
Cobbs Hill, Rochester, New York.
"Alisandra Wiranata!!" Sentakan itu berasal dari arah pintu.
Gibran Wiranata berdiri dengan raut geram. Langkahnya berayun tegap menghampiri Alisandra yang terdiam. Satu tangan lelaki itu terangkat hampir menampar sang putri, yang kemudian tertahan oleh kedatangan Harley.
"Tuan, mohon anda tenang dulu. Hasil tes Nona menunjukkan negatif, yang berarti dia tidak ikut menggunakan obat-obatan itu." Suara Harley terdengar jelas namun datar.
Sekilas matanya sempat melirik pada Alisandra yang menunduk. Gadis itu pasti ketakutan melihat amarah sang ayah yang mengerikan.
"Dari semua teman-temannya, hanya 2 orang yang dinyatakan negatif, termasuk Nona." Harley melanjutkan. "Saya sudah selidiki semua latar belakang anak-anak itu, juga asal obat-obatan yang mereka konsumsi."
Helaan nafas keras terdengar dari mulut Gibran. Lelaki itu menyugar rambutnya ke belakang sembari berkacak pinggang. Ia berdecak kasar pertanda kesal. Wajahnya merah penuh amarah dan juga kekhawatiran.
Gibran kembali menatap putrinya yang menunduk. Rautnya perlahan meredup saat sadar bentakannya sudah keterlaluan.
"Daddy tidak mau dengar kamu berteman lagi dengan mereka. Ingat, kalau kamu melanggar, Daddy akan potong satu jari Harley sebagai hukuman!"
Alisandra langsung mendongak. "Daddy!" serunya keras. "Haly sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini! Ini murni salahku," lanjutnya mencicit.
"Dia salah karena sudah lalai mengawasimu. Kamu begitu menyayanginya, kan? Jadi jaga sikapmu mulai sekarang," tegas Gibran. Matanya lalu beralih pada Harley yang berdiri tak gentar. Raut lelaki itu tetap tenang kendati barusan Gibran mengancam Alisandra menggunakan keselamatannya.
"Kalau sampai aku mendengar lagi berita seperti ini, akan kupenggal kepalamu tanpa segan, Harley Ijackson." Gibran berdesis tajam, sebelum kemudian membalikkan tubuh meninggalkan aula yang mendadak mencekam karena kedatangannya.
Harley menoleh pada Alisandra yang menatap kepergian ayahnya dengan pandangan tajam. Nafas gadis itu terengah kesal.
"Sekarang anda mengerti alasan saya selalu menjadi penguntit, kan? Jika sesuatu terjadi pada anda, bukan hanya anda yang terancam, tapi nyawa saya juga menjadi taruhan," ucap Harley datar. Ia lalu pergi, turut meninggalkan Alisandra yang kini menghentak kakinya kesal.
"Daddy menyebalkan!"
Suara siulan terdengar dari belakang Alisandra. Allison, sang adik yang masih mengenakan seragam sekolahnya, berdiri bersandar di samping sebuah lemari, memperhatikan dengan tangan terlipat.
Mulutnya bersuara mengunyah permen karet. Ia mengulum senyum, lalu mengangkat alis saat Alisandra menoleh padanya. "Why?"
Alisandra berdesis. Matanya menyipit dengan kening berkerut tajam. "Dasar bocah berandal. Kau yang mengadukanku pada Daddy, kan?!" teriaknya menggema.
Allison berpura-pura tak mengerti. Ia mengendik menjawab tuduhan itu. "Harley yang menemukanmu. Kenapa kau malah menekanku?"
"Dia tidak akan datang kalau kau tidak mengadu, sialan! Tidak ada yang tahu tentang pesta itu selain kamu!"
Tawa Allison seketika menguar. Pemuda itu sampai mendongak mengusap sudut matanya yang berair. "Oh, kakakku yang begitu polos. Kau masih saja belum mengerti cara kerja mereka sebagai anak buah Gibran Wiranata?" Allison mengangkat satu alisnya mengejek. "Mereka akan tetap tahu tanpa kuberi tahu, Sister."
