
"Aaarrgghhh ..." Maria berteriak keras sembari menggigit bantal.
Kakinya menendang-nendang udara di atas. Tak peduli gaun tidurnya menyingkap hingga memperlihatkan paha putihnya yang mulus.
Ia kesal. Maria benci dirinya yang terlalu lemah dan selalu kalah oleh pengaruh Gibran. Pria itu memang paling tahu cara mengusirnya dengan tepat.
Maria terengah, tubuhnya terlentang di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar sambil menerawang. Cuplikan kejadian tadi membuatnya malu setengah mati. Maria ingin mengubur wajahnya saat ini juga. Namun sayang, ia hanya bisa membenamkannya sedalam mungkin di balik bantal seraya meluapkan kesal.
"Tapi aku merasa kita belum menjadi suami istri sepenuhnya," bisik Gibran saat itu.
"A-Apa?"
Gibran tak menjawab. Mereka saling menatap dalam diam. Hingga kemudian pria itu menjauh dan berkata, "Pergilah. Sebelum aku mengira kamu ingin melecehkanku dengan tatapan laparmu itu."
"Aarrgghh ... Gibran sialan! Beraninya dia berkata seperti itu dan membuatku malu. Memangnya siapa yang ingin melecehkannya? Dasar pria tak punya perasaan! Eeughh ..." Maria memukul-mukul bantal seolah itu adalah Gibran.
"Kenapa juga aku harus mengikutinya tadi?"
"Harusnya aku tetap di perpustakaan atau kembali ke kamar saja."
Maria merengut. Ia memeluk bantal yang tadi dipukulinya di atas perut. Rasa kantuk yang sempat menyerangnya kini lenyap entah ke mana.
Maria mengubah posisi tidurnya menjadi miring. Ia menatap lampu tidur yang berpendar di atas nakas. Matanya berkedip dengan bibir yang sedikit melengkung ke bawah.
"Sampai kapan aku harus menjalani hidup seperti ini? Kira-kira, berapa lama pernikahan ini akan berjalan? Sepertinya aku harus bicara dengan Koko."
"Haish ... pria itu sulit diajak kerja sama. Bikin kesal saja."
Maria kembali melentangkan tubuhnya menatap langit-langit. Banyak hal yang Maria pikirkan sampai ia tidak ingat kapan ia tertidur.
Pagi harinya, ia dibuat keheranan oleh Laura dan beberapa pelayan lain yang sudah hilir mudik di kamar begitu ia bangun. Mereka menyuruhnya lekas mandi dan bersiap.
Dengan kening berkerut Maria menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Para pelayan itu tengah mendandani dan menata rambutnya.
"Ada apa dengan kalian? Bukankah sebelumnya sudah kubilang bisa dandan sendiri?"
Laura segera menyela, "Hari ini beda, Nyonya. Biarkan kami yang mengurus Nyonya. Atau kami akan dimarahi Tuan nanti."
"Apa? Jadi Koko meminta kalian melakukan ini?" Maria sedikit menyolot. Apa pria itu berpikir dirinya wanita kampungan yang tidak bisa berdandan? Sialan.
Maria masih kesal dengan kejadian semalam. Ia merasa harga dirinya telah diinjak-injak oleh Gibran.
"Nyonya, jangan marah dulu. Hari ini kita akan kedatangan tamu terhormat dari Jepang. Bagaimana pun caranya Nyonya harus menampilkan yang terbaik sebagai istri Tuan."
"Tamu dari Jepang? Siapa?" tanya Maria penasaran. Sebagai nyonya rumah, kenapa ia baru tahu sekarang?
"Tuan Shimamura, Nyonya."
Sesuai apa yang dikatakan Laura, sekitar pukul 9 pagi beberapa mobil mewah memasuki kawasan mansion. Maria berdiri di barisan terdepan bersama Gibran. Di belakangnya, para pelayan dan beberapa orang kepercayaan Gibran termasuk Nick ikut menyambut kedatangan tamu terhormat itu.
Seorang pria paruh baya dengan kepala plontos keluar begitu salah satu pengawalnya membuka pintu mobil. Ketukan tongkat dan sepatu menggema di atas aspal saat kakinya memijak permukaan.
Maria menelan ludah. Tak pelak ia merasa gugup dan sedikit bingung. Ia sedikit bersyukur kemampuan Bahasa Inggrisnya cukup baik. Diam-diam Maria menghela nafas, ia melirik Gibran di sampingnya. Sang suami nampak tenang dan sempurna.
"Ohayou gozaimasu. Mr and Mrs Wiranata, nice to meet you." Pria itu membungkuk 30 derajat begitu sampai di hadapan mereka.
Maria kontan melakukan hal yang sama ketika melihat Gibran juga melakukannya.
