His Purpose

His Purpose
79. Hot Ice Cream [18+]



Lima hari berlalu sejak kepulangan dari Papua, Maria masih saja bertanya-tanya mengenai pesan yang tanpa sengaja telah ia baca. Pun ia tak berani bertanya pada Gibran, Maria takut pria itu marah dan menganggapnya terlalu ikut campur dalam urusan pribadi.


Akan tetapi, hal tersebut membuat Maria resah setengah mati. Siapa yang sembunyi, siapa yang mereka suruh pulang, semua itu berkeliaran dalam otak Maria tanpa tahu harus mencari jawaban di mana.


"Nyonya, perlu saya ambilkan cemilan lain?" Laura bertanya. Matanya melirik piring berisi cookies coklat yang masih utuh tak tersentuh, hanya teh yang kini tersisa setengah dan mulai dingin. Maria sempat menyeruputnya beberapa kali.


Saat ini mereka tengah berada di taman Mansion, menikmati waktu sore bertemankan sejumlah buku yang Maria bawa dari perpustakaan.


Wanita itu nampak fokus membaca, namun Laura tahu ada hal yang mengganggu pikiran Maria. Beberapa kali ia mendapati sang nyonya termenung dengan pandangan tak fokus.


"Nyonya?"


"Hm?" Maria tersentak kecil menoleh pada Laura.


Tuh, kan.


Laura mengulang ucapannya, "Mau saya ambilkan cemilan lain? Saya bisa minta Koki membuatkannya."


Maria berpikir sejenak, kemudian ia menggeleng, menutup buku di pangkuan lantas meraih cangkir teh, meminumnya dengan cara anggun bagai ratu dan putri-putri di istana.


"Tidak perlu. Sepertinya aku akan masuk," ujar Maria seraya bangkit dari kursi, menyimpan buku ke atas meja kecil di sampingnya.


Laura ikut beranjak membereskan buku dan segera mengekori Maria yang mulai berjalan meninggalkan taman. Biarlah nanti ia minta pelayan lain membereskan teh dan cemilan Maria.


"Laura, apa di sini ada ice cream?"


"Ice cream?" tanya Laura aneh.


Tidak biasanya Maria menanyakan ice cream, mengingat mereka tinggal di daerah dingin.


"Hem. Entah kenapa aku ingin makan yang segar-segar."


"Nyonya mau buah?"


"No. Aku ingin ice cream. Tolong."


Laura meringis menggaruk lengannya yang memegang buku. "Baiklah. Saya coba tanya ke pihak dapur. Tapi biasanya mereka menyediakan ice cream untuk topping sebuah hidangan. Semoga saja masih ada stok."


Setelah mengatakan itu Laura bergegas meninggalkan Maria. Sementara Maria sendiri lekas memasuki kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia memijat pinggang yang terasa pegal, mungkin karena terlalu lama duduk di taman otot-ototnya jadi kaku. Sepertinya ia harus ke ruang spa guna meminta pijat.


Maria melepas high heels di kakinya lalu menendangnya hingga menjauh dari karpet. Ia merentangkan tangan, matanya terpejam menikmati empuknya kasur di bawah punggung.


"Astaga ... nyaman sekali ..." desah Maria.


Ia melepas satu persatu kancing dress tebal yang membalut ketat tubuhnya, lalu bangkit sebentar melepas pakaian tersebut. Rasanya sesak. Maria ingin baju longgar yang bisa membuatnya bebas bergerak.


Alhasil ia mengambil tanktop dan celana pendek di wardrobe. Laura yang baru saja masuk sampai terkejut melihat penampilannya.


"Astaga, Nyonya. Kenapa Anda berpakaian seperti itu? Carilah baju yang lebih tebal."


"Begini lebih nyaman," jawab Maria cuek sembari meraih ice cream di tangan Laura.


"Tapi nanti Anda sakit. Anda sensitif udara dingin."


Maria berdecak menghempaskan tubuhnya di sofa. Jarinya mencomot butiran coklat di atas ice cream lalu mengemutnya hingga lumer di mulut. Ia terpejam menikmati sensasi itu.


"Suhu tubuhku sedikit memanas. Mungkin karena sebentar lagi jadwal haidku datang."


Laura tak punya alasan untuk membantah, pun ia langsung keluar begitu Maria menyuruhnya.


