His Purpose

His Purpose
148. Falseness



"Sayang!"


"Maria, wait!"


"Plum, please listen to me! Dengarkan dulu penjelasanku!"


Gibran berusaha menggapai Maria yang berjalan cepat keluar restoran. Ia berhenti saat wanita itu berbalik menatapnya sengit. Sorot kecewa terpancar jelas dari sana.


"Apa? Koko mau bilang bahwa selama ini pernikahan kita bukan sebuah kebetulan? Ini kesengajaan? Koko sengaja membuat El pergi lalu berlagak seperti pahlawan dengan menggantikannya sebagai mempelai pria, begitu?"


"Plum—"


"Aku tidak menyangka Koko bisa sejahat ini. Manipulatif. Dan dengan bodohnya aku menempatkan Koko sebagai korban karena terpaksa harus menikahiku."


"Aku sempat merasa bersalah karena tahu Koko punya tunangan."


"Sayang, please ..." Gibran memohon agar Maria berhenti.


Tapi Maria sudah terlanjur diliputi emosi.


"Ternyata ... ternyata semua ini sudah direncanakan. Kalian bersekongkol di belakangku?" Maria melirik tajam pada Gabriel yang baru saja menyusul.


Kekecewaan menggunung di hati Maria. Perannya sudah layak seperti barang yang dilempar ke sana kemari. Dengan mudahnya ia dipermainkan dua bersaudara itu dan dibuai secara bergilir.


Dulu ia larut dalam kelembutan Gabriel. Dan sekarang, baru-baru ini Maria juga jatuh dalam pesona Gibran.


Sebenarnya apa yang sedang Tuhan lakukan padanya?


"Maria—" Gabriel kehilangan kata, bahkan untuk sekedar minta maaf pun tak bisa.


Maria menggeleng lirih. Tangannya bergetar lantaran jantungnya berdetak cepat. Ia menangis tanpa suara menatap Gibran yang juga memandangnya penuh penyesalan.


"Sayang ..."


Maria menarik nafasnya dalam-dalam. Sesak rasanya dibodohi sampai selama ini. Apa Maria yang terlalu naif di sini?


"Kalian mempermainkanku," bisiknya dengan suara tercekat.


Maria mundur saat Gibran bergerak hendak mendekat. "Plum, kumohon dengarkan aku—"


"Cukup!" seru Maria keras.


Hal tersebut berhasil menarik perhatian beberapa orang. Seorang petugas pun mendekat. "Mohon maaf Mas, Mbak, tolong jangan membuat keributan di sini," ucapnya sopan.


Maria mengusap air matanya seraya membuang muka. Bagaimana pun Maria sedang hamil, ia harus tetap tenang kendati hatinya meluap-luap dipenuhi ketegangan.


Matanya melirik tajam Gibran dan Gabriel secara bergantian. Tanpa kata ia berbalik berniat memasuki lift, namun Gibran yang menyadari itu dengan cepat menahan. "Sayang tunggu. Kita harus bicara."


Maria menepis sentuhan Gibran di tangannya. Ia kembali menoleh dan menatap lelaki itu tajam. "Sebelum bicara renungi dulu kesalahan Koko apa. Karena yang kutahu Koko tak pernah merasa bersalah pada siapa pun."


Gibran terhenyak, ia mematung hingga pegangannya melemas dan membiarkan Maria hilang ditelan pintu lift.


Karena yang kutahu Koko tak pernah merasa bersalah pada siapa pun.


Kalimat itu terus menggema dalam kepala Gibran. Gabriel mendekat perlahan dan berusaha menyentuh pundak sang kakak. "Kak."


Gibran menepis sentuhan tersebut lalu menoleh tajam. Matanya diliputi kemarahan sebelum kemudian ia berlalu meninggalkan Gabriel yang turut bergeming dengan perasaan kacau.


Maria berjalan cepat keluar dari lift. Nick yang kebetulan berpapasan dengannya berkerut heran melihat wajah sang nyonya bersimbah air mata.


Dengan cepat Nick mendekat dan bertanya khawatir. "Nyonya, kenapa Anda turun lagi? Tuan mana?"


Maria tak menjawab. Ia menghiraukan Nick dan berlalu begitu saja melewatinya. Maria langsung memasuki mobil yang sebelumnya mengantar ia kemari, lalu menyuruh sang sopir untuk kembali pulang ke kediaman.


