
29 Mei 1997
"Sayang, kamu yakin tidak masalah aku tinggal?" Abhi bersimpuh di pinggir ranjang, mengusap kepala Sandra yang tengah berbaring miring menghadapnya.
Sejak pagi, wanita itu mengeluh tak enak badan. Padahal malam ini adalah pesta perayaan ulang tahun perusahaan Abhi.
Sandra menggeleng kecil. "Tak apa, kamu pergi saja. Maaf aku tak bisa ikut kali ini," bisik Sandra lemah.
Raut Abhi terlihat tak yakin, dia seperti enggan pergi melihat betapa pucatnya wajah Sandra sekarang.
"Aku di rumah saja," putus Abhi.
Namun Sandra kontan menggeleng. "Jangan. Masa pemiliknya tidak datang? Apa kata kolega-kolega kamu nanti. Mereka akan merasa tak dihormati."
"Tapi kamu sakit. Aku tidak akan tenang meninggalkanmu."
"Aku baik-baik saja, hanya pusing sedikit. Dibawa tidur juga sembuh."
"Kamu pasti terlalu capek merawat 2 anak kita. Apa tidak sebaiknya mempekerjakan 1 orang untuk membantu?"
Sandra menggeleng. "Aku masih mampu merawat mereka. Apalagi Gibran juga sudah besar, tidak begitu merepotkan karena dia memang tak seaktif Gabriel."
Abhi membuang nafas pasrah. Sandra dan keputusannya memang sulit diubah.
"Kamu sudah coba testpack?" tanya Abhi tiba-tiba.
"Belum. Memangnya kenapa?"
Menggeleng, Abhi pun tersenyum. "Bukan apa-apa. Siapa tahu El mau punya adik? Who knows?" ujarnya mengendik.
Sandra berdecak. "Mana ada. Aku masih aktif KB, kok."
"Tak ada yang tahu kehendak Tuhan."
"Sudah sana pergi. Nanti terlambat." Sandra meraih tangan Abhi, melepas usapannya dari kepala.
Abhi masih terlihat berat meninggalkan Sandra. Padahal ia sendiri sudah rapi, meski sakit Sandra masih sempat-sempatnya menyiapkan pakaian untuk Abhi. Abhi sudah melarang, tapi Sandra keras kepala dan tetap melakukan tugasnya seperti biasa.
"Oh come on ... aku bukan Gibran atau Gabriel yang harus kamu khawatirkan ketika sakit. Kenapa kamu harus secemas itu?"
Sesaat Abhi terdiam. Ia pun menghela nafas sebelum bicara. "Entahlah, perasaanku hanya tidak enak. Aku takut kamu kenapa-napa. Bibi sedang pulang kampung, kamu sendiri di rumah."
"Abhi, ini acara penting perusahaanmu. Kamu harus datang apa pun yang terjadi," tegas Sandra.
Abhi yang tak kuasa membantah lantaran perkataan Sandra memang benar. Abhi tak mungkin jika harus mangkir dari acara. Ia sebagai tuan rumah tentu diwajibkan hadir.
"Baiklah. Hubungi aku jika ada apa-apa. Tidak, kamu harus telpon minimal sejam sekali."
Sandra malah terkekeh. "Kamu lucu, ya. Romannya sudah seperti kita beda kota dan negara."
Abhi merengut. "Kamu tahu aku selalu merindukanmu setiap saat."
"Iya iya ... sana pergi."
Karena tak memiliki pilihan, Abhi pun lantas berangkat, meninggalkan Sandra dan anak-anaknya dengan berat hati.
Entah kenapa, tapi kali ini perasaan Abhi tak enak. Seakan sesuatu yang besar hendak terjadi setelah ini.
***
"Bagaimana pun caranya, Sandra harus bercerai dengan suami miskinnya itu." David Willis menyesap dalam cerutunya sambil bersandar arogan, duduk bersilang kaki dengan mata menyorot lurus penuh arti.
Di sampingnya, Jim menunduk segan dengan sikap hormat. "Tuan tenang saja. Semua rencana sudah siap. Saya pastikan orang saya tak pernah gagal melakukan misi."
David tak bersuara, pertanda ia percaya dan menyerahkan semua pada Jim dan anak buahnya.
Sementara itu, di sebuah ballroom hotel orang-orang silih berganti berdatangan. Abhimanyu tampak bersahaja menyambut para tamunya.
Di antara keramaian tersebut, seorang wanita muda, cantik nan seksi memperhatikan Abhi dengan tatapan lapar penuh makna.
Jadi dia orangnya? Tampan dan berkarisma. Aku tidak akan menyesal tidur dengannya meski semalam saja.
Ia menyeringai, sedikit menggigit bibir sebelum kemudian menyesap anggur di tangannya.
Waktu berangsur cepat hingga tengah malam. Acara baru saja selesai tepat ketika Abhi memberi sambutan terakhirnya di atas podium.
Pria itu tersenyum lebar dan turun dari atas panggung. Seseorang memberinya segelas anggur untuk bersulang, Abhi menerima dengan senang hati sebagai bentuk penghormatan.
Sebentar lagi, batinnya.
