His Purpose

His Purpose
34. Valencia's Boyfriend



"Eh, sebentar. Ponselku mana, ya?" Maria mengobrak-abrik isi tasnya.


Gibran yang berdiri di samping Maria menoleh dengan kening berkerut samar. Saat ini mereka tengah berada di lift untuk kembali ke kamar.


Mulut Maria terbuka lebar. Matanya membelalak saat mengingat sesuatu. Pelan-pelan kepalanya berpaling pada Gibran, menjawab keheranan lelaki itu. "Gawat. Koko, sepertinya ponselku ketinggalan di meja!" serunya setengah menjerit.


"Bagaimana ini?"


Tepat setelah itu pintu lift terbuka, artinya Maria dan Gibran sudah sampai di lantai tempat keduanya menginap. Maria mendorong Gibran keluar lift, mengabaikan tatapan tajam yang pria itu lemparkan padanya.


"Koko duluan. Aku ambil ponsel dulu di atas."


Gibran menahan lengan Maria yang hendak kembali memasuki lift. "Biar Nick saja."


Namun wanita itu menggeleng, ia tahu Nick baru bisa bersantai setelah seharian mendapat tugas dari Gibran. "Tidak apa-apa. Aku bisa ambil sendiri."


"Lekaslah ke kamar," lanjut Maria seraya menekan tombol lift. Ia masuk saat pintu besi itu terbuka. Meninggalkan Gibran yang menatap datar benda yang menelan Maria tersebut.


Lelaki itu menghela nafas. Ia berbalik memutuskan kembali ke kamar sesuai anjuran Maria. Namun, saat kakinya berbelok di ujung koridor, sebuah suara membuatnya berhenti.


"Gibran ... Wiranata?"


"Kaukah itu?"


Raut Gibran berubah dingin. Suara langkah kaki mendekat. Seorang pria melongok mengamati wajahnya ketika mereka berhadapan. "Benar. Kau Gibran Wiranata."


"Wah, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini."


"Apa yang kau lakukan? Kukira kau akan bertunangan? Apa kau melarikan diri dari New York?"


Gibran tak menjawab. Mulutnya setia bungkam tanpa sedetik pun melirik lelaki itu.


Sementara di lantai atas, Maria celingukan di dalam restoran. Ia tengah mengingat letak meja yang sempat didudukinya bersama Gibran.


Ketemu. Namun ternyata meja itu sudah ditempati pasangan lain. Tampak seorang wanita tengah kebingungan membolak-balik ponsel Maria di tangannya. Maria segera mendekat menghampiri pasangan tersebut.


"Maaf mengganggu. Itu ... ponselku," ucap Maria disertai ringisan.


Wanita tersebut menoleh. "Oh, ini milikmu?"


"Benar," angguk Maria.


"Terima kasih," ucapnya ketika wanita itu menyerahkan ponselnya.


"Sama-sama."


Maria bergegas pergi dari sana. Akan tetapi matanya menangkap sesosok yang sepertinya ia kenal. Cukup lama Maria diam mengamati orang tersebut. Hingga akhirnya dia putuskan untuk mendekat guna memastikan.


"Valen ... cia?" Ragu-ragu Maria menyebutkan sebuah nama yang baru-baru ini ia ketahui.


Valencia mendongak. Wanita itu nampak terperangah mendapati Maria. "Astaga. Maria?"


Maria tersenyum. Rupanya ia benar. Bukannya apa, terkadang Maria lupa akan nama seseorang yang baru ditemuinya.


"Iya. Kamu dinner di sini?"


Valencia mengangguk, mengulum senyum malu. "Benar. Kamu juga? Suamimu mana?"


"Ah, dia sudah lebih dulu kembali. Aku kemari karena ponselku tertinggal." Maria melambaikan benda pipih di tangannya.


Valencia mengangguk mengerti, "Rupanya kau cukup ceroboh," ucapnya jenaka, yang dibalas kekehan oleh Maria.


"Sama seperti pacarku. Bisa-bisanya dia meninggalkan benda sepenting dompet di mobilnya," lanjut Valencia setengah menggerutu.


Maria menatap Valencia lama. Entah kenapa dia begitu penasaran dengan sosok kekasih dari wanita tersebut. Sayang sekali, sepertinya ia belum bisa bertemu langsung sekarang.


Maria melihat jam di ponsel. Sudah pukul 10 malam. Ia pun berpamitan pada Valencia. "Maaf, tapi aku harus segera kembali. Senang bertemu denganmu, Valencia."


"Just Valen. Cukup panggil aku Valen saja." Valencia tersenyum. "Ngomong-ngomong, kenapa harus buru-buru? Tidak mau duduk dulu? Setidaknya sampai pacarku datang dan aku memperkenalkanmu padanya."


