His Purpose

His Purpose
40. Fearful



Tubuh Jesi bergetar. Aura mencekam menguar dari dalam diri Gibran hingga menghasilkan kumulus kelabu tak kasat mata di sekitarnya.


Pria itu semakin menekan benda di punggung Jesi. Disertai hunusan tajam dari matanya, Gibran berbisik di samping telinga. "Asal kau tahu. Aku sudah ingin membunuhmu sejak beberapa hari yang lalu."


Jesi tercekat. Tenggorokannya mendadak sulit menelan ludah.


"Aku mungkin bisa bersikap abai saat kau menumpahkan teh dan merayuku di perpustakaan. Tapi aku tidak bisa menerima saat kau menggertak istriku dan menyebarkan rumor yang membuatnya tertekan."


"Tidak ada yang boleh menyakitinya, terutama kau ja-lang sialan."


Kemarahan Gibran membuat Jesi menahan nafas. Terlebih ia dengan jelas merasakan sesuatu tengah mengancamnya di balik punggung.


"Kau ingin menggodaku?" Gibran mendengus. "Kau pikir aku akan tergiur dengan tubuh busuk ini?"


"Jika aku bisa menikmati daging salmon, kenapa aku harus memakan duri menjijikan sepertimu?"


Gibran menyentak tubuh Jesi hingga perempuan itu mundur beberapa langkah. Tubuhnya seketika mengkerut menatap was-was pada Gibran yang tengah menepuk-nepuk kimononya seakan membuang kotoran.


"Keluar. Sebelum aku mengeksekusimu saat ini juga," ucap Gibran sembari mengotak-atik pistol yang entah didapatnya dari mana. Benda itulah yang sejak tadi membuat Jesi waspada.


Jesi yakin seratus persen pria itu mendekatinya dengan tangan kosong, tanpa senjata apalagi pistol. Entah bagaimana pastinya, tahu-tahu senjata api itu sudah mengancam menempeli punggungnya.


Dan sekarang, moncong dari benda tersebut mengarah tepat di depan mata Jesi. "Keluar. Dan jangan pernah berani menyentuh Maria sekalipun dengan suaramu," ucapnya tajam sarat akan ancaman.


Sikap tak terduga Gibran membuat Jesi ketar-ketir. Ia mundur hendak berlari ke arah pintu ketika suara Gibran menginterupsinya. Mata pria itu mengarah ke lantai, tempat di mana jubah Jesi tergeletak mengenaskan.


"Ambil. Aku tidak sudi menampung benda kotor itu di sini."


Spontan Jesi membungkuk mengambil jubahnya, lantas cepat-cepat berbalik tanpa berani melihat Gibran.


"Ah, satu lagi. Katakan pada mertuaku untuk mengirimkan wanita yang lebih menggiurkan dari putrinya. Seleraku terlalu tinggi untuk pelayan rendahan sepertimu."


Jesi mematung. Kakinya seolah terpaku di tempat mendengar kalimat Gibran yang mengejutkan. Jantungnya semakin berdetak ketakutan. Seharusnya, sejak awal ia tahu bahwa Gibran adalah sosok yang menyeramkan.


Tanpa menunggu waktu lama Jesi keluar dari kamar Gibran. Namun, justru hal tersebut memicu ketegangan lain ketika dilihatnya sosok Maria berdiri di ujung lorong.


Ketiganya berada dalam satu garis lurus pintu kamar Gibran. Ironisnya, posisi Gibran yang tengah menodongkan pistol pada Jesi terkesan salah sasaran begitu wanita itu pergi melarikan diri. Alhasil sekarang pistol tersebut mengarah pada Maria.


Keduanya sama-sama mematung dalam pikiran masing-masing. Namun, sorot ketakutan itu tak pelak menghiasi netra Maria yang kini mulai bergetar menatap Gibran.


Maria mundur dengan wajah syok luar biasa. Tubuhnya terhuyung menabrak meja hingga menjatuhkan guci di atasnya. Wanita itu menoleh pada Gibran sebelum kemudian berlari ke arah kamarnya di lantai dua.


Beberapa saat Gibran hanya terdiam. Perlahan tangannya turun, pun genggamannya pada pistol mengerat seiring garis wajahnya yang mengetat.


Kakinya melangkah lebar ke ujung lorong, "MARTHAAA ...!!!"


