His Purpose

His Purpose
146. Meet the Ex



"Tidak berguna," desis Sandra melempar remot televisi.


Ia bangkit dari sofa dan berjalan ke arah jendela. Di belakangnya, Harley diam mematung tak berani melakukan apa pun.


"Cabut semua dana sponsor kita. Dia tak lebih dari sampah sekarang," ucapnya penuh rasa kesal.


Harley mengangguk patuh, "Baik, Nyonya."


Ia langsung menelpon seseorang yang bertanggung jawab mengenai dana sokongan tersebut.


Ginanjar Adiwiguna, mereka banyak menggelontorkan uang untuk kemajuan pria itu. Tanpa Willis, Ginanjar hanya politikus biasa yang namanya luput dari perhatian orang. Tapi sekarang dia sudah merosot dan mungkin saja akan terkubur oleh lubang yang diciptakannya sendiri.


Dia jatuh karena kebodohannya, dan Willis tidak butuh manusia bodoh seperti Ginanjar.


***


Rayan menatap lama televisi di depannya yang menyiarkan berita terkini. Nama Ginanjar Adiwiguna sedang santer-santernya terdengar di seluruh Nusantara, bahkan tadi ia sempat melihat media luar negeri membahas hal yang sama.


Pengaruh Gibran Wiranata begitu luar biasa. Dalam semalam dia bisa mengguncang dunia dengan kemampuannya.


Inikah alasan Gibran meminta Rayan mengakuisisi perusahaan Adiwiguna? Karena bagaimana pun Rayan memiliki cukup saham di sana. Hanya perlu sedikit sentilan dari Gibran mungkin ia bisa menjadi pemegang saham tertinggi, dan bukan hal yang mustahil berikutnya Rayan menjadi pemilik resmi.


Ini kesempatan bagus jika ia orang yang serakah. Tapi, mengetahui Adiwiguna ada campur tangan dengan Willis, emosi Rayan seketika bangkit. Hasratnya untuk turut menghancurkan pria itu bangkit tanpa bisa dicegah.


Maka dari itu, Rayan merogoh ponselnya dari saku lalu menghubungi Gibran yang entah saat ini sedang berada di mana.


Panggilan diangkat dalam dering ketiga.


"Halo, Papa Mertua," sapa Gibran dengan nada berseloroh.


"Aku terima syaratmu. Kamu hanya perlu menjadikanku pemegang saham tertinggi di sana."


Tanpa Rayan tahu Gibran menyeringai. "Of course. Dengan senang hati kulakukan."


Tak ada lagi percakapan. Rayan segera menurunkan ponselnya dari telinga dan kembali memasukkannya ke dalam saku.


"Papa tadi telpon Koko, ya?" Tiba-tiba suara Maria menyeruak. Rayan langsung menoleh mendapati putrinya yang baru turun dari tangga.


Sontak Rayan mendekat. "Kenapa tidak pakai lift saja? Kalau jatuh bagaimana?"


Maria memutar mata. Semakin hari perlakuan Rayan semakin mirip dengan Gibran. Over posesif.


Maria mengibas. "Jangan bicarakan itu. Tadi Papa telpon Koko?"


Ragu-ragu Rayan mengangguk. "Iya. Kenapa?"


"Dia sedang di mana?"


Rayan mengendik. "Papa tidak tahu."


"Yah ..." Maria mendesah sambil merengut.


"Ada apa?"


"Nanti malam kita mau dinner berdua. Kasihan, sepertinya sejak kemarin Koko merajuk karena aku menolak ajakannya."


Rayan mengangkat alis. "Kenapa tidak kamu telpon?"


Sekarang Maria berdecak. "Tidak ada satu pun yang diangkat. Sepertinya dia memang benar-benar marah."


"Semalam kalian berciuman." Rayan mengatakan itu dengan nada tak acuh dan sambil lalu, seolah menegaskan bahwa ia juga menyaksikan adegan mesra itu.


Rayan duduk di sofa yang turut diikuti Maria. Wajah Maria merah menyadari ciuman semalam menjadi tontonan beberapa pasang mata.


Pertama Nick, lalu sekarang Rayan. Maria malu, padahal ia pikir karena berada di pojok kolam dan terhalang pohon palm semuanya akan aman.


Aih, ini semua gara-gara Gibran. Kalau tidak mengingat kondisi tangan Maria, mungkin pria itu akan kebablasan mencumbunya.


"Hehe." Maria menggaruk tengkuk tak tahu harus bilang apa. Klarifikasi pun percuma, semuanya sudah jelas. "Tapi sampai sekarang Koko masih enggan bicara padaku."


