
Gibran menurunkan ponselnya dari telinga, meremasnya sebentar sebelum benda pipih itu terlempar mengenaskan di atas meja.
"Tuan." Nick yang baru saja tiba di penthouse bergegas mendekati Gibran.
"Kenapa Maria tak mengangkat satu pun telpon dariku?" tanya pria itu dingin.
Kemewahan di sekitarnya seketika membeku. Gibran menoleh pelan menghunus Nick dengan matanya yang lebih tajam dari elang.
Secepat kilat pria itu bangkit dari kursinya, meraih mantel dan menggunakannya dalam sekali kibasan.
"Tuan mau ke mana?"
"Kita kembali saja."
Nick melotot. "Tuan, hari ini dan tiga hari ke depan Anda ada jadwal terapi bersama Tuan Evan. Bagaimana bisa Anda pergi sekarang?"
"Kau mulai berani membantahku, Nick?"
"Tuan, Nyonya baik-baik saja. Saya baru dapat kabar dari kediaman Tjandra. Beliau sedang makan malam bersama papanya."
"Lalu kenapa dia tidak mengangkat telponku?!" Gibran berteriak menghentikan langkah.
Meski sudah terbiasa dengan emosi Gibran, Nick tetap terperanjat dengan bentakan itu.
Ia bersyukur ketika seseorang muncul dan keluar dari lift, menghampiri mereka yang tengah bersitegang.
Sepertinya Evan baru sampai. Keningnya berkerut melihat luapan emosi pada Gibran.
"Ada apa ini?"
Nick menunduk singkat. "Nyonya Maria tak menerima panggilan."
Evan melirik Gibran. "Dan kau langsung ingin pulang karena ini?"
"For god sake! Dia istriku yang sedang hamil! Apa aku tidak boleh khawatir padanya?"
"Gibran." Suara Evan terdengar serius. "Coba tenanglah sebentar. Kamu adalah orang yang tenang dan terkendali. Sikap paranoidmu ini sepertinya memang hanya berlaku pada Maria. Ini yang akan kita evaluasi nanti."
"Evaluasi your **s! Kau hanya menganggap ini lelucon untuk penelitianmu, begitu?"
"Aku tidak peduli. Aku akan pulang sekarang juga." Gibran melengos melewati Evan serta Nick yang kini kebingungan ingin berpihak pada siapa. Ia betul-betul dilema.
"Tu-Tuan!" Nick menatap cemas kepergian Gibran . Sementara Evan terlihat begitu santai bersidekap di tempatnya.
Nick memutuskan mengejar Gibran. Namun seketika perkataan Evan bukan hanya berhasil menghentikannya, Gibran pun langsung terpekur hingga pintu lift yang hendak dimasukinya kembali tertutup.
"Kau yakin kau mencintainya? Bukan rasa bersalah yang membuatmu terobsesi ingin melindunginya?"
Hening.
"Jawab Gibran. Apa kau mencintainya?"
Gibran masih bungkam. Entah kenapa, tapi kali ini Nick seolah kesal mendengar pertanyaan Evan. Kenapa pula tuannya tak menjawab?
"Apakah cinta memang seperti ini?"
"Kau terkesan menggila mengenai apa pun yang menyangkut Maria."
"Tidak menerima telpon bukan berarti dia kenapa-napa. Semua manusia punya kegiatan, Gibran. Termasuk Maria."
"Dia tak bekerja," cetus Gibran menggeram. Tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih.
"Tidak bekerja bukan berarti tidak memiliki aktivitas. Siapa tahu dia sedang menonton, dan karena terlalu larut dia melupakan ponselnya."
Gibran tak bersuara. Apa yang dikatakan Evan mungkin benar. Terlebih sebelumnya Nick bilang Maria sedang makan malam. Sepanjang mereka bersama Maria memang tak pernah membawa ponsel ke ruang makan.
"Obsesimu ingin membuat Maria aman, dengan cara menempatkan dirinya di sisimu. Benar begitu?"
"Itu tujuanmu menikahinya, kan?"
"Kau ingin memastikan dia tidak tergores sedikit pun. Saking kuatnya keinginanmu kau sampai dihantui ketakutan."
"Kau selalu berhalusinasi setiap kali melihat darah di sekitarnya."
"Ini yang sudah parah, Gibran. Waktu kau menemukannya di kandang harimau kau juga menggila dengan halusinasimu. Padahal kau sendiri tahu mayat itu bukan Maria. Lalu kemarin, burung mati saja kau sangka peluru."