"Berapa lama aku tidak makan ice cream hingga rasanya bisa senikmat ini?"


Memang, sejak tinggal di rumah Gibran yang dingin bak di pegunungan, Maria tak pernah lagi menyentuh makanan-makanan beku maupun minuman segar.


Suara pintu yang dibuka mengalihkan atensi Maria. Gibran masuk masih dengan pakaian formal plus coat yang melingkupi bahu lebarnya.


"Koko sudah pulang?"


"Hem." Gibran mendekat sembari melepas mantel, melemparnya ke sofa di samping Maria.


Keningnya berkerut aneh, "Kenapa tidak pakai baju?"


Maria mendelik, "Pakai, kok. Ini." Ia menunjuk tanktop dan hotpants yang dikenakannya.


Gibran bergeming. Matanya jatuh pada gelas ice cream di tangan Maria. Kontan kerutan di dahinya semakin dalam. Namun begitu Gibran tak bertanya, ia melesakkan bokongnya di samping Maria, merangkul pundak wanita itu seraya mengendusi rambut, leher serta bahunya.


Maria terkikik geli. Tangan Gibran melingkar di perutnya, mengusap di sana, naik ke atas hingga berhenti di dada. Benar dugaannya, Maria tak pakai bra. Puncaknya yang mengeras tercetak jelas sejak tadi.


"Kamu tidak pernah olahraga. Kenapa buah dadamu bisa sepadat ini?" bisiknya sambil meremas gundukan sekal itu.


Maria melenguh pelan, ia menoleh menatap Gibran heran. "Dari mana Koko tahu aku tak pernah olahraga?"


Hening. Keduanya beradu pandang dalam diam. Gibran nampak terhenyak samar, namun ia begitu lihai mempertahankan emosi pada wajahnya.


Sudut bibir Gibran berkedut tipis. Ia mengecup dan menghisap leher Maria hingga memerah. "Aku tidak pernah melihatmu olahraga di sini."


Maria mengangguk-angguk paham. "Ohh ... memang. Entahlah, kegiatan satu itu membuatku malas. Aku tidak suka sesuatu yang melelahkan."


Gibran mengangkat wajah menciumi rahang serta dagu Maria. "Tapi kamu suka kegiatan panas kita di ranjang, sampai kelelahan," bisiknya serak. Tangannya tak berhenti meremas gumpalan seksi milik Maria.


"Emh ... sshh ..." Maria mendesis saat Gibran memutar satu jarinya pada tonjolan kecil di sana.


"Itu beda lagi. Koko mau?" Maria menunjukkan satu sendok ice cream di hadapan Gibran.


Gibran sudah membuka mulut dan menyurukan wajah, namun dengan santainya Maria menurunkan sendok dan menumpahkan ice cream tersebut di bagian atas dada, hingga kudapan manis itu meleleh memasuki tanktop dan menimbulkan cetakan basah yang membuat bulatan sekal itu membayang.


Gibran menatap itu dengan pandangan gelap. Ia melirik Maria yang melempar tatapan menggoda seakan mengundangnya melakukan sesuatu.


Gibran menyeringai tipis, wajahnya turun menjilati lelehan ice cream itu dengan gerakan pelan dan sensual. Lidahnya semakin turun seiring tangannya menyingkap tali tanktop hingga payu-dara itu menyembul sempurna di depan mata.


Maria tersenyum, ia kembali menyekup ice cream, kali ini meletakkannya di pu-ting.


Dengan senang hati Gibran mengikuti permainan Maria. Ia memainkan lidahnya di sana. Mengecup, menghisap, hingga melulum puncak ranum itu dalam mulutnya.


"Aahh ..."


Maria meremas rambut Gibran. Entah berapa kali ia menyuapi lelaki itu ice cream di dada. Bagian tubuhnya itu sudah mengkilap basah juga lengket. Dan Gibran masih betah menghisap di sana layaknya bayi yang menyusu.


Maria mengusap perlahan punggung kokoh Gibran yang terbalut jas, mengagumi posturnya yang tinggi dengan otot yang seringkali membuatnya gila.


Ia menatap rambut Gibran sayu, diam-diam bertanya dalam hati, sejauh apa ia mengenal sang suami yang menurutnya masih saja penuh misteri.