His Purpose

His Purpose
36. Rumors



"Laura, berapa meter jarak gerbang utama dan lobi?" Maria bertanya seraya menyusun beberapa tangkai bunga ke dalam pot.


"Kurang lebih 3 kilometer, Nyonya. Kenapa?" Laura menyerahkan setangkai mawar yang sudah disortir pada Maria.


"Serius 3 kilometer? Apa kamu bercanda?" Maria terlihat sedikit melongo.


"Apa saya terkesan sedang bercanda?"


Maria berkedip, "Tidak, sih."


Ia termenung. Tiga kilometer? Kira-kira, berapa lama ia harus berjalan jika ingin mencapai ke sana?


Astaga, Gibran benar-benar melakukan pemborosan lahan. Jika di daerah lain jarak sejauh itu bisa untuk puluhan rumah warga atau perkebunan. Nyali Maria seketika ciut setelah sebelumnya ia sempat berpikir melarikan diri dari rumah bak istana ini.


Maksud Maria, melarikan diri untuk sejenak. Misalnya jalan-jalan dan belanja atau apa pun yang bisa ia lakukan di luar. Maria tidak segila itu kabur dari rumah Gibran yang entah berada di mana. Jika pun ia nekat ingin melakukannya, ia harus benar-benar menyiapkan rencana yang matang.


"Sudah cukup. Kamu simpan sisanya di pas lain, ya." Maria membawa pas yang sudah terisi bunga itu ke nakas di kamarnya. Ia kembali ke balkon dan membantu Laura membereskan sisa-sisa sampah hasil guntingan.


"Baik, Nyonya. Anda ingin ke mana sekarang?"


"Perpustakaan. Kamu tidak perlu ikut."


"Tapi ..."


"Aku ingin sendiri."


Laura tak bisa membantah. Ia sadar betul perasaan sang nyonya sedang tidak baik.


"Ingin saya bawakan camilan?"


"Tidak perlu." Maria melenggang keluar dan meninggalkan Laura yang kini merengut sedih.


Tidak ada Maria yang cerewet dan memarahinya. Padahal tadi ia beberapa kali membuat kesalahan. Biasanya Maria akan langsung mengomel dan melayangkan tatapan malas atas kebodohannya. Tapi hari ini nyonya muda itu terlihat dipenuhi oleh awan mendung.


Laura jadi penasaran apa yang sebenarnya telah terjadi antara kedua majikannya di Thailand. Padahal sebelumnya Laura disesaki oleh rasa senang karena mengira Maria dan Gibran tengah liburan atau bahkan berbulan madu di sana. Tapi, kenapa pulang-pulang mereka malah perang dingin dan adu diam?


Maria berjalan pelan di sepanjang lorong menuju perpustakaan. Matanya terlihat menerawang menatap keluar jendela. Kakinya tiba-tiba berhenti, ia melangkah mendekati dinding kaca raksasa itu dan berdiri melamun di sana.


Terhitung kurang lebih 2 bulan lamanya ia tinggal di mansion Gibran. Dan selama itu pula Maria seolah terkurung dalam sangkar. Yang bisa ia lakukan hanya menatap langit dengan segala kecamuk dalam pikiran. Seperti sekarang, Maria tidak tahu kapan ia bisa bebas dan kembali ke kehidupan lamanya.


"Bisakah?" bisik Maria entah pada siapa.


Di tengah lamunannya ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Ia menoleh, seorang pelayan nampak berjalan dan baru saja keluar dari perpustakaan. Maria berpikir mungkin pelayan itu habis bersih-bersih atau membereskan buku.


Namun, ada sesuatu yang membuat Maria mengernyit. Sebuah jas yang terlipat di tangan si pelayan berhasil menarik perhatian Maria. Jas navy yang nampak licin dan mahal tersebut terasa familiar di matanya.


Maria yakin seratus persen ia mengenali jas itu. Terlebih saat harum maskulin tanpa sengaja tercium ketika si pelayan membungkuk sejenak menyapanya. Maria tak membalas sapaan itu sampai si pelayan berlalu dan menghilang di tikungan lorong.


Sesaat tubuhnya mematung, hingga kemunculan Gibran yang tengah mengancing kemeja atasnya menimbulkan sebuah pertanyaan serta asumsi yang membuat Maria tiba-tiba sulit menelan ludah.


