
"Koko, takut ..."
"Aku pegang, tenanglah. Coba gerakan kakinya."
Maria menurut. Ia mengangkat kakinya dari permukaan kolam dan menggerakkannya perlahan. Maria terhenyak saat pertama kali merasakan tubuhnya melayang. Ia takut karena tak bisa berenang. Sudah lama sekali sejak terakhir Maria bermain-main di kolam, itu pun ia lakukan di tepian dengan tangan tak lepas dari pegangan.
Kini bukan lagi pegangan besi yang ia andalkan, melainkan Gibran yang dengan senang hati menjadi tiang sekaligus pelampung untuk Maria. Pria itu dengan setia merangkul pinggangnya di dalam air. Kendati Maria masih kaku dan ragu-ragu, Gibran tak lepas menemani Maria dengan sabar.
"Rileks, Plum. Kamu tidak akan tenggelam. Ayo, ringankan kakimu."
"Capek ..." rengek Maria.
Decakan pelan keluar dari mulut Gibran. "Kamu berjalan mengelilingi mansion tidak ada capeknya. Sekarang baru sebentar di kolam kamu sudah mengeluh seperti ini?"
"Kan beda ..."
"Terserah. Gerakan lagi," titah Gibran.
"Koko jangan galak-galak ..."
Gibran mengambil nafas dalam-dalam dan menghembusnya perlahan. "Siapa yang galak?"
"Koko."
"Aku coba mengajarimu," elak Gibran.
"Tapi Koko bicaranya ketus."
Ingin sekali Gibran memutar mata, tapi ia harus sabar karena perasaan Maria lebih sensitif sejak hamil.
"Oke, ayo gerakan lagi. Lama-lama badanmu akan terasa ringan," ucap Gibran sedikit lebih lembut.
Maria mengikuti setiap instruksi dari Gibran. Mungkin ada sekitar satu jam Gibran mengajak Maria bermain air (begitu Maria menganggapnya) hingga kemudian lelaki itu membawanya menepi.
Gibran mengangkat tubuh Maria dan mendudukannya di tepi kolam. Sementara ia sendiri berdiri di antara kaki Maria yang terbuka. Gibran tersenyum sebentar lalu melabuhkan kecupan di perut telanjang Maria, mengusapkan tangannya di sana sambil sesekali mendongak melempar tatapan hangat.
"Capek?"
Maria menggeleng balas tersenyum.
"Seru, kan?"
"Huum," kali ini ia mengangguk.
Gibran terkekeh, ia mengecup gemas paha Maria hingga membuatnya terkikik kegelian. Gibran melarang Maria mengenakan baju renang yang ketat, ia lebih mengizinkan wanita itu memakai bikini yang tidak menyesaki perut. Lagi pula letak kolamnya indoor, ia tak perlu khawatir dengan mata-mata nakal yang akan mengincar istrinya.
"Koko belum cukur jambang, ya?"
"Kok tahu?"
"Geli, tahu. Sakit gores-gores. Kalau lecet gimana?"
"Maaf." Gibran mengusap-usap paha Maria yang mulus. Ia juga tidak rela kalau tubuh indah itu harus terluka. "Kamu yang cukur, ya."
"Lagi?"
"Kenapa? Tidak mau?"
"Mau, kok. Tapi ..."
"Apa?" Gibran mengangkat alis menunggu. Apalagi saat mendapati raut Maria yang berubah, ia yang mengerti pun segera berdecak, mengalihkan pandangan sembari terkekeh tak menyangka.
"Aku kedinginan, lho."
"Ya makanya, ayo pakai handuk."
"Sebentar saja ..." rengek Maria.
Gibran menghela nafas. Ia bisa melihat keinginan Maria yang begitu dalam. Puncak dada wanita itu menegang di balik bra yang basah. Ia pun mendesah pasrah, "Oke."
Maria tersenyum merasa menang, terlebih saat Gibran mulai membuka kakinya lebih lebar. Pria itu menyingkap tepian kain segi tiga yang menutupi pusat tubuhnya. Maria menggigit bibir, tak sabar menantikan permainan Gibran yang selalu membuatnya mengejang.
Rasa dingin menjalar ketika Gibran menyibak celah intimnya sedikit lama. Pria itu nampak bergeming sebentar, mengusapkan ibu jarinya di sana sambil menatap lekat pada Maria.
Oh, ini sungguh menggairahkan. Maria yakin, celana slim pria itu sudah mengetat di pangkal paha.
"Kamu senang sekali memancingku, Plum," serak Gibran dengan suaranya yang parau.
Maria tersenyum nakal, ia menggigit jari dengan cara yang paling sensual hingga membuat Gibran tak tahan untuk tidak mengerang.
"Karena kamu terlalu panas untuk dilewatkan."
"You're always so amazing."