Para tamu berangsur pulang meninggalkan ballroom. Tepat ketika itu Abhi merasa kepalanya sedikit pening, terlebih rasa panas di tenggorokannya seolah menyebar ke seluruh tubuh.
"Tuan, Anda baik-baik saja?" Sang asisten bertanya khawatir begitu melihat Abhi mengerutkan kening.
Abhi menggeleng. "Aku baik-baik saja. Kamu pulanglah lebih dulu, ini sudah malam."
Jhon terdiam ragu. "Anda yakin bisa pulang sendiri? Saya lihat Anda tak membawa supir."
Abhi tersenyum menepuk pundak Jhon. "Bisa lah. Sudah sana, istrimu pasti menunggu. Aku tahu rasanya bagaimana merindukan rumah."
Karena ia pun merasakan hal yang sama sekarang. Ia merindukan Sandra, ia ingin menyentuh Sandra. Kira-kira, apa istrinya sudah bisa diajak bercinta. Dia sedang sakit, pikir Abhi.
Akhirnya Jhon pun beranjak lebih dulu meninggalkan Abhi. Abhi berjalan gontai memasuki lift. Kepalanya semakin lama semakin pening. Fokusnya seakan terbagi dan berhamburan. Hal yang membuatnya tak begitu memperhatikan ketika seseorang membawanya ke sebuah kamar di hotel tersebut.
Kesadaran Abhi sedikit kembali ketika dirasa sesuatu menyerang bibirnya dengan ganas. Sebuah ciuman panas yang menggelora dan membuat rasa panas di tubuh Abhi semakin menyala.
Beberapa saat Abhi membiarkan ciuman itu hingga ketika sebuah tangan mulai meraba tubuh dan membuka kancing jasnya, barulah Abhi mendorong kasar orang lancang tersebut.
Nafas Abhi terengah, wajahnya merah dengan mata gelap menahan gairah. Ia mendapati seorang wanita tengah tersenyum abusif menatapnya dengan hasrat yang sama menyala.
"Siapa kau?" desis Abhi tajam.
Alih-alih menjawab, wanita itu kembali mendekatinya dengan gestur menggoda. Abhi hampir saja terbuai ketika tangan lentik itu mengusap sesuatu yang mengeras di pusat tubuhnya.
Namun ia segera tersadar dan menepis kasar tangan halus itu. Ia teringat Sandra dan anak-anaknya.
Aku harus pulang, batin Abhi.
Ia berusaha bangkit, akan tetapi kepalanya semakin berdentam, pun respon tubuhnya semakin tak karuan.
Wanita itu mendorong Abhi ke atas ranjang hingga tubuh jangkungnya terlentang pasrah di sana. Ia lalu menaiki tubuh Abhi dan mulai kembali melancarkan godaan serta sentuhan yang membuat Abhi kian tak berdaya.
Tapi Abhi tetap berusaha mempertahankan diri dan mendorong keras wanita itu hingga terjengkang, terjatuh di atas lantai.
Wanita itu mendesis kesal. Dengan kasar ia bangkit dan kembali menaiki tubuh Abhi, menciuminya dengan menggebu menepis segala perlawanan Abhi.
Abhi meraung marah menampar wanita itu. Ia bahkan tanpa ragu menghantamkan tubuh ramping itu hingga terlempar membentur lemari.
"Akh." Wanita itu merintih kesakitan.
Tanpa diduga pintu terbuka keras menampilkan Jhon yang kembali dengan raut cemas. Benar dugaannya, sesuatu pasti terjadi pada atasannya tersebut.
"Tuan!" Jhon berseru menghampiri Abhi yang menggeliat di atas ranjang.
Wajah lelaki itu merah padam menahan sesuatu.
"Sialan. Obat perangsang," desisnya marah.
Ia melirik si wanita yang masih meringis kesakitan menyentuh pinggulnya sambil berusaha berdiri.
Jhon bergegas mendekati wanita itu dan tanpa ragu menyeretnya keluar tanpa hormat. Ia lalu menutup pintu rapat-rapat dan kembali menghampiri Abhi yang nampak sudah sangat tersiksa.
Apa yang harus ia lakukan dengan Abhi yang seperti ini? Jhon masih terbilang baru bekerja dengan Abhi, ia belum tahu alamat rumah bosnya itu di mana.
"Astaga ..." keluhnya menyugar rambut.
Akhirnya satu ide gila terlintas di otaknya. Jhon keluar dan mengunci Abhi di dalam kamar, ia pergi entah ke mana. Hingga sesaat kemudian Jhon kembali membawa sebuah boneka pemuas setengah badan yang entah didapatnya dari mana.
Lelaki itu masuk dan kembali mengunci pintu kamar Abhi.
"Tuan." Jhon membalik tubuh Abhi yang sedari tadi tengkurap menggasak selimut.
Nafas Abhi terengah seraya bergumam. "Sandra ... Sandra ... Aaarrrghh!!!"
Abhimanyu tak henti menyuarakan nama sang istri.
Sementara Sandra sendiri tengah menatap dingin sebuah potret yang menampilkan foto Abhi dan seorang wanita berciuman panas di sebuah kamar hotel.
Ia meremas foto tersebut dengan wajah datar, menyobeknya menjadi serpihan kecil sebelum membuangnya ke dalam closet.
"Bajingan," desisnya tajam.