His Purpose

His Purpose
88. Homeward



"Koko kok lama, ya? Katanya cuma sebentar, tapi ini sudah lebih dari dua minggu."


"Entah kenapa rumah jadi terasa beda. Padahal sebelumnya Koko juga jarang di rumah."


Maria memajukan bibir, mengeluarkan segala keluh kesah yang merayapi hatinya. Sementara Laura, gadis itu berdiri tak jauh dari Maria, menatap malas sang nyonya yang lagi-lagi melakukan hal konyol.


Apa yang lebih konyol dari berjongkok dan mengorek-ngorek tanah hingga berlubang? Jangan-jangan Maria memang sedang mencari cacing.


Tapi, sejujurnya ini membuat Laura tenang. Daripada Maria terus bergerak jalan sana jalan sini tanpa tujuan, lebih baik wanita itu diam.


"Aku juga tidak berani protes. Laura, aku sedang belajar menjadi wanita yang tenang dan tidak posesif. Aku takut kerewelanku membuatnya risih. Entahlah, aku akan berubah cerewet ketika menjalin hubungan dengan pria. Tapi, justru hal itu yang membuat mereka meninggalkanku. Katanya aku terlalu berisik dan manja. Apa aku memang semanja itu?"


Maria mendongak menatap Laura dengan raut kucing yang minta dikasihani. Laura meringis menggaruk tengkuknya bingung. "Entah. Pertama saya kenal Nyonya, Nyonya begitu pendiam dan murung, sangat jauh berbeda dengan sekarang. Mungkin karena saat itu posisinya Nyonya sedang patah hati."


Maria mengangguk. Pernyataan Laura cukup masuk akal. Ia menumpang dagunya di atas lutut, menatap lurus pada hamparan rumput hijau yang tak lain lapang golf milik Gibran. Sudah ada sekitar sepuluh pohon pinus yang ia tanam. Maria tidak sabar melihat pohon-pohon itu tumbuh dan bertambah tinggi. Tidak tahu apa yang dipikirkan, sebelumnya Maria tidak suka menyentuh tanah apalagi bercocok tanam.


"Nyonya, sepertinya akan turun hujan. Lebih baik kita masuk," ucap Laura tiba-tiba. Ia menengadah menatap langit yang memang sejak pagi sudah mendung.


Maria ikut melihat ke atas. Ia menghela nafas sebelum kemudian bangkit. Laura dengan sigap mengelap tangan Maria menggunakan tisu basah yang ia bawa. Mereka lantas melintasi taman untuk kembali ke Mansion.


Benar saja, hujan turun deras begitu mereka sampai di koridor. Beruntung petirnya tidak begitu menggelegar. Maria benci suara petir yang menyambar-nyambar seolah hendak memecah jendela.


"Anda ingin coklat panas?" Laura menawari.


Maria menoleh, ia berpikir sejenak, "Boleh."


"Kalau begitu Anda tunggu di kamar saja, nanti saya antar coklat panasnya."


"Perpustakaan saja. Sudah lama aku tidak membaca di sana."


"Oh, baiklah." Laira menghela nafas melihat langkah Maria yang lesu.


Tiba-tiba Martha muncul, "Sepertinya akhir-akhir ini Nyonya cukup moody-an?"


"Yah ... resiko berhubungan jauh. Bukan hanya terbentang jarak dan waktu, tapi hati juga jadi seperti ayunan, tak jelas perasaannya."


Martha mengulas senyum, matanya mengikuti Maria yang kini menghilang tertelan lift, rautnya penuh makna ketika memikirkan sesuatu.


"Mungkin sebentar lagi akan ada anggota baru di Mansion ini," ucapnya ambigu seraya membalik badan meninggalkan Laura yang terbengong.


Laura berkedip, "Anggota baru? Siapa?" gumamnya berpikir.


"Berhenti melamun. Cepat buatkan coklat panas untuk Nyonya!" Seruan Martha membuat Laura mau tak mau mengenyahkan rasa penasarannya.


***


Maria menutup bukunya dengan sedih. Kisah romansa asmara yang berakhir tragis sungguh berhasil membuat hati Maria berkecamuk. Akan tetapi, ia seperti lega karena menemukan alasan untuk menangis. Seolah semua rasa yang mencekiknya meluruh menimbulkan perasaan lega yang membuat nafasnya tak lagi sesak.


