
Maria beringsut mundur ketika David membawa kakinya mendekat. Matanya tak lepas mengintai Maria yang kini menggeleng kisruh. Ingatan tentang siksaan yang dilakukan David padanya dulu kembali terngiang membuat Maria trauma.
"Berapa kali kubilang untuk menjauhi Gibran. Kau begitu keras kepala menempelinya. Bahkan setelah putus pun kau masih saja menjadi benalu dengan kehamilanmu!" tekan David.
"Sayang sekali kecelakaan itu tak membuatmu mati." David mendengus. Pria itu menjulurkan tongkatnya menekan perut Maria.
"Aaarggh!!!" Maria menggeleng penuh permohonan. "Jangan ... tolong jangan sakiti lagi anakku ..." Maria terisak berupaya menghalangi perutnya.
"Kau juga tidak memenuhi permintaanku untuk menjauhi Gibran. Lantas, apa aku harus peduli dengan permohonanmu?"
Maria menangis perih. "Apa yang salah dari hubungan kami hingga kau terus mengincarku seperti ini?"
"Salahmu? Salahmu karena kau begitu dicintai Gibran!"
"Cinta membuatnya lemah! Dia bisa berubah bodoh dalam sekejap hanya karena memikirkanmu. Perasaan membuatnya kehilangan logika. Aku tidak akan pernah membiarkan para penerusku terjerumus dalam buaian memuakkan itu."
Maria menatap David meminta belas kasihan. "Manusia mana pun punya perasaan. Aku yakin kau juga memilikinya walau secuil saja."
David menggeleng. "Aku tidak pernah membiarkan diriku menjadi bodoh seperti anak dan cucuku." Ia kembali menekan tongkatnya di perut Maria, membuat Maria menjerit kesakitan dan memohon ampun.
Bagas datang secara tiba-tiba, ia menahan tongkat David sambil menatap pria tua itu dengan tajam.
David tertawa. "Ada apa dengan para pria. Kenapa mereka begitu menyenangi wanita bodoh sepertinya?"
"Cukup. Anda sudah berjanji akan melepaskan Maria setelah aku berhasil memilikinya."
Keduanya saling tatap. David menatap Bagas sambil menyeringai penuh arti. "Tapi kau belum memiliki dia seutuhnya," cetusnya ambigu.
Bagas menoleh sejenak pada Maria. Wanita itu menggeleng, mengerti apa yang David maksud.
Bagas mendekat, ia berjongkok di hadapan Maria dan berusaha menyentuh kedua sisi wajah wanita itu. "Maria, kamu mau keluar dari sini, kan? Sekarang hanya aku yang bisa mengeluarkanmu dengan selamat."
Maria terus menggeleng. "Tidak. Lepaskan! Aku lebih baik mati daripada harus berbuat kotor seperti itu."
"Maria, dengar!" Bagas memaksa Maria untuk menatap matanya. "Aku janji, aku akan memastikan kamu dan bayi ini selamat jika kamu bersedia aku miliki sekarang."
Ucapan Bagas membuat Maria tercengang. Ia terengah menatap pria itu penuh emosi. "Kamu gila? Apa kamu sadar apa yang sedang kamu katakan? Aku istri orang dan aku sedang hamil sekarang!" Maria menangis lelah. "Bisa-bisanya kamu berpikiran hal seperti itu!"
Entah apa yang dipikirkan orang-orang itu. Mereka sangat kejam dan egois.
Koko, apa kita masih bisa bertemu? Jika kamu pergi, aku pun tak memiliki cukup alasan untuk bertahan.
David Willis terkekeh di tempatnya berdiri. Ia menoleh sejenak pada Jim yang kini sudah bersiaga di sampingnya.
"Sekarang pilih, terima Bagas dan kau bisa keluar dengan selamat, atau kau dan anakmu mati di sini?"
"Iblis jahanam!" desis Maria penuh kebencian.
Namun David hanya menanggapi makian tersebut dengan kekehan.
"Darahmu juga mengalir dalam raga anakku. Dia darah daging Gibran, cucumu sendiri!" Maria berteriak keras.