"Ohayou gozaimasu. Nice to meet you too, Mr. Shimamura. Selamat datang di kediaman kami." Gibran membalas sopan.
Sementara Maria, ia hanya bisa diam dan tersenyum. Ia bingung dan takut melakukan kesalahan. Bisa-bisa ia diomeli Gibran kalau-kalau berbuat ceroboh tanpa berpikir lebih dulu.
"Perkenalkan. Ini istri saya, Maria Pradita Tjandra."
Tuan Shimamura melempar senyum ramah pada Maria. Ia kembali membungkuk sebagai tanda sapaan. Pun Maria melakukan hal yang sama sambil mengatakan, "Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda."
"Saya lebih merasa terhormat bisa mengenal Anda, Nyonya Wiranata."
Setelah beberapa sapaan basa-basi, Gibran pun mengajak Mr. Shimamura memasuki kediaman. Kedua pria beda generasi itu tampak saling mengobrol satu sama lain. Maria yang berjalan di samping Gibran sebisa mungkin melebarkan telinganya untuk menjadi pendengar yang baik. Meski ia harus menahan kesal karena sebagian besar yang dibicarakan tak ia pahami.
Maria juga baru tahu ternyata Gibran menguasai Bahasa Jepang. Bahkan sangat fasih.
"Bagaimana perjalanan Anda, Tuan Shimamura? Apakah berjalan baik?" Gibran bertanya. Kali ini dalam Bahasa Inggris.
"Sangat baik. Saya sangat berterimakasih atas akomodasi yang Anda sediakan. Berkat itu saya mendapat perjalanan yang luar biasa nyaman dan berkesan."
Gibran mengangguk, tersenyum tipis. Meski wajahnya masih saja cenderung tanpa ekspresi, namun gesturnya menunjukkan keramahan juga sopan santun yang sempurna.
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf karena tidak menghadiri acara pernikahan Anda dan juga istri. Sebetulnya saya cukup terkejut mendengar Anda telah menikah." Mereka berhenti di taman bagian selatan mansion.
Marta sebagai kepala pelayan setia mengikuti bersama beberapa pelayan lainnya. Mereka gegas menarik kursi untuk Maria, Gibran, dan juga Tuan Shimamura. Ketiganya duduk dalam meja melingkar.
Tanpa alasan tiba-tiba jantung Maria berdetak sedikit cepat tatkala Gibran membantunya menduduki kursi. Perhatian pria itu seketika mengundang senyum Tuan Shimamura yang mungkin saja menganggap hal tersebut adalah bentuk keromantisan seorang pasangan.
Dalam hati Maria mencela. Dasar si Tukang Pencari Perhatian. Maria tahu betul Gibran sedang melakukan pencitraan.
Sementara Nick dan satu orang yang Maria duga sebagai tangan kanan Tuan Shimamura berdiri di belakang masing-masing tuannya.
"Ternyata kalian begitu romantis. Berbeda jauh dari rumor yang saya dengar di luar sana," ucap Tuan Shimamura melempar senyum.
Maria tersenyum gugup. Ia penasaran rumor apa yang dimaksud. Sejauh ia menonton berita di televisi dan juga jejaring sosial, tak ada satu pun ia temukan pemberitaan yang membahas pernikahannya. Tapi itu membuatnya bersyukur. Keluarga Gibran maupun dirinya juga cukup berpengaruh dan mampu menghalau berita.
Sementara Gibran dan Tuan Shimamura membicarakan pekerjaan, Maria mati-matian menahan bosan di tengah upayanya menjalani peran sebagai istri yang sempurna. Menemani suami dengan sabar dan sesekali saling menuang teh.
Hingga beberapa saat kemudian Maria bersyukur Gibran berdiri dan mengajak Tuan Shimamura berjalan-jalan di sekitar mansionnya.
Pinggang Maria begitu pegal duduk tegak hampir satu jam atau mungkin lebih. Sebagai informasi, Laura sempat memasangkan korset agar ia bisa bersikap sempurna dengan baik. Tapi alih-alih nyaman ia justru merasa tersiksa.
Perutnya terasa mual, besar kemungkinan asam lambungnya naik sekarang.
Tiba-tiba Maria terkesiap merasakan sentuhan di punggungnya. Mereka tengah berjalan di koridor bersama Tuan Shimamura yang nampak begitu serius meneliti pemandangan Mansion Gibran.
Maria mendongak pada sang suami. Tangan Gibran perlahan turun ke pinggangnya, mengusap di sana. Jantungnya lagi-lagi bergemuruh saat pria itu berbisik di telinga. "Masuklah lebih dulu. Minta Laura melepas benda sialan itu. Kamu terlihat tidak nyaman."
Gibran mengatakan itu dengan datar. Akan tetapi, lagi-lagi hatinya bereaksi berlebihan dengan perhatian kecil itu.