
"Maria bisa menjadi obat sekaligus racun bagi Gibran. Tapi kita bisa membuang racun itu dengan mengubah pola pikir Gibran. Dia harus menghilangkan rasa bersalahnya dan hidup dalam kelegaan. Tapi itu mustahil terjadi jika mereka berdua masih saling menutup diri masing-masing. Terutama Gibran, dia perlu mengungkapkan segalanya pada Maria, namun di sisi lain hal itu juga memiliki resiko yang cukup besar."
"Akan sangat berbahaya jika Maria mengingat semuanya. Cedera di kepalanya bisa berakibat fatal."
Nick terhenyak mendengar perkataan Evan. Ia tidak menyangka hidup Gibran akan jadi serumit ini. Belum cukup permasalahan keluarga, masalah cinta pun harus dibuat begitu pelik.
"Kemarin, yang Anda lakukan sebenarnya bertujuan untuk meyakinkan perasaan Tuan, kan?"
Evan mengangguk. "Gibran harus tegas dengan pendiriannya. Jika dia ingin mencintai Maria, maka dia harus menghilangkan rasa bersalahnya."
"Tapi itu tidak mungkin," gumam Nick yang kemudian dibenarkan oleh Evan.
Pandangan keduanya sama-sama tertuju pada dua sejoli di depan sana. Gibran dan Maria tampak sedang menghabiskan waktu paginya di taman rumah sakit. Mungkin Gibran mengajak Maria untuk berjemur mengingat cuaca hari ini cukup cerah. Matahari pun sedang hangat-hangatnya.
Benar kata Evan, Maria bisa menjadi obat bagi Gibran. Hanya wanita itu yang mampu mengubah raut Gibran yang semula dingin menjadi hangat dalam waktu sekejap.
Pria yang menjunjung tinggi arogansinya itu bahkan rela berlutut hanya karena kaki istrinya terasa pegal. Gibran tak pernah menyentuh kaki orang lain, mungkin Maria satu-satunya orang yang memiliki kesempatan itu.
"Bagaimana dengan Tuan David Willis?"
Evan mengangkat bahu. "Entah. Yang pasti dia tak akan diam saja. Anak dalam kandungan Maria bisa jadi bumerang di kehidupannya. Karena bayi itu menjadi alasan terkuat Gibran untuk memisahkan diri dari keluarga Willis, sementara Willis sendiri memiliki ambisi mencengkram Gibran dalam kuasanya."
"Gibran orang yang independen. Baginya berdiri di bawah naungan orang lain adalah sesuatu yang melukai harga diri."
"Orang lain begitu ingin menjadi pewaris," lirih Nick samar.
Evan yang mendengar itu terkekeh pelan. "Kau tahu sendiri tuanmu bisa mendapatkan segalanya tanpa warisan. Buktinya, kekuasannya mampu membungkam seorang presiden sekalipun."
"Sialnya benar. Saya bahkan mengira hanya Beliau yang berani bersikap kolokan pada orang nomor satu di pemerintahan."
Seketika mereka tertawa mengingat kenyataan itu. Masih segar dalam ingatan Nick saat Gibran meminta presiden Amerika untuk mengebom fasilitas negaranya sendiri.
Bayangkan sendiri berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk ganti rugi.
"Bukan yang itu!" Terdengar suara teriakan Maria yang merajuk.
Wanita itu tampak merengut dengan wajah kesal, sementara di depannya Gibran berdiri kebingungan dengan wajah setengah lelah.
Entah apa permintaan Maria kali ini hingga pria itu bisa mengeluarkan ekspresi frustasi dan putus asa.
Usut punya usut mereka tengah membicarakan boyband Korea yang sepertinya tengah Maria gemari akhir-akhir ini.
Maria yang lupa menanyakan salah satu judul lagu pada Gibran, tentu saja Gibran seperti orang bodoh sekarang. Musik Indonesia saja Gibran tidak tahu, yang berbasis Inggris juga dia jarang mendengarkan. Sudah Evan bilang hidup Gibran itu monoton. Saking monotonnya pria itu hampir tak pernah mendengarkan musik.
Mungkin lagu pertama yang ia nikmati adalah ketika Maria bernyanyi mengikuti ajang kompetisi di kampus.
"Salah! Bukan begitu liriknya!" Sekarang Maria terlihat merengek menggasakkan kaki di rerumputan.
Wanita itu juga tak kalah frustasi dengan Gibran. Suaminya selalu gagal dalam menyanyikan lagu yang diinginkan. Padahal Gibran sudah mencari lagu tersebut di internet dan mendengarkannya.
