His Purpose

His Purpose
151. Decide on Engagement



Maria terdiam menatap makanan di depannya, pagi ini ia sarapan hanya berdua dengan Rayan. Diam-diam matanya melirik kesana kemari seolah mencari sesuatu.


Ia tak ingin bertanya, tapi penasaran.


"Kenapa tidak dimakan, Nak? Mual?"


Terperanjat, Maria segera menggeleng. "Bu-Bukan. Aku ... hanya belum mau makan."


Maria menunduk menatap piringnya lagi. Nafsu makannya mendadak surut karena suatu hal.


Tiba-tiba Nick muncul. "Selamat pagi, Tuan, Nyonya."


Rayan mendongak. "Ah, kamu sudah datang. Duduklah," ucapnya seraya menggerakkan tangan mempersilakan.


Maria menatap ayahnya bertanya-tanya. Rayan mengundang Nick makan bersama?


Nick mengangguk segan. Ia duduk di salah satu kursi, tepat berseberangan dengan Maria.


"Karena menantuku sedang tidak ada, jadi aku akan membicarakan hal ini padamu. Nanti tolong kamu sampaikan pada Gibran, ya."


"Baik, Tuan."


Maria semakin mengernyit tak mengerti. Maksudnya apa? Gibran tak ada di rumah? Kenapa tidak ada satupun yang memberitahunya?


"Seperti itu. Nanti kamu beri tahu dia, hubungi aku untuk lebih lanjutnya."


"Baik, Tuan."


Entah mereka membicarakan pekerjaan apa. Sejak tadi Maria tak berhenti melamun. Statusnya adalah istri Gibran, tapi kenapa Gibran pergi saja ia tidak tahu?


Ke mana? Kapan pria itu pergi?


Selalu saja begini. Setiap ada masalah pasti pergi. Pikir Maria.


Mereka selesai sarapan. Mau tidak mau Maria makan meski tidak selera. Nick berangsur pergi entah ke mana. Sementara ayahnya tengah bertelepon dengan salah satu pegawainya.


Hanya Maria yang terlihat menganggur. Ia memang pengangguran. Tapi meski begitu ia termasuk perempuan kaya. Jangan tanya isi rekeningnya berapa, ditambah aset pemberian Gibran yang entah harus ia apakan.


Sejauh ini aset-aset itu masih dikelola suaminya karena Gibran sendiri tahu Maria buta soal ekonomi. Prinsipnya tinggal terima jadi. Tipe-tipe wanita yang enggan bekerja keras. Jangan ditiru, ya.


Rayan menurunkan ponselnya dari telinga, ia lalu menatap putrinya yang masih termenung sedari tadi. Mereka masih di ruang makan.


"Apa yang kamu pikirkan hingga melamun terus seperti itu?"


Lagi, Maria menggeleng. Ia enggan mengutarakan isi hatinya.


"Kamu mau bertanya soal suamimu?" Tampaknya Rayan mengerti apa yang dipikirkan putrinya. Pria itu menghela nafas. "Kalian aneh, ya. Selama ini Papa amati hubunganmu dan Gibran tampak harmonis. Kalian mesra."


"Tapi setiap ada masalah kenapa selalu saling bungkam? Dia mau pergi tidak bilang apa-apa. Lalu kamu juga tidak mau bertanya karena gengsi. Sebenarnya ego siapa yang terlalu tinggi di sini?"


Hening. Maria menunduk memilin jarinya di atas meja. Di bawah tatapan sang papa ia tak mampu berkata. Maria sendiri tidak tahu apa yang ia rasakan. Di satu sisi ia kecewa pada Gibran, di sisi lain alam bawah sadarnya selalu mencari pria itu.


"Kemarin kamu bertemu Gabriel?"


Maria menegang.


"Apa yang kamu rasakan saat bertemu kembali dengannya?"


Maria diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Perasaannya campur aduk.


"Aku tidak tahu. Aku ... biasa saja," lirihnya pelan.


Rayan mengangguk. "Berarti kamu memang sudah tidak mencintainya. Papa benar, kan?"


Kini Maria yang mengangguk. "Tapi aku kecewa. Ternyata selama ini mereka bekerja sama tanpa sepengetahuanku."


"Mereka ... mereka ..." Maria mengambil nafas dalam-dalam. "Pernikahan itu adalah skenario Koko dan El."


Maria menoleh menatap Rayan. "Aku hanya penasaran, apa dulu ... El pernah mencintaiku?"


Hening. Rayan menatap putrinya prihatin. Betapa anak perempuannya tidak mengetahui apa pun. Rayan juga enggan mengungkapkan kebenarannya karena bisa memperparah kondisi Maria.