Maria tersedu, menyusut air matanya menggunakan selendang. Malam sudah begitu larut, pun Mansion sudah sepi karena para pelayan kembali ke paviliun. Meski begitu Maria masih betah bertahan di ruang buku itu.


"Ada apa denganku? Kenapa air mataku tak mau berhenti? Hiks ..."


Prak.


Sebuah suara membuat Maria tertegun. Ia menoleh ke belakang tubuh, melongokkan kepala dengan mata mengedar. Tak ada siapa-siapa. Apakah benda jatuh?


Jantung Maria berdetak cepat, tangannya meremas selendang yang tersampir di bahu. Sebuah bayangan bergerak dari samping. Dengan cepat Maria menoleh dan tak mendapati siapa pun.


Tapi Maria yakin yang dilihatnya bukan khayalan. Tadi betul-betul ada pergerakan beberapa meter dari tempatnya berdiri.


"Siapa?" Suaranya menggema dalam sepi.


Maria menelan ludah. Mendadak rasa takut menyergap ketenangan. Di Mansion ini tidak ada hantu, kan? Tidak mungkin pencuri, Gibran memasang keamanan begitu ketat.


Tak ada jawaban. Pun Maria tak mendapati pergerakan apa pun lagi.


Lebih baik aku segera pergi.


Maria berbalik berjalan cepat ke arah pintu. Tepat saat dirinya melewati sebuah rak yang menjulang di tengah ruang, bayangan itu kembali muncul hingga membuatnya terkejut dan tak bisa menahan kendali.


Maria menjerit memundurkan kaki hingga tanpa sengaja menyenggol tiang lampu hias dan membuatnya hampir jatuh menimpa Maria.


Saat itulah tangannya ditarik membentur tubuh seseorang, wajahnya terbenam menyentuh kemeja putih yang nampak kusut namun wangi.


Maria terengah masih terkejut. Ia tidak menyadari pelukan hangat saking tegangnya mendengar pecahan kaca yang berasal dari lampu. Benda itu baru saja menghantam lantai dengan kerasnya.


Hingga sebuah bisikan menyapa membuai telinga, "Be careful, Honey ..."


Maria menegang. Ia mendongak dengan raut terperanjat sekaligus tak percaya. Matanya membola dengan mulut setengah terbuka.


"Ko-Koko ...?"


"Yes, i am. You miss me?" Gibran tersenyum kecil mencubit dagu Maria, sedikit mendorongnya hingga bibir wanita itu menutup.


Maria tak menjawab. Ia masih larut menatap Gibran dengan mata berlinang. Tangis yang beberapa saat lalu sempat terhenti kini tanpa bisa dicegah meluncur kembali.


Pada akhirnya pertahanan Maria runtuh. Ia terisak di bawah tatapan sang suami yang menyorotnya penuh cinta. Atau itu hanya perasaan Maria?


Maria tak peduli, ia segera menghambur membalas pelukan Gibran. Tersedu dengan badan gemetar serta perasaan yang meluap. Dada ini, ia sangat merindukannya. Wangi yang membuatnya gila sekaligus tenang dalam waktu bersamaan.


Benarkah yang ia lihat saat ini? Maria tidak sedang bermimpi, kan? Gibran betul-betul nyata di hadapannya.


"Ssttt ... berhentilah menangis. Kau membuatku seperti suami yang jahat."


"Koko memang jahat ... Lama tak ada kabar, sekalinya pulang malah mengejutkan."


Gibran terkekeh mengecup kepala Maria lama. "Sengaja, namanya juga kejutan."


"Dan lagi, aku tidak menghubungimu tiga hari tapi sudah kau sebut lama?"


Maria merengut malu, "Apa aku berlebihan?" cicitnya pelan.


"No. Aku senang kau merindukanku. Lagipula itu hakmu. Kamu bebas merasakan apa pun padaku."


Maria kembali terisak, malah lebih kencang dari sebelumnya. Kendati begitu Gibran tak melarang. Ia membiarkan Maria melepas segala beban yang memberati pikirannya selama ia tak ada.


"I am so sorry ..." gumam Gibran.


Ia menangkup wajah Maria, memagut bibirnya penuh kerinduan. Maria pun membalas di sela tangis yang masih enggan mereda. Mereguk segala rasa yang dalam setengah bulan ini terpendam menyesakkan dada.