Pun tawa David semakin menggema memenuhi seluruh sudut ruang gelap tersebut. "Aku tidak peduli. Aku akan menciptakan sendiri penerus yang kuinginkan. Dan tentunya bukan dari rahim wanita rendahan sepertimu. Level kita berada di tingkat yang berbeda. Kamu dan Gibran sama sekali tidak setara. Gibran menguasai sebagian besar pasar saham di Amerika. Sementara kamu? Kamu hanya wanita yang lahir dari pengusaha kecil yang ranahnya hanya sampai beberapa negara. Tjandra tidak cukup istimewa jika dibandingkan dengan Willis."
"Mungkin kami memang tidak sekaya Anda, tapi kami tahu apa yang harus disyukuri dalam hidup. Rasa bersyukur itu ditentukan dari perbandingan dengan yang lain. Kami bersyukur dengan apa yang kami miliki, karen masih begitu banyak orang yang hidup serba pas-pasan atau bahkan kekurangan. Kami tidak tamak seperti Anda."
"Tahu apa kamu tentang ketamakan?" David mendengus. "Manusia itu harus tamak, dengan begitu mereka bisa mencapai semua tujuan."
Mata David beralih pada Bagas yang sesaat nampak termenung. "Tunggu apa lagi? Lakukan sekarang kalau kau tak ingin perusahaanmu gulung tikar."
Maria menggeleng. "Jangan, Bagas. Sadarlah dengan apa yang kamu lakukan!"
"Maria, hanya dengan cara ini aku bisa menyelamatkan perusahaan sekaligus memilikimu."
"Bajingan!!!" teriak Maria berusaha menghindari Bagas yang kini berupaya merengkuh bahunya. "Lepas, Brengsek! Aaahhh!!! Sakiitt!!!"
"Hhhh ... Hhhh ..." Maria terengah menyentuh perutnya yang kontraksi. Sesuatu berupa cairan kini terasa mengalir dari sela pahanya.
Maria menggeleng. Ia memukuli Bagas yang kini berusaha menindih dan menciumnya. "Bagass!!"
"Toloong ...!"
"Toloong ...!"
"Maria, diam!" Bagas yang kesal berjuang keras menahan kedua tangan Maria yang menyerangnya secara brutal.
"Jangan ... hiks."
"Aku tidak punya pilihan," ungkap Bagas.
Bagas mulai menarik kancing dress atas milik Maria. Maria kembali berteriak menghujani pria itu dengan bermacam-macam serangan. Ia bahkan meludahi Bagas hingga pria itu geram dan memukul balik Maria.
David memperhatikan tontonan itu sambil terkekeh senang. Sementara Jim, mendadak ia termangu melihat Maria yang hendak dirudapaksa oleh Bagas.
Tiba-tiba mata Jim jatuh pada sebuah linggis tak jauh dari kepala Maria. Saat itu pula dengan tanpa sengaja pandangan mereka beradu. Maria menatapnya penuh permohonan. Derai air mata yang membanjiri wajahnya terlihat begitu memilukan.
Dengan wajah datar ia melirik benda besi itu yang syukurnya langsung dipahami Maria dengan cepat.
Maria mendongak pada linggis di sampingnya. Ia menangis jijik ketika dirasakannya Bagas mulai menciumi leher dan meremas dadanya penuh nafsu. Ia tidak sudi, sampai kapan pun Maria akan terus merasa kotor setelah ini.
Dengan upaya keras Maria menjulurkan lengannya meraih besi panjang itu dan menyeretnya dengan sisa tenaga. Ini adalah perjuangan terakhirnya. Maria berharap Tuhan memberinya belas kasih sedikit saja untuk bertahan.
Buk!
Bagas menjauh, pria itu memegangi kepalanya yang baru saja terkena hantaman keras benda tajam. Benar, Maria baru saja memukulkan ujung linggis itu mengenai kepala Bagas.
"Maria ..." desis Bagas penuh emosi.
Plak!
Bagas menampar Maria keras. Maria terengah dengan kepala berkunang. Ia mengumpulkan nafas dalam-dalam sebelum kemudian menatap Bagas penuh keyakinan.
"Yaaaa!!! Buk!" Maria menendang Bagas sekuat tenaga.
