
Pertanyaan Rayan sungguh mengujinya. Gibran tahu itu. Rayan jelas sama seperti Gibran yang mengkhawatirkan ingatan Maria. Kondisi Maria benar-benar membuat dilema.
Di satu sisi Gibran ingin Maria sembuh dari amnesianya, tapi di sisi lain ia takut sesuatu yang gawat menimpa Maria jika itu terjadi.
Mimisan yang dialami Maria beberapa waktu lalu membuat Gibran selalu diliputi perasaan resah. Maria bisa saja mengingat kejadian di masa lalu dengan melihat suatu hal-hal yang familiar.
Maria mungkin tak menyadari, tapi ia selalu bermimpi sejak mereka menikah. Bisa Gibran simpulkan sebenarnya Maria merasa tak asing dengan kehadirannya.
Helaan nafas keluar dari mulut Gibran tatkala kepalanya menunduk dalam. Ia masih setia di depan kamar Maria, Rayan bahkan sudah pergi sejak satu jam yang lalu.
Gibran duduk menyandar di depan pintu, tangannya bertumpu di kedua lutut. Sementara matanya terpejam, entah memang lelah atau sedang berpikir.
Senggukan kecil masih kerap terdengar dari dalam. Apa Maria sudah berhenti menangis?
Gibran menoleh menatap pintu di belakangnya. Pelan, ia menempatkan tangan di sana seraya menempelkan sisi kepala, berharap telinganya mendapat akses lebih mendengar suara Maria.
"Sayang?" panggilnya halus.
Tak ada jawaban. Jelas Maria tak akan menyahut. Dia sedang marah.
"Sayang, kamu dengar, kan?"
"Aku tahu kamu mendengarku," lanjut Gibran. "Mungkin maaf saja tak cukup menghapus kecewamu. Benar, pernikahan kita memang disengaja. Aku yang merencanakannya."
Hening. Tak ada pergerakan apa pun dari Maria. Apa dia tidur?
"Aku yang membuat Gabriel pergi meninggalkanmu. Aku juga yang sudah membuat guncangan kecil di perusahaan papamu. Semua itu kulakukan agar kamu tak memiliki pilihan selain menikah denganku."
"Maafkan aku."
"Kamu boleh marah padaku, tapi kumohon jangan membenciku."
"Aku menikahimu karena murni menginginkanmu. Tidak ada maksud tertentu apa pun. Tolong percayalah."
"Dan mengenai hubunganku dengan Valencia, kami sudah memutuskannya sejak lama. Aku dan dia sama-sama tidak memiliki kecocokan. Dia memiliki pria pilihannya begitu pun denganku."
"Aku menikahimu karena aku memilihmu. Maaf jika tindakanku terlalu kasar hingga menyakitimu di awal pernikahan kita. Mungkin aku terkesan merebutmu dari Gabriel. Aku akui itu salah, dan aku tidak akan mengelak dari fakta itu."
"Satu hal yang perlu kamu tahu, semua kegilaan itu kulakukan atas dasar keinginan kuat untuk memilikimu."
"Aku egois? Benar. Aku jahat itu juga benar. Kamu boleh menyebutku sebagai apa pun. Faktanya aku memang gila karenamu."
"Mungkin kamu tidak mengingat pertemuan kita setahun yang lalu. Bali, aku melihatmu di sana."
"Kamu terlihat cantik di bawah langit senja. Siluetmu indah hingga aku tidak bisa barang sedetik pun mengalihkan pandangan."
"Sejak saat itu kamu membuatku tergila-gila ingin memilikimu. Aku bahkan tidak peduli kamu memiliki kekasih sekalipun itu adikku."
"Kamu membuatku jatuh cinta." Lagi.
Gibran tak berbohong soal pertemuan tersebut. Ia memang sengaja mengikuti Maria ke Bali lantaran wanita itu tengah berlibur bersama Gabriel.
"Aku minta maaf, Plum. I really apologize to you. Please ... please, let me enter, Honey. Aku ingin melihatmu."
"Kamu belum makan, Sayang. Ayo, keluar dulu. Aku janji tidak akan bicara lagi. Jika kamu tidak mau melihatku, aku bersedia menyingkir sejenak demi kenyamananmu. Kamu harus makan, Sayang. Demi anak kita."