***
Maria menggeser pintu wardrobe sambil bersenandung kecil. Ia baru saja selesai mandi dan hendak memilih pakaian di lemari. Hari ini ia berencana cek kandungan bersama Gibran.
Tapi, ada sedikit masalah. Sebagian baju di lemarinya mulai mengetat dan tak nyaman. Maria merengut mencari-cari dress yang lebih longgar untuk ia pakai.
Bibirnya mengerucut karena yang ia temukan justru pakaian model lama. Tidak terlalu lama juga, sih. Tapi itu sudah ia pakai tahun lalu.
Maria memang tak membawa banyak baju dari mansion Gibran. Ia pikir karena baju-bajunya di sini juga banyak dan masih bisa dipakai. Tapi ternyata ia salah, perkembangan perutnya lebih cepat dari yang ia duga.
Maria membuka semua pintu lemari berharap menemukan sesuatu yang tidak terlalu norak untuk dikenakan. Hingga tanpa sengaja tangannya malah menggeser pintu lemari yang menyimpan semua koleksi tasnya.
"Haih, astaga ..." Maria menggantung ucapannya ketika matanya menangkap satu benda yang familiar.
Maria mematung. Tubuhnya terpaku manatap sebuah tas dengan ukuran kecil menyempil di sudut bawah lemari.
Tanpa disadari jantungnya berdetak kencang. Apa ini? Maria merasa pernah melihat tas itu, tapi di mana? Kenapa pula ia baru sadar memiliki tas yang diproduksi terbatas bertahun-tahun silam? Kapan ia membelinya?
Maria mengambil tas tersebut dan mengamatinya dalam-dalam. Sebentar, tas ini ...
"Ini ... tas ini ... bukankah aku melihatnya dalam mimpi beberapa minggu lalu?" gumam Maria setengah tak percaya.
Kebingungan lantas menyelimuti wajahnya. Terlalu larut dalam berpikir Maria merasa kepalanya mulai berdenyut. Ia memijat keningnya yang mengerut sambil terus mengingat-ingat kapan dan di mana ia pernah membeli barang tersebut.
Gibran muncul dengan jubah mandinya dan tersenyum menghampiri Maria. "Plum? Kamu belum pakai baju? Ada apa? Kamu pasti kebingungan, ya?"
Melihat Maria yang diam saja Gibran pun kontan mengernyit. Ia meraih bahu wanita itu dari belakang. "Sayang?"
Maria terhenyak. Ia lekas menoleh dan mendapati Gibran tengah menatapnya penasaran. "Kamu kenapa?"
"Hah?"
"Kenapa diam saja?"
"A— ini ..." Maria menunduk melihat tas di tangannya. Gibran pun turut mengikuti arah pandang Maria dan seketika terpaku.
Tiba-tiba saja secara spontan ia merenggut tas kecil itu dari tangan Maria. Rautnya terlihat tegang ketika menelan ludah. "D-Dari mana kamu mendapat tas ini?"
Maria mengerjap bingung. "Itu yang membuatku bertanya-tanya," ucapnya setengah ragu. "Koko kenapa? Kok, kaget begitu?"
Sekarang Gibran yang tampak mengerjap. "Aku? Ah, itu ... itu ..."
"Aku baru tahu kamu memiliki tas se-limited ini."
Maria merengut. "Koko pikir aku tidak mampu membelinya?" sewot Maria merasa tersinggung.
Dulu kamu yang menyuruhku membelinya.
Gibran berkedip membuang nafasnya ke lain arah. "Bukan begitu," gumamnya pelan. "Kenapa belum pakai baju? Kita jadi ke dokter, kan?" lanjutnya berusaha mengalihkan pembicaraan.
Berhasil. Kini bibir Maria mengerucut mengingat kembali masalah yang dialaminya. "Aku bingung harus pakai apa. Bajuku sebagian besar sudah menyempit. Ada yang muat itu pun terlalu ngepas badan. Bagaimana ini ..." keluhnya pada Gibran.
"Kita bawa baju dari mansion, kan?"
"Memang, tapi tadi pagi tidak sengaja kejatuhan lotion."
"Apa?"
"Padahal ini baru 4 bulan, kan? Kenapa badanku cepat sekali membesar, ya?" Maria memutar tubuhnya di cermin. "Oh, tidak. Ini sudah terlalu gendut. Apa Koko pikir aku harus diet."
"Jangan coba-coba," tegas Gibran tak setuju.
"Tapi jelek ..."
"Cantik."
"Yakin?"
"Kamu cantik dalam kondisi apa pun."
Maria masih saja mengeluh dan merengek.
Di tengah pembicaraan mereka, diam-diam Gibran merasa resah dengan tas yang kini ada di tangannya.
Kira-kira, harus ia apakan benda ini?