.


***


"Koko mau lihat proyek?"


Penampilan Gibran sedikit casual dari biasanya. Pria itu memakai celana jeans dan kemeja putih yang membuatnya terlihat keren. Maria merengut, pasti banyak wanita yang meliriknya nanti. Apalagi sosok Gibran nampak mencolok dan bersinar di daerah ini.


"Boleh aku ikut?"


Gibran yang tengah menunduk merapikan celananya seketika mendongak. Entah pria itu bertanya-tanya atau sedang berpikir hal lain.


"Aku ikut, ya. Di sini bosan," lanjutnya mencari alasan. Padahal ia tidak mau sendiri karena takut ada polisi. Maria berniat menempeli Gibran seharian ini.


"Ada Laura. Kau bisa jalan-jalan seperti kemarin," ucap Gibran seraya memeriksa ponsel di atas meja, lalu kembali merapikan penampilan dan lekas memakai sepatu.


Maria semakin merengut, kakinya sedikit menghentak melihat ketidakacuhan Gibran. Tidak biasanya Gibran memberi izin semudah itu untuk Maria jalan-jalan.


"Tapi aku mau bareng Koko, bukan Laura. Tidak bisakah kita jalan-jalan romantis seperti pasangan lain?"


Yang satu ini Maria tidak mengada-ada. Ia memang mengharapkan quality time berdua dengan Gibran, bukan hanya di atas ranjang.


Gibran terdiam sesaat. Kemudian ia menyahut, "Ya sudah, ganti bajumu."


Mata Maria membola senang, "Serius?"


"Hem."


"Yes!"


Tanpa buang waktu Maria membuka lemari dan mencari pakaian yang cocok. Tiba-tiba Gibran bersuara, "Usahakan pakai celana."


Maria menoleh, "Kenapa?"


"Lebih sopan saja," ucap Gibran sambil lalu.


Maria berdecih, "Jadi selama ini menurut Koko aku tidak sopan? Hey ... hampir semua dress-ku memiliki panjang di bawah lutut!" serunya tak terima.


Gibran tak menghiraukan. "Celana atau kutinggal?"


"Ish!"


Maria menyerah dan beralih mencari celana yang beruntung sempat ia bawa. Kebetulan jeans-nya serupa dengan Gibran. Karena ingin serasi dengan sang suami, Maria memilih blouse putih kedodoran untuk melengkapi penampilannya.


Selesai berganti pakaian di kamar mandi, Maria keluar dan berniat mengambil heels untuk alas kaki. Akan tetapi, Gibran tiba-tiba menyodorkan sepasang ankle boots pada Maria.


"Pakai ini."


Maria berkedip, perasaan ia tak membawa sepatu lain selain hak tinggi dan sandal teplek yang kerap dipakainya ke resto hotel. Kenapa bisa ada ankle boots di sini?


"Ini baru, ya?" Maria menerima sepatu tersebut dari tangan Gibran.


"Wah ... beli di mana? Couple ya kita." Maria melirik sepatu hitam milik Gibran. Serupa, bedanya punya Maria memiliki hak yang membuatnya masih terkesan feminin. Tapi setidaknya tumitnya tidak menyeramkan seperti heels Maria yang lain.


"Entah. Nick yang mendapatkannya."


"Oohh ... Aku pikir Koko yang beli."


"Yuk!" Maria berdiri mengambil tas dan ponsel, lalu mengajak Gibran keluar.


Keduanya berjalan beriringan menuju lobi. Nick dan pengawal lain sudah menunggu di bawah, termasuk Jill dan Dean, serta Laura yang langsung melambai saat melihat Maria keluar dari lift bersama Gibran.


Gadis itu berseru tanpa tahu malu, namun kemudian ia bungkam saat mendapat delikan dari Nick. Laura meringis menggaruk rambutnya, ia menunduk menyapa Gibran dan Maria yang nampak seperti pasangan selebriti pagi ini. Setidaknya itu menurut Laura.


"Selamat pagi, Tuan. Selamat pagi, Nyonya ..."


"Pagi," balas Maria mengulas senyum. Kacamata hitam bertengger di matanya.


"Nyonya, kalian serasi sekali," puji Laura.


"Iya, dong ..."


"Tapi, Nyonya. Mas pembalap yang kemarin itu kabarnya masuk rumah sakit. Nyonya tidak ingin menengoknya?"


Pertanyaan polos Laura seketika memicu ketegangan. Seluruh mata mengarah padanya. Sementara Maria melempar tatapan tajam dengan raut geregetan. Mendadak Maria merasa ia perlu menenggelamkan Laura di selat Augusta, selat yang memisahkan kepala burung Papua dan kepulauan Raja Ampat.