His Purpose

His Purpose
122. Indignant



Maria merunduk sambil meringis malu memperhatikan dua pelayan yang tengah membereskan ranjang di kamarnya. Astaga, ini memalukan. Bisa dilihat dari gelagat mereka yang kikuk dan canggung menarik seprai yang kusut dan berantakan.


Padahal ia dan Gibran hanya saling sentuh tanpa adanya penyatuan, tapi kenapa bisa jadi seberantakan ini?


Salah satu dari mereka berdehem. Usut punya usut dia tak sengaja menyentuh sesuatu yang lengket di sana. Ya Tuhan, Maria ingin menyembunyikan wajahnya sekarang juga.


Maria mundur perlahan berniat kembali ke ruang wardrobe selama mereka membersihkan kamar. Tapi baru dua langkah punggungnya membentur sesuatu yang keras, membuat ia kontan berhenti terutama saat sebuah tangan melingkar di pundaknya.


"Kau bisa jatuh jika berjalan seperti tadi," ucap Gibran tepat di samping telinga Maria.


Maria mengerang dalam hati. Perlakuan Gibran tak lepas dari perhatian dua pelayan di kamarnya. Mereka bergerak tak karuan dengan wajah merona.


Cup.


Seakan belum cukup sekarang Gibran melabuhkan ciuman di pipi Maria. Mengendusnya halus sembari menggerakkan ujung hidungnya di sana.


"Koko, hentikan," cicit Maria pelan.


"Kenapa?" Gibran seolah enggan menghentikan kelakuannya.


"Malu," bisik Maria lagi.


"N-Nona, kami permisi. Mari, Tuan." Kedua pelayan itu langsung terbirit-birit keluar kamar.


"See? Mereka lebih malu darimu."


Decakan pelan keluar dari mulut Maria. Ia berusaha keras melepas rangkulan Gibran yang langsung dituruti pria itu. Maria memekik karena Gibran masih sempat-sempatnya iseng meremas payu-daranya.


Dasar mesum!


Maria mendelik menatap Gibran yang kini terkikik tanpa suara. Benar-benar raut tak punya dosa.


"Kenapa, Plum?" Gibran bertanya sambil berlalu menuju nakas, mengambil jam tangan yang tergeletak di sana.


Dengan kesal Maria terentak-entak melewati Gibran tanpa sekalipun berniat menjawab. Gibran menoleh dengan kedua alis terangkat.


Blam!


Suara pintu yang ditutup keras tak mampu membuat Gibran terperanjat. Ia menatap datar bayangan Maria yang tertelan di sana.


Gibran menghela nafas. Ia sudah tahu tabiat istrinya semenjak hamil. Bukan hanya manja, dia juga kerap semena-mena. Anehnya Gibran tak pernah keberatan dengan perubahan itu. Kecuali saat Maria memintanya bernyanyi tentu saja.


Tak lama pintu kembali terbuka.


"Kenapa Koko tidak kejar aku?!"


Gibran menoleh pelan pun keningnya berkerut dalam. Ada apa lagi?


"What's wrong?" tanya Gibran begitu santai.


Maria malah mencak-mencak dengan raut yang kian merengut kesal. Sebenarnya apa yang salah?


"Tidak tahu! Dasar kayu kering!" Lagi-lagi Maria membanting pintu. Kali ini berhasil membuat Gibran mengerjap kaget.


Ia berkedip berpikir. Bibirnya terangkat sumir sambil menggaruk kepala dengan ekspresi kebingungan.


"Oh God, ada apa dengan istriku?"


"Maria, kamu kenapa?" Rayan yang melihat raut keruh putrinya tak tahan untuk tidak bertanya.


Maria manyun, ia menggeser kursi tepat di samping ayahnya, tempat yang mustahil Gibran duduki.


"Apa semua laki-laki memang semenyebalkan itu?"


"Menyebalkan bagaimana?"


Maria menoleh cepat, berusaha meminta dukungan pada sang ayah. "Setelah bersikap mesum dia mengabaikanku. Apakah itu pantas?"


"Kapan aku mengabaikanmu?" Gibran yang baru memasuki ruang makan kontan bertanya dengan raut heran.


Maria melempar tatapan sinis yang dibalas Gibran dengan datar.


"Bukankah kamu yang minta untuk dilepas? Dari mana sikapku yang kamu sebut mengabaikan?"


"Dan lagi, kenapa kamu duduk di sana? Pindah kemari," titah Gibran.


Maria membuang muka tak acuh. Tangannya mengambil roti isi di piring lalu menggigitnya dalam satu suapan besar.


