
"Honey ..."
Gabriel tersenyum menyentuh lembut sepasang lengan yang baru saja melingkari lehernya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati wajah lembab Valencia yang sepertinya habis berenang.
"Gimana? Kamu sudah bertemu Gibran Wiranata?"
Gabriel mengangguk.
"Terus? Apa benar dia bertemu keluargaku saat di New York waktu itu?"
Gabriel nampak berpikir. "Aku yakin tidak. Dia hanya bertemu Mom dan ... Grandpa."
Sebetulnya ia tidak tahu harus menyebut dua orang itu seperti apa. Mereka bahkan tak pernah menganggapnya sebagai keluarga apalagi bersinggungan.
Valencia sedikit mengerucutkan bibir seraya berpikir. "Lalu apa tujuannya ke sana?"
"Apa dia lelah karena merasa terus diawasi David Willis?"
"Honey, bukankah dia sedikit bodoh? Kenapa dia harus ke New York padahal Willis belum menemukan keberadaannya dengan pasti?"
"Kamu salah. Kakakku ke sana karena memang Willis sudah tahu ia di Indonesia. Sepertinya Rayan Adibrata yang menjadi alasannya."
"Mantan calon mertuamu? Kenapa dia?"
"Mereka pasti mengincar keluarga Maria sebagai tali pancing. Dengar-dengar Rayan Adibrata baru-baru ini menjalin kerjasama dengan satu perusahaan asing."
"Lalu?" Valencia masih belum mengerti.
Gabriel mendongak, jemari panjangnya setia mengusap lengan sang kekasih. "Aku menemukan fakta perusahaan itu masih bagian dari Willis dengan mengatasnamakan orang lain. Rayan Adibrata tidak tahu."
Valencia membuka mulutnya tak percaya. "They're crazy ..."
"Maria ..." Tiba-tiba sorot Valencia menjadi sendu.
Ia teringat pertemuan mereka saat di Thailand. Itu pertama kali ia menyapa Maria secara langsung, setelah sebelumnya ia hanya tahu dari sedikit media yang kebetulan menceritakan tentangnya.
Dia baik, itu kesan pertama yang Valencia dapat. Jujur saja, ada sedikit rasa bersalah bercokol dalam dada. Apa yang akan terjadi jika wanita itu tahu semuanya? Apa ...
Cup.
"Apa yang kamu pikirkan?" bisik Gabriel bertanya. Ia baru saja mencium dagu Valencia.
Valencia sedikit terperanjat sebelum kemudian ia tersenyum, berpindah tempat ke pangkuan Gabriel. Tangannya melingkar di sekitaran leher pria itu. "Apa ... kamu masih mencintainya?"
Gabriel mengernyit.
"Maria," lanjut Valencia.
Sesaat keadaan menjadi hening. Gabriel maupun Valencia hanya saling tatap satu sama lain.
"Tawaranku masih berlaku. Jika kamu ingin kembali padanya aku bisa membantumu."
"Apa yang kamu katakan?"
Bisa dilihat raut Gabriel berubah mengeras. "Apa kamu masih saja menganggapku sebagai mainan? Di saat kamu sudah sepenuhnya berhasil memilikiku, kamu ingin membuangku, begitu?"
"Valen, aku tahu mungkin kau menganggapku pria lemah. Bahkan sampai saat ini aku belum bisa memenuhi janjiku untuk menikahimu. Tapi tolong beri aku kesempatan. Jika aku tidak bisa memintamu secara baik-baik, maka aku akan membawamu lari bersamaku, bersama anak kita. Tolong bersabarlah sedikit."
Sial. Ia malah mengikuti kalimat ejekan dari kakaknya.
Bukan seperti itu. Kamu tidak mengerti, yang aku khawatirkan justru kamu. Mereka bisa saja melukaimu jika kita masih bersama.
Valencia tersenyum mendekatkan wajah, mendaratkan bibir di atas bibir Gabriel yang seketika menyambutnya penuh kerinduan. Beberapa hari ini mereka terpisah karena Gabriel sibuk menjalankan perusahaannya di Indonesia, sekaligus bertemu Gibran yang katanya tinggal di tempat terpencil, alasan mengapa mereka sulit berkomunikasi.
"Jangan membuatku merasa bersalah karena telah merebutmu dari Maria ..." bisik Valencia di depan wajah Gabriel. Nafas mereka bersahutan selepas ciuman.
Gabriel mengeratkan pelukannya di pinggang Valencia, menariknya semakin merapat sebelum memagut kembali bibir itu dengan rakus.
"Aku yang memutuskan mengkhianatinya, bukan kamu," ucapnya di sela ciuman.
Tanpa sepengetahuan Gabriel, mata Valencia menyorot kosong langit-langit di atasnya. Ia hanya pasrah saat lelaki itu membawanya ke atas ranjang, melucuti handuk dan bikini yang sedari tadi melekat di tubuhnya.
