
Nama Ginanjar Adiwiguna memang sudah santer terdengar sebelumnya. Namun sekarang dia semakin terkenal dengan sosoknya yang terpampang di mana-mana.
Tabloid, majalah, koran, serta hampir semua media online menampilkan wajah politikus tersebut. Di luar keterlibatannya sebagai calon Gubernur, ada hal lain yang sedang ramai dibicarakan banyak orang.
Perselingkuhan. Benar, hobinya yang gemar bermain wanita akhirnya diketahui publik. Beberapa jam lalu, tepatnya tengah malam tadi beredar foto Ginanjar di sebuah club elit bersama seorang wanita berpakaian seksi.
Tak hanya itu, video mereka yang tengah bercumbu semakin menguatkan asumsi publik yang sebelumnya enggan percaya, karena sosok Ginanjar dikenal begitu bijak dan bersahaja.
Polling Ginanjar sebagai calon Gubernur berada di peringkat tertinggi, namun belum ada 24 jam angka tersebut merosot secara drastis hingga menyisakan beberapa persen saja.
Gosip pernikahan gelapnya dengan beberapa wanita turut terkuak di media sosial. Kasus penggelapan uang, suap, bahkan pembunuhan berencana ikut menyeruak secara gila-gilaan.
Ginanjar seakan ditelanjangi habis-habisan. Tak hanya kekecewaan publik, anak dan istri yang selama ini menganggapnya ayah dan suami setia kini berbalik memandangnya rendah.
Ginanjar kehilangan respek semua orang.
"Aaarrrgghh!!!"
Prang!
Brak!
Barang-barang beterbangan menghantam lantai. Benda pecah belah berhamburan. Ginanjar tak memedulikan kakinya yang kini bersimbah darah terkena pecahan kaca. Ia membalikkan sebuah meja menimbulkan bunyi bedebum yang amat keras.
Di luar, para ajudannya berdiri waswas, tak ada satu pun dari mereka yang berani membuka pintu ruang kerja Ginanjar.
Sementara di lain tempat Gibran terpingkal kesetanan. Ia sampai membungkuk dan mengeluarkan air mata, terlihat begitu senang melihat televisi berukuran hampir 3 meter itu menyiarkan semua aib Ginanjar.
Tak hanya itu, penampakan Ginanjar yang tengah mengamuk di ruangannya pun tak lepas dari tontonan Gibran. Benar, dia sendiri yang meretas CCTV ruangan tersebut.
Ah, begitu pintarnya Gibran. Ia menyeringai tajam dengan wajah berseri cerah. Nick sampai menelan ludah berkali-kali. Ia merinding karena Gibran terlihat seperti iblis yang bersemayam di tubuh manusia.
Semalam, Nick menyebar semua berita itu ke seluruh media, atas perintah Gibran tentu saja. Astaga, inilah akibatnya jika berurusan dengan seekor cheetah, tak ada satu pun yang bisa lari dari cengkramannya.
Saat barbeque pun Gibran sama sekali tak memberinya kelonggaran. Diam-diam Nick terus bekerja disela kegiatannya bakar-bakaran. Sementara Gibran sendiri tak lepas bermesraan dengan Maria.
Tentu Nick hanya bisa gigit jari. Nasib jadi bawahan, ditambah tak punya pasangan, ia harus kuat saat disuguhkan adegan keduanya berciuman.
Hanya satu yang membuat hati Nick diliputi kebahagiaan, tentu saja bonus akhir bulan serta ponsel keluaran terbaru yang Gibran belikan. Tahu saja pria itu bahwa Nick sedang mulai menabung.
Gibran terkekeh sinis mematikan televisi. Ia berjalan ke tepi ruangan di mana sofa berada. Saat ini mereka tengah berada di menara distrik 9, gedung pusat perusahaan Gibran di Jakarta.
"Maria minta baju baru, kamu minta beberapa butik terkenal datang ke kediaman Tjandra. Dia tak bisa pergi jauh-jauh dulu, tangannya belum pulih," titah Gibran seraya menuang wine ke dalam gelas berkaki.
Nick lagi. Bahkan untuk urusan pakaian wanita pun semua Nick yang siapkan. Siapa pun calon jodohnya kelak, jangan ragu karena Nick sudah lebih dari berpengalaman mengenai apa pun kebutuhan wanita, termasuk cawat sekalipun.
"Baik, Tuan."
***
"Astaga." Maria terhenyak kaget saat memasuki lobi ruang depan.
Serasa dejavu, beberapa orang yang mengaku perwakilan dari sejumlah butik berlomba menunjukkan produknya pada Maria.
