His Purpose

His Purpose
50. Complementary



"Hal ... baik?"


"Hm. Tadi kamu bilang tidak pernah mendapat satu pun hal baik dariku. Sekarang katakan, hal baik apa yang kamu maksud. Apa yang harus kulakukan?"


Maria mengerjap dengan mulut bergerak kebingungan. Ia menjerit dalam hati menyesali ucapannya yang tak terkontrol saat di ruang kerja Gibran. Tapi dibanding itu, Maria lebih penasaran kenapa Gibran menanyakan hal tersebut.


"Kenapa Koko bertanya?"


Ada jeda sesaat sebelum Gibran menjawab. "Karena aku suamimu."


Hening. Gemerisik angin menyertai keduanya dalam diam. Sepasang mata Gibran tak lepas menatap lekat pada Maria, pun Maria yang seolah merasa terkunci dalam gelapnya pandangan Gibran.


Ia terpaku. Netra hitam lelaki itu tak pelak selalu menariknya untuk tenggelam dalam pusaran asing yang menjeratnya. Maria baru mengerjap saat rasa pedih menghampiri matanya yang terlalu lama menatap Gibran.


Ia menunduk, merasa gugup dengan situasi yang ia hadapi. Kendati ia sering memaki dan mengatai Gibran secara diam-diam, namun aslinya Maria ciut jika berhadapan langsung dengan pria itu. Apalagi dengan jarak sedekat ini. Astaga, jantung Maria rasanya hampir tak tertolong.


"Itu ..."


"A ... Aaa ... Hacihh!" Maria menggosok hidungnya yang terasa gatal. "Hacih!"


"Itu ... Aku ... Hacih!"


Maria tak bisa menghentikan bersin yang secata tiba-tiba menginterupsi mereka. Tangannya tak henti menggosok hidung yang kini sudah berubah merah. Bersin itu terus berkelanjutan hingga hidung Maria mulai berair.


Tanpa diminta Gibran melepas mantel yang ia kenakan lalu membentangkannya guna melingkupi tubuh Maria. "Kita kembali ke Mansion."


Gibran sudah hendak berdiri saat Maria menahan tangannya dan menggeleng. "Aku masih mau di sini. Hacih!"


Mata Gibran menghunus tajam, "Jangan membantah. Kamu akan sakit jika terus di sini. Merepotkan."


Maria merengut, ia melepas pegangannya dari tangan Gibran dan beralih menatap danau.


"Tadi Koko bertanya hal baik, kan?"


"Sifat Koko yang seperti ini adalah hal buruk bagiku."


"Kenapa Koko selalu mengumpatiku?" seru Maria kesal. Keningnya berkerut disertai rengutan tajam.


"Kapan aku mengumpat?"


"Itu! Koko bilang aku merepotkan. Ya sudah sana kalau mau pulang, pulang saja duluan! Aku masih mau di sini." Maria memeluk dirinya sendiri seraya merapatkan mantel Gibran yang sangat kebesaran hingga menenggelamkan tubuhnya.


Lama tak ada tanggapan dari Gibran. Maria tidak tahu lelaki itu tengah menghela nafas panjang berusaha menebalkan kesabaran. Matanya terpejam sebentar dengan mulut mengatup rapat.


Tak lama kemudian tangan Gibran terulur di hadapannya. Maria mendongak bingung.


"Ikut aku."


Maria mengerjap menatap bergantian antara tangan dan wajah Gibran yang tanpa ekspresi.


"Ke mana?"


"Ikut saja."


Ragu-ragu Maria meraih telapak tangan Gibran. Rasa hangat seketika melingkupi jemari Maria yang dingin.


Maria berdiri dan mulai berjalan mengikuti Gibran. Rupanya lelaki itu mengajak Maria ke sebuah gazebo yang jaraknya setengah putaran dari tempat Maria duduk tadi.


Cukup jauh bagi Maria yang malas berjalan. Tapi, hal itu terbayar dengan pemandangan yang lebih menjanjikan. Dari sana Maria bisa melihat bentang danau dengan lebih jelas dan menyeluruh.


Maria kembali bersin. Gibran menuntunnya duduk di sebuah bangku yang menghadap langsung pada panorama tersebut. Maria terpukau, ia terpana di tengah kondisi tubuhnya yang merepotkan.


"Hacih!"


"Kenapa di sini dingin sekali?" gumam Maria seraya merapatkan kakinya yang terbalut high heels bermodel terbuka. Jari jemarinya menekuk menahan dingin.


