His Purpose

His Purpose
121. Cares



"Koko!"


Gibran terbangun ketika Maria tiba-tiba saja berteriak di sampingnya. Ia segera mendekat hanya untuk mendapati Maria yang terengah dengan wajah dibanjiri keringat.


"Plum, ada apa?" tanya Gibran cemas. "Hey, Sugar. Breathe down, please."


Gibran menepuk-nepuk pipi Maria. Nafas Maria tak beraturan saat matanya bergeser pada sang suami. Air menggenang di pelupuknya sebelum kemudian Maria menghambur memeluk Gibran.


Tangis Maria pecah seketika. Entah apa yang terjadi dengan wanita itu hingga tubuhnya bergetar sehebat ini. Jantung Gibran berdetak menyakitkan. Ia segera membalas pelukan Maria berusaha menyalurkan ketenangan.


"Sstt ... jangan menangis, Sayang. Katakan, apa yang terjadi hingga kamu ketakutan seperti ini?" tanya Gibran halus.


Maria masih setia terisak ketika mulai bersuara. "Aku bermimpi. Mimpi yang sangat buruk," ucapnya tersendat.


Gibran terdiam. "Mimpi apa?" Suaranya terdengar hati-hati. Agaknya ia sedikit was-was Maria mengenang masa lalunya lewat mimpi. Lagi.


Dan benar saja, nafasnya langsung tercekat mendengar penuturan Maria selanjutnya.


"Kematian," bisik wanita itu.


"Sebuah truk besar menabrakku dengan kencang. Koko ... menangis di antara kerumunan orang. Lalu, anak kita ... anak kita ... hiks—"


"Sstt ... sudah, tenang, tenanglah. Itu hanya mimpi. Tidak terjadi apa pun dengan kalian," bisik Gibran tak kalah pelan. "Aku akan menjaga kamu dan anak kita," tambahnya yang kini membenamkan wajah di ceruk leher Maria.


Aku akan menjaga kalian.


Nafas Maria sedikit mereda ketika Gibran merenggangkan pelukan. Ia segera memakaikan terusan Maria yang tersempalai di sudut ranjang. Pun Gibran lekas mengenakan kembali kimononya yang sama terhempas di lantai.


"Kamu pasti lapar. Aku akan memasak untukmu," kata Gibran sambil memakai sandal. "Ayo."


Maria menurut mengikuti Gibran turun ke dapur. Sepanjang langkah pria itu tak lepas merangkum tangan Maria dalam genggaman hangat. Maria menunduk mengamati tautan itu.


Entah kenapa Maria merasa nyaman tapi sekaligus juga takut. Mimpi itu terasa sangat nyata. Rasa sakit itu seolah-olah Maria memang pernah mengalaminya.


"Tunggu di sini." Gibran mengangkat tubuh Maria dan mendudukkannya di stool.


"Kamu sedang hamil tapi masih seringan ini. Sepertinya aku kurang memberimu makan, ya?"


Maria merengut. Kurang, katanya? Betis Maria bahkan terasa mulai bengkak sekarang. Padahal usia kehamilannya masih tiga bulan.


"Ringan? Siapa tadi yang bilang dada dan bokong semakin montok? Sampai tidak mau tidur sebelum menyentuhnya," gerutu Maria yang entah kenapa tidak terima disebut ringan. Padahal biasanya ia senang karena itu berarti dirinya langsing.


Gibran meringis. "Kita kan tidak bercinta, Plum."


"Tidak bercinta tapi sampai membasahi kasur."


Gibran terkekeh. "Tapi kamu suka' kan?"


"Sudah cukup. Kau membuatku tidak fokus, Sayang."


Akhirnya Maria diam. Dia tidak mau Gibran mengiris tangannya sendiri jika terus bicara dengannya. Maria memperhatikan sang suami yang kini sibuk memotong sayur-sayuran dan ayam. Sepertinya pria itu mau membuat sop.


Benar saja, beberapa saat kemudian Gibran menghidangkan mangkuk dengan kepulan asap menggoda di hadapan Maria.


"Sop ayam untuk Mommy dan Baby," ucap Gibran mengecup hidung Maria, sementara tangannya mengusap halus perut sang istri.


Maria balas tersenyum dan mulai menyendok kuah sop itu, meniupnya sebentar sebelum menyeruputnya lamat-lamat.


"Emm ... enak!"


Gibran tersenyum puas. "Kalau begitu habiskan."


"Koko mau ke mana?"


"Aku buat teh hangat untuk kamu."


"Ohh ..." gumam Maria.


"Kenapa? Kamu takut aku tinggal?" tanya Gibran geli.


Sementara Maria langsung merengut karena tebakan Gibran tak sepenuhnya salah. Mengabaikan Gibran, Maria mulai memakan sopnya dengan serius. Gurihnya kaldu hangat berhasil membungkam perut Maria yang semula keroncongan.