Pria itu terjengkang ke belakang. Tanpa membuang waktu Maria mengangkat linggisnya tinggi-tinggi dan mengayunkannya menghantam wajah Bagas.
Hidung Bagas mengeluarkan banyak darah, pun matanya merah terkena sabetan linggis. Pria itu terengah menangkup hidungnya yang patah. "Maria ..." ucapnya terbata.
Maria yang seolah kesetanan tak memedulikan apa pun lagi. Ia terus mengayunkan linggis itu mengenai tubuh Bagas yang kini tergeletak tak mampu melawan.
Semua amarah ia keluarkan dan lampiaskan pada Bagas. Maria baru berhenti setelah Bagas tak melakukan pergerakan.
Maria membuang besi itu dengan tubuh bergetar hebat. Nafasnya tersendat menatap sosok Bagas yang berdarah-darah mengenaskan.
David Willis tertawa. "Pembunuh," cetusnya puas.
Maria mundur menutup mulutnya dengan tangan. Rautnya terlihat begitu terguncang. Apa Bagas mati?
Bagas mati.
Ia tak bergerak. Ia tak bernafas. Ya Tuhan. Tangan Maria terangkat bergetar. Ia menatap keduanya dengan ekspresi syok.
Aku membunuhnya? Aku ... aku memukulnya hingga mati? Tidak mungkin. Aku hanya berusaha melindungi diri. Benar.
Maria mengangguk-angguk meyakinkan. Namun David terus memprovokasi Maria bahwa ia adalah pembunuh.
"Kamu pembunuh. Banyak pria yang terluka karenamu. Gibran yang sekarat, Gabriel yang terluka juga karena dia melindungimu. Lalu, lihatlah Bagas sekarang. Dia tewas di tanganmu sendiri. Hahaha ..."
"Tidak ... Aku bukan pembunuh," sangkal Maria menggeleng. "Aku bukan pembunuh. Bukan. Aku hanya melindungi diri. Iya, a-aku ... aku tidak membunuhnya. Bagas yang memaksaku melakukannya." Maria tak berhenti meracau sambil terus menatapi tangannya yang bergetar.
"Aku bukan pembunuh ... hiks ... Aku tidak sengaja ... hiks."
Tangis Maria pecah seiring tubuhnya ambruk di lantai. Maria menggeleng menjambaki rambutnya, berusaha menyangkal kenyataan bahwa Bagas memang tewas di tangannya.
Di tengah kegundahan itu, seorang pria berjalan terseok memasuki lorong. Tubuhnya yang biasa tegap kini terlihat rapuh dengan nafas terdengar lelah.
Ia tiba di sepenghujung ruang, keremangan masih mampu mengambil atensinya. Matanya mengedar sebentar dan berhenti tepat pada satu sosok wanita yang kini tampak menangis syok sambil meracau.
"Maria ..." panggilnya lirih.
Sesaat Maria bergeming. Ia melepas jambakan rambutnya lalu mendongak perlahan. Keduanya terpaku saling memandang. Maria, air matanya kembali menderas dengan ritme jantung yang meningkat.
Punggungnya menegak, "Koko ..."
Gibran tersenyum kecil. Wajahnya nampak sayu dan pucat. Ia mengangguk, kembali melangkah pelan menuju Maria. Sebelah tangannya berpegang pada dinding. Maria turut bangkit perlahan mengabaikan perut serta kepalanya yang berdentam. Susah payah ia berdiri dengan tubuh berlumuran darah.
Kedua pasangan itu menatap saling rindu. "Koko ... itu benar kau?"
Sekali lagi Gibran mengangguk sambil tersenyum.
Mereka tak menyadari raut David yang berdesis kesal. Pria tua itu merebut pistol di tangan Jim lalu mengarahkannya pada Maria.
Gibran yang pertama kali menyadari itu kontan menghentikan langkah. Ia menatap bergantian pistol dan sang istri yang tengah menghampirinya dengan senyum merekah.
Gibran menegang. Seolah waktu melambat ia berusaha berlari ketika David mulai menarik pelatuknya.
"Nooo!!!"
Dor!
Hening.
Sunyi mencekam selepas suara tembakan itu menggema diiringi suara tubuh yang ambruk menghantam lantai.