His Purpose

His Purpose
107. Gibran's Secrecy



"Nick?"


Nick yang baru saja memasuki mansion kontan berhenti. Ia menoleh ke kanan dan mendapati Maria berjalan mendekat ke arahnya.


"Selamat pagi, Nyonya," sapa Nick sembari menunduk singkat.


Maria membalasnya dengan anggukan. "Pagi."


"Anda perlu sesuatu, Nyonya?"


Sesaat Maria berpikir, rautnya nampak ragu sebelum berkata. "Bisa bicara sebentar?"


Kini giliran Nick yang terdiam. Dilihat dari raut Maria yang serius sepertinya wanita itu hendak membicarakan hal penting.


"Tentu. Nyonya ingin bicara apa?"


Maria memberi isyarat agar Nick mengikutinya. Mereka berjalan ke sayap timur mansion dan berhenti di salah satu koridor.


"Kamu sudah lama mengikuti Ko Gibran. Pasti ... sedikit banyak kamu tahu tentang dia."


"Ya?"


"Kejadian di Papua."


Tubuh Nick menegang samar.


"Saat dia mengalami kejang dan sesak nafas, kamu pasti tahu kan apa yang terjadi?"


"Dokter bilang itu bukan pertama kali. Katakan, kapan saja dia pernah mengalaminya?"


Nick terdiam. Rautnya dipenuhi keraguan. Namun Maria tak ingin menyerah, ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Gibran.


"Nyo-nyonya, pagi ini kami ada pertemuan-"


"Nick, sikapmu yang seperti ini semakin membuatku yakin kamu menyembunyikan sesuatu," sergah Maria tajam.


Nick terpekur lama, lalu ia menghela nafas dan membuangnya lamat-lamat. "Sebelumnya saya minta maaf, Nyonya. Tapi ... ini di luar kapasitas saya untuk mengatakannya."


Maria berdecak membuang muka ke arah jendela. "Sudah kuduga kamu begitu setia padanya."


"Maaf," ujar Nick sekali lagi sembari menunduk.


Beberapa menit atmosfer keduanya hanya diisi keheningan. Maria sibuk menerka-nerka, sementara Nick mati-matian mencari alasan yang lebih sopan untuk melarikan diri. Astaga, ia bisa mati jika lama-lama di sini.


"Ny-nyonya ..."


"Semalam dia hampir mengalaminya."


"Ya?" Nick membeliak terkejut.


Maria memusatkan atensinya pada Nick. "Jika aku tidak cepat mengalihkan perhatiannya, mungkin hal yang sama akan terjadi lagi."


"Tidak, kemungkinan akan jauh lebih parah," ralat Maria.


Dahi Nick berkerut dalam. Ekspresinya campur aduk. Antara terkejut dan ingin tahu.


"Bagaimana bisa?" bisiknya entah pada siapa.


Maria menatap lekat asisten suaminya itu. "Semalam ada burung yang menabrak jendela. Burung itu mati, berdarah. Tapi yang membuatku terkejut justru reaksi Koko."


"Dia ... dia seperti linglung sesaat. Nafasnya terdengar berat, matanya juga membeliak ketakutan. Seolah ... sesuatu telah menariknya ke dunia yang berbeda." Maria tampak mengingat-ingat kejadian semalam.


Sementara itu Nick setia mendengarkan. Tak ayal tubuhnya ikut menegang dan menerka-nerka.


"Aku sampai harus memanggilnya beberapa kali. Dia langsung melihat sekeliling begitu sadar. Sudah kubilang dia seperti orang linglung. Menurutmu dia kenapa? Apa ini sama persis seperti yang pernah terjadi di Papua? Tolong katakan dengan jujur, Nick."


"Nyonya ..."


"Katakan!"


"Saya ..." Nick menelan ludah. "Sebenarnya Tuan ..."


Nick tampak resah sendiri sekarang. Haruskah ia mengatakannya pada Maria? Ini benar-benar situasi yang sulit. Di satu sisi ia sudah bersumpah setia pada Gibran, tapi di sisi lain ia tak berani menentang Maria.


Di tengah kegundahan keduanya, samar-samar sebuah suara terdengar dari arah berlawanan. Nick maupun Maria seketika menegakkan tubuh mereka dengan tegang. Mata Maria mengedar panik tatkala menyadari siapa pemilik suara tersebut.


"Di mana istriku?" Itu suara Gibran yang bertanya pada seseorang. Mungkin penjaga atau pelayan, bisa juga pengawal.


"Astaga," bisik Maria bergumam. Ia menggigit jari sebelum menjatuhkan tatap pada Nick, memberi isyarat agar pria itu cepat menjauh.