Sementara Gibran yang baru tiba di basement dari pintu lain tampak berlari kesetanan menghampiri Nick. Nafasnya terengah, keringat mengembun di seluruh tubuh, jakunnya naik turun ketika bertanya. "Maria mana?"


Nick masih kebingungan mengenai apa yang terjadi. Meski begitu ia tetap menjawab. "Tadi Beliau pergi dengan supir. Mungkin pulang," ucapnya tak yakin.


"S**t!" Gibran memaki sambil meninju udara.


"Ada apa, Tuan?"


Gibran tak menjawab. Ia meminta kunci mobil yang segera Nick berikan. Selanjutnya pria itu berlari memasuki kemudi.


Sontak Nick mendekat cepat. "Tuan? Tuan, Anda mau pulang? Biar saya yang menyetir!" serunya sambil menggedor kaca jendela.


Namun Gibran tak menghiraukan. Deruman keras mobil tersebut seolah mengekspresikan kemarahan yang menyelimuti wajah Gibran. Mobil tersebut melaju kencang meninggalkan parkiran serta Nick yang dilanda kebingungan.


Ia celingukan sendiri. Apa yang sebenarnya telah terjadi?


***


"Maria!" Gibran berlari cepat setelah keluar dari mobil.


Dengan kemampuan menyetir layaknya seorang pembalap, Gibran mampu mengejar Alphard putih yang ditumpangi Maria.


Mereka tiba di kediaman Tjandra hampir bersamaan. Gibran mengejar Maria yang memasuki rumah. "Plum, tunggu. Biarkan aku bicara!"


Maria menarik tangannya yang baru saja diraih Gibran. Tanpa kata ia terus berjalan hingga mereka berpapasan dengan Rayan yang turun dari lantai dua karena mendengar keributan.


"Ada apa ini? Maria, kamu kenapa, Nak?"


Maria tak menjawab, ia pergi menaiki tangga yang mana hal tersebut membuat Gibran khawatir bukan main. Bagaimana pun Maria sedang hamil. Sejak tadi ia berjalan secepat itu, terlebih tangannya masih kerap sakit jika terkena goncangan.


"Sayang, pelan-pelan." Gibran berusaha mengingatkan.


Sesampainya di atas ia hanya diberi bantingan pintu. Gibran mematung di luar kamar. Terdengar suara kunci yang ditekan dua kali. Sebegitu tak ingin Maria mendengar penjelasannya.


Gibran menghela nafas panjang, tubuhnya bersandar pada pintu tersebut. Ia menengadah menatap langit-langit di atas. Belum ada 24 jam mereka bercumbu mesra, sekarang masalah datang menimbulkan kekacauan.


Hati Gibran terasa pilu mendengar isak tangis yang terdengar samar di dalam kamar. Ia menunduk mengamati sepatunya yang mengkilap.


Gibran diam saja saat mendapati sepasang kaki terbalut sandal rumah berhenti tepat di depannya. Rayan Adibrata menyusul. Pria itu berdiri dengan kedua tangan terselip di saku. Matanya menatap Gibran dengan sorot datar.


"Beri dia waktu. Keheningan adalah cara Maria menenangkan diri. Bicaralah jika pikirannya sudah lumayan tenang."


Hening. Gibran bahkan tak mendongak sekalipun Rayan mengajaknya bicara. Pria muda itu terlihat pasrah, membuat Rayan yang semula senang mengejeknya kini turut diam dengan tatapan rumit.


"Dia bertemu Gabriel," ungkap Gibran tiba-tiba.


Rayan nampak tak terkejut. Ia justru mengangguk seakan sudah hal ini akan terjadi.


"Aku sudah menduga hal ini sejak melihatnya di bandara kemarin," ucapnya santai.


Perlahan Gibran mendongak. "Kau tahu?"


Rayan mengendik. "Kubilang aku hanya tidak sengaja bertemu. Ternyata memang benar dia berniat menemui salah satu dari kalian."


"Dia menemuiku."


Rayan menatap Gibran. "Apa pun masalah di antara kalian, selesaikan secepatnya. Mau itu masa lalu atau masa sekarang, kebohongan adalah salah satu kerikil besar dalam sebuah hubungan."


"Mungkin kau adalah orang berkuasa dan bisa menaklukkan dunia, tapi sebesar apa pun kekuasaan seseorang, tidak ada yang bisa sempurna menyembunyikan kebohongan."


"Terlebih ada benang merah yang mengikat kalian sejak dulu. Kisahmu dan Maria bukan dimulai dari saat ini. Kapan kau akan membiarkan Maria mengetahui fakta itu?"