"Dan kau masih berpikir ini cinta?"
"Tuan—"
"Diam, Nick. Majikanmu ini perlu disadarkan agar sepenuhnya menginjak realita."
"Kau sekhawatir ini saat dia tak menerima teleponmu."
"Aku yakin sekarang kau sedang mati-matian menahan pikiranmu untuk tidak berkhayal hal buruk."
"Jangan jadikan dia kelemahanmu."
Sunyi mengalir membuat Nick menggigil. Suasana seperti ini seolah mencekiknya dalam kebekuan. Ia menatap prihatin sang tuan yang kini terengah dengan keringat bercucuran.
Sepertinya Evan benar, Gibran tengah berusaha keras menahan pikirannya untuk tak tertuju pada Maria. Setidaknya dia harus yakin bahwa Maria dalam keadaan baik-baik saja.
Sedetik kemudian pria itu runtuh menyentuh lantai. Nafasnya mulai tak beraturan disertai sesak yang kian mendera. Gibran meremas dadanya kuat, mulutnya terbuka meraup oksigen yang mendadak sulit ditemukan.
Bayangan-bayangan mengerikan mulai menghantui kepala. Ia berusaha keras menepis pikiran yang menyerang secara berkala dan menyiksanya bertubu-tubi.
"Koko ..."
"Senior ..."
Gibran menggeleng. Ia melihat dua sosok Maria dengan penampilan berbeda.
Tidak. Ini tidak nyata. Benar, mereka hanya bayangan.
"Koko jahat ..."
"Senior jahat ..."
Mereka menangis. Tidak ... Tidak boleh. Maria tidak boleh menangis. Tidak boleh ...
"NOOOO ...!!!"
"Tuan!"
"Aarrrghh!!!"
Nick segera meraih Gibran yang memegangi kepalanya dengan kuat. Evan mendekat. "Gibran, bernafaslah."
"Bernafas. Bernafaslah!"
"Tidak boleh! Tidak boleh!" Gibran terus menggeleng.
"Ayo kita bercerai ..." Maria berucap dengan berurai air mata.
Tidak. Jangan lakukan ini, Sayang. Aku akan memenuhi segala keinginanmu asalkan bukan perpisahan. Jangan, Maria ... Kumohon jangan ...
"Maria?"
Perempuan itu tersentak dari lamunannya.
"Kamu kenapa? Kenapa diam seperti itu? Ada yang kamu pikirkan, Sayang?"
Maria menggeleng. "Bukan apa-apa, kok, Pa. Maria hanya ..."
"Memikirkan suamimu?"
Maria tak membantah. Karena jujur saja entah kenapa perasaannya mendadak tak enak. Di luar kegelisahannya mengenai Celine tentu saja.
Rayan meletakkan alat makannya dengan pelan. "Memangnya dia belum menghubungimu?"
Maria menggeleng. Sebenarnya ia sedang tidak mengharapkan telepon Gibran. Tapi mendadak hatinya sesak oleh sesuatu yang tak jelas.
"Kalau begitu kamu saja yang telepon. Tidak mungkin kamu menunggu orang sesibuk dia yang memulai duluan, kan?"
"Tapi ... apa itu tidak merepotkan?"
"Apa dia pernah marah padamu?"
Kembali Maria menggeleng. Gibran memang tak pernah memarahinya, kecuali saat Maria tersenyum pada pria lain.
Ia membuang nafas kasar. Ini sangat membingungkan. Di satu sisi ada kemarahan yang membuatnya tak ingin menghubungi Gibran. Tapi di sisi lain ada kekhawatiran yang entah dari mana ia datang.
Maria hampir tak pernah merasa cemas sekalipun Gibran tengah di luar kota. Tapi kenapa sekarang seolah ada sesuatu yang mendorongnya untuk merasakan itu?
Apa Gibran baik-baik saja?
Pria itu tidak kenapa-napa, kan?
Kenapa perasaan Maria seperti ini?
Baru ia berpikir untuk berhenti peduli, tapi sosok Gibran malah menghantuinya terus.
"Papa ... sebenarnya Maria sudah menyimpan pertanyaan ini sejak lama." Maria mendongak menatap sang ayah. "Apa Papa benci Koko?"
Diam. Rayan tak menduga Maria akan bertanya hal demikian.
"Karena sejauh yang Maria lihat respon Papa terhadap Koko sangat berbeda ketika Papa berhadapan dengan El."
"Apa Papa tidak menyukai Koko?"