
Apa benar hanya mimpi? Kenapa datang berulang-ulang? Ini sangat janggal, Maria memimpikan orang yang sama berkali-kali. Dan lagi, masih dengan subjek yang sama, yaitu mereka yang merupakan sepasang kekasih.
Senior. Siapa Senior yang dimaksud? Dari sekian banyak kakak tingkatnya di kampus dulu, tak ada satu pun dari fisik mereka yang menyerupai pria dalam mimpinya. Malah ... ia menemukan ciri-ciri tersebut pada Gibran.
Rahangnya yang tegas, bibirnya yang selalu melurus tipis, juga hidungnya. Entahlah, setiap kali ia datang dalam mimpi, Maria merasa ia tengah melihat Gibran.
Postur tubuh mereka sama. Cara berjalannya, kadang Maria mengamati Gibran dan membandingkan keduanya dalam hati.
Setelah semua itu, bagaimana Maria tidak merasa aneh?
"Papa," panggil Maria pelan.
Ia berdiri di ambang pintu ruang kerja Rayan. Rayan sendiri tengah berdiri di samping jendela menatap ke luar, membelakangi Maria.
Pria itu menoleh dan lantas berbalik. "Maria? Ada apa, Nak?"
Rayan memberi isyarat agar Maria masuk dan menduduki sofa bersamanya. "Kemarilah."
Maria berjalan mendekat dan melesakkan diri di samping sang ayah. Ia diam seakan tengah berpikir sesuatu. Rayan menyadari itu dan bertanya. "Ada apa? Kamu ada masalah?"
Maria masih bungkam.
"Bertengkar dengan suami?"
Maria menggeleng. Ia menghela nafas lalu menunduk mengamati jarinya di pangkuan.
"Aku bermimpi," bisik Maria. "Mimpi yang sangat aneh."
Rayan mengernyit. "Mimpi aneh bagaimana?" Ia menatap sang putri penasaran.
Maria mendongak, wajahnya sendiri terihat ragu dan bingung. "Aku tidak tahu, tapi ... sudah beberapa kali aku bermimpi tentang orang yang sama, namun beda cerita."
"Tapi subjeknya masih sama, kami adalah pasangan dalam mimpi itu. Dia ... dia kekasihku, setidaknya begitu yang aku ingat."
Rayan mendengarkan dengan serius.
"Kami adalah mahasiswa di satu kampus yang sama. Entahlah, aku tidak ingat pastinya di mana."
"Kamu ingat siapa pria itu?" tanya Rayan hati-hati.
Namun ia lega saat Maria menggeleng.
"Dari semua mimpiku, aku tidak pernah sekalipun melihat wajahnya secara utuh, pasti hanya setengah hidung."
"Tapi ... entah kenapa aku merasa orang itu mirip Koko."
Deg.
Tubuh Rayan menegang sesaat. Ia menelan ludah mendengar penjelasan terakhir Maria. Rayan meluruskan tubuhnya menatap meja. Perasaannya waswas dipenuhi kebingungan. Ia baru tahu Maria sering bermimpi. Rupanya, meski tak ada pemicu sekalipun ingatan Maria tetap kembali melalui bunga tidur.
Bukan hal mustahil jika suatu saat ingatan itu benar-benar kembali sepenuhnya. Perlahan dan satu persatu kenangan tersebut menghujani Maria di alam bawah sadarnya. Jika sudah begini, apa yang harus ia lakukan?
"Menurut Papa, apa itu masih bisa disebut mimpi? Apa mungkin kita memimpikan orang yang sama selama lebih dari 3 kali?" Maria menatap sang ayah meminta pendapat.
Maria sudah tidak tahan dengan ini. Mungkin di awal Maria hanya menganggap angin lewat, tapi lama kelamaan Maria merasa semakin janggal.
Perlahan Rayan menoleh. "Papa ... tidak tahu harus bilang apa."
"Dalam Sains, jika seseorang mendapat mimpi yang sama berulang-ulang, itu menandakan dia sedang stress atau memiliki trauma masa lalu yang belum terselesaikan. Mimpi berulang juga menandakan adanya kecemasan di dalam diri kita." Suara Rayan tampak mengecil di akhir kalimat.
Maria tercenung. "Apa aku punya trauma masa lalu?" gumamnya.
Rayan segera menggenggam tangan putrinya. "Jangan terlalu dipikirkan, mungkin kamu hanya stress karena sedang mengalami luka berat."
Maria mengernyit lalu berbisik. "Begitu, ya?" Rautnya terlihat tak yakin.
Namun Rayan mengangguk tegas. Kemudian lelaki itu menghela nafas dan bangkit dari duduknya. "Sudah makan siang?"