Bukan. Aku yang menggodamu ... atas permintaan Gibran.
***
"Jongkok!"
"Berdiri!"
"Jongkok!"
"Berdiri!"
Laura meringis menatap salah satu pelayan yang sedang dihukum Maria. Hampir tiga puluh menit hukuman itu berjalan, dan belum terlihat tanda-tanda Maria akan menghentikannya.
Maria mendengus, "Memang itu tujuanku. Terlalu mudah jika mematahkannya langsung. Siapa suruh dia menggoda suamiku."
Laura menggigit bibir. Memang, sih, pelayan itu yang salah. Ia juga terkejut melihat keberanian gadis itu yang berupaya merayu tuannya. Dengan jelas Laura melihat gadis itu sengaja menjatuhkan dirinya ke pangkuan Gibran saat di ruang makan. Dia berdalih kakinya tersandung.
What the ...
Astaga, Laura bahkan hampir mengeluarkan makian yang sering Maria ucapkan.
Tak lama Gibran datang ke halaman belakang. Ia melirik sekilas pelayan yang tengah Maria hukum sebelum kemudian mendekat pada sang istri.
Pelayan itu sempat melempar tatapan memohon yang jelas Gibran abaikan.
"Sugar," panggilnya mengecup puncak kepala wanita itu.
"Apa!" sewot Maria menepis tangan Gibran dari kedua bahunya.
Gibran terkekeh kecil, "Kamu mirip Moru yang sedang merajuk."
"Maksud Koko aku mirip harimau, begitu?!"
"Hm." Gibran mengangguk.
"Kurang aj—"
"Harimau cantik yang katanya menjadi mitos di hutan ini."
Maria mengerjap. "Ada mitos seperti itu?"
Kembali Gibran mengangguk. "Kamu penasaran? Ayo, akan kuceritakan. Ini waktunya kamu tidur siang."
Mata Maria menyipit. "Tidak mau. Koko pasti membujukku karena ingin membantunya." Ia menunjuk pelayan di depannya dengan pandangan sinis.
"Apa yang kamu lakukan! Cepat lanjutkan! Jongkok! Berdiri!"
"Laura!"
"Ya, Nyonya!"
"Cambuk lagi kakinya!"
"Baik, Nyonya!"
Gibran menghela nafas melihat kelakuan istrinya. Diam-diam ia tertawa geli yang malah membuat Nick menatapnya ngeri.
Mendadak ia tak bisa membedakan mana bucin mana psikopat. Entah kenapa, Nick justru merasakan firasat buruk pada pelayan itu.
Benar saja, keresahan Nick terbukti saat malam harinya Gibran diam-diam meminta beberapa pengawal menyeret gadis itu ke jalur selatan. Ia jelas tahu mereka membawanya ke mana. Jika bukan dibuang ke hutan, ditenggelamkan di danau, kemungkinan pelayan itu akan dimasukkan ke kandang Moru.
"Nick, kau tidak perlu memberinya makan besok," cetus Gibran dengan senyum lebarnya, berbalik meninggalkan Nick yang mematung menelan gumpalan ludah.
Nick berlari menyusul Gibran. Ia terperanjat ketika bertemu ular yang tiba-tiba muncul dari semak.
Dor!
"Sampai kapan kau akan berdiri di sana?"
Kontan Nick terbirit-birit menyamakan langkahnya dengan sang tuan. "Tu-Tuan. Kenapa Anda melakukannya?"
"Apa?"
"Pelayan itu."
"Oh. Salahkan dia yang membuat istriku kesal. Denyut jantungnya meningkat. Tekanan darahnya juga naik gara-gara itu. Itu sangat membahayakan bayi kami."
Gibran memang sempat memanggil dokter tanpa sepengetahuan Maria. Wanita itu diam-diam diperiksa saat tertidur.
"Tapi ... apa Tuan tidak takut jika Nyonya mengetahuinya?"
Gibran menoleh menatap Nick. "Dia tidak akan tahu. Kecuali memang ada yang memberitahunya."
"Ada apa? Kenapa kau takut begitu?" lanjut Gibran dengan seringai tipis.
"Kau merindukan Moru? Aku bisa memasukkanmu ke sana jika kau mau."
Seketika Nick menjerit, "Tidaakkk ...!!! Saya berani bersumpah akan menjaga rahasia ini dari Nyonya! Ampuni saya, Tuan!"
Gibran tersenyum dingin. "Bagus. Kau tahu aku tidak akan segan menembak kepalamu meski kau sudah puluhan tahun bersamaku."
Nick mengangguk seperti anjing ketakutan. Gibran tidak tahu, ia lebih takut dibuang alih-alih ditembak mati. Kesetiaannya bukan main-main. Baginya Gibran adalah pahlawan yang datang di kala ia terpuruk.
Saya akan setia pada Tuan.