Masih tak ada jawaban. Maria bahkan tak mau membuka kunci meski Gibran sudah sedikit menjauh dari kamarnya. Setengah jam Gibran memantau pintu kamar Maria. Apa wanita itu memang sudah tidur?
Gibran menghela nafas, ia turun sebentar mencari pelayan.
"Maaf, apa ada kunci cadangan kamar di atas?" tanya Gibran pada satu pelayan yang kebetulan melintas.
"Kamar siapa, Tuan?"
"Maria."
Gibran membuang nafasnya kasar. Ia memberi isyarat untuk pelayan itu pergi sementara dirinya kembali naik ke atas.
Gibran memutar otak, mencari cara agar ia bisa masuk ke kamar Maria tanpa merusak pintu, yang ada Maria semakin marah padanya.
Sesaat kakinya melangkah ke tepi jendela. Balkon kamar Maria cukup dekat. Akhirnya dengan kenekatan yang sudah biasa Gibran membuka jas dan menggulung lengan kemejanya hingga siku.
Gibran membuka birai tersebut dan mulai memanjatinya. Sejenak ia melongok ke samping membuat perhitungan. Dan setelah yakin, Gibran berpegangan kuat pada salah satu daun jendela hingga membuatnya berayun.
Saat itulah Gibran meraih railing pembatas balkon dan meloncatinya dengan cepat. Gibran berjongkok dengan satu lutut menyentuh lantai. Ia melirik jendela kamar Maria yang tertutup rapat, lampunya pun gelap.
Maria tidak suka gelap. Apa yang dia lakukan dengan pencahayaan minim seperti itu?
Tok tok tok.
"Plum, ini aku. Buka pintunya, Sayang."
Masih tak ada sahutan. Apa Gibran memang harus mendobraknya? Padahal ia sudah bersusah payah tak ingin merusak apa pun.
Sekali lagi Gibran mengetuk untuk memastikan. "Plum?"
Tok tok tok.
Tetap hening. Lagi-lagi Gibran menghela nafas panjang. "Aku tahu kamu marah, tapi jangan lewatkan makan. Sebentar saja, keluar dulu, Sayang."
Gibran mundur dan tanpa sengaja tangannya tergelincir saat meraih pegangan balkon. Alhasil ...
Brak! Bruk!
Suara benda jatuh berhasil membuat kebisingan di tengah sepinya malam. Dan saat itulah pintu balkon terbuka secara kasar hingga menimbulkan bunyi keras dari benturan kaca.
Maria terengah di sana. Sorotnya memancar khawatir menatap Gibran yang saat ini tengah bergeming di tepian selasar.
Mata keduanya bertemu tanpa bisa dicegah. Maria memindai dari atas ke bawah keseluruhan tubuh Gibran.
Pria itu baik-baik saja.
"Plum?" bisik Gibran sedikit terbata.
Ia membenarkan posisinya yang semula membungkuk berpegang erat pada pagar penyangga. Gibran menegakkan tubuh. Ini memalukan, pasti Maria melihatnya sangat konyol tadi.
Gibran tak sengaja menyenggol pot bunga ketika tangannya refleks mencari pegangan saat hampir jatuh.
"Ah ... itu, potnya pecah. Maaf," kata Gibran seraya menggaruk rambutnya pelan.
Kenapa suasana jadi canggung seperti ini?
Tapi, raut cemas Maria benar-benar membuat Gibran senang dan lega.
"Kita ... makan, yuk?"
Maria diam, tampak sekali dia masih enggan bicara. Tepat saat tangannya hendak menutup kembali pintu geser itu, Gibran dengan cepat menahannya dan mendorong Maria masuk ke dalam.
"Sialan, apa yang kau lakukan?!" Maria memberontak dan memukuli Gibran dengan marah.
"Jangan mengutuk, Sayang. Bibirmu terlalu manis untuk itu."
"Aarrghh!!!" Maria tak berhenti memukuli Gibran yang kini seolah merasa menang.
Gibran memeluk Maria erat sekaligus lembut. Ia menciumi rambutnya yang wangi sambil terpejam, tanpa memedulikan Maria yang kini menatapnya tak percaya.
"Brengsek, Koko sengaja berpura-pura jatuh supaya aku keluar, kan?!" Maria berteriak kesal.
Gibran tersenyum lembut. Ia mengusap halus pelipis Maria dengan jari telunjuknya yang panjang. "Itu artinya kamu peduli padaku, Plum. Meski dalam keadaan semarah apa pun."