Rayan tersenyum. "Kalau begitu ... bagaimana kalau minum teh?"
Maria mengangguk dan turut tersenyum. "Boleh."
***
"Maria bilang dia sering memimpikanmu."
"Aku tahu."
Rayan menoleh. "Kau tahu?"
"Hm."
Gibran menatap lurus hamparan kolam di depan. Kedua tangannya terselip di saku. Mereka baru saja usai makan siang bersama. Dan seperti kebanyakan wanita hamil lainnya Maria jadi lebih sering mengantuk hingga tanpa bisa dicegah jatuh tertidur. Seperti sekarang.
"Jika dia tahu pria dalam mimpinya itu adalah kau, mungkin hubungan kalian tidak akan sama lagi."
Gibran tak menanggapi. Rautnya tetap datar hingga sulit bagi Rayan untuk menebak isi hatinya.
Keduanya dilingkupi keheningan. Gibran menatap beberapa pohon palm yang tersebar di setiap sudut kolam. Kediaman ini didesain seperti hotel mewah dengan berbagai interior cukup fantastis.
"Saat kecil Maria sangat suka bermain air, tapi anehnya sampai sekarang dia tidak bisa berenang." Rayan terkekeh kecil. "Setelah punya banyak uang aku membuatkan kolam besar ini untuknya, namun ternyata air bukan lagi hal menyenangkan setelah ia dewasa."
Gibran menoleh penasaran. "Kenapa?"
Rayan menoleh dengan sudut bibir terangkat, sangat tipis. "Dia pernah tenggelam saat pelajaran renang di sekolahnya."
Gibran bungkam. Ternyata ini alasan Maria begitu takut saat ia mengajaknya peregangan di dalam air.
"Dia tidak trauma, hanya jadi sering berhati-hati jika menemukan kolam."
"Tuan." Tiba-tiba Jill datang menginterupsi.
Gibran maupun Rayan menoleh hampir bersamaan. Wanita itu mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Gibran.
Entah apa yang dikatakannya hingga kening Gibran berkerut samar. Rayan sendiri tak ingin tahu atau pun ikut campur dengan permasalahan yang bukan ranahnya.
Tak lama Gibran mengangguk, "Oke, kamu tetap di sini." Kemudian ia berbalik pada Rayan. "Aku harus pergi," ucapnya pendek.
Rayan mengangkat alis sambil mengangguk. Ia mengamati kepergian Gibran dan pengawalnya hingga menghilang di balik pintu rumah.
Nafasnya terbuang panjang. Ia membenci lelaki itu karena tragedi yang menimpa Maria di masa lalu, tapi setelah melihat sebesar apa kepedulian Gibran terhadap putrinya, Rayan berada di pembatas dilema yang menyebabkannya tak tahu harus berbuat apa.
Rayan hanya berpikir jika Maria terluka lagi karena Gibran, maka ia akan langsung memisahkan mereka tanpa peduli apa pun.
Untuk saat ini, ia akan bersikap netral karena tampaknya Maria sangat mencintai lelaki itu. Bagaimana pun yang Rayan harapkan hanyalah kebahagiaan Maria, tidak ada hal lain yang ingin ia lakukan semenjak kepergian istrinya. Tujuannya hanya membahagiakan Maria, setelah itu mati pun tak menjadi masalah bagi Rayan.
Gibran berjalan tergesa memasuki mobil, ia melarang Nick yang hendak ikut dan menyetir. "Kamu di sini. Jika ada apa-apa dengan istriku, segera hubungi."
"Tapi, Tuan—" Kalimat Nick menggantung di udara karena Gibran memacu mobilnya dengan cepat.
Nick penasaran, sebenarnya ada masalah apa hingga tuannya pergi terburu-buru seperti itu. Nick menangkap keberadaan Jill dan langsung bertanya. "Ada apa? Kenapa Tuan buru-buru seperti itu?"
"Ada kecelakaan kerja di salah satu proyek pengembang," jawab Jill singkat.
Nick berkedip. "Itu ... kenapa bukan aku yang dihubungi? Kenapa malah kau yang tahu lebih dulu?" Ia sedikit tersinggung dan iri.
Wajar, biasanya Nick yang selalu mengetahui lebih dulu segala hal yang menyangkut pekerjaan Gibran.
Jill mengangkat bahu. "Telponmu tidak aktif, salah satu kontraktor menghubungi perusahaan pusat lalu menghubungiku."
"Astaga ..." Nick bergumam bingung. "Sepertinya aku harus segera ganti ponsel yang dayanya bisa bertahan 24 jam."