His Purpose

His Purpose
153. Undermine



"Sudah makan?"


Abhi muncul dari pintu beranda, menghampiri Sandra yang tengah duduk memangku anak kedua mereka. Tangannya sibuk memasang dasi yang tak juga rapi sejak tadi.


Sandra menggeleng sambil terkekeh. Ia mengambil alih dasi itu dan membantu memasangnya dengan benar. Abhi tersenyum sambil berlutut di depan Sandra. Sesekali ia mengajak bermain sang anak yang menatapnya dengan tatapan polos.


Selesai memasang dasi, Abhi mengambil alih bocah dua tahun itu dari pangkuan Sandra. "El sama Papa dulu, ya? Mama mau makan."


"Aku belum mau makan," timpal Sandra. "Kamu berangkat saja, kasihan nanti si Kakak kesiangan."


Tepat ketika itu pria kecil setinggi paha Abhi muncul dengan wajah cemberut. Tangannya menggenggam erat tali tas. "Papa ayo. Kenapa malah gendong adik?"


Rautnya masam dan mendung. Sandra mengangkat alis seolah mengatakan, 'Apa aku bilang.'


"Ah ... oke," ringis Abhi pada akhirnya.


Ia menyerahkan kembali El kecil pada Sandra. "Kamu jangan lupa makan, ya. El biar diurus Mbak dulu. Sepertinya akhir-akhir ini wajah kamu pucat. Kecapean pasti."


"Iya iya ... sana berangkat." Sandra mendorong tubuh Abhi, tak lupa ia juga menuntun Gibran, si sulung yang kini beranjak memasuki usia 6 tahun.


"Kalian hati-hati di jalan, ya. Kakak, bekalnya tidak ketinggalan, kan?"


Ditanya bekal, wajah Gibran merengut masam. Ia paling tidak senang membawa perintilan makanan dan sejenisnya. Seperti anak kecil saja. Ia sudah dewasa dan punya adik, jadi bisa cari makan sendiri ketika di luar. Buktinya ia lebih sering menghabiskan uang untuk jajan di kantin atau nongkrong di cafe sepulang sekolah.


"Yang, tasku masih di dalam." Rayan menginterupsi.


"Oh? Di mana? Biar kuambilkan."


"Di ruang tengah!" seru Abhi pada Sandra yang sudah masuk terburu-buru.


"Ini." Tak lama wanita itu kembali membawa tas kerja Abhi.


Abhi tersenyum mengecup kening Sandra dan El sebelum memasuki mobil. "Aku berangkat, ya."


"Kak, cium dulu Mama sama adiknya," tegurnya pada Gibran yang sedari tadi memasang wajah merajuk.


Mau tak mau Gibran menurut. Ia menghentak mendekati Sandra yang kini berjongkok sambil terkikik geli. "Kakak jelek kalau marah, ya?" Ia mengajak El bicara. Alhasil balita itu melonjak-lonjak kesenangan.


Kaki mungil Gibran yang terbalut sepatu mahal berjinjit berusaha menggapai pipi Sandra dengan bibir penuhnya yang basah.


Cup.


Sebuah kecupan membuat senyum Sandra menguar lebar. Belum sempat ia balas mencium Gibran, tangan El yang gendut dan gempal menampar kepala sang kakak dengan keras.


Plak!


"Uuuhhh! Uuuhhh!"


"Mama! Adik nakal!!!" jerit Gibran marah.


Abhi menghela nafas panjang berusaha meredakan sesak yang memenuhi relung dadanya. Ia mendongak menatap langit-langit kamar sambil melamun.


Tubuhnya lemas bersandar di pinggir ranjang. Kenyataan yang baru diketahuinya sungguh menghantam kepala Abhi habis-habisan.


Semula ia tidak percaya ketika orang suruhannya menunjukkan bukti bahwa Sandra pernah hamil 25 tahun silam. Bayi yang belum sempat Abhi ketahui keberadaannya.


Dulu ia ingin sekali memiliki anak perempuan. Abhi tidak tahu jenis kelaminnya apa, tapi yang pasti jantung Abhi serasa berongga mengetahui bayi itu kini sudah tiada.


"Jahat sekali kamu Sandra," bisiknya lirih.


Tok tok tok.


"Tuan, komisaris perusahaan ingin bertemu Anda." Jo mengetuk dan berujar dari luar.


"Aku akan menemuinya besok!"


Sesaat Jo terdiam. Mungkin pemuda itu tengah berpikir keras kenapa Abhi menolak kedatangan orang penting. Meski begitu ia tetap menyahut. "Baik, Tuan."