Nick yang mengerti lantas berbalik badan meninggalkan Maria. Diam-diam ia menghela nafas lega karena tak harus mengatakan apa pun pada wanita itu.


"Aih ... kenapa dia harus muncul sekarang?" gumam Maria menggerutu.


"Dari mana?" tanya Gibran dengan kening berkerut dalam.


Maria tersenyum menunjuk ke belakang. "Habis lihat-lihat taman area timur. Koko mencariku?"


Gibran menghela nafas, "Kukira ke mana," gumamnya pelan.


"Ayo sarapan. Makanan sudah siap," lanjutnya lagi. Kini Gibran meraih lengan Maria dan menuntunnya menuju ruang makan.


Maria mengangguk disertai senyum. Tangannya beralih memeluk bisep Gibran dengan manja. Memang lengan pria itu paling nyaman.


Gibran sendiri tersenyum kecil mendapat perlakuan seperti itu. Maria-nya telah kembali. Setelah sempat merenggang kini hubungan mereka terjalin lebih erat.


Gibran berusaha membangun kepercayaan Maria. Ia cenderung bersikap hati-hati jika sedang di area mansion guna mencegah kejadian yang sama. Gibran tidak mau Maria melihatnya sebagai monster menakutkan seperti waktu itu.


"Enak?"


"Uhum ..." Maria mengangguk senang.


Gibran tersenyum. "Habiskan."


***


Langkah Gibran membawanya pada sebuah ruangan dengan kilap putih yang disertai kecanggihan elit. Pintu ganda itu bergeser otomatis begitu ia sampai di depannya.


Gibran masuk dengan santai ke tengah ruangan. Semuanya serba putih, terkesan luas dan bersih. Beberapa meter dari tempatnya berdiri, seperangkat meja kerja terbuat dari marmer dengan warna yang sama. Membuat Gibran tak tahan untuk tidak mendengus.


"Kau begitu terobsesi dengan surga," cetusnya meremehkan.


Seorang pria muncul begitu kursi di seberang meja berputar, Menyeringai menatap Gibran. "Selamat datang, Tuan Muda Wiranata ..."


"Akhirnya kau datang mencariku."


"Kenapa? Apa kau sudah memutuskan bahwa aku orang paling berguna untukmu? Hey, ayolah ... tidak ada dokter sehebat diriku."


"Berhenti berceloteh."


"Setidaknya celotehanku bukan omong kosong," ucapnya mengangkat bahu.


Gibran mendengus mengedarkan pandangan. "Seleramu sungguh menjijikan."


Tempat itu begitu kosong hampir tanpa perabotan. Hanya ada meja kerja dan seperangkat sofa dengan warna putih yang sama. Sementara luas ruangan jangan ditanya, sangat memakan tempat dan menghabiskan lahan secara cuma-cuma.


"Lebih baik berkomentar setelah mengatakan apa tujuanmu kemari. Kau sampai jauh-jauh ke Singapura pasti bukan tanpa alasan."


Gibran mengangkat alis, mulai melangkah lebih dekat untuk kemudian melesakkan diri di hadapan pria itu.


"Evan."


"Ayolah, jangan memaksakan diri untuk berbasa-basi. Aku tahu itu bukan keahlianmu."


Gibran bersidekap datar. Tidakkah dia terlalu cerewet untuk menjadi seorang pria?


Tak ingin memperpanjang masalah, Gibran pun menghela nafas. "Sepertinya traumaku kembali."


Evan tak nampak terkejut. Ia seperti sudah menduga hal tersebut. "Lalu?"


"Sepertinya kau benar, Maria pemicunya."


"Your wife?"


"Hm." Gibran mengangguk.


"Hal itu kerap terjadi jika Maria ada di sekitarku."


Evan menegakkan tubuh, menatap Gibran lebih seksama. "Ceritakan."


"Halusinasi. Aku selalu terbayang kematian Maria. Aku tidak tahu apa ada pemicu lain selain dirinya, tapi ... ini sangat menyiksaku," bisik Gibran di akhir kalimatnya.


"Dan kau nekat menikahinya meski tahu ini akan terjadi."


Gibran tak membantah. Namun begitu Evan juga tak menghakimi temannya itu.


"Jujur saja, sebenarnya ini sudah terjadi sejak awal pernikahan kalian, kan?"


"Dinas luar kota." Evan mendengus. "Itu hanya alasanmu untuk menghindar."


Mungkin Sandra Willis memerintahnya untuk mengawasi Gibran. Namun sebenarnya Evan melakukan hal tersebut karena Gibran bukan hanya temannya, tapi juga klien-nya.


Bohong jika Evan bilang kehilangan jejak Gibran di Thailand. Justru Evan lah yang membantu lelaki itu keluar dari sana.