Gibran mendengus. "Justru kamu yang saat ini sedang mengabaikanku."


"Maria, telan dulu rotinya," tegur Rayan halus.


Gibran menghela nafas seraya menggeleng. Ia tidak tahu apa perempuan hamil memang selalu bersikap labil? Sepertinya tidak. Mungkin hanya Maria yang berubah menjadi manja.


"Plum—"


"Aku sudah selesai." Maria tiba-tiba bangkit dan beranjak meninggalkan ruang makan.


Gibran masih mempertahankan sikap tenangnya kendati keanehan Maria mulai membuatnya pusing sendiri.


"Mungkin dia seperti itu karena tidak mau kau tinggal," cetus Rayan tiba-tiba.


Gibran mengalihkan perhatiannya pada sang mertua.


"Pagi ini kamu mau ke Singapura, kan? Mungkin itu alasan Maria menjadi sedikit manja dan tidak jelas."


"Kamu tidak mau mengajaknya saja?"


"Tidak bisa. Usia kandungannya masih rentan untuk naik pesawat."


"Benar juga," gumam Rayan sambil mengangguk pelan. Ia terlihat acuh tak acuh menyendok isi piringnya. "Kalau begitu berusaha lah lebih keras untuk membujuknya."


Gibran mendengus dan berucap sinis. "Tanpa kau suruh pun aku pasti melakukannya."


Dan Rayan hanya menanggapinya dengan endikan bahu.


Baru hendak menggigit roti tiba-tiba teriakan Maria mengejutkan Rayan maupun Gibran.


"Kokoooo!!!"


Trang!


Gibran menjatuhkan pisau dan garpunya terkejut, disusul ia yang segera beranjak meninggalkan meja dan berlari keluar.


Kaki panjang Gibran mengayun cepat mencari asal suara, hingga tak lama matanya menemukan Maria yang sedang terduduk di satu undakan tangga. Gegas ia mendekat dengan raut panik.


"Apa yang terjadi? Kenapa duduk di sini? Kamu jatuh? Mana yang sakit? Kenapa bisa seperti ini, hah?! Kamu tidak hati-hati?!" Karena terlalu khawatir Gibran tanpa sadar membentak Maria, membuat wanita itu terperanjat saat Gibran memeriksa keseluruhan tubuhnya.


"Ko-Koko ..."


"Kenapa kamu selalu bersikap ceroboh? Berhenti bersikap kekanakan dan perhatikan tindakanmu! Kamu selalu saja mengundang bahaya. Tidak bisakah kamu duduk diam dan tenang tanpa melakukan apa pun?"


"Kamu bukan anak kecil lagi, Maria. Berhenti membuatku muak."


Deg.


Maria menatap Gibran tak percaya. Apa lelaki itu baru saja memakinya?


"Ko-Koko ..."


Gibran tak menyahut. Ia mengangkat tubuh Maria dan langsung membawanya keluar menuju mobil. Bertepatan dengan itu Rayan datang dengan raut keheranan.


"Ada apa ini?" Ia bertanya sambil mengikuti Gibran. Matanya menatap sang putri yang berada dalam gendongan menantunya.


"Dia jatuh, aku akan membawanya ke rumah sakit."


Maria segera menggeleng meminta bantuan ayahnya. "A-Aku tidak jatuh, Papa ... Koko sudah salah paham. Turunkan aku, kita tidak perlu ke rumah sakit!"


Gibran tak menghiraukan protesan Maria. Ia mendudukkan Maria setelah Nick membuka pintu penumpang belakang.


Rautnya begitu menakutkan. Maria sampai tidak berani menegurnya apalagi sebelum ini Gibran sempat membentaknya.


"Gibran! Apa yang—" Jangankan Maria, Rayan saja tak mampu berkata-kata melihat ekspresi menantunya saat ini.


Ia hanya diam saat Maria melemparinya tatapan dari jendela mobil yang terbuka.


"Jalan!"


Nick yang patuh tanpa banyak kata segera memacu mobil membelah jalanan.


Sementara di tempatnya duduk, Maria mati-matian meringis dalam hati. Ia tidak menyangka Gibran akan jadi segalak ini, padahal niatnya hanya iseng ingin mengerjai lekaki itu.


Astaga, Maria pasti akan mati saat nanti Gibran tahu ia hanya berpura-pura.


Maria bodoh. Ia juga kesal dan sakit hati karena Gibran sampai membentak dan memakinya tadi. Maria jadi ingin menangis sungguhan. Ia juga takut karena Gibran terlihat sangat marah sekarang.


Astaga, apa yang harus ia lakukan?