His Purpose

His Purpose
126. Machination



Maria meringis pelan membuat Gibran seketika menoleh. "Ada apa?" tanya lelaki itu cemas.


Maria menggeleng tersenyum. "Bukan apa-apa. Perutku rasanya ada sedikit getar-getar."


"Benarkah?" tanya Gibran serius.


"Huum. Geli, hehe."


Senyum itu menular pada Gibran yang kini menyentuh perut Maria dengan penasaran. Ia membungkuk menempatkan telinganya di sana.


"Apa yang mau Koko dengar?" Kelakuan Gibran sangat konyol menurutnya.


"Aku juga mau merasakan getaran itu."


Sontak Maria tertawa. "Tidak bisa. Koko hanya bisa merasakannya saat dia sudah aktif bergerak nanti."


"Begitu, ya? Ya sudah." Meski sedikit kecewa Gibran mengangkat kepalanya menjauhi perut Maria.


Mereka baru saja keluar dari ruang pemeriksaan dan menunggu Nick menebus obat. Tiba-tiba saja ponsel Gibran bergetar. Pria itu hanya menatapnya lalu memasukkannya kembali ke dalam saku.


"Kenapa tidak diangkat?"


Gibran menoleh. "Aku tidak mengangkat telpon saat bersamamu."


"Tapi siapa tahu penting."


"Sepenting apa pun tetap kamu yang paling penting."


Maria memutar mata. "Berhenti menggombal. Angkat saja, tadi aku lihat nama Mr. ... siapa? Pasti salah satu kolega Koko, kan?"


Gibran mengangguk membenarkan.


"Kalau begitu angkat saja," desak Maria.


Membuang nafas keras, Gibran kembali mengeluarkan ponselnya dan menggeser tombol terima.


"Yes, its me."


Gibran nampak terdiam sebentar, ia menoleh pada Maria yang kini mengangkat alis penasaran. "Wait a minute."


Gibran menjauhkan sedikit ponselnya.


"Ada apa?" Maria bertanya saat Gibran terlihat bimbang.


"Kamu bisa tunggu di sini sebentar? Jangan ke mana-mana sampai Nick datang, oke?"


"Koko mau ke mana?"


"Aku ada perlu sebentar di bawah."


Maria mengangguk mengerti. "Oh, ya sudah. Pergi saja."


Akan tetapi Gibran nampak enggan.


"Tunggu apa lagi?"


"Kamu yakin tidak apa-apa aku tinggal?"


Maria memutar mata. "Memangnya aku anak kecil? Aku bahkan bisa pulang sendiri kalau Koko mengizinkan. Aku ini lahir sebagai anak Jakarta, Koko tidak perlu khawatir."


"Aku akan menunggu Nick," kekeh Gibran.


Gibran menghela nafas. "Besok aku akan minta Jill dan Dean kemari, mereka akan kembali menemanimu ke mana pun."


Maria hampir lupa dengan dua pengawal wanita itu. Kabarnya mereka mendapat sebuah tugas entah apa dari Gibran.


"Dibanding itu, kenapa Koko tidak kirim Laura ke sini saja? Aku tidak punya teman untuk mengobrol," keluh Maria.


"Apa gunanya mulut dalam situasi darurat? Jika ada bahaya dia hanya bisa mengoceh sampai mati."


Maria merengut. "Bisa tidak, sih, mulutnya direm sedikit? Jangan kebiasaan mengatai orang."


Gibran mengangkat alis, ia kembali berbicara dengan seseorang di seberang telpon. Melihat Gibran menggunakan bahasa Inggris sepertinya dia orang asing.


Sekarang Gibran nampak menghela nafas sambil berkacak pinggang. Masih dengan masalah yang sama lelaki itu enggan meninggalkan Maria. Maria bisa mendengar perdebatan yang mulai alot dan itu sungguh mengganggu. Kalau tidak salah Gibran membicarakan sebuah proyek konstruksi yang tidak Maria mengerti.


Maria menarik kelingking Gibran hingga lelaki itu menoleh.


"Pergi saja," bisik Maria pelan.


Gibran mengerut tak setuju. Sebelum pria itu membantah Maria segera melanjutkan. "Aku akan di sini sampai Nick datang. Ini rumah sakit, apa yang perlu Koko khawatirkan? Jika aku kenapa-napa ..." Maria mengangkat bahu. "Toh banyak dokter yang akan menolongku. Benar, kan?"


"Sudah, sana pergi."


"Are you crazy?" Gibran tetap keras kepala.


"Koko, please ..." desah Maria lelah.


Menurutnya Gibran sangat berlebihan dalam hal apa pun yang menyangkut proteksi. Sikap melindungi pria itu sudah melebihi ambang batas.


"Aku akan baik-baik saja. Lihat, di sini banyak orang. Tidak sulit jika aku meminta pertolongan."


Gibran terdiam. Maria menatap Gibran berusaha membujuk. Ia menunjuk ponsel Gibran dengan lirikan hingga pada akhirnya pria itu pun menghela nafas berat.


"Jangan ke mana-mana. Tetap di sini sampai Nick datang," putus Gibran yang membuat senyum Maria mengembang.


Maria mengangguk antusias. "Koko tenang saja. Aku adalah istri yang patuh."


Gibran mendenguskan senyum. Ia menggasak kepala Maria sebentar sebelum menciumnya kilat, lalu pria itu beranjak meninggalkan Maria bersama pengunjung lainnya di ruang tunggu.


Usai periksa mereka memang tak langsung turun ke bawah. Gibran meminta Maria beristirahat sejenak sambil memakan sandwich yang dibawakan Nick, sementara Nick turun menebus obat di apotek.


Maria memang kerap merasa lapar. Wanita itu pasti mencari camilan setiap beberapa menit sekali.


***


"Bagaimana?"


"Mereka memasuki area dokter kandungan. Saat ini Tuan Muda meninggalkannya untuk menerima telpon. Asistennya di bawah menebus obat," jelas seseorang di seberang sana.


Sandra tersenyum kecil. "Oke."


"Ada yang perlu saya lakukan, Nyonya?"


"Tidak. Jangan sekarang. Terus awasi wanita itu dan berhati-hatilah dengan Gibran. Instingnya jauh lebih kuat dari yang kamu duga."


"Baik, saya mengerti."


Telpon ditutup. Sandra menurunkan ponselnya dan menatap lurus ke luar jendela.


"Kamu pikir bisa menguasai Gibran sepenuhnya? Sekalipun dia berubah menjadi idiot, darah Willis mengalir kental dalam tubuhnya. Dia adalah monster berdarah dingin yang bisa membunuhmu kapan saja." Sandra menyeringai tajam.