Allison menegakkan tubuh, ia berjalan menghampiri Alisandra yang setia menatapnya kesal. "Lagi pula, jikapun aku mengadu, bukankah itu hal yang baik? Hey, begini-begini aku saudara yang peduli padamu. Seharusnya, sekarang kau persiapkan diri untuk ujian masuk universitas, bukan malah pesta miras dan obat-obatan," ucapnya santai, sambil terus mengunyah permen karet.
"Mereka hanya melakukan perayaan ulang tahunku yang ke tujuh belas! Dan untuk pesta miras, itu ... itu sama sekali di luar rencana. Aku tidak tahu mereka akan bawa benda-benda itu!" seru Alisandra sedikit gugup.
Allison, si bocah yang sok dewasa itu terkekeh. Inilah yang membuat Alisandra kerap kesal pada adiknya, karena dia selalu terkesan menyinggung dan mengejeknya.
"Dasar bocah pengadu," desis Alisandra, yang rupanya didengar oleh Allison.
"Hei, sudah kubilang bukan aku yang mengadukanmu!"
Alisandra mendengus tak percaya. Ia bersidekap menatap sang adik yang lebih pendek darinya. "Aku tidak percaya. Kau sedang berusaha mengambil hati Daddy agar dibelikan mobil. Kau pikir dengan menusukku dari belakang seperti ini, Daddy akan mengabulkan keinginanmu? Ha! Mimpi saja, dasar bocah! Bocah tetap saja bocah! Kau belum cukup umur untuk memiliki SIM!"
"Yak! Dasar sial— Ouh ... astaga, aku tidak akan mengumpat karena sudah berjanji pada Mommy." Allison berdesis di akhir kalimatnya. Ia mengunyah permen karetnya dengan decakan keras guna menyalurkan rasa kesal ketika menatap Alisandra.
Alisandra menatapnya penuh ejekan. "Bersyukurlah karena Mommy begitu menyayangimu. Kalau tidak, kau tidak akan lolos dari amukan Daddy andai dia tahu kau masih suka menyelinap ke club malam."
Alisandra mengibas rambut panjangnya, seakan pamer bahwa itu baru saja diwarnai. Ia menumpukan satu sikutnya di atas pundak Allison untuk kembali bicara. "Berhenti mencampuri urusanku, atau aku akan minta Daddy untuk membuang semua alat musik kesayanganmu itu. Daddy tidak suka kau bermusik, karena menurut dia, itu akan membuat masa depanmu tidak jelas."
"Mengerti, lil brother? Jadi baik-baiklah pada kakakmu ini. Mari kita bekerja sama dan saling menjaga rahasia. Hem? Setuju?"
Allison mendelik sebal. Sementara Alisandra tersenyum penuh kemenangan. Ia menepuk-nepuk puncak kepala Allison, seakan mengejek tinggi badan sang adik yang masih tertinggal jauh darinya.
Alisandra melenggang pergi meninggalkan Allison. Langkahnya melenggak-lenggok seperti model yang tengah berjalan di atas catwalk.
Allison mendengus menyaksikan itu. "Hei! Saat sudah besar nanti aku bersumpah akan mengalahkan tinggi badan yang kau banggakan itu!"
Alisandra tak menghiraukan teriakan Allison. Ia hanya mengangkat tangan sambil menunjukkan jari tengah tanpa sekalipun menoleh, hingga bayangnya menghilang dari pandangan.
Sementara di koridor, Alisandra yang sedang berjalan tanpa sengaja berpapasan dengan Harley. Lelaki itu berhenti untuk menatap Alisandra.
"Nona, anda mau ke mana?"
Alisandra memiringkan kepala, balas menoleh dengan malas. "Bukan urusanmu, Uncle. Kau tidak perlu terus mengikutiku, karena aku tidak akan ke mana-mana. Ini semua gara-gara kamu, Daddy baru saja membekukan seluruh uangku," ujarnya datar.
Harley menatap gadis itu tenang. Ia membuang nafas samar saat hendak menyentuh lengan Alisandra. Akan tetapi, ia langsung meringis ketika Alisandra memutar tangannya lalu meninju perutnya cukup keras.
"Argh! Sshh ..." Harley menyentuh perutnya kesakitan.
"Sudah kubilang berhenti menggangguku. Atau aku akan menggunakan semua jurus yang kau ajarkan untuk menyerang dirimu sendiri, Uncle."