Hal itu tak luput dari perhatian Gibran yang seketika berdecak. Tanpa bicara ia berpindah duduk di bawah, bersila, kemudian meraih kaki Maria ke pangkuan.


Tangannya melepas satu persatu high heels Maria lalu mulai menggosok telapak serta punggung kaki Maria secara bergantian.


Maria memperhatikan itu dalam diam. Ia terlalu terkejut dengan tindakan Gibran yang terkesan tiba-tiba. Matanya mengerjap gugup. Lagi-lagi jantungnya berdetak tak karuan merespon sentuhan Gibran.


Lelaki itu nampak serius menghangatkan kakinya. Sementara Maria, tangannya mengepal, meremas erat mantel Gibran yang tebal dan wangi.


Darahnya berdesir hangat. Senyumnya serta-merta terbit saat rasa geli itu menggelitik perutnya. Astaga, apa yang terjadi pada tubuhnya? Kenapa ia sesenang ini menanggapi perhatian Gibran?


Maria menyentuhkan tangannya di pipi Gibran, membuat lelaki itu terperanjat menatapnya. Maria pun terkejut karena tak menduga gerakan refleksnya tersebut.


Astaga, kenapa hati Maria selalu lebih mendominasi dari akal sehatnya.


Maria tergagap, "A-Anu ... itu, sepertinya Koko juga kedinginan."


Meski Gibran mengenakan sweater turtle neck, tetap saja wajah pria itu terasa dingin saat Maria sentuh.


Gibran kembali mengalihkan atensinya pada kaki Maria. "Aku baik-baik saja," ucapnya tak acuh.


Maria mencibir. Tiba-tiba saja ia menarik kakinya dari pangkuan Gibran, membuat Gibran serta-merta mengernyit menatap Maria.


Maria tak bicara apa pun. Ia meminta Gibran memutar tubuhnya ke depan. Meski sedikit sulit pada akhirnya lelaki itu menurut dan memutar duduknya membelakangi Maria.


Maria sendiri mengubah posisi kakinya hingga mengapit Gibran. Lagi-lagi lelaki itu menoleh heran, terlebih saat Maria menyusupkan kedua tungkainya di antara lengan Gibran dan berakhir melingkari perut lelaki itu dari belakang.


"Apa?" tanya Gibran tak mengerti.


Maria melempar cengiran lebar. "Kalau begini kita saling melengkapi."


Tak cukup sampai di sana. Maria juga sedikit mencondongkan tubuhnya memeluk leher Gibran, hingga mantel Gibran yang melingkupi tubuhnya ikut menyelimuti lelaki itu dengan sempurna.


Maria menumpukan dagunya di atas kepala Gibran yang tengah mematung. Matanya terpejam menikmati kenyamanan yang ia rasakan. Mendapati Gibran yang terdiam, Maria menggoyangkan kakinya berusaha menyadarkan pria itu.


"Usap lagi ..."


Gibran menelan ludah. Tangannya mulai mengusap betis hingga telapak kaki Maria yang halus tanpa bulu. Meski awalnya terasa canggung dan kaku, tapi lambat laun tubuh Gibran melemas bahkan tanpa sadar punggungnya ikut bersandar ke belakang.


Keduanya menatap lurus ke depan, pada danau kebiruan yang menjadi saksi kedekatan mereka kali ini.


"Kenapa kau masih saja mengenakan dress di tengah cuaca seperti ini?" tanya Gibran dengan tangan tak henti mengusap kaki Maria.


"Hanya ingin," jawab Maria seadanya.


Gibran mendengus.


"Aku suka rok. Karena rok membuat wanita terlihat lebih cantik."


Gibran tak bertanya lagi. Ia tahu Maria wanita yang sangat feminim.


"Lagi pula dress ini panjangnya hampir setengah betis, jadi tidak terlalu dingin, apalagi bahannya tebal."


Beberapa saat kesunyian menyertai mereka. Hingga Maria kembali membuka suara.


"Koko," panggilnya.


"Hem." Gibran menyahut santai.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kenapa tangan Koko terasa tidak asing bagiku?"


Gibran terdiam, tangannya pun berhenti mengusap kaki Maria. Beberapa detik berlalu sebelum Gibran kembali melanjutkan gerakannya.


"Mungkin hanya perasaanmu saja."


Maria berkedip seperti tengah berpikir. "Begitukah?" gumamnya setengah tak yakin. "Ya ... mungkin aku saja yang terlalu berpikir aneh. Lagi pula, kita pertama kali bertemu di pelaminan, haha ..." Ia tertawa hambar, sama sekali tak menyadari tatapan Gibran yang menerawang.