"Kamu telpon saja dia. Katakan, mungkin kamu akan sedikit terlambat kembali ke kamar."


Maria mendengus dalam hati. Telpon apanya. Dia saja tidak punya nomor Gibran. Sepanjang ia hidup bersama pria itu, Maria baru sadar mereka belum pernah sekali pun bertukar nomor ponsel.


"Masalahnya, ponsel suamiku tadi mati. Jadi percuma kutelpon sekarang."


Bravo, Maria! Kamu sangat pintar beralasan.


"Ah, begitu. Ya sudah, kapan-kapan aku akan mengenalkanmu pada pacarku. Aku senang kita bertemu lagi di sini," balas Valencia disertai senyum cantik yang menawan.


Maria balas tersenyum dan mengangguk. Ia pun lekas pergi dari sana, meninggalkan Valencia yang setia menatap punggungnya lama.


Di samping itu, Gibran mati-matian menahan perasaan muak terhadap pria di hadapannya.


"Di mana kau tinggal sekarang? Thailand? Vietnam? Filipina?" tanya pria tersebut.


"Malaysia? Atau ... Ah, benar, Indonesia! Ayahmu berasal dari sana, bukan?"


Raut Gibran masih tanpa ekspresi. "Apa itu penting bagimu?" balasnya, dingin.


"Tentu. Ibumu terus merecoki hidupku karena putra kesayangannya melarikan diri. Kau juga pintar bersembunyi. Buktinya, tak ada satu pun orang suruhannya yang bisa melacakmu. Padahal aku yakin kau berkeliaran di muka bumi dengan berbagai pertemuan bisnis. Lihatlah, kau masih tetap sama. Tidak miskin sama sekali. Auramu tetap mahal tercium."


Gibran mendengus. Ia melengos, berniat melewati Evan yang sepertinya enggan berhenti bicara.


"Hey, brother. Kau mau pergi ke mana, hah? Katakan dulu kau tinggal di mana sekarang?"


"Minggir."


"Tidak sebelum kau memberitahu tempat tinggalmu."


"Minggir kubilang."


Evan yang merasakan aura dingin Gibran sedikit menggigil. Namun ia tak menyerah dan tetap mencengkram bahu pria itu.


"Please ... katakan di mana kamu tinggal saat ini. Setidaknya ada sesuatu yang bisa kukatakan pada ibumu saat kembali nanti." Evan memelas.


Hening cukup lama. Hingga Gibran membeberkan sesuatu yang mengejutkan bagi Evan. "I'm married. That's all you need to know."


Evan berkedip. Tubuhnya mematung seolah linglung. "Kau bercanda?" gumamnya entah pada siapa.


Diam-diam Gibran memanfaatkan kondisi Evan yang tengah melamun. Ia pun lekas segera menyingkir dari sana.


"Hey!" seru Evan begitu menyadari ketiadaan Gibran.


Pria bule itu celingukan menyisir kekosongan koridor. Baru ia hendak mengetuk sembarang pintu guna mencari keberadaan Gibran yang ia yakini bersembunyi di salah satu kamar. Hingga tak lama Gibran muncul kembali dari salah satu unit.


"Astaga, aku terkejut."


"Mau ke mana?" tanyanya terheran-heran.


Namun Gibran tak menghiraukan. Pria itu tunggang langgang berlari memasuki lift. Lagi-lagi Evan ditinggalkan. Saat ia hendak mengejar, pintu lift sudah terlanjur menutup.


"Menyebalkan."


Sementara Gibran, ia tengah berdecak tak sabar. Setelah mendapat pesan dari Nick beberapa detik lalu, ia lekas memutuskan pergi ke lantai atas untuk memastikan.


Pintu lift terbuka. Saat itulah matanya bertemu pandang dengan Maria yang ternyata hendak kembali ke kamar.


Sesaat mereka terdiam. Hingga Maria membuka suara dan bertanya dengan raut heran. "Koko? Kenapa di sini? Bukannya tadi—"


Ucapannya terpotong kala Gibran tiba-tiba saja menariknya masuk, memutar tubuhnya hingga bersandar di dinding lift. Belum cukup sampai di sana, Maria dibuat mematung dengan tindakan Gibran selanjutnya. Lelaki itu menempelkan bibirnya di atas bibir Maria. Membuat Maria kesulitan menahan hatinya yang seketika bergemuruh hebat.


Gibran menciumnya. Lagi.


Bertepatan dengan itu, pintu lift di seberang mereka terbuka, menampilkan sosok pria yang Valencia maksud sebagai kekasihnya.