Tanpa bisa dicegah pikiran-pikiran negatif berlarian dalam kepala Maria. Hingga ia tak berani bersuara saat matanya bertubrukan dengan Gibran yang juga terpaku menatapnya.


Keduanya saling diam cukup lama. Sampai ponsel di tangan Maria berdering menimbulkan gema yang memecah kesunyian lorong. Maria menekan tombol hijau menerima panggilan, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga.


Maria tak jadi ke perpustakaan. Entah karena apa, tapi mendadak rasa marah dan benci timbul menggerogoti hatinya. Membuat Maria tersiksa dan kebingungan bagaimana cara mengatasinya.


Hingga malam tiba, tanpa sengaja ia mendengar percakapan beberapa pelayan di ruang makan. Mereka tengah menggunjing salah satu temannya yang Maria tahu bernama Jesi— pelayan yang sempat ia lihat siang tadi.


Maria yang tadinya hendak masuk untuk makan malam berakhir diam mematung di dekat pintu. Hatinya resah tanpa alasan. Terlebih saat namanya dan Gibran turut menjadi pembicaraan.


"Aku tidak percaya saat Jesi bercerita Tuan mencumbunya di perpustakaan. Tapi, setelah melihat beberapa tanda merah di leher dan dadanya, mau tidak mau aku harus percaya, bukan?"


"Dan aku juga melihat jas mahal itu tergantung di kamarnya!"


"Benarkah? Bukankah selama ini yang kita tahu Tuan itu gay?"


"Entahlah. Tapi sepertinya itu tidak benar."


"Nyonya juga belum hamil sampai sekarang. Aku pikir Tuan memang benar-benar tak menyukai wanita."


"Bagaimana mau hamil? Mereka saja tidur di kamar terpisah. Hihi ..."


"Padahal Nyonya sangat cantik dan baik. Beliau bahkan membelikan kita pakaian mahal kemarin."


"Apa gunanya cantik jika tak bisa menggoda? Buktinya dia kalah dengan wanita sekelas kita."


"Hush! Jaga bicaramu."


Maria menelan ludah di tempatnya. Beberapa saat ia termenung dengan tatapan kosong, sebelum kemudian berbalik dan memutuskan kembali ke kamar.


Dalam perjalanannya ia bertemu Laura. Gadis itu berlari kecil dari arah tangga dan menghampirinya dengan wajah heran.


"Nyonya mau ke mana? Bukankah tadi mau makan malam?" Laura baru selesai membereskan lemari di kamar Maria.


Maria mengulas senyum tipis, "Perutku masih kenyang. Aku lupa tadi sore sudah makan."


"Kamu makanlah. Atau pulang saja ke paviliun. Aku membolehkanmu kembali lebih awal malam ini." Maria memasuki lift dan menghilang di sana. Meninggalkan Laura yang terdiam dengan raut berpikir.


"Apa benar Nyonya sudah makan? Tapi kok saya tidak tahu? Atau lupa, ya?" gumam Laura.


Di samping itu, Gibran keluar dari ruang kerjanya bersama Nick. Mereka tampak berbincang sebentar dan berjalan menuju ruang makan. Seketika para pelayan yang semula tengah berkumpul berhamburan membentuk barisan dan membungkuk melihat kedatangan Gibran.


Gibran menarik kursi di ujung meja, namun tiba-tiba gerakannya terhenti seiring matanya mengedar seakan mencari sesuatu.


Tak lama Laura masuk dengan langkah pelan. Gadis itu berjalan sambil menatap lantai hingga tak menyadari kehadiran Gibran. Keningnya berkerut dengan mulut sesekali bergumam.


Salah seorang pelayan berdehem kecil berusaha menyadarkan Laura. Butuh beberapa kali untuk membuat Laura tersadar dan mendongak menampilkan wajah kebingungan. Ia berkedip ketika mendapati semua mata mengarah padanya, termasuk Gibran.


Laura tergagap tanpa suara. Mendadak ia merasa tertuduh dan menjadi tersangka sebuah kasus pembunuhan.


"Di mana dia?" Suara Gibran memecah ketegangan.


Siapa pun tahu, dia yang Gibran maksud adalah Maria.


Lagi-lagi Laura tergagap, "A-Ah ... Beliau bilang masih kenyang karena sudah makan sore tadi," ucapnya sembari menggaruk kepala.