Setelah mengatakan itu Alisandra pun melanjutkan langkahnya yang tertunda. Harley diam-diam terkekeh samar sembari menggeleng mengusap perut. "Dia belajar dengan sangat baik," dengusnya.
Matanya terus memperhatikan punggung gadis berseragam high school elite itu, sebelum kemudian menghela nafas dengan pandangan menerawang.
"Waktu begitu cepat berjalan, sampai tidak terasa kamu sudah besar, Alisandra."
Tidak ada lagi bocah pendek dan gendut yang menggemaskan. Alisandra tumbuh menjadi gadis cantik dengan perawakan dewasa yang indah. Tak pelak itu mengingatkan Harley pada sang nyonya terdahulu.
Sandra Willis, kenangannya akan selalu menimbulkan sesak ketika diingat.
Harley menggeleng. Ia menunduk melihat arloji di tangan, lantas mengeluarkan ponsel ketika ingat Gibran Wiranata akan segera bertolak ke Indonesia.
Gara-gara kabar Alisandra yang terlibat pesta obat-obatan, lelaki berwajah oriental itu langsung terbang ke Amerika menggunakan pesawat pribadinya.
"Aku akan menyeret mereka pulang kalau sampai mereka berani macam-macam." Perkataan Gibran yang selalu menjadi ancaman bagi putra-putrinya.
Alisandra maupun Allison, keduanya sama-sama berambisi bersekolah di Negeri Paman Sam, dan sebisa mungkin mereka berupaya untuk tidak membuat ayahnya marah atau kesal.
Dua saudara itu selalu bertentangan, tapi tak pelak otak mereka juga kadang sejalan.
Harley menunduk segan melihat kedatangan Gibran yang menghampirinya. Bersama Nick yang selalu menemani, lelaki itu menatap Harley dengan seksama.
"Aku percayakan mereka padamu. Jangan mengecewakanku, Harley Ijackson."
Harley mengangguk pasti. "Tentu, Tuan. Saya tidak akan mengecewakan anda."
Gibran menoleh sekilas pada Nick di belakangnya. "Pesawatnya sudah siap?"
Spontan Nick mengangguk. "Sudah, Tuan."
"Kita berangkat sekarang," cetus Gibran. Ia mengembalikan perhatiannya pada Harley. "Awasi terus Sandra dan Allison. Jangan biarkan mereka terlalu terjerumus pada pergaulan. Aku masih mentoleransi kenakalan jika itu menyangkut minuman keras dan balap liar, tapi tidak dengan obat-obatan terlarang."
Sekali lagi Harley mengangguk. Ia akan memegang janjinya untuk menjaga putra putri Wiranata, bahkan jika itu menyangkut nyawa.
"Anda bisa percaya saya, Tuan."
Baru beberapa langkah Gibran kembali berjalan, ia sudah kembali berhenti saat mendengar sebuah teriakan keras dari lantai atas mansion.
"DADDY!!! KAU APAKAN GITAR KESAYANGANKU?!"
Itu suaran Allison. Gibran mendengus, pasti saat ini putranya sedang meratapi gitar kesayangannya yang beberapa saat lalu Nick rusak atas perintahnya.
Benda sialan yang membuatnya lupa waktu untuk belajar. Gibran benar-benar dibuat kesal karena Allison terlalu sering membolos sekolah apalagi les. Jangan tanya nilainya sejelek apa. Gibran bahkan sudah menghitung berapa banyak dana yang harus ia keluarkan andai kata anak itu tak lulus ujian.
Nick yang berdiri di samping Gibran pun meringis. Ia sempat melirik Harley yang hanya menatap datar seolah sama sekali tak terganggu.
"Tuan—"
"Ayo pergi."
Gibran melanjutkan lagi langkahnya, mengabaikan suara derap kaki yang berlari dari kejauhan. Allison mengejar sang daddy yang kini sudah memasuki mobil di pelataran lobi.
"Daddy!!! Aarrgghh!!!"
Allison mengacak rambutnya kasar, tak perduli Harley yang memperhatikannya dengan datar, pun Alisandra yang saat ini mendengus dari jendela lantai atas kamarnya.
"See? Tanpa aku suruh pun Daddy sudah bertindak duluan."