Kemarahan membayangi wajah pria berdarah Wiranata tersebut. Tepat saat Gibran keluar dari koridor kamarnya, penampakan Martha yang tengah berdiri menunduk di depan lift menarik penuh atensinya.


Sekilas Gibran melirik pintu lift yang baru saja tertutup, lalu kembali pada Martha yang berwajah pias. Mata pria itu menghunus tajam sang kepala pelayan.


"Maafkan saya, Tuan. Nyonya berlari keluar saat saya membersihkan tumpahan sabun di kamar mandi. Maaf atas kelalaian saya," ucap Martha, berusaha tetap tenang.


Sebelumnya Maria sengaja menumpahkan sabun di kamar mandi dan meminta Martha membersihkannya guna bisa keluar dari kamar. Tapi sekarang ia menyesal. Ia tidak tahu bagaimana nasib Martha di hadapan Gibran. Pria itu seolah menjelma menjadi monster yang siap membantai kapan saja.


Maria menelan ludah. Ia menangis mengingat Martha mengorbankan dirinya demi mendorong Maria memasuki lift. Entah bagaimana kabar wanita itu sekarang. Maria benar-benar merasa bersalah. Keegoisannya telah membawa seseorang dalam situasi bahaya.


Tok, tok, tok.


Suara ketukan membuatnya terperanjat. Maria mundur dengan langkah pelan, menatap awas pintu ganda berdiameter raksasa itu.


"Nyonya, ini Martha. Boleh saya masuk?"


Nafasnya terhembus lega, "Bu Martha?" bisik Maria seraya membuka pintu.


Senyum hangat keibuan menjadi yang pertama ia lihat. Maria menelisik dari atas ke bawah wanita baya tersebut, memastikan keadaannya baik-baik saja.


Maria tak menolak saat Martha menggiringnya masuk lebih dalam dan mendudukkannya di pinggir ranjang.


"A-Anda baik-baik saja?" tanya Maria terbata. Kepalanya mendongak menatap Martha yang berdiri sekitar 1 meter darinya.


Martha tersenyum, "Tentu, Nyonya. Anda bisa memastikannya sendiri," ujarnya halus.


"T-Tapi Koko ..."


Martha menunduk, "Anda pasti sangat terkejut. Lekaslah istirahat karena malam semakin larut."


Wanita tersebut berputar ke sisi ranjang lainnya guna mengambil troli bekas Maria makan tadi. Maria memutar tubuh, menyaksikan itu dalam diam. Matanya sendu dipenuhi perasaan bersalah.


Maria sadar, apa yang ia lakukan begitu kejam. Melampiaskan kekesalan pada Martha sehingga membuat wanita itu kelelahan menghadapinya.


Berkali-kali Martha mengulang pekerjaan yang sama karena ketidakpuasan Maria.


"Saya ... minta maaf," ucap Maria.


Martha menghentikan sejenak pekerjaannya sebelum kembali membereskan piring kosong dan menatanya hingga rapi.


"Anda tidak salah. Kenapa harus meminta maaf?"


"Sa-Saya salah. Saya membuat Anda bekerja begitu lama. Anda pasti sangat lelah. Tolong maafkan saya."


Martha balas tersenyum, "Tidak ada yang lelah jika kita ikhlas dan mengerti keadaan. Saya ikhlas melayani Anda. Saya juga mengerti perasaan Anda yang sedang dalam keadaan tidak baik."


"Dan lagi, sudah menjadi tugas saya untuk memastikan bahwa Anda mendapat pelayanan terbaik di rumah ini."


"Tolong jangan sungkan, Nyonya. Jika ada yang membuat Anda tidak nyaman, Anda tidak perlu segan melaporkannya pada saya."


"Termasuk pelayan-pelayan yang sudah bersikap kurang ajar pada Anda. Anda harus berani bersuara, atau mereka akan berhadapan langsung dengan Tuan. Anda tahu sendiri apa yang akan terjadi."


Maria mematung. Ia mengerti apa yang Martha maksud. Karena keesokan harinya Maria mendapat kabar pemecatan sejumlah pelayan. Beberapa di antaranya adalah mereka yang sempat bergunjing di dapur, juga yang menyebar rumor tak baik mengenai dirinya.


Termasuk Jesi. Maria cukup terkejut. Di samping kejadian semalam, Maria masih bertanya-tanya mengenai hubungan gadis itu dengan Gibran.