Maria sampai bingung harus melihat yang mana dulu. Baru ia hendak melihat salah satu, yang satunya lagi bersikeras meminta Maria melihat milik mereka.
Ia memang minta baju baru pada Gibran, tapi tidak seperti ini juga. Ini sangat berlebihan. Semuanya adalah brand terkenal dan internasional. Bahkan masing-masing dari mereka membawa sejumlah edisi langka yang katanya hanya diproduksi beberapa saja.
Ya Tuhan, ini sama saja Gibran menyuruhnya kerja keras. Akhirnya karena tak ingin menyinggung satu pun dari mereka, Maria mengambil masing-masing 10 pasang, tidak termasuk edisi langka karena Maria sudah tak tertarik dengan benda-benda seperti itu.
Bukan tak tertarik, Maria hanya tidak suka modelnya saja. Untuk apa mahal dan langka jika tak berguna?
Hening. Para pramuniaga butik itu seakan lupa, serentak mereka menunduk melihat perut Maria yang menonjol di balik pakaian.
"Astaga, maafkan kami yang lancang, Nyonya!" Semuanya menunduk penuh rasa bersalah.
Hanya karena ingin barang laku, mereka sampai mengesampingkan kondisi tubuh klien sendiri. Ini semua karena mareka terlalu gugup dimintai langsung oleh pengusaha kaya Gibran Wiranata.
Maria tersenyum. "Tidak masalah. Kalian semua sudah melakukan yang terbaik. Terima kasih, ya."
"Sama-sama, Nyonya. Ini sudah tugas kami melayani seorang klien."
"Kalau begitu, kami mohon undur diri, Nyonya. Apa ada sesuatu yang Nyonya perlukan lagi?"
"Tidak ada, semua sudah cukup."
"Baik, Nyonya. Terima kasih. Jika membutuhkan pakaian, jangan sungkan hubungi kami."
Banyak sekali kartu nama yang Laura terima untuk Maria. Maria sendiri meringis memaksakan senyum. Alih-alih meringankan, Gibran malah membuatnya repot. Tahu begini mending dia beli online saja. Teman-teman lamanya banyak yang menjual barang-barang brand besar.
Selepas kepergian para pramuniaga butik itu, Maria membuang nafasnya kasar. "Bawa semua ini ke kamar," titahnya pada Laura.
"Siap, Nyonya."
"Jill, Dean!"
Dua wanita tangguh itu langsung menghadap. "Kami, Nyonya."
"Astaga, sebenarnya aku tidak enak mengatakan ini."
Jill dan Dean sontak saling pandang.
"Tapi entah kenapa aku ingin sekali kalian memijat kakiku ..." ringis Maria canggung.
Ia memandang perutnya yang turut diikuti dua pengawal tersebut. Maria seolah mengatakan bahwa ia sedang mengidam.
***
"Abhi ... tolong bantu aku, kumohon bantulah aku. Kita adalah teman dekat, kan?"
Abhimanyu Wiranata, ia memandang datar Ginanjar yang bersimpuh di depan kakinya.
Sejak berita mengenai pria itu tersebar di seluruh media, Abhi langsung tahu siapa dalang di balik semua ini. Sebelumnya ia sudah curiga ketika Gibran tiba-tiba membahas soal Ginanjar Adiwiguna. Rupanya dia adalah salah satu antek-antek Willis. Tak heran Gibran langsung menebasnya tanpa ampun. Sepertinya Ginanjar juga sudah menyinggung putranya tersebut.
"Kita memang pernah akrab, tapi itu dulu, sebelum aku bercerai dengan Sandra," tegas Abhi.
Ginanjar mendongak dengan wajah melas. Ia menggeleng, menduga bahwa Abhi mengetahui sesuatu. "A-Aku ..."
"Lagi pula aku ini seorang pengusaha. Mana mungkin membantu secara cuma-cuma tanpa mendapat keuntungan."
Menelan ludah, Ginanjar menjanjikan sesuatu yang tak masuk akal. "Kau akan mendapatkan 50 persen keuntungan jika namaku berhasil naik lagi."
Abhi terdiam, kemudian ia mendengus sinis. "Tapi yang kulihat kesempatanmu untuk naik itu tidak ada. Akuilah jalanmu sudah buntu."
Abhimanyu bangkit dari duduknya. "Pergilah, aku sibuk banyak pekerjaan." Ia melewati Ginanjar begitu saja.
"Kenapa tidak meminta bantuan Willis? Kukira mereka menjaminmu?"
"Dan lagi ..." Abhi menyeringai. "Sandra wanita pujaanmu, kan?"