Tepat saat Gibran menaruh cangkir teh di depan Maria, Rayan muncul dari ambang pintu. Pria itu terdiam sesaat menatap putri dan menantunya bergantian.


"Kalian sedang apa?" tanyanya sedikit tak acuh dan mengambil gelas untuk kemudian menuangkan air, lalu meminumnya hingga tandas.


Maria sedikit terkejut dengan kehadiran ayahnya. Sementara Gibran terlihat biasa saja.


"Oh."


"Papa mau?" tawar Maria.


"Tidak. Papa mau lanjut tidur." Rayan mendekat mengusap rambut putrinya yang berantakan, menciumnya kilat seraya mengernyit samar.


Ia melirik Gibran yang berdiri menyandar di tepi meja, mengamati sosoknya secara keseluruhan. Rayan juga tak lepas memperhatikan putrinya yang sedang fokus makan.


Tanpa diberitahu pun Rayan tahu apa yang sebelum ini mereka lakukan. Kulit putih Maria penuh jejak, pun dengan leher dan dada Gibran yang nampak terbuka menampilkan beberapa bercak merah.


Tanpa sadar Rayan menggeleng dan berdecak. "Dasar pasangan muda," bisiknya yang didengar oleh Maria.


"Papa kenapa?"


"Bukan apa-apa. Lanjutkan makanmu," ucapnya mengusap pucuk kepala sang putri.


Kemudian ia berlalu sambil memberi lirikan terakhir pada Gibran. "Usahakan jangan keluar di dalam, bahaya buat janin."


Maria mengerjap melihat punggung ayahnya yang kini menghilang dari pandangan. Ia mendongak pada Gibran yang masih santai bersidekap. "Maksud Papa apa?"


Pria itu malah terkekeh dan ikut-ikutan menggasak rambut Maria. "Bukan apa-apa. Cepat habiskan sopnya."


"Dasar tidak jelas," rengut Maria kesal.


Gibran mengulas senyum lembut. "Papa kamu tahu kita habis bercinta."


"Kita kan tidak bercinta," kilah Maria.


Gibran mengangkat bahu. "Jejak dan aroma kita menunjukkan begitu."


"Lagi pula, meski tak melakukan penyatuan kita tetap keluar dengan puas," lanjut Gibran menyeringai.


Seketika Maria mengernyit malu. "Koko apaan, sih? Jorok, ih! Awas, aku sedang makan, lho, ini!"


"Memang kenapa?" tanya Gibran masih dengan senyum menyebalkan.


"Jijik!"


Tanpa diduga Gibran langsung tertawa. Maria sampai merinding karena tawa itu menggema di tengah kesunyian.


"Lucu, ya, sekarang kamu bilang jijik. Tadi saja hampir mau dimakan, tuh."


"Koko!"


Gibran masih tertawa sebelum kemudian ia merangkul Maria dari belakang. "Iya, maaf. Ayo habiskan makannya," bisiknya sembari mengecup singkat telinga Maria.


"Tangannya diam!" ketus Maria di mana ia merasakan tangan Gibran merayap di dadanya.


Gibran terkekeh. "Oke."


Ia segera menghentikan aksinya dan mendudukkan diri di samping Maria, memperhatikan wanita itu dalam diam sambil terus berpikir apa yang harus dilakukan ke depannya.


Terlabih Maria semakin sering bermimpi kenangan-kenangan di masa lalu. Mungkin Gibran harus bersyukur karena Maria masih belum mengenalinya dalam ingatan tersebut. Tapi, jika suatu saat takdir mengharuskan semuanya terkuak, masihkah mereka bisa makan bersama seperti sekarang?


Terutama, apa Maria akan baik-baik saja sementara kondisi kepalanya terbilang mengkhawatirkan untuk sebuah tekanan.


Akan lebih mudah jika ingatan Maria hilang untuk selamanya. Tapi, menekan memori juga memiliki resiko yang cukup tinggi.


Gibran lebih memilih Maria membencinya ketimbang menghapus ingatan yang akan membuatnya tidak baik-baik saja.


Itu jauh lebih buruk.


"Maria," panggil Gibran, pelan.


"Hm?"


"Se agapó."


Maria mengerjap, mengalihkan atensinya dari sop ke arah Gibran. "Apa Koko ini kamus berjalan? Bahasa apa lagi itu? Kenapa banyak sekali yang tidak aku mengerti?"


Gibran tersenyum lirih, ia menyentil kening Maria saat berkata. "Cari sendiri artinya. Itu pun kalau sampai kamar kamu masih ingat."


"Menyebalkan!"


Gibran tahu Maria sulit mengingat bahasa asing.