Abhi kembali melamun dengan tatapan kosong. Jika anak itu benar-benar mati, Abhi sungguh tak bisa memaafkan Sandra sekalipun ia masuk neraka.


***


"Nyonya, jangan banyak-banyak makan es krim. Nanti Tuan marah lagi sama saya. Beliau sudah berpesan untuk mengawasi asupan makan Anda." Laura merengut mengamati Maria yang sibuk menyuap es krim dengan lahap.


Alamat dimarahi Gibran lagi, batin Laura.


Beruntung ia tidak dipecat meski berkali-kali membuat pria itu kesal. Mungkin karena kedekatannya dengan Maria lah yang menjadi alasan. Bisa dibilang Laura adalah anak emas Maria.


Usai menghabiskan satu cup besar rasa coklat, kini Maria menanyakan rasa matcha yang tentu saja Laura tolak mentah-mentah.


"Satu cup sudah sangat cukup, Nyonya."


"Tapi aku masih lapar."


"Ya sudah, Nyonya makan nasi saja. Ini sudah masuk waktu makan malam."


Akan tetapi Maria menggeleng. "Aku tidak mau nasi."


"Nyonya mau saya buatkan pasta? Sup? Atau yang lain?" Laura masih berusaha.


Lagi, Maria menggeleng. "Tidak mau. Bosan."


"Lalu apa?"


"Entahlah. Semua makanan sepertinya enak."


Laura memutar matanya malas. Nasi juga makanan, kan? Tadi kenapa tidak mau?


Ingin sekali ia mengatakan itu, tapi ia tahan guna mencegah kerumitan suasana lantaran mood Maria yang sering berubah-ubah dan sentimen.


Maria membuka toples berisi coklat bar rasa karamel. Ia mengunyah sambil berpikir menu apa yang enak untuk makan malam kali ini.


"Papa belum pulang, ya?"


"Belum, Nyonya. Mungkin Beliau lembur."


Maria berdecak. "Pria-pria yang gila bekerja. Yang seperti ini nih suka lupa sama istri."


Laura tahu Maria sedang menyindir Gibran yang sampai sekarang belum menghubunginya.


Ia enggan menanggapi karena malas kena semprot. Sudah lah, biarkan Maria mencak-mencak sendiri. Nanti juga berhenti.


Istri yang katanya sedang marah pada suami, tapi giliran suaminya tidak ada dicari-cari.


Maria tidak tahu, saat ini Gibran tengah tersenyum geli melihat tabletnya yang menampilkan suasana ruang tengah kediaman Tjandra, tempat saat ini Maria berada.


Ia menggeleng karena lagi-lagi Maria bandel makan es krim saat dirinya tak ada. Padahal sebelumnya sudah Gibran ingatkan berkali-kali untuk tidak terlalu sering menyantap makanan dingin berkalori tinggi itu.


Ia takut anaknya obesitas di dalam perut, itu akan beresiko susah keluar. Operasi? Gibran sudah ngeri sebelum membayangkannya.


Sepertinya Gibran harus mulai menyediakan es krim berbahan organik yang rendah lemak.


Maria juga sepertinya sedang santer menyukai bakso. Olahan daging yang eksistensinya tak lekang sedari dulu di Indonesia. Gibran sudah lupa rasanya sejak ia menetap lama di Amerika.


Tapi kali ini bukan bakso yang Maria pesan, melainkan pizza berukuran jumbo yang lagi-lagi membuat Gibran menggeleng khawatir.


"Kamu semakin bebas makan mentang-mentang suami tak ada. Ck, ck, ck."


Memang, Gibran terbilang cukup ketat mengatur pola makan Maria beberapa hari terakhir ini. Mulai dari sarapan, makan siang, makan malam, bahkan camilan sekalipun tak lepas dari pengawasannya dibantu ahli gizi.


Lihat saja saat ia pulang nanti.


"Kamu benar-benar nakal, Plum. Sangat menguji kesabaran." Gibran mendengus merasa geli sendiri.


Bukan ia tidak tahu, selama ini Maria sering bertanya-tanya mengenai keberadaannya. Hal itu membuat Gibran bersyukur karena Maria tak sepenuhnya marah dan kecewa.


Sebenarnya Maria cukup dewasa dalam menyikapi segala hal yang menimpa dirinya. Ia tak pernah berlarut-larut dalam kesedihan, termasuk saat ditinggalkan Gabriel di hari pernikahan.


Lalu sekarang ia mengetahui faktanya. Maria juga tak begitu memikirkan masalah tersebut.


Ia senang saat mendengar percakapan Maria dan Rayan di ruang makan. Wanita itu sudah sepenuhnya membuang perasaan terhadap Gabriel.


Apa ini berarti mereka ada harapan untuk masa depan?