Rayan mendengus. "Childish. Aku baru tahu si Brengsek itu bisa kekanakan."


Tak lama ponsel Maria bergetar. Nama Nick muncul di sana. Cepat-cepat Maria menggeser tombol hijau.


Nick berdehem sejenak. "Halo, selamat sore, Nyonya. Tuan meminta Anda segera bersiap. Pukul 6 nanti jemputan akan datang."


Maria mengernyit. "Bukan Koko yang jemput?"


Kelihatan sekali Maria sedikit tak senang.


"Tuan bilang akan menunggu di restoran. Untuk masalah pakaian, seseorang akan mengantarnya ke rumah."


Kalau Gibran sudah menyiapkan pakaian, berarti itu sepasang. Baguslah, setidaknya dia masih memikirkan keserasian.


"Ya sudah. Katakan padanya, kalau restorannya tidak enak dia tidak boleh tidur denganku selama seminggu," tekan Maria mengancam.


Enak saja, Gibran yang merajuk Maria yang pusing.


Bisa Maria dengar suara bisik-bisik di seberang sana. Pasti Nick sedang mengadu pada Gibran. Oh, jadi ternyata Gibran mendengarkan? Dan dia tidak mau bicara langsung dengannya?


Awas saja.


Maria bersiap-siap dibantu Laura. Ia memakai gaun yang dikirim Gibran sore tadi. Gaun hitam panjang yang elegan membentuk siluet tubuh Maria dengan sempurna. Meski begitu ukurannya pas dan tak terlalu mengetat di perut.


Tak lupa Maria memakai perhiasan yang juga dipesan Gibran. Semuanya sudah satu paket, Maria tinggal sumbang sepatu untuk penampilannya.


Karena kondisi tangannya tidak memungkinkan untuk bersolek, Maria pakai jasa salah satu MUA untuk membantunya. Alhasil penampilan Maria sempurna, meski dalam keadaan tangan yang dipigs.


Sesuai janji, jemputan datang pukul 6 sore, meski Maria telat setengah jam dari waktu yang ditentukan. Tak apa, sekali-kali Gibran harus dibuat menunggu.


"Sudah siap, Nyonya?" tanya sopir.


Maria mengangguk. "Siap. Tolong jangan ngebut, ya. Saya sedang hamil."


"Baik, Nyonya."


Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan kediaman Tjandra, jalanan masih cukup macet karena mungkin masih banyak orang-orang yang baru pulang kerja.


Sekitar 30 menit lehih mobil jenis Alphard tersebut tiba di sebuah basement restoran. Maria dibantu turun oleh driver, dan tepat ketika itu Nick muncul dari sebuah lift menghampirinya.


"Selamat malam, Nyonya," sapa Nick sembari membungkuk sekilas.


"Malam. Koko sudah sampai?"


"Sudah dari 40 menit yang lalu, Nyonya."


"Ow ..." lirih Maria.


"Mari, Nyonya. Saya akan mengantar Anda ke atas."


Maria mengangguk dan mengikuti langkah Nick yang menuntunnya memasuki lift.


"Lantai berapa?" tanya Maria basa-basi.


"Tiga puluh, Nyonya."


"Oh ..." Maria tak bersuara lagi hingga pintu lift bergeser di lantai tersebut.


Nick setia mengarahkan Maria sampai pintu masuk restoran. Tempatnya sangat eksklusif dan berada di lantai teratas hotel.


Maria bergumam terima kasih saat Nick pamit undur diri. Ia mulai masuk dan mencari keberadaan Gibran yang ternyata berada lumayan jauh dari pintu.


Setiap meja di sana diatur dengan jarak yang cukup renggang, hingga tak sulit bagi Maria untuk menemukan Gibran lebih cepat.


Maria mendekat dengan senyum merekah. Ia tak sabar melihat penampilan Gibran yang pasti sangat wangi dan tampan. Ah, suaminya itu memang selalu sempurna.


Akan tetapi, senyum Maria luruh saat mendapati Gibran tak sendiri di sana. Maria baru menyadari karena saat masuk penghlihatannya terhalang pilar di tengah ruangan.


"Kubilang kita bisa bicarakan ini nanti. Sekarang kau pergi sebelum Maria melihatmu!" Gibran berdesis tajam pada seseorang di depannya.


Trang!


Maria menjatuhkan dompet koin di tangannya. Jantungnya seolah merosot dari tempat. "El?" bisiknya yang seketika menarik perhatian dua pria yang tengah berdebat tersebut.