Papa benar. Maria hanya harus fokus pada pernikahannya. Toh, Gabriel bukan lagi siapa-siapa kecuali adik ipar.


Maria tersenyum lalu mengangguk. Tiba-tiba Rayan berkata. "Gibran sedang ke New York bersama Gabriel. Semalam dia sempat pamit dan titip kamu."


Maria menoleh cepat. "New York? Mau apa?"


Namun Rayan hanya mengendik pertanda tidak tahu. Lebih tepatnya ia pura-pura tak tahu. "Mungkin mereka ada urusan. Sudah, jangan ikut campur. Yang penting suamimu setia dan tidak bermain wanita."


***


Di tempat lain, tepatnya belahan Amerika sana, Gibran tampak tenang duduk di sofa dengan kaki menyilang. Tak lama seorang pria datang menyambutnya penuh senyum.


"Tuan Muda Willis ..." Pria itu tertawa. Entah senang atau tak menyangka. "Apa kabar?"


Gibran bangkit menerima pelukan singkat lelaki baya itu. "Baik," jawabnya singkat.


"Kau selalu menghindar setiap ada pertemuan."


Pernyataan itu berupa sindirian. Gibran mendengus samar, tak menghiraukan selorohan tersebut.


"Saya ingin memutuskan pertunangan," ucapnya tanpa peringatan.


Elias, pria itu terdiam gamam.


"Tuan White sendiri pasti tahu, saya adalah pria beristri sekarang."


Gibran tak ingin basa-basi lagi. Ia tahu selama ini bukan hanya Willis yang mengamatinya, melainkan White juga turut serta mengawasi.


"Tidak mungkin Anda memberikan Valencia pada lelaki yang sudah menikah, bukan?"


Suasana berubah canggung. Hening menyertai setiap sisi. Elias seolah tergemap di tempatnya. Ia lalu terkekeh canggung dan mulai berusaha bersikap santai.


"Kami bersedia menunggumu kalau begitu."


Gibran mengernyit. "Anda mengharapkan saya bercerai?"


Elias terkekeh. "Kita sendiri tahu bagaimana sifat keluargamu. Willis tak senang dengan keberadaan istrimu." Ia mengendik. "Ya ... siapa yang tahu apa yang selanjutnya terjadi?"


Rahang Gibran mengetat. "Tidak ada yang akan terjadi. Aku pastikan istriku baik-baik saja dan jauh dari orang-orang seperti kalian."


"Alih-alih menunggu status pernikahanku, lebih baik kau segera nikahkan putrimu. Dia memiliki pria pilihannya sendiri." Gibran sudah kehilangan respek hingga keluar dari batas formal.


Ia mendengus sinis. "Itu jika kau memikirkan kehidupannya."


"Maksudmu aku harus menikahkan putriku dengan adikmu yang berandal itu?"


"Tujuanku adalah Willis, dia hanya putra yang tak diakui."


Gibran menyeringai tajam. "Kamu berpikir berkerjasama dengan Willis bisa menuai keuntungan? Asal kau tahu, mereka adalah predator yang tidak memandang siapa kawan siapa lawan. Jika menurutnya kau sudah tidak berguna, mereka juga akan menebasmu tanpa ampun. Pikirkan itu baik-baik."


Elias hanya tersenyum. "Kau sendiri, seberapa yakin bisa menghindar dari cengkeramannya?"


Gibran terdiam.


"Yang kutahu kamu adalah pria muda berkuasa. Tapi, apa pun yang menyangkut wanita itu selalu membuatmu lemah."


"Dengan naluri seperti itu, bagaimana kamu bisa yakin pertahananmu tidak goyah?"


"Papa!" Terdengar seruan dari lantai atas.


Valencia berdiri geram di sana. "Cukup! Tidakkah Papa sadar apa yang Papa lakukan? Sudah kubilang berhenti berhubungan dengan keluarga Willis. Mereka kejam! Apa Papa tidak tahu apa yang mereka lakukan pada Maria sebelumnya? Tidak menutup kemungkinan mereka juga akan melakukan hal yang sama padaku."


"Valencia! Masuk ke kamar!"


"Aku mau bertemu Gabriel! Kenapa dia tidak ikut denganmu?"


Gibran yang ditanya enggan menjawab, membuat Valencia kesal dan mencak-mencak sendiri.


Mereka memang bertengkar sebelum ini. Tapi Valencia juga tidak bisa lama-lama marah pada Gabriel, karena bukan hanya dirinya yang terluka dengan kehilangan ini, Gabriel juga pasti sama.