"Aku tidak bisa bernyanyi, Plum ..." keluh Gibran sabar. "Bahasa alien ini membuatku muak," lanjutnya cukup dramatis.
"Koko bisa Bahasa Jepang, Inggris sudah pasti, Thailand lebih dari mampu, aku juga pernah mendengar Koko bicara Rusia. Lalu kenapa Koko tidak bisa Bahasa Korea yang kusukai ...?"
Gibran membuang wajahnya putus asa. Kenapa, sih, wanita itu harus ngidam tak masuk akal begini? Belum lahir saja anak itu sudah gemar menyiksa Gibran.
"Bwahahaha ..."
Suara tawa kesetanan yang terdengar cukup jauh itu membuat Gibran menoleh. Wajahnya seketika menggelap mendapati Evan serta Nick yang ia yakin tengah menertawakannya.
Sialan. Kau harus bertanggung jawab karena membuatku kehilangan muka, Nak!
***
"Pelan-pelan!"
"Ini sudah pelan, Sayang."
"Koko mau menjatuhkanku dari kursi roda ini? Dorong yang benar!"
"Mana mungkin begitu," rengut Gibran. "Aku ada salah apa, sih, Plum? Sepertinya dari tadi kamu terus menyalahkanku. Rasanya seperti kamu tengah balas dendam akan sesuatu."
"Memang? Jadi benar? Memangnya aku berbuat salah apa?"
"Banyak."
"Apa saja?"
"Pokoknya banyak! Sudah jangan tanya lagi."
Gibran menghela nafas menyerah. Baiklah, mari kita anggap ini sebuah penebusan dosa. Meski Gibran sendiri tidak tahu dosa apa yang ia lakukan pada Maria. Di luar masa lalu mereka tentu saja.
"Koko tahu tidak?"
"Hm?" Suara Gibran terdengar malas mendorong kursi roda.
"Pria di mimpiku itu, aku seperti tengah melihat Koko saat melihatnya."
"Bentuk rahang kalian sama persis. Bibirnya juga sama tipis. Pokoknya hampir sama, bahkan mungkin sangat sama."
Gibran terdiam seperti merenung. "Sudah kubilang lupakan pria itu, tapi kamu malah membawanya sampai ke mimpi."
"Habisnya dia tampan."
"Dari mana kamu tahu dia tampan. Bukankah yang kamu lihat hanya separuh wajahnya?"
"Memang. Tapi aku tahu dia tampan seperti Koko." Maria terlihat antusias.
Sementara Gibran mendengus samar dengan bibir tersenyum sumir. "Dia hanya seorang pecundang," bisiknya tak jelas.
"Koko mengatakan sesuatu?"
"Tidak ada. Ayo, kamu sudah harus istirahat."
"Koko mau pergi?"
"Hanya sebentar. Aku pergi setelah papamu kemari."
"Koko sudah baikan dengan Papa?"
Gibran mengernyit. "Memangnya kapan aku bertengkar dengannya?"
"Koko pikir aku tidak tahu hubungan kalian sangat dingin?"
"Bukan hal yang serius, dan bukan sesuatu yang perlu kamu pikirkan," cetus Gibran. Tangan besarnya mengusap wajah Maria yang mendongak. Kontan wanita itu menepisnya kesal.
"Aku masih mau mendengar Koko menyanyikan lagu tadi. Pokoknya Koko harus belajar. Saat kusuruh nanti Koko sudah harus bisa."
Seketika Gibran mengerang. "Ayolah ... apa salahku sebenarnya hingga kamu menghukumku seperti ini, Plum?"
"Salah Koko? Mungkin tidak ada. Tapi aku kesal karena Celine bisa memiliki foto lama Koko sementara aku tidak."
"Sebenarnya kalian ada hubungan apa? Kenapa dia seolah mengetahui masa lalu Koko? Apa sebelumnya kalian pernah pacaran? Jawab!"
Kening Gibran berkerut. "Celine? Siapa dia?"
Maria mendengus tak percaya. Apa Gibran mau pura-pura lupa?
"Tidak usah berlagak bodoh. Kenapa? Takut ketahuan belangnya?"
"Maksud kamu apa, sih? Aku tidak pernah memiliki hubungan dengan wanita mana pun."
"Bohong!"
"Demi Tuhan apa yang harus kulakukan agar kamu percaya?"
"Ubah semua aset yang Koko miliki menjadi atas namaku."
Maria menyeringai dalam hati. Oh, tentu saja dia bukan wanita yang ingin rugi. Dan lagi, ia yakin Gibran tak akan sanggup melakukannya.
Namun tanpa diduga pria itu dengan cepat menjawab. "Oke."